
"Ugh!"
Moura melenguh saat dia terbangun dari tidurnya, matanya terbelalak dia merasakan tubuhnya polos tanpa satu helai benang di tubuhnya. Inginnya menjerit namun dia kembali ingat, "Sepertinya aku di jebak seseorang. Aku yakin bukan dia!" gumam Moura menatap ke arah Noegha yang tengah tertidur dengan tubuh yang sama-sama polos.
Dengan perlahan namun pasti Moura berencana pergi diam-diam tanpa membangunkan Noegha. "Kau pikir bisa menjeratku dengan ini?! Kamu menumpang rencana di atas rencana orang!"
Moura mengenakan baju pestanya kembali, dia juga tak lupa memakai jas milik Noegha menutupi bajunya yang terbuka dan bergegas pergi dari kamar terkutuk itu.
Ddddrrrrrtttt!
Bunyi alarm ponsel Noegha berdering nyaring, Noegha menggerakkan kedua matanya dan memijat keningnya.
"Aarrghh Moura!" senyuman manis Noegha terbit mengingat kembali permainan panasnya semalam bersama wanita pujaannya.
Hanya saja senyuman itu tidak bertahan lama, pria itu terbelalak saat mencari sosok wanitanya dia tidak ada di sana!
"Sayaaang?!" panggil Noegha mencari keberadaan wanitanya.
Dengan cepat Noegha bangkit menyambar handuk kimono dan mencari keberadaan Moura di dalam toilet mereka.
"Sayang... Moura..."
Noegha terus memanggil wanitanya, namun dia tidak mendengar sahutan bahkan tidak menemukan keberadaan Moura di kamarnya. Dia juga menyadari bahwasanya pakaian Moura serta jasnya menghilang!!
"Moura Putri Sarasvati!!" pekik Noegha kesal.
Dia segera membersihkan dirinya dan bersiap menyusul Moura ke rumahnya. Dalam benaknya dia terus bermonolog merutuki tindakan Moura. Mengapa wanita itu begitu berani melakukan hal ini padanya.
"Bagus kamu Moura, habis manis sepah di buang! Hanya kamu yang berani melakukan hal ini padaku!!" Dengan menekan pedal gasnya Noegha bergegas menuju rumah kontrakan Moura.
Beruntungnya hari ini akhir pekan, mereka tidak perlu ke kantor. Dalam perjalanan menuju rumah Moura terbersit kembali ingatan Noegha saat wanitanya menari liar di atas tubuh.
"Aaahh SHIIT Moura! Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki kamu!" umpat Noegha mengeratkan gengaman tangannya di stir kemudinya.
Sedangkan di rumah Moura wanita itu telah selesai membersihkan diri, dia ingat hari ini adalah masa suburnya. Dia akan pergi menuju bidan dan meminta kontrasepsi darurat. Dia tidak mau di jebak oleh bos angkuhnya itu.
"Qilla sayaang, maafin ibu ya kamu di tinggal semalaman. Abis ini kita jalan-jalan yuk!" Moura menciumi pipi menggemaskan putrinya. Qilla membalas dengan kekehan renyah yang sungguh melarutkan segala penat dan masalah Moura saat ini.
Dengan cepat Moura mengunci kembali rumahnya, dia harus bergegas pergi. Setelah kepergiannya, datanglah mobil Noegha. Keduanya kembali tidak saling bertemu. Noegha mengetuk pintu rumah, dia juga berusaha menghubungi ponsel Moura. Sayangnya, ponsel wanitanya tidak aktif dan Noegha kembali harus menelan pil pahit sepertinya wanitanya tidak ada di rumahnya.
"Loh Bang, Abang nyari Mba Moura?" tanya salah satu tetangga Moura menyapa Noegha.
__ADS_1
Pria itu sedikit tersentak namun kemudian mengulas senyum ramahnya dan mengangguk mengiyakan pertanyaan dari tetangga Moura.
"Tadi ibu lihat Mba Moura pergi bawa Qilla. Biasanya kalau libur gini Mba Moura ajak anaknya jalan-jalan. Abang siapanya?" tanya ibu sebelah menatap menyelidik tampilan Noegha.
Pria itu mulai tidak tahu harus bilang seperti apa, demi menjaga martabat wanitanya dia tidak boleh berbicara sembarangan.
"Ehm, saya teman rekan kerjanya kebetulan ada kerjaan tambahan jadi saya mampir." jawab Noegha sedikit terbata.
"Owh gitu... Biasa Mba Moura pulang malam Bang! Abang datanglah lagi lepas magrib ni." ujar si ibu komplek ramah dengan bertingkah genit. Noegha menundukan tubuhnya dengan senyuman canggung kemudian pamit pergi dari sana.
Braaak!
"Bisa-bisanya kamu menghindariku Moura!" Noegha begitu emosi kali ini ini. Dia keluar dari pekarangan rumah sewa Moura dan berencana untuk pulang lebih dulu ke rumahnya.
***
"Anu Bu Bidan, saya belum pakai kontrasepsi. Eh ayahnya malah minta terus lupa pula masuk di dalam!" Dengan wajah memerah Moura menjelaskan dengan belepotan.
"Owh... Saking udah kepengen sama udah enak bangetnya ya Bu?" canda Bidan yang berada di kawasan komplek perumahannya.
Moura menunduk malu, dia juga menenangkan putrinya yang tidak mau diam. Bidan itu segera mengambil obat yang akan di berikan untuk keadaan darurat saja.
"Kok sendirian aja Bu, Bapaknya mana?" tanya bu Bidan ramah.
"Owh, hari minggu juga kerja? Oh overtime ya?"
"Iya Bu Bidan, dah tahu kerja minta pula!" Kembali Moura menumpahkan kekesalannya pada Noegha sekalian memuluskan aktingnya saat ini. "Putri kami masih sekecil ini, saya gak sanggup kalau goal lagi!" sambung Moura melebih-lebihkan."
"Hahaha, Si Ibu malah marah ke saya!" sahut bu bidan terkekeng dengan respon berlebihan Moura. "Rencananya Ibu mau pake KB kan kedepannya?" tanya bu bidan yang kebanyakan nanya di benak Moura.
"Itu dia bu Bidan, kemarin sempat pakai IUD tapi saya pendarahan."
Memang benar, dulu setelah Qilla lahir Moura melakukan pemasangan alat kontrasepsi. Hanya saja sepertinya tidak cocok di tubuh Moura. Dia terus mengalami pendarahan yang membuatnya harus kembali mengeluarkannya.
"Owh, apa Ibu mau coba dengan KB lain? Pil misalnya? Apa ada keluhan?"
Moura tertahan lama di rumah praktek bidan komplek, akhirnya dia tidak hanya meminta pil kontrasepsi darurat melaikan konsultasi juga untuk melakukan pilihan kontrasepsi yang tepat demi menunggu momongan. Setelah selesai urusan per-kontrasepsian akhirnya Moura bisa keluar dari sana dan membawa Qilla ke area kids station yang ada di salah satu mall yang dekat dari kawasan rumahnya.
Sedangkan di rumah Noegha pria itu semakin tidak bisa menunggu untuk tidak bertemu dengan wanitanya segera. Dia menghubungi Michel meminta bantuannya untuk mencari keberadaan Moura. Noegha melebarkan senyuman di wajahnya, dia sudah mendapatkan lokasi dimana Moura berada saat ini. Tanpa menunggu lama lagi dia pergi dari rumah menemui wanitanya.
"Qilla sayang udah belum mainnya?"
__ADS_1
"De.. Da.. De.. Da.."
Moura gemas sekali dengan tingkah putrinya. "Terima kasih sayang, hanya kamu yang Ibu punya saat ini. Orang yang selalu menguatkan Ibu saat ibu dalam keadaan terpuruk."
Dengan cepat Moura mengusap pelupuk mataya yang mulai berembun dan menjatuhkan satu bulir bening tanpa di minta.
Tap... Tap... Tap...
Moura merasa dia menghirup bau yang sangat ia kenal. Bau yang bahkan saat membersihkan tubuhnya masih begitu menempel dengan eratnya. Moura menatap nanar seseorang yang sudah berada di hadapannya. Pria itu tersenyum, mendekat dan bersimpuh di hadapan Moura.
"Qilla sayaaang, Papa datang!" seru Noegha pada Qilla tanpa menyambut ibunya lebih dulu.
"De.. Da.. De.. Da.."
Moura yang tengah duduk tidak bergeming dari tempatnya, dia justru dalam keadaan freeze.
"Sayaang, aku hubungi kamu kok gak aktif sih!"
Cup~
Di depan umum pria tampan dan kaya itu mencium kening Moura, wanita itu tambah syok dengan sikap Noegha saat ini.
"Kamu sangat berani kabur dariku sayang!" bisik Noegha di belakang telinga Moura dan berakhir mencium ceruk lehernya. Banyak pasang mata yang melihat kemesraan keduanya, begitulah di pikiran mereka. Moura mendorong tubuh Noegha perlahan.
"Ghaa..." lirihnya.
"Kamu jahat Moura! Aku yang membantumu, tapi kamu juga yang mencampakkan ku!" sungutnya kesal.
"Huh, sudahlah... Aku akan menemani kalian bersenang-senang dulu disini! Atau mau gak kita ajak Qilla ke tempat wisata lainnya?" Noegha terus berusaha menempelkan tubuhnya dengan Moura. Pria itu beranggapan bahwa orang-orang itu berpikir mereka adalah keluarga bahagia.
"Gha... Semalam adalah kecelakan! Aku di jebak..." ujar Moura sendu.
"Sudah tahu kamu selalu di incar, kenapa kamu lepas dari pengawasanku hah!" Noegha kembali di serang emosi.
"Bagaimana jika aku telat mendapatkanmu Moura?!"
"HOW?!"
Dengan berkaca Noegha menekan katanya. "Aku sungguh takut Moura, aku takut..."
Moura telah menumpahkan air matanya tanpa bisa ia tahan. Moura sudah tidak bisa lagi menyanggah perkataan Noegha. Pria itu benar, bagaimana jika semalam bukan Noegha yang menggagahinya. Dia tidak percaya Margareth masih menargetkannya. Dia juga begitu takut, mereka sudah mendapatkan video tidak senonoh dirinya.
__ADS_1
To be continue...
*****