Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
12 # Balas Dendam


__ADS_3

Moura telah berada di kantor bersama bosnya. Sebelumnya Moura meminta agar Noegha menjaga jarak demi kenyamanan bersama. Noegha akhirnya menyetujui setelah meminta jatah kissnya. Noegha senang selalu saja ada hal yang bisa menjadi bahan ancaman untuk Moura agar jalannya untuk mendapatkan si wanita semakin mudah.


Moura berjalan dengan wajah masamnya, si pria arogan kembali meminta yang bukan haknya! Saat memasuki lobby kantor seluruh pasang mata warga Adhiaksa Utama menatapnya nyalang seolah dia tersangka kejahatan.


"Heh, Moura kamu tuh anak baru di sini! Belaga kamu yaaa!" seru Margareth mengadang jalur Moura.


'Datang juga Mak Lampir sebiji nih berserta bestie ga jelasnya!' ejek Moura dalam hati.


"Permisi, kamu menghalangi jalan!" ketus Moura tidak ingin menanggapi sumbu pendek di depannya.


"Diihh!!" Margareth lebih berani mendorong bahu Moura dengan tangannya. Moura mendelik menatap keberanian Margareth di depannya.


"Jadi cewek ko Kang nindas, Rendi jadi korban keganasan lo." sungut Margareth mulai menggiring opini publik. Dengan suaranya yang nyaring membuat perhatian para staff lain kini tertuju padanya.


"Kalau cowoknya ga suka jangan di paksa Non. Apalagi ampe babak belur gitu dia!" imbuhnya kemudian setelah beberapa orang mengerumuninya. "Lu apain hah? Jangan-jangan otak lu nista ya, di bikin pingsan buat ngelakuin tindakan asusila ya?" Margareth terus mencecar Moura dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.


'Hmm duo racun klop udaaah!' rutuk Moura menyikapi hinaan rekan kerja yang selalu menindasnya.


Moura heran pada Margareth, selama ini Moura tidak pernah dekat dengan siapapun bahkan Keysha sendiri tidak begitu akrab dengannya. Dia seolah memiliki dendam kesumat pada Moura.


Keysha pernah berujar padanya saat pertama kali rumor dirinya mencuat. "Wajar sih Non, lu tuh cantik banget. Di seantero kantor elu paling cantik sumpahnya! Mana masih muda banget single lagi...," terang Keysha di sela makan siang mereka tempo lalu. "Di tambah Pak Noegha sepertinya ngincer elu kan?!" selidik Keysha mencurigai Moura ada affair dengan bosnya.


"Gue ga ngerti ama omongan lu, bentar lagi jam efektif bekerja apa kamu senang menerima hukuman?" ancam Moura berbalik mendorong tubuh Margareth dan pergi meninggalkan kerumunan.


Di sudut yang tak terlihat orang, Noegha tengah memperhatikan keributan yang baru saja terjadi di depan matanya. "Moura ini seperti memiliki dua kepribadian. Jika di sampingku dia akan malu-malu dan terlihat lemah. Sedangkan di hadapan yang lainnya dia seperti landak yang siap menusukan duri di tubuhnya jika terusik jalannya." gumam Noegha melanjutkan langkah kakinya.


"Apa kalian ingin aku tarik ke ruang HRD sekarang juga?!"


Suara bariton seksi yang di idamkan hampir seluruh karyawati single di kantor membuat mereka membulatkan mata dan bersiap tebar pesona terlebih Margareth.

__ADS_1


"Pagi Pak," sapa Margareth sok ramah.


"Kamu menghadap Michel dan setelah ini kamu di skors tidak perlu datang ke kantor selama sepekan!" ujar Noegha dingin menatap Margareth tajam kemudian kembali bergegas meninggalkan kerumunan yang kini berubah menjadi pucat pasi di setiap wajah mereka.


"Tapi Pak! Salah saya apa?" Tak ingin di rugikan Margareth menahan langkah kaki tuannya.


"Salah kamu?!" Noegha berbalik badan menatap tajam. "Kamu menindas karyawan baruku!" pekik Noegha dingin.


DEG!


Margareth terpaku tidak percaya Noegha tengah membantu Moura dan menghukumnya.


"Bapak salah!! Justru aku ingin memberitahukan bahwa Moura itu ular berbisa. Tampang luarnya memang polos dan lugu kenyataannya tidak seperti itu." sungut Margareth merasa tidak puas atas perlakuan bosnya yang pilih kasih.


"Kemarin aku memergoki dia menarik Rendi ke ruangannya sepulang jam kerja. Buat apa coba di jam pulang dia menahan Rendi. Aku berniat memastikan agar tidak terjadi fitnah dan mengingatkan Moura!" Seperti di beri celah oleh Noegha yang masih bertahan berdiri di sana Margareth dengan cepat kembali menyebar rumor buruk Moura.


Terlihat Noegha mengernyitkan keningnya, pasalnya Moura memang keluar telat semalam. 'Apa mungkin?!' pikir Noegha sedikit terpancing.


Margareth menyadari hal itu dan menyunggingkan senyumnya. Tak berapa lama Michel dan istrinya Shaveera tiba. Noegha berujar agar Michel mengurus keributan yang di lakukan Margareth, gadis itu membukakan mulutnya tidak percaya.


"Shaveera panggil Moura menghadap ruanganku segera!" titah Noegha dengan nada tingginya.


Shaveera mengerti dia beranjak dan menuju ruangan departemen dimana Moura bekerja saat ini. Entah mengapa perasaan Noegha terasa panas, mirip perasaan cemburu berlebih pada pasangan.


"Aku harap kamu memiliki jawaban yang bisa memuaskanku Moura!" gumam Noegha bergegas menuju tempatnya.


Shaveera telah berada di ruang projek di sambut oleh pak Khairul. Namun kening pria paruh baya itu mengerut saat yang di cari ternyata karyawan barunya.


'Ya Tuhan apa lagi inii?!" gerutu Moura lirih menundukkan wajahnya kemudian bergegas kembali bangkit dan mengikuti instruksi sekretaris Presdir mereka.

__ADS_1


Di sisi lain di ruang HRD Margareth teguh akan pendiriannya. Membuat Michel memijat keningnya, pagi ini dia langsung di beri tugas yang memusingkan.


"Margareth, harusnya kamu sangat tahu bukan dengan perangai tuan Noegha?!" tanya Michel pada akhirnya buka suara.


"Tapi, aku sungguh memiliki bukti bahwa aku benar mengatakan semalam mereka melakukan tindakan di luar batasan seorang karyawan Adhiaksa." cicit Margareth mempertahankan dirinya.


"Heh, aku ingatkan kembali Margareth. Bagi Tuan Muda rule number one adalah atasan selalu benar! Rule number two, kamu tahu pasti jawabannya bukan?!" Michel memberikan kata penutup sebelum akhirnya dia kembali bertanya apa mereka paham maka Margareth mengerti.


Dengan berat hati Margareth akhirnya kembali tersadar bahwa seberapa keras kita menjebak Moura, gadis itu akan tetap kena batunya.


Sementara itu di ruangan BOD, Moura tengah berada di hadapan Noegha yang sudah mengerjakan verifikasi data miliknya.


"Apa kamu tahu mengapa aku menyuruhmu datang?" tanya Noegha dingin seperti sebelumnya.


"Maaf pak t-tidak tahu..." Moura menundukkan pandangannya.


'Mengapa dia terlihat seperti wanita lemah?!' pikir Noegha menyelidik tampilan manis wanita pujaannya.


"Semalam apa yang kamu lakukan di ruangan hhmmm?" tanya Noegha kesal. Akhirnya Moura mengerti sepertinya Margareth telah kembali melempar umpan menangkap ikan besar pikirnya.


"Kepo..." lirih Moura.


"Heh!" dengus Noegha kesal kini bangkit dan mendekati tempat duduk Moura. Dengan berdiri tegap menyender di ujung meja tepat di hadapan Moura pria itu bersila tangan di depan.


"Apa kamu lupa Sayang, kamu tidak boleh lagi mengotori tanganmu sendiri untuk menekan musuh!" ujar Noegha menundukkan wajah menarik dagu wanitanya.


To be continue...


*****

__ADS_1


__ADS_2