
Di dalam ruangan presdir terdengar bunyi-bunyian aneh yang membuat orang akan berfikir negatif.
"Aaarrghhh... Sayaaang!" pekik Moura menge*rang mengeluarkan pelepasannya.
"Oouuhhh Sayang nikmatnya!" lenguh Noegha semakin membenamkan miliknya.
"Ghaa, kamu ini mesuum!!" rengek Moura merapihkan pakaiannya. "Aku mau mandi, tapi nanti ketahuan ngapain keramas!!" rutuk Moura semakin menjadi.
Noegha hanya melayangkan senyuman tampannya, merebahkan dirinya di kursi kebesarannya setelah mereka melakukan kuda-kudaan sepulang dari meeting dengan investor.
Bruk!
"Mandi di rumah aja sayang..." Noegha kembali menarik tubuh Moura ke dalam pangkuannya.
"Isshh, besok jangan lagi!! Cuma boleh di rumah!" rengek Moura mencoba bangkit namun tidak di ijinkan prianya.
"Sekali lagi ya sayang, aku masih ingin!" kini giliran Noegha merengek pada istrinya.
Moura tersipu, kedua tangan besar suaminya telah kembali menyentuh bagian-bagian intim milik wanitanya. Keduanya kembali terdengar melenguh bersahutan seirama dengan bunyi peraduan kulit tubuh mereka. Setengah jam setelah jam pulang, keduanya keluar dari kantor dengan perasaan yang membuncah luar biasa.
"Kita kemana?!" tanya Moura kebingungan pasalnya jalan yang di lalui bukan jalan pulang ke rumah sewanya atau juga ke arah dimana rumah Noegha berada.
"Kita cari apartemen buat kamu!"
Moura mengulumkan senyumnya saat Noegha berkata mencarikannya hunian baru. "Atau mau rumah aja sayang?!" Noegha bertanya keinginan istrinya.
"Ehm... Apartemen aja sih biar ga risih ama tetangga kiri kanan!" saran Moura memperjelas hubungan mereka yang harus di sembunyikan.
Bukannya pria adalah makhluk yang tidak di rugikan atas pernikahan tersembunyi. Lain hal dengan Noegha yang justru merasa rugi Moura tidak ingin mengekspose status keduanya.
'Sabar Noegha, lagian papa mama belum pulang juga! Aku belum bisa mengenalkannya dengan keluarga besarku...'
Noegha membawa Moura ke salah satu mansion yang cukup terkenal. Noegha resmi membelikan istrinya satu unit tipe superior sesuai keinginan istrinya.
__ADS_1
"Besok orangku akan membawa barang-barangmu dan menaruhnya disana." ujar Noegha kembali memulai percakapan dalam perjalanan pulang mereka.
"Gak usah Gha, aku akan merapihkannya sendiri. Gak buru-buru juga kan nunggu weekend aja." hardik Moura.
"Masih panggil Gha hm?!" protes Noegha.
"Dih ambekan!" cibir Moura.
"Aku gigit nanti!" canda Noegha gemas.
"Jangan dong sayaaang!"
Noegha begitu senang di panggil sayang oleh istrinya. Sepanjang jalan senyumnya tidak lepas dari wajah tampannya. Seperti sebelumnya Moura kembali menuju rumah sewanya lebih dulu membawa beberapa keperluan untuk dia dan Qilla.
"Lah barang kamu cuma ini?!" tanya Noegha memperhatikan satu koper besar seperti awal dia datang ke kota ini hanya membawa satu koper berukuran besar saja.
"Iya, aktualnya cuma baju-baju ini aja. Sisanya ya perlengkapan yang baru aku beli disini. Kayak piring-piring dan peralatan besar itu. Kebetulan rumah ini di sewa sudah berikut isinya aku tinggal nempatin bawa baju doang!"
"Boleh sih, cuma kan belum pamit sama yang punya. Gak enak atuh!" ujar Moura dengan aksen wilayahnya membuat Noegha gemas dam memeluknya mesra.
"Ayok pulang sekarang yang aku gak sabar pengen makan!" bisik Noegha di telinga Moura.
"Makan apa?!" tanya Moura polos.
"Makan kamu dong sayang!! Aku akan memakanmu semalaman!!"
Moura tersenyum dan tersipu malu. Sebelum meninggalkan kontrakan keduanya masih sempat bertautan mesra saking suasananya yang begitu mendukung. Sesampainya di rumah besar Noegha keduanya di sambut hangat oleh Bude dan juga putri Moura Qilla yang menggemaskan.
Hanya saja Qilla sudah begitu mengantuk jadi tidak bisa berlama-lama bermain bersama mereka. Bude menawarkan Qilla untuk tidur bersamanya. Tentu saja Noegha mengiyakan, semakin membuatnya memiliki banyak waktu menggagahi ibu putri sambungnya itu.
Setelah jam malam kedua pasangan itu kembali melabuhkan hasrat mereka yang tertunda. Dengan senang hati dan tanpa perasaan was-was ataupun takut akan dosa Moura melayani suami barunya. Dia tidak menampik begitu mendambakan sentuhan. Dia juga manusia normal yang butuh sentuhan fisiologis apalagi setelah menjanda beberapa bulan hasratnya terkadang naik dan turun.
Noegha terus berumpat dengan nada pujian pada istrinya. Dia benar-benar puas secara lahir dan batinnya saat ini. Moura sendiri tidak melarang suami barunya itu melepaskan lahar panas di dalam rahimnya. Semakin menjadi Noegha melesakkan miliknya. Berharap dia bisa memberikan adik sambung untuk Syaqilla Shannum.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Moura, bukti apa lagi yang harus aku berikan padamu agar kamu percaya bahwa aku sungguh-sungguh." bisik Noegha saat mereka dalam kondisi cuddling.
"Berikan aku waktu oke? Aku baru mengenalmu... Aku justru bingung, bagaimana bisa kamu langsung jatuh cinta padaku!" cicit Moura.
"Apa kamu tidak pernah mendengar kekuatan cinta pada pandangan pertama?!" tukas Noegha serius.
Moura terdiam, dia sendiri memang terpikat pada pandangan pertama. Hanya saja sikap angkuh suami yang merupakan bosnya ini membuat dia justru tidak menyukainya.
"Kapan kamu akan mengenalkan aku pada orang tuamu?!" tanya Noegha kemudian.
DEEG!!
Jantung Moura kembali berdenyut kencang, "Kamu aja belum kenalin aku, malah udah di halalin dulu! Gimana kalau mereka gak setuju... Aku kan bukan berasal dari keluarga seperti keluargamu." ucap Moura sendu.
"Aku tidak peduli, jikapun mereka tidak menerimamu tapi aku mau kamu! Kamu yang akan menua bersamaku bukan mereka!"
Moura tertegun dengan ucapan lantang Noegha yang merekahkan hatinya. Banyaknya pucuk bunga yang tiba-tiba bermekaran dengan wanginya yang semerbak mendominasi tubuh Moura.
"Gha, jangan memperlakukanku seperti itu─" lirih Moura tidak ingin mengakui perasaannya.
"Memang kenapa?!" tanya Noegha semakin memanasi. "Apa kamu akan mudah jatuh hati setelahnya?!" Noegha kembali mengeratkan pelukannya.
Moura tidak ingin menjawab, dia pura-pura tertidur saat ini. Noegha sungguh gemas, tak lama dia ikut terlelap menuju alam mimpi seperti istrinya. Beberapa menit kemudian Moura membuka matanya dan berujar sangat lirih. "Seharusnya kamu tahu sendiri, Setangguh-tangguhnya seorang wanita mandiri, dia akan lemah pada pria seperti kamu ini!!"
Moura mengeratkan genggaman tangannya pada rangkulan tangan besar prianya. "Jika kamu terus memperlakukanku dengan lembut dan kehangatan, aku tidak bisa menahan hatiku untuk tertawan oleh cintamu!"
Moura menutup kembali kedua kelopak matanya, satu bulir bening turun dari pelupuk mata Moura, hidupnya sungguh tidak bisa ia prediksi. Dia bahkan sempat berpikir bagaimana reaksi Raffa jika mengetahui dirinya telah di persunting pria lain.
Selain hatinya mulai di penuhi nama pria baru, satu tempat khusus masih berisikan nama yang sama. Cinta pertama yang mitosnya mengatakan bahwa cinta pertama itu sulit untuk di lupakan. Raffa adalah cinta pertamanya, ayah dari buah hatinya dan pria yang sudah membuat dirinya seperti saat ini.
To be continue...
*****
__ADS_1