
Noegha terpaku dengan pemandangan di hadapannya. Seorang wanita yang dia hafal yang sempat menjadi tambatan hatinya selama beberapa tahun terakhir kini berada di hadapannya kembali tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
"Kenapa kamu ada disini?!" ketus Noegha menarik tangan Moura.
Moura menyadari keadaan sudah mulai tidak baik-baik saja saat ini.
"Iya, kemarin kan Om dan Tante ke Paris gak sengaja ketemu terus ya di suruh pulang ketemu kamu. Siapa dia Gha?!"
Deg!
"Kenalin, dia─" Noegha tiba-tiba ragu membuat hati Moura mulai terasa pedih.
"Moura, asisten sistem di Adhiaksa..." Moura segera menguar kecanggungan yang sudah terasa padahal mereka baru di depan rumah.
"Loh, Noegha kamu udah datang nak?! Siapa itu?!"
"Ehm, dia calon istriku ma!"
DEEGG!!
Semua orang yang ada disana terkejut serentak bahkan Moura yang awalnya sudah berusaha menghindar dan tidak membeberkan status mereka ternyata Noegha membuat hatinya kembali di landa kebingungan akan sikapnya.
"Owh, ya udah bawa masuk aja!" ketus Nyonya besar Bagaskhara berlalu bersama dengan wanita yang tak lain mantan kekasih dan tunangan Noegha.
Moura menundukkan pandangannya, dia yakin setelah ini pasti keluarga besar suaminya tidak merestui mereka.
"Aku minta maaf barusan, aku hanya terkejut aku tidak tahu akan ada orang lain." sesal Noegha merasakan perubahan sikap Moura.
Moura hanya melengkungkan segaris senyumnya, dia tidak mungkin berselisih saat ini. Makan malam dan proses pengenalan Moura berjalan lancar atau mungkin terasa kaku. Tanpa lama-lama Moura pamit pulang di antar Noegha kembali ke apartement mereka.
Sesampainya di rumah mereka dalam keadaan saling terdiam, Moura sudah merasa bahwa situasi seperti saat ini akan menghampirinya cepat atau lambat. Moura sendiri merasa beruntung, dia bisa terlepas dari Noegha dan bebas. Apa benar Moura tidak menginginkan Noegha?
'Heh, mau bagaimanapun posisiku jelas di bawah nona Caroline. Tentu saja mereka akan menjodohkan keduanya kembali jika di banding menyetujui menikahi seorang janda beranak satu seperti ku!' ejek Moura pada diri sendiri di dalam hatinya.
"Sayaaang..." seru Noegha mencari istrinya.
Moura menghentikan menggosok giginya sejenak, kemudian berpura-pura tidak peduli. Bohong jika dia tidak merasakan sakit hati saat ini. Cinta itu kadang datang tak di undang dan menyakiti saat terlanjur nyaman.
Ceklek...
Noegha mengembangkan senyumnya saat melihat istrinya tengah bersih-bersih sebelum tidur malam mereka.
"Kamu kok gak jawab barusan?" keluh Noegha memeluk erat istrinya dari belakang.
"Sorry lagi khusyuk!" kekeh Moura.
Noegha membalikkan badan Moura dan menciuminya. Rasa mint dari mulut Moura membuat pria itu semakin menggila dan segera membawa wanitanya ke atas ranjang untuk dieksekusi dalam permainan panas yang menggairahkan.
"Apa kamu tidak pulang? Nanti orang tua kamu mikirnya gimana coba?" tanya Moura saat mereka telah selesai berolahraga malamnya. Sekuat tenaga Moura tidak terbawa suasana dan berbincang dengan nada yang normal.
"Apa kamu ingin mengusirku nyonya?" canda Noegha.
"Hadeeh..." dengus Moura sebal.
"Bukan urusan mereka lagi aku mau tinggal dimana, aku bukan anak kecil yang masih di cari." jelas Noegha menciumi bahu istrinya.
"Dia siapa?" tanya Moura tak tahan untuk kepo.
__ADS_1
"Heh, nanti kamu sedih terus salah paham membuat kita bertengkar. Aku gak mau!" tukas Noegha mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang ramping Moura.
"Owh..." sahut Moura sudah jelas dia marah dan cemburu. Seperti itulah wanita, terus-terusan saja berbohong dnegan keadaan mereka namun sejujurnya sanagt jelas terbaca oleh pasangannya.
"Kan ngambeeeek!" kekeh Noegha gemas menggosok wajahnya di tengkuk leher Moura membuat wanitanya menjerit karena geli.
"NOEGHAA!!" tolak Moura.
"Dia mantan kekasih dan tunanganku. Ingat MANTAN!! Aku sudah putus hubungan dengannya semenjak dia lebih memilih kariernya di banding diriku!" jelas Noegha sendu.
"Owh, oke..." sahut Moura singkat.
Ingat rumus kebahagian yang sudah Moura terapkan selama ini. Jangan mncari tahu sesuatu yang akan menyakiti hati dan perasaannya. Noegha sendiri tidak menyukai respon Moura yang biasa saja, dia memiliki dua pemikiran. Moura tidak percaya atau Moura tidak mencintai dan tidak memperdulikannya.
"Cuma itu?" tanya Noegha kesal.
"Iya, kamu bilang mantan kan? Ya udah... Aku percaya." bual Moura.
Noegha tersentuh dengan kepercayaan Moura padanya, dia kembali memeluk Moura dengan memejamkan kedua netranya. Dia sungguh lelah rasanya, menggagahi Moura sehari sampai tiga kali. Sedangkan Moura justru sedang tidak bisa tertidur malah terjaga sepanjang malam.
'Bagi dia mungkin mantan, tapi sepertinya bagi keluarga besarnya masih menaruh harapan besar padanya.' Moura menyentuh wajah Noegha, dia mencium perlahan kening suaminya.
***
Keesokan harinya seperti biasa Moura menyiapkan segala rupa untuk keperluan putrinya saat dia bekerja. Dia juga sudah menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Noegha dan Moura berangkat bekerja lebih pagi hari ini. Karena Shaveera sudah kembali bekerja Moura sudah berada di posisi barunya menjadi Manager Divisi Sistem.
Rumor buruknya jelas tidak menghilang begitu saja, yang membencinya tentu saja masih ada segelintir orang yang sengaja selalu menjelekkan namanya di belakang. Moura mencoba untuk tutup telinga, toh dia mendapatkan uang bukan karena mereka untuk apa dia peduli pada tong kosong nyaring bunyinya!
"Dah lama kita gak maksi bareng, keluar yuk. Traktir sih dalam rangka kenaikan jabatan gitu!" sungut Keisya yang kini mampir ke divisi baru Moura.
Moura cekikikan, dia akhirnya setuju untuk makan siang bersama. Tak lupa Moura memberikan pesan singkat pada suaminya bahwa dia akan pergi untuk makan siang bersama dengan rekan kerjanya. Hanya saja pesannya belum terbaca oleh Noegha.
Moura menghentikan langkahnya menahan tangan Keisya untuk tidak berpapasan dengan atasannya itu. Keisya mengerti, mereka kini sengaja menghindari keberadaannya.
"Siapa cewek itu?" tanya Keisya pada Moura.
"Kalau gak salah mantan tunangannya..." sahut Moura pedih namun dia jawab dengan datar.
"Wooo... Lu cemburu pasti!"
"Gak ah B aja!" hardi Moura pura-pura.
Setelah bayangan Noegha menghilang keduanya kembali melanjutkan langkah kaki mereka ke pelataran parkir.
'Heh, bilang aja semalam mantan dan tidak mau berurusan lagi terus yang aku lihat tadi apa? His harusnya gue foto!' rutuk Moura sepanjang jalan merasa begitu cemburu.
"Ckck... Kasian ya, baru aja senang di rumorkan jadi kekasih tuan muda kita tahunya harus kembali ke asal karena tunangan aslinya sudah datang. Hahaha" alah satu karyawan menyindir Moura.
"Itulah jadi orang gak usah sombong, ngerasa diri udah paling tinggi tahunya dia lupa diri! Jatuhnya makin sakiiit saaaay!" timpal yang lain di sambut gelak tawa mengolok keadaan Moura.
Keisya ingin melawan namun di cegah oleh Moura, "Kita bakalan buang waktu nanggepin mulut kotor yang bisanya nyebar fitnah sana-sini tanpa ada arti!" cibir Moura menatap si pelaku pembullyan yang langsung berwajah masam.
Moura pergi dengan Keisya menggunakan motor sahabatnya itu, pasalnya tadi pagi Moura pergi bersama Noegha otomatis dia tidak menggunakan kendaraan pribadinya. Selama ini Moura sudah memiliki kendaraan pribadi yang di belikan oleh Noegha sebagai hadiah pernikahan mereka.
Moura dan Keisya memilih makan siang di salah satu resto yang berada di Mall di tengah kota. Setelah duduk dan memesan makanan lagi-lagi Moura di hadapkan dengan kenyataan pahit lainnya. Dia melihat Noegha makan siang dengan Charoline dengan suka cita. Tanpa mengabarinya, membuat Moura merasa di khianati saat ini. Dengan cepat dia membuka ponsel dan merekam kejadian itu. Dengan bergetar Moura sampai meneteskan air matanya.
"Hei, lu kenapa?" Keisya terbelalak tiba-tiba saja sahabatnya seperti saat ini.
__ADS_1
Keisya menangkap pandangan Moura dan berbalik memperhatikan. Keisya mengerti, dia yang sangat setia kawan menawari untuk pindah tempat saja tapi Moura menolak. Dia justru inginnya Noegha menyadari keberadaannya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Noegha saat ini.
Moura sudah tidak tahan, dia mendial nomor ponsel suaminya, sungguh di luar dugaan. Noegha merejectnya, Moura terkekeh dia sungguh hancur saat ini.
"Key, gue kayaknya gak balik lagi ke kantor deh. Gue tiba-tiba gak enak badan. Lu gak masalah kan gue tinggal sekarang?" pamit Moura.
"Ra, kalau lo kayak makin negesin lu sekarang lemah..." tukas Keisya ada benarnya. Namun hati Moura sudah sesak, baru semalam mereka merajut kemesraan dan sekarang apa yang ia dapat?
"Aku tahu, tapi ada kalanya aku memilih untuk menjaga mentalku!" Moura bangkit dan menuju meja kasih membayar tagihan berikut tagihan meja Noegha dan mantan kekasihnya.
Di sepanjang jalan pulang Moura tidak bisa menahan derasnya laju air matanya. Sampai si supit taksi terus memperhatikannya.
"Neng ada masalah ya?" tanyanya sopan.
"Eh, enggak pak.. Kelilipan..." bual Moura.
"Ah neng mah bohong... Bapak tahu kok, kelilipan mana yang sampe sesenggukan kayak neng! Hehe" canda si supir membuat Moura sungguh malu.
"Bapak gak tahu masalah neng apa, bapak juga mungkin gak bisa bantu. Tapi bapak cuma mau bilang, neng gak sendiri... Masih ada tuhan kan Neng? Neng muslim kan ya?" tanya si bapaknya seperti seorang ayah yang tengah mengayomi anaknya.
Moura menganggukkan kepalanya menandakan mengiyakan pertanyaan terakhir si pak supir.
"Kalau punya Allah, niscaya masalah sebesar apapun kita punya ALLAH yang Maha Besar, Maha Kuasa. Atas ijinnya insyaallah apapun yang jadi himpitan hati neng akan di lapangkan. Bapak doain..."
Moura semakin deras menangis kali ini, dia tiba-tiba merindukan keluarganya. Semua ini mengingatkannya kembali saat Raffa mengkhianati pernikahan mereka. Mengapa bisa kembali terulang?
"Lagian ya neng, semakin tinggi sebuah pohon maka anginnya akan semakin kencang! Mungkin neng akan naik kelas, makanya di kasih ujian sebelum naik kelas!"
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini bukan? Dia merasa semua pertemuannya dengan orang-orang sudah menjadi takdirnya. Termasuk bertemu dengan supir taksi yang memberikannya wejangan dan menenangkannya. Sesampainya di tujuan Moura memberikan tips yang lebih bahkan 3x lipatnya membuat si supir terkejut.
"Neng ini banyak banget!" pekiknya menolak.
"Pak, Allah sedang memberikan bapak rezeki lebih lewat saya... Semua sudah kehendakNya bukan?"
Si bapak paruh baya dengan wajah teduh dan mata yang mulai berkaca mengucap ribuan terima kasihnya dan terus berdoa untuk kebahagiaan Moura. Hati Moura yang sempat berantakan jauh lebih tenang, ternyata berbuat kebaikan membawa kedamaian di dalam diri kita.
Moura segera menuju unit apartemennya, dan bertemu dengan putrinya. Moura tak lupa meminta ijin pada staff di kantor karena ada urusan mendadak bualnya. Moura menatap sendu kearah putrinya, sepertinya keputusan untuk berpisah dari Noegha semakin bulat.
"Aku gak mungkin kayak gini terus! Masa iya gue kudu pindah ke antartika biar gak berurusan ama cowok coba!" rutuk Moura kesal.
Tiba-tiba ponselnya berdering, menunjukkan sebuah nomor yang namanya sudah di delete tapi dia hapal.
"Halo..."
"Maaf sayang, aku tadi sibuk..." sahut pria di sebrang sana. Moura hanya tertawa geli, bayangkan dia pura-pura tidak tahu di saat dia sediri sangat tahu kelakuan suaminya.
"Oke..." jawab Moura sekenanya dia merasa malas sekarang.
"Kamu marah ya? Nanti pulang cepet kan?" tanya Noegha lembut membuat Moura ingin muntah rasanya.
"Ya, aku pulang cepat... Toh aku sudah jadi manager tidak perlu lagi mengejar tambahan dari uang lembur." tukas Moura datar dan dingin.
Noegha memang merasakan Moura berubah sikapnya, "Oh ya udah nanti aku keruanganmu ya... Love you."
Moura kembali menangis saat mendengar kata cinta bullshit dari suami sirinya itu. Moura tidak menjawabnya dia menutup sepihak.
*****
__ADS_1
to be continued