Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
25 # Air di atas Daun Talas!


__ADS_3

Sebelumnya di kantor Presidir, Noegha tengah merasa kesal luar biasa. Padahal sudah hampir sepekan dirinya tengah di mabuk asmara bersama Moura. Kedatangan mantan suaminya sungguh di luar kuasanya. Dia tidak menyangka Moura masih bisa berhubungan baik dengan pria yang sebelumnya terlihat tidak di sukai Moura.


"Sialaaan!! Kau pikir kamu siapa Moura!!" umpat Noegha merasa harga dirinya jatuh saat mengetahui tanda cinta di tubuh Moura sudah sangat jelas menegaskan apa yang sudah terjadi pada wanitanya dengan mantan suaminya. Hatinya sungguh sakit mengetahui hal ini. Menerima status Moura yang merupakan seorang janda beranak satu tidak jadi persoalan baginya. Hanya saja wanita itu masih berhubungan sangat dekat bahkan terlalu intim membuat dirinya tidak bisa mentolelirnya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


Sekertaris pribadinya masuk ke dalam ruangan, keningnya berkerut saat melihat wajah kusut sepupunya. "Aku lihat beberapa hari ini kamu ga bareng sama si Moura ya?" tanya Shaveera kepo tanpa di persilahkan lebih dulu wanita itu telah duduk di hadapan Noegha mencibir.


"Ga usah sok peduli pada keadaanku!" sungut Noegha menjawab pertanyaan Shaveera.


"Aku gak peduli, aku cuma kepo." sahutnya datar membuat Noegha semakin kesal.


"Lama-lama aku pecat kamu HAH!" umpat Noegha berang.


"Hihi, gitu aja sewot... Btw, ini hasil test wanita incaranmu." Shaveera menaruh beberapa lembar kertas jawaban serta penilaian akhir dari team personalia.


"Ga nyangka, otaknya sangat cemerlang IQ dan EQ dia di atas rata-rata. Sungguh sangat di sayangkan jika harus berakhir jadi Clerk atau sekertarismu saja!" puji Shaveera yang membuat Noegha tertarik dan memeriksa berkas di depannya.


Rasa bangga itu menyelusup di relung jiwanya, tidak menyangka kali ini dia menyukai wanita yang begitu pintar dan bonusnya wanita ini sangat cantik. Biasanya wanita yang mendekatinya hanya sekumpulan wanita sosialita yang bermulut besar dan tong kosong nyaring bunyinya. Hanya mengandalkan paras dan tubuh molek mereka menjadi aset penting dalam memikat Noegha. Noegha juga bukan tipe pria baik-baik dia juga sudah mencicipi wanita mana saja yang ia inginkan. Tentu saja dengan pengaman, dia tidak mau terjebak dalam permainan para wanita haus akan materi dan status sosial. Bagi Noegha, wanita seperti itu hanya pantas menjadi mainan semata, digunakan saat di butuhkan dan di buang saat tidak berguna.


"Jadi gak pake dia buat gantiin aku?" tanya Shaveera membuyarkan lamunan bos besarnya.


"Iya, hanya tiga bulan bukan?" sahut Noegha kembali memastikan.


"Kalau kamu mau kasih aku extra sebulan juga aku terima dengan senang hati kok!" rayu Shaveera cengengesan.

__ADS_1


"Ndasmu!!" umpat Noegha sarkas. "Oh iya coba kamu cek, Pak Rizal bukankah mengajukan masa pensiun dininya dua bulan mendatang?" tanya Noegha serius ke arah Shaveera.


"Hmm... Untuk apa?" tanya Shaveera balik kemudian tanpa di perjelas dia mengerti.


"Hahaha, dasaaar! Luarnya sok gak peduli dalamnya memberi yang terbaik demi ayang!" ejek Shaveera pada Noegha.


"Enyah kau dari sini sekarang juga!!" maki Noegha geram pada sepupunya yang selalu saja mengajaknya baku hantam.


"Wleee..." Shaveera menjulurkan lidahnya pada Noegha bukti dia tidak takut gertakan kakak sepupunya itu. "Buruan nyatakan cintamu kisanak sebelum di embat yang lain. Aku liat tadi pagi dia di antar orang lain loh." goda Shaveera memanasi Noegha. Tanpa di beritahupun Noegha sudah mengetahuinya, moodnya kembali rusak karena dia terkena serangan cemburu.


"Huh... Udah dari awal aku nembak dia tapi di tolak," lirih Noegha merebahkan tubuhnya di senderan kursi kebesarannya.


"BUAHAHAHAHAHA..." pecah tawa Shaveera saat mendengarnya. "Seorang NOEGHA ADNIAKHA BAGASKHARA di tolak seorang janda?! HAHAHAHA" Tak ada habisnya Shaveera mengejek kakak sepupunya itu. Karena dia tahu di antara saudaranya yang lain Noegha adalah yang paling baik. Pria itu hanya berani menggertak saja tanpa benar-benar melakukan tindakan kekerasan padanya.


"Aku kesal, kenapa dia masih mau ke makan omongan manis mantan suaminya sih! Kalau kayak gitu kenapa mesti cerai coba?!" keluh Noegha menggunakan waktunya untuk curhat pada Shaveera. Dia butuh teman berbagi sekarang ini. Michel sedang ia tugaskan ke luar kota, dia tinggal memiliki Shaveera sebagai teman berbagi.


"Wait... Wait... Wait... You know the man is her ex-Husband?" tanya Shaveera terkejut.


"Hmm... Tidak biasanya kamu mengeluh begini kisanak! Bukankah kamu Kang nikung? Yaaa kecuali kamu emang ga serius ke si Moura sih!" Shaveera kembali memanasi Noegha.


DEG!


"Heh, entahlah... Aku merasa aku harus mulai belajar menghargai keputusan wanitaku," ucap Noegha menatap kosong kedepan membuat Shaveera membuka mulutnya lebar. "Dia sungguh berbeda dari yang lainnya, dia strong di luar tapi pecicilan di dalam! Hahaha..." Hanya berpikir kembali bagaimana seminggu ini dia habiskan bersama Moura, mood Noegha kembali membaik. Dia kembali mengingat bagaimana mereka berangkat bersama, bersenda gurau saat sarapan dan makan malam, bahkan tak jarang mereka melewati jalanan dengan bernyanyi bersama tanpa ragu dan malu. Selama dua hari ini dia sungguh merasa kehilangan semangatnya.


"Baiklah, kamu tenang saja itu masalahmu bukan masalahku. HAHAHAHA!" ejek Shaveera kembali.


"Bang*sat... Pergi sanaaa!!" umpat Noegha kesal.

__ADS_1


"Sedikit saran aja bro, cinta itu perjuangan, yang gampang itu pelarian!" cibir Shaveera sembari bangkit dari kursinya. "Ya namanya juga hidup banyak cobaan dan rintangan... Kalau banyak cucian itu namanya Laundry-an!" canda Shaveera menunjukan wajah annoyingnya. Noegha tidak menjawab lagi dia menunjukan jari tengah dengan penuh emosi di hadapan Shaveera yang di balas dengan juluran lidah sepupunya.


***


Seperti kata pepatah Bagai air di atas daun talas, Moura sungguh tidak memegang teguh pendiriannya. Kali ini dia kembali jalan bersama dengan mantan suaminya begitu mesra, alasan klasik yang ia yakini hanya untuk membawa Qilla jalan-jalan bersama. Seperti komitmen yang baru mereka sepakati bersama, demi Qilla mereka akan tetap menjadi orang tua kandung di hadapan putri mereka.


Moura tengah menggelayut manja di lengan Raffa, putrinya di dudukkan di stroller dan didorong oleh Raffa. Pria itu begitu bahagia saat ini. Dia sangat ingin menghentikan waktu, menikmati kebersamaan yang seperti ini yang ia inginkan selama ini.


"Love you Bee..." ucap Raffa mencium pucuk kepala Moura. Moura begitu tersentuh, dia hanya bisa mengembangkan senyumnya menjawab pernyataan cinta mantan suaminya. 'Aku benci mengakui aku memang masih memiliki rasa itu. Hanya saja...' Moura membuang wajahnya menyembunyikan kegelisahan hatinya. Raffa menyadarinya dia menggenggam erat tangan Moura. Keduanya kembali berjalan-jalan mengelilingi salah satu Mall terkenal di Batam.


Tanpa di ketahui keduanya ada sosok pria lain yang tengah mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan cemburu luar biasa saat ini.


"Owh, wajar sih kalo doi masih menggelayut manja kek gitu. Lakinya ganteng wak!" cicit Shaveera pada Noegha yang wajahnya semakin memerah.


"Shut up!" umpat Noegha berang. "Kita lihat saja nanti, aku pastikan Moura akan jatuh hati padaku di banding pria brengsek itu!" sambungnya segera keluar dari area mall.


Sore ini Shaveera merengek minta di antar jalan-jalan, dan melihat kebutuhan persalinannya. Noegha terpaksa mengikuti keinginan Shaveera, suaminya sedang tidak ada otomatis dia yang di mandatkan untuk menjaga dan menemani Shaveera selama Michel tidak disana.


"Tunggu wooi!" pekik Shaveera kesal karena di tinggal Noegha begitu saja. "Haiissh dia ini, ah sudahlah gue pulang pake taksi aja!" Shaveera tidak peduli dia bergegas mendorong trolly belanjaannya dan tidak sengaja kini jarak pandangnya sangat dekat dengan keberadaan Moura dan Raffa.


Raffa merasakan ponselnya bergetar, segera ia jawab panggilan yang menghubunginya. "Bentar ya Sayang..." Raffa mencium kening Moura seperti biasanya dan menjawab panggilan yang berasal dari asisten khususnya.


"Halo... Hm?" Raffa akhirnya memutuskan menjauh dari Moura.


Moura menatap punggung mantan suaminya. "Harus menjauh begitukah? Ceweknya pasti!" gerutu Moura sebal. "Issh ngapain aku urusin dia, kok aku merasa jadi wanita simpanannya... Hih!!" Moura segera mendorong stroller dan mengajak Qilla mencari apa yang akan ia beli untuk kebutuhan putrinya.


"Hmmm... Bener juga kata Noegha, jika terlihat begitu baik-baik saja mengapa harus berpisah?" gumam Shaveera memperhatikan keberadaan Moura. "Moura, aku berdoa untukmu. Karena setelah Noegha menginginkanmu dia tidak akan menyerah! Bisa jadi dia yang akan memisahkan kamu dari mantan suamimu kelak..." Shaveera kini melanjutkan urusannya dan tidak lagi mencampuri urusan orang lain.

__ADS_1


To be continue...


*****


__ADS_2