
“Margareth!! Keluar kau!!!”
Di pagi hari yang cerah ini, pelataran kantor Adhiaksa Utama terlihat riuh oleh beberapa orang yang memperhatikan keberadaan seorang wanita yang tiba-tiba saja berteriak di hadapan mereka memanggil nama Margareth. Margareth yang kebetulan baru datang kemudian berbalik badan dan menatap tajam kearah si wanita pembuat onar.
“Siapa kamu?” tanya Margareth balik dengan tatapan angkuh dan keheranannya.
“Kau JA*LANG!!”
PLAAAAAK!!
Semua orang terkejut dengan sikap kasar si wanita yang tidak di ketahui identitasnya itu. Wanita itu menampar Margareth dengan kerasnya hingga wajah cantik penuh make up menoleh ke sisi yang lain. Margareth mengusap
pipinya dengan raut wajah kesalnya. Dia berencana membalaskan aksi perempuan gila di hadapannya langsung.
“KAU YANG JA*LANG!”
Mereka mulai saling sikut dan jambak, mempertahankan ego masing-masing.
“Aku tidak mengenalmu... Apa urusanmu membuat onar disini hah?!”
Margareth berujar kesal dengan mencoba menjambak wanita yang memiliki postur tubuh lebih berisi dan lebih kuat dari dirinya membuat dia kesulitan membalas tamparan si wanita pembuat onar.
“Alaaah, emang PELAKOR TUH AKTINGNYA LUAR BIASA!!” maki si wanita pembuat onar. “APA PRIA DI DUNIA INI SUDAH TIDAK ADA LAGI HAH? Sampai-sampai kau goda SUAMI ORANG!!!” bentaknya tak kalah sadis.
“Cuiihh!”
Si wanita kembali bertindak arogan dengan meludahi wajah Margareth. Margareth terpaku dengan membuka lebar mulutnya tidak percaya apa yang dia alami dan fitnah macam apa ini?
“Denger ya wanita gila... Aku tidak kenal kamu dan suami mu!” ujar Margareth penuh kekesalan. "Aku selebgram dengan 20 juta follower tidak mungkin melakukan itu!!" Dengan sombong Margareth juga mengibas rambutnya. "Sungguh kurang kerjaan, anda kalo mau fitnah liat-liat dulu napa!! Mana buktinya aku merebut suamimu??!!”
Plaaak!
Si wanita asing itu ternyata sudah mempersiapkan dengan matang, dia merogoh tasnya dan melempar beberapa foto tepat di depan wajah Margareth sebagian berhamburan tertiup angin membuat orang lain bisa melihat dengan jelas penampakan dalam foto tersebut. Semua tampak memekik tidak percaya setelahnya!
“Wuuooow!” pekik salah satu rekan kerja yang sangat senang nimbrung tiap ada keributan.
“Gila... Margareth hidung belang aja di embat!” sahut rekan lainnya terus memperhatikan foto-foto yang tersebar. “Padahal cowoknya kek Ba** gendut!”
“Eitss jangan salah siapa tahu tas CHANNEL dia itu─" seseorang mendelik jijik ke arah Margareth.
"Wah sugar daddynya yang bayarin!!” rekan lain ikut menanggapi dan mengejek Margareth.
Riuh semua orang mengolok-olok Margareth, foto-foto itu begitu jelas memperlihatkan seorang wanita dengan wajah yang sangat mirip dengannya tengah berada di sebuah bar dengan pria paruh baya yang buruk rupa dan juga beberapa foto memperlihatkan tindakan asusila membuat orang menatap jijik padanya sekarang.
Wajah Margareth terlihat merah padam, dia bersiap melakukan perlawanan dan mencabik-cabik wajah di pembawa fitnah padanya. Dia sendiri tidak mengenal si pria, manalah dia mau juga melakukan hal senonoh dengan pria tua bangka seperti di dalam fotonya!
“INI TIDAK BENAR, AKU TIDAK KENAL DENGAN PRIA INI!! KAU MENJEBAK KU BRENGSEK!!”
Margareth bersiap menjambak rambut si wanita namun dengan sigap si wanita asing itu bisa menghardik dan mencekik leher Margareth.
“Kau tengok baek-baek foto itu HAH?” maki si wanita asing dengan raut wajah yang sudah merah padam. “Buat apa aku mempertaruhkan harga diri ku jika aku salah orang!!”
“DASAR PELAKOR HINA!!”
Bruuuk!!
Margareth tersungkur di tanah setelah di jatuhkan si wanita yang mengatakan istri si pria di dalam foto.
“Huh, buang waktu ku saja!! Pergi sana ambil suami tidak bergunaku itu! Kalian sama-sama sampah patutnya disatukan!!”
“Cuiihh!!”
“Hari ini adalah sebagai ganti rasa sakit hati yang kalian buat di belakangku selama ini!!”
__ADS_1
Si wanita bergegas berbalik badan dan meninggalkan pelataran kantor yang telah di buat menjadi arena pertunjukan besar olehnya sebelum pihak keamanan menciduk dirinya. Tanpa di sadari beberapa orang termasuk Margareth, Moura tengah tersenyum geli di balik pilar lobby kantor mereka.
‘Rasakan... Aku tidak perlu mengotori tangan ku untuk memukulmu bi*tch!’
“Apa ini ribut-ribut?? Bubar sekarang juga!!”
Entah dari mana dulu security kantor baru sekarang beliau melerai kegaduhan yang terjadi di depan kawasannya.
“Dih kalo gue jadi Margareth malu banget!!”
“Gue sih mening bunuh diri hahahaha!!”
Masih banyaknya orang mengolok Margareth membuat wanita itu mengepalkan tangannya kesal.
“Ini pasti jebakan, aku yakin ada orang yang sangat berani membuat aku malu seperti ini!!” lirih Margareth dia bangkit. “Jika aku tahu siapa kamu, aku akan mengembalikannya 1000x lipat rasa malu yang aku terima saat ini!!”
Margareth menepuk pakaiannya dari pasir yang menempel. Terlihat dari sudut matanya sepasang sepatu hak tinggi seseorang menghampirinya. Setelah keadaan sepi Moura mendatangi Margareth. Margareth menatap Moura dengan tajam begitu pula sebaliknya. Moura mendekati Margareth memberi jarak sedikit dengan bersidekap tangan di hadapan Margareth yang tampilannya sudah sangat kusut.
“Bagaimana rasanya di permalukan hah?” ejek Moura dengan wajah annoyingnya.
“Ini ulahmu bangsat?!” Margareth bersiap menampar Moura, namun dengan sigap Moura menangkap tangan Margareth menghentikan aksinya dan justru menekan pergelangan tangan Margareth dengan kencang.
“Aaawww!” rintih Margareth.
“Dengar ya Margareth, aku tidak merasa pernah menyinggung atau mengusik kehidupan mu!” ujar Moura dingin. “Mengapa kamu sangat senang mengurusi hidupku hah?!” makinya kemudian. “Sayangnya kamu berurusan dengan orang yang salah!”
“Aww…” Margareth memegang pergelangan tangannya yang sudah di lepaskan Moura dengan menghempaskannya.
“Ingat Margareth, di atas langit masih ada Hotman Paris!” ancam Moura percaya diri. “Jadi ga usah belagu, di kira cuma kamu aja yang bisa seenaknya menyebar rumor orang bahkan dengan sengaja membuat orang sakit karena obat pencahar mu itu. Semua sungguh kelewat batas!”
“A-Apa?” gumamnya tersentak.
Margareth terdiam sejenak, bagaimana mungkin aksinya di ketahui langsung oleh Moura. Selama ini dia pastikan tidak ada orang yang mengetahuinya. Bahkan saat dia mencampur obat pencahar pada kopi di cangkir milik Moura sekalipun.
“Wuih.... Gila sih, pantes lu suka ama doi! Badas cuy!!”
Noegha mengulumkan senyumnya kemudian tertawa lirih. “Aku ingin melihat CCTV barusan dan semalam. Hal apa yang terjadi di kantor bisa sampai seheboh ini!”
Di sisi lain di kantor Adhiaksa, Moura menghubungi si wanita yang sudah bersedia membantunya.
“Terima kasih mba, saya sudah mentransfer seperti kesepakatan kita.”
“....”
“Kalau begitu saya tutup dulu ya, kapan-kapan saya mampir ke rumah.”
Moura menutup sambungan telponnya dengan wanita asing yang barusan membuat heboh satu kantornya. Wanita itu merupakan tetangga di kompleks dimana Moura tinggal. Moura sungguh nekat memang membuat kegaduhan di tempat ia bekerja. Dengan resiko yang bisa saja membuat dia di pecat dari perusahaannya dia tidak peduli, toh jika benar dia akan mencari lagi perusahaan lain.
“Huh!! Makanya jadi orang jangan sombong!"
“Kena batunya kan lu!!”
Moura keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruangannya. Dia tidak menyangka keahliannya sangat berguna saat ini. Moura berpikir pasti Margareth kebingungan mengapa kejahatannya terbongkar dengan mudahnya.
“Kamu dari mana?” tanya Keysha menatap Moura.
“Eh, ehm anu dari toilet...," jawab Moura terbata, dia takut aksinya pagi tadi di ketahui orang-orang.
“Owh... Pak Noegha bilang kamu ke ruangannya bawa data mentah laporan kemarin.”
“Huh?” Moura terkejut sejenak kemudian mendengus kesal. “Kenapa sih dia selalu aja bikin rusuh sama kerjaan aku?!!” umpat Moura meletakan tas kerjanya. “Seneng bener nyiksa aku!! Punya dendam apa doi ama aku?”
Moura berjalan menuju ruang arsip dan kembali mempersiapkan data yang di inginkan tuannya.
__ADS_1
“Hahaha... Btw emang bener sih... Selama ini ga ada staff di bawah level Manager yang boleh ngehadap dia langsung! Cuma kamu doang!” goda Keysha memprovokasi Moura yang sudah sangat kesal.
“Itu artinyaaaaaa....”
Keysha mengerlingkan mata dengan menaikan kedua alisnya menebak bahwa ada perasaan khusus dari bos besar mereka.
Plaaak!
“Shut up!!” Moura menepuk bahu Keysha dengan wajah yang memerah.
“Perasaan kenal aja enggak cuma gara-gara bilang dia belum beristri dua aja mempersulit aku sebegininya!”
“Hahahaha... Lagian kamu ni becandain beruang kutub macam dia! Udah dingin senang menerkam mangsanya!”
Keysha memperingatkan rekan kerjanya yang baru seumur jagung di kantornya.
“Rumornya pak Noegha emang belum punya istri, tapi kalo pacarnya apa yang deket ama dia ya kita ga tahu juga.”
“Buruan sana sebelum toke ngamuk!”
"Toke?"
"Ye ilaaah... Di sini nyebut bos itu dengan panggilan toke!"
Moura takjub ternyata banyak hal yang dia dapatkan setelah bekerja.
“Ahhh sebaaal!” gerutu Moura kini bersiap kembali keluar ruangannya.
Keysha terkekeh dengan sikap Moura yang benar-benar bertingkah seperti anak sekolahan yang dikerjai gurunya.
Tok… Tok… Tok…
“Masuk!”
Moura telah berada di ruang bosnya, dia memasukinya dengan cemas. Untuk pertama kalinya dia memasuki ruangan BOD (Board of Directors) atau ruang kasta tertinggi di kantornya. Moura merasakan wangi ruangan ini berbeda dari ruangan yang lain tentu saja. Membuat tubuh Moura merasakan udara di sekitarnya mendadak turun drastis.
“Duduk!”
Moura tertegun sejenak dengan bosnya, ‘How lucky I am?!’
Moura tidak menyangka dia bisa bekerja di mana atasan tertingginya masih begitu muda. Bahkan dia baru mengetahui bahwa usia Noegha hanya terpaut tiga tahun saja. Tahun ini Noegha memasuki usia 26 sedangkan Moura yang baru menginjak usia 23 tahun. Moura menelan salivanya, jarak mereka hanya di pisahkan oleh meja kerja bosnya. Dia bisa mencium harum musk dan sedikit mint yang tercampur sempurna menjadi wangi maskulin yang membuat tubuh Moura meremang rasanya.
Moura tengah menatap intens menyelidik pahatan sempurna Sang Maha Pencipta. Dia tidak menyangka bosnya memiliki tindik di cuping telinganya dan anting yang dikenakan sungguh seperti idol Kpop jaman sekarang!
‘Rasa-rasanya aku melihat sosok pemeran utama pria di komik kesukaanku. Ga mungkin banget nih cowoh se-Perfect ini ga punya cewek?!!’
Noegha merasa senang wanita incarannya mengamati dirinya lekat, bahkan tidak mengindahkan keberadaannya sama sekali.
“Ehmm!!” Noegha berdehem keras membuyarkan fantasi liar Moura.
“Eh... M-Maaf aku... Eh sa-ya...," jawab Moura gugup merasa tertangkap basah.
“Haha!”
“Biasa aja kali ngomongnya kayak ngomong sambil liat setan!”
‘Mana ada setan setampan dia!’ umpat Moura dalam hati.
“Aku sangat tampan bukan?”
“Nani?”
To be continue...
__ADS_1
*****