Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
23 # Roller-Coaster


__ADS_3

"Uuuhh!"


Moura merentangkan tangannya ke atas, rasanya dia sangat lelah. Setelah di hajar hampir seharian melakukan test, dia juga harus mengerjakan tugasnya sebagai Admin di Project.


"Eh, tadi ngapain di suruh ke HRD?" tanya Keysha menghampiri Moura sebelum keduanya melesat pulang.


"Ada test gitu buat assessment katanya." jawab Moura seadanya.


"Oh ya? Ko bisa buat apa?!" tanya Keysha penasaran mereka justru terlibat percakapan di banding keluar sekarang untuk melakukan absensi pulang.


"Katanya di minta gantiin Mba Shaveera yang mau cuti melahirkan." terang Moura sembari merapikan meja kerjanya.


"Huuu... Emang bukan kaleng-kaleng kawan awak satu ini!" puji Keysha dengan wajah berbinarnya. "Kalo berhasil pajak pokoknyaaa!" imbuhnya kemudian menggoda.


"Eh tapi hati-hati jaga omongan di depan Mba Shaveera tuh, dia jauh lebih parah mulutnya ketibang Si Tokek!" saran Keysha mengingatkan Moura.


"Emaaang..." rintih Moura sempat mengalami kondisi itu kemudian keduanya terbahak bersama.


Tring!


[ Bee, aku jemput kamu pulang ya... Kamu pulang jam berapa? ]


Satu pesan singkat dari mantan suaminya sudah di baca Moura segera dengan cepat Moura membalas tidak perlu dia pulang bersama temannya. Raffa segera menghubungi Moura saat ini, untung saja Keysha masih berada di sampingnya dia bisa menipu Raffa saat ini.


"Gila lu... Siapa itu?" tanya Keysha setelah mengembalikan ponsel Moura.


"Papanya Qilla..." lirih Moura.


"WHAAATS?!!!"


Keterkejutan Keysha berakhir sampai di situ, pasalnya Noegha telah berada di dekat mereka.


"Dah ya, gue cabut duluan..." Dengan segera Keysha meninggalkan Moura sebelum dia mendepatkan omelan pedas dari si tokek.


Moura membuang nafasnya kasar, kemudian seperti kesepakatan sebelumnya Moura di antar pulang oleh Noegha saat ini.


"Apa mantan suamimu ikut pindah kesini?" tanya Noegha kembali mempermasalahkan keberadaan Raffa yang menjadi ancaman terbesarnya.


Dengan jujur Moura menjelaskan keberadaan Raffa saat ini, Noegha sedikit lega mendengarnya. Jika saja Moura jujur juga pasal hubungan badannya semalam mungkin Noegha akan murka saat ini juga.


"Jadi Qilla bersama Ayahnya?" Noegha telah berada di pelataran rumah Moura. "Kalau gitu kita bisa kencan berdua kan?" tanya Noegha mendekati posisi Moura.


Wanita itu terbelalak selalu saja Noegha mencuri ciuman darinya. Saat akan berontak tangan gadis itu di cengkram kuat oleh Noegha. Noegha begitu emosi pada kedekatan Moura dengan mantan suaminya dia mencium liar bibir wanita itu sampai terdengar bunyi peraduan lidah dan bibir mereka yang sudah bertukar saliva.


Hasrat Noegha begitu menggelora, dia terus menekan tubuh Moura hingga batas kursinya. Dengan cepat juga tangan Noegha telah lihai membuka kancing-kancing terusan Moura. Dengan takut Moura kembali mencoba mendorong tubuh Noegha. Selalu saja tiba-tiba energi Moura merosot jika di hadapkan pada pria yang mencuri perhatian padanya. Bibir Noegha telah sampai di leher jenjang wanitanya yang harum vanilla semerbak memabukkan dirinya.

__ADS_1


"Aahhh Noeghaa jangaaan... Ssshh... Aaarh tolong jangaaan!" racau Moura yang tidak di dengarkan lagi oleh Noegha yang sudah gelap mata oleh gairahnya.


Dengan cepat Noegha membuka kancing terusan Moura dan mencoba peruntungan meminta sentuhan lebih seperti bayi Moura yang meminta air susu ibunya.


DEG!


Noegha terkejut saat menatap bagian depan wanitanya, pasalnya banyak sekali tanda merah di sana. Kulit putih Moura menjelaskan jejak merah yang bisa di tebak tanda apa itu.


"Heh... Dasar ja*lang!" umpat Noegha gairahnya merosot tajam. "KELUAAAR SEKARANG!!" pekik Noegha penuh emosi mengusir Moura.


Moura telah berderai air mata, untuk pertama kalinya dia di hina dengan ungkapan ja*lang oleh seorang pria. Dengan cepat Moura keluar dari mobil Noegha, tanpa waktu lama mobil Noegha melaju dengan kencangnya.


"Huhu... Bajingan... Aku baru tahu ada pria paling brengsek selain Raffa!" Moura mengusap bulir beningnya kemudian tidak sudi menjatuhkan air matanya untuk pria bajingan seperti Noegha. Pria itu yang memaksanya berbuat mesum tapi dia juga yang mengatakan bahwa dirinya wanita ja*lang. Sakit sekali hati Moura mendengarnya.


"Bagus, dengan seperti ini dia akan menjauhiku... Hahaha!" Moura kembali menjatuhkan air matanya sembali berjalan menuju rumah sewanya.


Moura merogoh ponselnya setelah memasuki rumah berniat untuk membawa putrinya yang di bawa Raffa. Baru saja akan menekan tombol panggil mantan suaminya sudah mengetuk pintu rumahnya. Moura mengerutkan keningnya, dia bergegas menuju pintu depan dan membukanya.


"Raffa... Kok udah di sini?"


Raffa memang sudah mengetahui rumah Moura saat ini, di karenakan Moura butuh mengganti pakaiannya untuk bekerja.


"Udah dong..." ujar Raffa tersenyum begitu pula putrinya yang menyambut ibunya dengan senyuman.


"Sini Sayaaang Ibu gendong..." Moura begitu rindu dengan putrinya.


"No... Na... No... Na..." Bayinya menolak sambutan tangan ibunya. Moura terbelalak dia tidak suka di abaikan putrinya.


"Kok gitu Syaqillaaa Shanuum!" pekik Moura kesal.


"Hahaha, dia milih sama Papap dong, Ibu bau aceem!" goda Raffa.


"Iihh apa sih, dia juga sama kan abis kerja keringetan!" ujar Moura basa-basi, di atersadar mungkin saja harum pria lain menempel di tubuhnya.


"Buktinya Qilla masih mau nempel ama aku... Hihi"


"Ya udah aku mandi dulu deh..."


"Jangan cantik-cantik ya, bahaya nanti aku khilaf lagi kayak semalam!" goda Raffa mengerlingkan matanya pada Moura yang di balas dengan juluran lidahnya.


Moura bergegas mengambil handuknya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Raffa kembali menatap sendu setelah tubuh mantan istrinya menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Maafkan Papap Qilla... Kamu harus mengalami hal ini." Raffa menatap putrinya yang tengah memasukan kembali tangannya ke mulut mungilnya. "Seandainya saja Papap mendengarkan Ibu untuk bersabar padanya dahulu... Arrgh... Papap ingin kita bersama lagi Sayang." Raffa memeluk erat putrinya.


Moura telah selesai membersihkan dirinya, dia keluar dengan baju tidurnya dan mendekati Raffa yang masih bermain dengan putrinya. Moura iri saat ini, putrinya terkekeh renyah di kupingnya saat Raffa menggoda putrinya dengan menggerakan kepala di perutnya.

__ADS_1


"Ih senang betul!" potong Moura tiba-tiba menghampiri keduanya.


"DIh, bahasanya udah lain sekarang. Cepet banget kamu mah terkontaminasi jadi kayak upin ipin."


Buug!


Moura melempar bantal sofa ke arah wajah Raffa, ketiganya justru main lempar bantal kali ini. Tawa mereka pecah bersama.


"Gih mandi sana..." titah Moura pada Raffa setelah puas tertawa.


"Maunya di mandiin kamu!"


Buug!


Moura kembali memukul tubuh Raffa dengan sangat keras.


"Hahaha kamu mah sadis beneer dah! Mana ada cowok yang tahan sama kamu selain aku Bee.. Hahaha..." Raffa kembali menggoda Moura yang justru di anggap serius oleh Moura.


Benar! Selama ini Raffa sudah sangat sabar terhadapnya, hanya pria itu yang menerima dirinya apa adanya, kurang dan lebihnya. Moura menggeleng kepalanya membuatnya harus tersadar kembali ke kenyataan hidupnya.


"Kita ke hotel lagi ya? Atau boleh gak aku tidur di sini? Aku rindu kamu masakin aku..." rengek Raffa sendu.


"Aku masakin dulu aja ya... Tapi kamu pegang Qilla dulu."


"Siap Sayaaaang!"


Dengan sumringah Raffa mendekati Moura dan kembali mencium bibirnya. Moura menutup matanya menikmati kembali pria itu memanjakan dirinya seperti dulu.


"Dah ah, nanti bahaya aku bisa minta jatah lagi. Kamu mah gitu godain wawe!" ujar Raffa lembut.


"Hah... Enak aja, kamu tuh Mushroom! Dikit-dikit cium..." hardik Moura bangkit dari sofa.


"Lah tadi yang merem duluan siapa hayoooo... Mau minta yang lama ya?"


"Bang*ke!" umpat Moura sebal.


"HAHAHAHAHA... Ibuuu aku lapaaar..." rengek Raffa mendudukan putrinya di atas tubuhnya yang sekarang tengah rebahan.


Moura sungguh tidak tahan hari ini, hidupnya sungguh seperti roller-coaster dia tidak bisa memprediksi akan seperti apa. Bayangan hitam perselingkuhan Raffa selalu menyeretnya ke dasar jurang. Bagi Moura semua itu adalah perselingkuhan. Pada kenyataannya awalnya suaminya itu di jebak oleh sekretaris pribadinya yang jatuh cinta pada Raffa. Linda memberikan obat Afrodisiak pada Raffa dan merekam serta mendokumentasikan untuk di berikan pada Raffa.


Raffa sudah menjelaskan jutaan kali namun Moura tidak mempercayai dirinya membuat pria itu emosi. Dia benar-benar mencari pelarian pada wanita lain. Di rumah keduanya hanya akan terlibat pertikaian hebat sampai akhirnya dengan mantap Moura mengajukan perceraian ke pengadilan agama.


To be continue...


*****

__ADS_1


__ADS_2