
"Haha... Gha, apa kamu mabuk?!" Moura mengejek tingkah laku Noegha yang mengatakan ingin menikah siri dengannya.
Noegha kembali bangkit dengan tubuh polos yang sengaja dia tunjukan kembali di hadapan Moura. Moura beringsut mundur menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia juga menelan salivanya melihat betapa bosnya menjaga bentuk tubuhnya. Wajar saja banyak wanita yang menyanjung dan mengincarnya.
"Iya, aku mabuk sayaang!! Aku mabuk mencintaimu..." bisik Noegha lirih di depan wajah Moura.
Tubuh Moura bergetar, selain karena terenyuh dengan gombalan Noegha, tangan pria itu juga mulai kembali melakukan aksinya membakar kembali adrenalin keduanya dan Moura mulai melemaskan dirinya menerima serangan demi serangan yang dilakukan Noegha terus menerus.
"Aaarrrghh!! Ghaa... Aaarghh terus sayaaang.... Lebih dalem lagi sayaaang!!" racau Moura membuat tubuh Noegha semakin bersemangat pantang goyah.
Noegha semakin melesakkan miliknya semakin dalam, dia juga tidak ketinggalan meninggalkan tanda cinta dan kepemilikannya. 'Bagaimana jika aku mengikatmu dengan bayi Moura! Seperti yang di lakukan mantan suamimu terdahulu!!'
Moura menjerit kencang saat salah satu ujung bukit kembarnya di gigit Noegha saking bergairahnya dan juga emosi yang bersamaan jika mengingat mantan suaminya masih mencoba menjerat wanitanya ini.
"Aarrghh Sayaang sakit, perih!" rintih Moura merdu membuat Noegha benar-benar tidak ingin kehilangannya.
"Maaf Sayaaang ini semua nikmat banget!" jawab Noegha dengan masih terus menggempur tubuh seksi Moura.
"Gha, aku di atas ya..." pinta Moura setelah akal sehatnya bertukar dengan hasrat sepenuhnya.
"Yes Honeeey... Menarilah!!"
Tanpa melepaskan miliknya dia melakukan manuver merubah posisi keduanya. Noegha melenguh dengan meracau kasar. Dia tidak menyangka wanitanya bertingkah paling liar dari seorang Moura, dia sungguh menikmatinya. Belum pernah ada yang membuatnya menikmati kenikmatan ber*cinta seperti saat sekarang ini bersama wanitanya.
Semua aksi panas ini berlanjut hingga dini hari. Moura juga dengan lancang terus meminta Noegah menyentuh tubuhnya. Saking candunya permainan keduanya, Moura juga dengan ganas meninggalkan bukti kepemilikannya di tubuh
"Aku pikir, semua ini adalah respon kamu menerima kehadiranku ya sayaaang!" ucap Noegha setelah keduanya benar-benar tidak punya tenaga lagi dan waktu menunjukan pukul 4 dini hari.
Moura tidak fokus apa yang di ucapkan Noegha, dia tertidur pulas setelahnya. Noegha menyeringai dan ikut tertidur setelahnya. Kali ini Noegha yakin Moura tidak mungkin kabur darinya.
Ttrrrrtttt... Ttrrrrtttt...
Bunyi alarm ponsel Moura membuyarkan mimpi indah dan waktu istirahatnya. Rasanya dia tidak ingin bangun pagi ini. Dengan tertatih dia masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya dan memohon ampunan pada penciptaNya.
__ADS_1
"Gha... Bangun... Subuh Gha!!"
Moura mengguncang tubuh pria perkasa yang merupakan bosnya. Namun tidak ada tanda-tanda pria itu akan terbangun.
"Dih, kebluk banget di bangunin malas-malasan gitu gimana mau bangun rumah tangga bareng aku!!"
Dengan cepat Noegha membuka matanya segera, Moura sungguh takjub dengan respon cepat Noegha hanya karena bujukan receh barusan.
"Maaf sayang, abis kamu sih bikin energi aku ke kuras abis tadi maleem!!" canda Noegha bangkit dari ranjang mengecup pipi merona wanitanya.
Moura bergegas mendatangi kamar putrinya, dia sungguh bersyukur putrinya masih terlelap dengan memeluk gulingnya.
Moura bergegas menyiapkan perlengkapan pagi putrinya, setelahnya dia akan kebawah berencana membantu asisten rumah tangga dan mempersiapkan kebutuhan Qilla sebelum di titipkan di Daycare sebelah rumahnya.
"Pagi Non..." sapa bude lebih dulu menyambut kedatangan tuannya.
"Duh besar kepala aku nanti di panggil Non! Hihi" canda Moura mendekat. "Pagi juga Bude... Masak apa nih? Mau aku bantu?" Moura mendekat menyelidik bahan masakan yang sudah berjejer di meja dapur dengan kompor yang sudah menyala.
"Gak usah Non, nanti malah kena semprot Aden kalau Non bantuin Bude... Non mau di siapin apa nanti Bude bikinin." elak bude tidak ingin Moura terjun membantunya.
Tentu saja dengan ramahnya bude mempersilahkan bahkan sempat menawari Moura agar beliau saja yang mempersiapkannya namun tentu saja Moura menolak. Pekerjaan bude saja sudah cukup banyak.
"Oh iya, Pak Noegha kok di panggil Aden?!" tanya Moura mencari bahan perbincangan. Rasanya begitu sepi keduanya sibuk masing-masing membuat Moura canggung pada akhirnya.
"Oh ya jelas karena dia Tuan kami Non, cuma Aden emang dari kecil panggilan dari keluarganya begitu... Makanya kami semua manggil begitu juga."
Moura ber-oh ria saat mendengar penjelasan bude yang Moura ketahui sudah mengabdi puluhan tahun di keluarga Bagaskhara. Moura juga mengetahui bahwa keluarga besar mereka aslinya berasal dari ibu kota. Mereka juga tengah berada di luar negara, selain berkeliling dunia, ternyata mereka juga dalam perjalanan pengobatan karena penyakit tahunan tuan Bagaskhara.
"Non, pacar Aden ya?!" celetuk bude membuat Moura tersentak. Beruntung dia tidak lebay dan menjatuhkan kotak bekal Qilla yang baru di persiapkannya.
"Ehmm... A-anuu..." Moura bingung harus mengatakan apa.
"Maaf ya Non, Bude nanya-nanya hal pribadi. Apa itu putri Non sama Aden?!"
__ADS_1
DEEEEEG!!
Rasanya jantung Moura di pompa dua kali ekstra kerja keras kali ini. Mendengar pernyataan asisten rumah tangga Noegha seperti tengah melucuti harga dirinya.
"Mm... B-bukan Bude.. Aku hanya pegawai dari Adhiaksa perusahaan Pak Noegha, kebetulan kemaren ada sedikit insiden dan Pak Noegha tolong saya..." Dengan gugup Moura menjelaskan berharap bude tidak mendengar jeritan dirinya sepanjang malam.
"Owwh... Kirain... Soalnya selama ini Aden gak pernah bawa cewek ke rumah. Apalagi ke kamarnya!"
DEEEG!!
Hancur sudah image Moura saat ini, sudah bisa di pastikan bude juga mendengar betapa brutal keduanya semalam. Moura mengatupkan bibirnya erat. Dia tidak tahu lagi caranya mengelak saat ini.
"Itu Ibu..." Suara bariton Noegha menggelegar memecahkan keheningan. Moura mendekati keduanya merentangkan kedua tangannya memberi sambutan.
"Syaqilla Shanummnya Ibu udah bangun yaa anak pinter shalehah!!" sambut Moura membuat Noegha merasa senang, dia seperti sudah benar-benar memiliki keluarga lengkap.
"Kok aku gak di sambut juga!!" rengek Noegha cemberut.
"Dih... Selamat pagi Pak Noegha Adhniaka Bagaskhara." celoteh Moura bercanda menjulurkan lidahnya.
"Awas ya sayaaang!!" kesal Noegha mencegah Moura mengambil putrinya.
"Iisshh..."
"Hehe gak kenaaa!! Coba tangkap akuu..." hardik Noegha membuat permainan yang membuat Qilla tertawa renyah.
Bude menghentikan sejenak aktifitasnya menatap tuannya dengan perasaan haru yang membuncah. Tidak pernah satu haripun selama ini dia tinggal di sana selama 5 tahub terakhir bisa merasakan atmosfer kehangatan seperti saat ini.
Noegha begitu bersemangat, dia berakhir mencium pipi Moura mesra. "I love you Moura..."
DEG!
To be continue...
__ADS_1
*****