
Moura dan Noegha telah berada di salah satu resto di dalam Mall. Moura menggendong Qilla di pangkuannya, dia memberikan botol susu setelah sebelumnya Qilla sedikit rewel mungkin kehausan. Noegha hanya terus memperhatikan lekat wanita yang kini menjelma sebagai malaikat setelah sebelumnya di kantor wanita itu dengan ide beraninya mendepat beberapa karyawan Adhiaksa dengan kemampuannya.
"Cup... Cup... Cup!" Moura menenangkan Qilla mendadak Noegha panas dingin melihat perlakuan Moura pada Qilla.
"Apa kamu akan menenangkanku seperti itu jika aku rewel?" tanya Noegha kekanak-kanakan. Moura yang sedang berusaha menenangkan bayinya terdiam sejenak kemudian menunjukan wajah kebingungannya.
Noegha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia mendadak malu dengan pikiran nistanya. Qilla terus menggerakan kepala di dada Moura tentu saja pria itu ikut tergoda. 'Haiss pria mesum ini, aku jadi takut berdekatan dengannya.'
"Gha, sepertinya Qilla mengantuk dan lelah boleh kita pulang sekarang?" tanya Moura mengabaikan pertanyaan Noegha sebelumnya yang tidak sepatutnya juga dia jawab.
"Owh gitu ya... Oke, kamu ada yang mau di beli dulu gak?" tanya Noegha sebelum mereka pulang. Moura menggelengkan kepalanya kemudian mereka keluar dari resto.
"Huaaaa.... Huaaa!" tangis Qilla masih pecah membuat beberapa orang memperhatikan mereka.
"Aduuuh sayaang mau apa? Dudunya di rumah ya... Bentar lagi kita pulang!" Moura tetap sabar menenangkan bayinya.
"Mungkin pempersnya penuh?" saran Noegha membantu sebisanya. Dia bahkan tengah membawakan tas Moura saat ini karena bayinya tidak mau di gendong seperti sebelumnya.
"Ehm... Aku ke toilet dulu ya..." ijin Moura pada atasannya di sambuh anggukan mempersilahkan.
Moura bergegas menuju toilet wanita di sana Moura langsung memeriksa pempers Qilla namun tidak penuh sama sekali justru seperti baru di ganti oleh pengasuh daycare. "Kamu kenapa sayang? Jangan bikin ibu khawatir..."
Moura sudah merasa frustasi, sebelumnya setiap kali Qilla tantrum dia akan ikutan menangis. Moura yang merupakan ibu muda baru masih terus di hantui bayangan baby blues.
"Mba, suaminya bilang suruh keluar..." Salah satu pengunjung Mall menepuk bahu Moura yang sudah berwajah frustasi siap menumpahkan air matanya.
"Hah?" Moura tidak mengerti apa mungkin wanita itu salah orang.
"Maaf mba, tadi pas mau masuk sini suami mba nitip pesan katanya tolong suruh keluar istri saya mungkin bayinya rewel karena mau di gendong papanya." ujar si wanita ramah.
Moura berpikir bahwa itu Noegha, dia mengucapkan terima kasih lantas keluar dari kamar mandi. Di depan kamar mandi Moura berdiri terpaku, sulit di percaya bahwa ada seorang pria yang tengan menunggunya dan menyunggingkan senyuman saat dirinya keluar dari sana.
"Qilla sayaaang... Kamu kangen Papa ya! Sini..."
"Huuuaaaaa... Mmm deda deda..."
__ADS_1
Deg!
Moura mendengar kembali suara mantan suaminya, bahkan pria itu mendekat merentangkan kedua tangannya pada Qilla. Tidak di sangka benar saja, seketika tangis bayi mereka mereda. Apa ini ikatan batin seorang anak gadis dengan ayahnya? Tanpa persetujuan Moura tentu saja Raffa telah menggendong Qilla dan menenangkannya.
"Waah, ternyata bener pengen ama Papanya ya..." seru si wanita yang sebelumnya memberi pesan pada Moura sekeluarnya beliau dari kamar mandi.
Moura menyingkir dari tempatnya yang bisa menghalangi orang berlalu lalang.
"Ah iya, terima kasih banyak ya Mba... Tadi saya ke toilet taunya dia nangis!" sahut Raffa berujar terima kasih kemudian si wanita tidak mempermasalahkannya dan berlalu lebih dulu.
Kini hanya ada mereka berdua di lorong depan toilet umum, Moura sedekit mendelik apa Noegha ada di sekitaran mereka.
"Bee, sejak kapan kamu di sini? Kamu tidak mengatakan apapun padaku!" Raffa memulai perbincangan mereka, sejujurnya ia ingin sekali memeluk Moura yang selalu menjadi wanita yang ada di hatinya.
"Raf, kita sudah tidak perlu saling bertemu lagi bukan?! Sini aku akan pulang!" Moura merentangkan tangan bermaksud mengambil kembali putrinya yang tengah dalam pelukan Raffa seperti baby koala.
"Siapa dia?" tanya Raffa sinis seketika.
"Hah?" Moura berpura-pura tidak mengerti.
"Siapa pria yang bersama kalian itu hm?" tanya Raffa mulai tersulutkan emosinya. Dia begitu cemburu saat membuntuti keduanya dan terlihat Moura bercengkrama dengan pria itu tanpa ada kecanggungan.
Raffa tidak mengijinkannya, dia menghardik keberadaan Moura yang akan membawa putrinya.
"Kita ke hotel tempat ku menginap yuk Sayang!" ajak Raffa sedikit memaksa pada Moura.
"Raf! Kita sudah bukan pasangan halal, tidak baik kita kembali berduan." tolak Moura tidak ingin menerima ajakan mantan suaminya itu.
"Alaaah! Kamu sama pria itu juga bukan pasangan halal bukan? Ko mau jalan barengan? Apa kamu lebih memilih ke tempat pria itu di banding mempertemukan Qilla dengan ayah biologisnya hah?!" cecar Raffa kembali posesif cemburu pada pria yang mendekati wanitanya.
"RAFFAAA!" pekik Moura kesal.
"Huaaaa!!" Qilla kembali menjerit saar bentakan Moura membangunkan kantuknya.
Moura merasa bersalah, dia mengatupkan bibirnya. Dengan cepat Raffa kembali menenangkan putrinya. "Dia mau bersamaku. Aku akan mengambilnya jika begitu, kamu sudah cukup lama bukan bersama Qilla selama ini?!"
__ADS_1
"TIDAAAK RAFFA AKU MOHONN!!"
"HUAAA!"
"HEY!!!"
Keduanya terpaku, di saat menegangkan itu Noegha menghampiri mereka dan menghardik tubuh Raffa menatapnya sinis penuh permusuhan.
"Kamu siapa? Kembalikan Qilla..." ujar Noegha senormal mungkin. Tidak mungkin dia memancing keributan di tempat umum seperti ini.
"Aku siapa? Heh... Bee, apa kamu tidak bilang pada rekan kerjamu kalau aku ayah Qilla?"
DEG!
Beberapa menit sebelumnya Noegha merasa tidak tenang, wanitanya tak kunjung datang menghampirinya. Kekhawatirannya semakin menjadi saat mendekati area toilet dia mendengar jeritan Moura di balik lorong menuju area toilet umum. Benar saja wanitanya tengah berselisih dengan seorang pria yang tidak di kenali Noegha. Tapi mata pria itu sama persis dengan mata Qilla, cukup membuktikan pria yang tengah menggendong Qilla adalah ayah biologisnya.
Moura ingin sekali menggali lubang yang dalam saat ini. Dia seperti tengah di lucuti di depan umum oleh kedua pria yang ada di dekatnya.
"Raffa, ijinkan aku bawa Qilla pulang ya... Dia udah cape!" ujar Moura meminta baik-baik pada Raffa.
"Heh, udah tahu dia lelah kamu bawa jalan keluar kayak gini heh! Kamu jadi ibu gimana sih, demi bisa keluar sama pria ini kamu bikin Qilla ampe nangis jerit-jerit kayak tadi! Kalau aku ga datang gimana Hah?!" Raffa menumpahkan kekesalannya pada Moura di depan Noegha. Noegha tidak percaya mantan suami Moura mempunyai mulut yang kotor!
"Heh! Kamu ga bisa ngomong baik-baik sama ibu yang sudah mempertaruhkan nyawanya melahirkan putrimu HAH?!" tekan Noegha membela wanitanya.
"Kau tidak perlu ikut campur masalah rumah tangga orang!" Raffa menarik tangan Moura dengan paksaan. Wanitanya meringis kekuatan mendorong tubuhnya merosot tiba-tiba.
"HEY! Jangan paksa wanita seperti ini!" Noegha mewakilkan Moura menghardik perlakuan kasar mantan suaminya.
"STOP! Aku mohon Raf, Qilla akan bertemu denganmu nanti ya... Sekarang biarkan kami pulang... Aku mohon demi dia!!" Moura memohon dengan berderai air mata di depan pria yang sudah beberapa tahun membersamai keduanya selama ini.
"Huh... Baiklah aku melemah bukan untuk menyerah Bee... Dan kamu, jangan harap bisa mendapatkan wanita dan putriku!" ancam Raffa menunjuk wajah Noegha.
"HAHA, kamu sungguh tidak tahu malu. Bukankah kalian sudah bercerai? Wanitamu? Hahaha... Memang benar sampai kapanpun kamu adalah Ayah Biologis Qilla. Tapi Moura? Dia sudah jadi mantanmu... Apa kamu menyesal membuangnya dan berniat kembali mengambil hatinya? Please ngaca..." tukas Noegha balik mengejek Raffa. Raffa terdiam dengan kalimat Noegha yang sangat terdengar sarkas di depannya. Moura menundukan wajahnya bahkan telah menjatuhkan kembali bulir bening yang sebelumnya terhenti. Beruntung putrinya tidak mengamuk kembali melainkan telah tertidur dalam pelukannya setelah di nina bobokan oleh Raffa barusan.
Moura berjalan mengekor di belakang Noegha, bahkan dengan sengaja Noegha merangkul bahu wanitanya menunjukan pada Raffa sebelum mereka keluar pintu Mall. 'Aku pikir pria hebat seperti apa yang sudah menikahimu Moura. Dia benar-benar tidak pantas untukmu!'
__ADS_1
To be continue...
*****