Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
27 # Pengakuan...


__ADS_3

"Jadi dia naik jabatan sekarang?" tanya Margareth pada rekannya yang masih berada di Adhiaksa Utama.


"Yoi! Jijik banget gue... Dia belum ada satu tahun di kantor udah langsung melesat kayak gitu!" salah satu rekan Margareth yang bernama Indah menimpali dengan nada kecewa. "Kita yang udah bertahun-tahun disana ningkatin KPI kita ampe bengek begini cuma jadi staff biasa aja!" keluhnya kemudian.


"Makanya, lu cantik dulu noh kek si Moura. Terus jadi janda atau gak cobain aja naek ke ranjang si bos. Siapa tahu besok lu di angkat si bos jadi sekertarisnya juga. Hahaha!" sahut rekan yang lain justru mengejek.


Margareth mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi, mengapa Moura begitu beruntung disana. Selain mendapatkan jabatan dengan mudah wanita itu juga menerima perhatian yang besar dari pria incarannya.


'Apa yang kurang dari aku? Aku juga tak kalah cantik dari si ja*lang Moura. Aku bahkan merupakan salah satu anak anggota dewan di kota ini! Berani-beraninya Moura menginjak harga diriku sampai seperti ini!!' rutuk Margaret dalam hatinya.


Kebenciannya terhadap Moura sudah berada di ambang batas. Margareth juga menggunakan jabatan orang tuanya untuk kembali bekerja di tempat yang ia mau. Bahkan tanpa perlu susah payah dia tetap bisa hidup sangat layak dari fasilitas yang di berikan kedua orang tua padanya. Selain itu, Margareth juga memang merupakan selebgram di lini fashion dan kosmetik jumlah penggemarnya bisa di bilang lebih dari cukup untuk mengkroyok Moura di media sosial.


"Heh!" Tiba-tiba saja Margareth tertawa lirih di tengah obrolan panas rekannya.


"Bukannya Sabtu ini, kantor kalian bakalan ngadain anniversary ya?" tanya Margareth menghentikan keributan.


"Hm, lu mau join?" sahut rekannya mengejek.


"Ya, aku akan datang... Untuk balas dendam!"


Seluruh rekan Margareth saling tatap kemudian kesemuanya menyeringai dan kini tengah terbahak bersama mengetahui maksud dan tujuan Margareth.


***


"Kenapa kamu melakukan hal ini?" tanya Moura pada Noegha.


Keduanya tengah makan malam bersama di salah satu resto yang tak jauh dari kediaman Moura.


"Apa kamu tidak suka?" tanya Noegha balik.

__ADS_1


"Dih nanya balik nanya, gak sopan!" lirih Moura tidak ingin lagi memperpanjang urusan.


"Tentu saja karena kemampuanmu! Benar begitu?" Noegha berubah serius kali ini. Moura menghentikan gerakan tangannya saat akan memotong daging di hadapannya.


"Mungkin benar, dan kamu tidak salah mengakui kemampuanku! Hanya saja, staff lain mungkin berpikir aku melakukan kecurangan!" Akhirnya Moura mengeluarkan apa yang ingin ia katakan.


"Heh, itu sih terserah kamu! Jika kamu mau dengan kenaikan jabatan itu... Silahkan ambil! Tapi, jika tidak aku tidak akan memaksa. Kamu boleh kembali ke tempat asalmu..." tukas Noegha lugas membuat debar jantung Moura berpacu dengan cepatnya.


'Ternyata pria ini tidak main-main...' batin Moura menatap Noegha yang dengan elegan meminum minumannya.


"Kenapa? Ganteng ya? Lebih ganteng mana aku apa mantan suamimu?" tanya Noegha masih saja membahas rasa cemburu berlebihannya.


Moura membuka mulutnya perlahan kemudian memutar bola matanya jengah. 'Aduh please lah, narsisnya gak nahan...'


"Ehm... Aku tidak pernah ingin mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan. Bagi orang lama yang sudah sama-sama berjuang di kantor pasti mengetahui prinsipku yang satu ini!" Noegha mulai menjelaskan, sejujurnya pria ini type yang mudah mengeluarkan segala keluh kesahnya di banding pria-pria angkuh lainnya yang lebih senang memendam dan membuat keadaan menjadi salah sangka.


Di tatap hangat oleh wanita pujaannya membuat Noegha merasa special, dia mengulum senyum tampannya.


"Bukan hanya aku yang mengakui kemampuanmu, justru karena nilai testmu itu Shaveera menyarankan aku untuk memberikan posisi yang tepat untukmu!" Noegha menatap dalam kedua manik Moura. "Keberuntungan gandanya adalah, posisi manager sistem kosong dua bulan ini... Kamu tentu yang paling cocok!"


Moura mendadak kenyang mendengar perkataan Noegha yang ia rasa seperti pujian untuknya. Baru kali ini dia merasa keahlian dan kemampuannya di akui seseorang. Bahkan atasan dia sendiri yang mengatakannya setelah ini dia akan menyombongkannya di hadapan keluarga besarnya.


"Terima kasih, anda adalah orang pertama yang mengakui kinerjaku!" ujar Moura memperlihatkan senyuman tulus di hadapan Noegha.


Pria itu tambah terpesona dengan respon Moura padanya saat ini. Keduanya kembali larut dalam makan malam mereka, mereka ingat harus menjemput Qilla yang masih dititipkan di Daycare.


"Ra, Sabtu ini anniv kantor..." ucap Noegha setelah mobilnya terparkir di depan rumah sewa Moura.


"Oh iya... Apa aku juga boleh ikutan? Aku kan belum genap satu tahun di kantor?" tanya Moura polos.

__ADS_1


"Hahaha, tentu saja... Kamu ini, beneran baru pertama kali kerja ya?" canda Noegha di jawab anggukan malu wanitanya.


"Hm, kamu mau kan jadi wanita pendampingku?" tanya Noegha mendekati wajah Moura dan perlahan namun pasti semakin mendorong tubuhnya mendekati wajah Moura.


Moura seolah tidak memiliki pilihan selain diam di tempatnya. Bibir Noegha sudah berada tepat menyentuh permukaan bibir Moura. Mata Noegha terbelalak saat merasakan justru Moura berinisiatif memagut bibir penuh pria di depannya. Tangan Noegha bergerak menuju tengkuk leher Moura, mereka bertautan mesra seolah pasangan nyata yang tengah melakukan kemesraan sebelum mengantar pulang pasangannya.


Noegha semakin berhasrat terus menyesap bibir mungil yang terasa manis di indra pengecapannya. Moura juga sudah tidak canggung lagi, dia melingkarkan kedua tangan di bahu pria di depannya. Tangan Noegha terus mengusap lembut ceruk leher Moura, turun perlahan menuju area depan.


'Sialaaan, kemaren gue marah banget sama ni cewek! Ampe udah booking cewek buat ngilangin stress taunya gak naf*su sama sekali. Sekalinya ni cewek yang di depan gue tiba-tiba aja adk gue minta jatah!' rutuk Noegha kesal, tidak mungkin dia meminta hal begitu di saat dia tengah mengejar cinta Moura. Salah-salah Moura ilfeel dan kabur tidak mau lagi menemuinya.


Moura begitu menikmati ciuman panas yang membuat dia sama-sama bergairahnya. Tanpa penolakan berarti kali ini Moura memperbolehkan Noegha menyentuh bagian depan tubuhnya. Dengan lenguhan yang tertahan rasanya Moura ingin menyuruh Noegha mampir ke rumahnya saat ini. Noegha yang di perbolehkan wanitanya semakin semarak meremas kencang dua buah squishy yang baru di ketahui Noegha begitu padat dan kencang juga penuh di pergelangan tangannya.


'Basah?' Noegha menghentikan gerakan tangan bahkan ciumannya, dia merasa heran tangannya basah kali ini.


"Loh apa ini Ra?" tanya Noegha khawatir memperlihatkan tangan dan juga kemeja Moura yang sudah terdapat remesan air.


Moura mengatupkan bibirnya dan tersipu malu. "Kamu lupa aku kan sendang menyusui!" lirih Moura menjawab kegelisahan Noegha, pria itu justru takutnya Moura sakit.


Wajah Noegha memerah malu, dia menggigit bibirnya seksi di depan Moura. Ingin rasanya dengan bar-bar Moura menyesap bibir penuh bosnya itu.


"Aku lupa, di belakang ada Qilla..." bisik Noegha kembali memeluk tubuh Moura dan kini wajahnya dia tempelkan di dada Moura. Mencium harum lembut vanilla disana. "Aku menginginkanmu sayaaang, boleh?" bisiknya kemudian menyesap permukaan kulit Moura kuat meninggalkan tanda kepemilikan disana.


"Aarrghh... Ssshhh!" rintih Moura merasakan tubuhnya bergetar hebat.


Wajah Noegha mendongak menatap Moura dengan senyum hangatnya. "Aku menyukaimu Moura..." lirihnya membuat detak jantuk Moura kembali berpacu 10x lipat dari sebelumnya.


To be continue...


*****

__ADS_1


__ADS_2