
"Ko bisa lu ke kunci di sini sih?" tanya Keysha mengerutkan keningnya.
Beberapa menit sebelumnya Moura menelpon Keysha, dia meminta bantuan untuk mengeluarkan dirinya dari toilet yang sengaja di kunci dan di gelapkan lampunya. Posisinya saat itu adalah seluruh karyawan telah pulang, hari ini Noegha meminta maaf tidak bisa mengantarkan Moura karena ada beberapa pekerjaan berikut dengan kunjungan kerja ke beberapa tempat. Moura bersyukur, akhirnya Noegha tidak selalu menempel dengannya. Bagi Moura rumus dia terus mendapatkan perlakuan buruk di kantor karena Noegha selalu menempel padanya.
Sebelum Moura keluar dari kantornya, dia mampir ke toilet untuk buang air kecil dan merapikan penampilannya. Tidak di sangka bahwa ada orang yang kembali menindasnya dengan mengunci dan menggelapkan kamar mandi. Jika Moura tidak segera bertindak bisa saja dia terjebak semalaman di kantor. Sayangnya, Moura selalu berpikir kritis dan memiliki jalan keluar atas permasalahannya. Seperti saat ini akhirnya Keysha yang baru sampai pelataran parkir kembali dan membantu Moura keluar dari toilet kantor.
"Kayaknya ada yang jahilin aku lagi..." sahut Moura akhirnya bisa keluar dari ruangan yang cukup membuatnya pengap dan sesak. Dia sendiri takut akan kegelapan, beruntung dia membawa serta ponselnya sehingga dia masih bisa bertahan menunggu Keysha mengeluarkannya dari sana.
"Astagaaa! Bener-bener ya mereka tuh matanya udah ketutup sama ego yang gak jelas!!" sungut Keysha ikut kesal mendengarnya.
"Bagusnya kamu laporin lagi Ra, biar mereka jera!" saran Keysha pada Moura saat keduanya berjalan keluar dari area gedung perkantoran.
"Tenang aja, aku udah punya cara buat balas apa yang sudah mereka lakukan hari ini ke aku!" Moura tersenyum nakal ke arah Keysha.
"Huuuw, ngeriii dah cewek nomor satu di kantor ini gak ada lawan!" puji Keysha ke arah Moura. "Harusnya mereka tuh mikir, si Rendi aja bisa lu masukin ke rumah sakit apa jadinya ama mereka kan Ra?" imbuh Keysha sama-sama nista.
Keysha akhirnya mengantarkan Moura pulang ke rumahnya, ini pertama kalinya juga Moura mengijinkan Keysha mengetahui di mana ia tinggal. Selama ini untuk menutupi keberadaan bayinya Moura selalu menutupi keberadaannya dari siapapun. Keysha akhirnya bertemu dengan buah hati rekan kerjanya, dia begitu gemas dan ingin jauh lebih lama lagi bermain dengan Qilla yang menggemaskan. Hanya saja waktu berlalu dengan cepat, saat ini sudah memasuki waktu Isya.
"Aku tidak menyangka, hidup kamu sungguh keras Ra," ujar Keysha sendu setelah mendengar apa yang di ceritakan Moura akan hidupnya selama ini. Tentu saja Moura hanya bercerita intinya saja tidak secara keseluruhannya. Jika ia mungkin akan selesai tahun depan. Hihi
"Ya begitulah, aku bersyukur aku di beri kekuatan oleh Tuhan untuk melewati segalanya." tutur Moura sendu.
"Kalau ada apa-apa lagi kamu bilang aja Ra, siapa tahu aku bisa bantu. Di tanah perantauan ini terkadang orang lain bisa jadi saudara, kita sama-sama jauh dari keluarga. Jika bukan dengan rekan kerja, ya siapa lagi keluarga kita di sini." ucap Keysha kembali menguatkan Moura. "Bukankan kantor adalah rumah kedua kita?" imbuhnya kemudian.
Keduanya berpelukan, Moura beruntung ternyata rekan satu departementnya begitu baik. Satu lagi Tuhan memberikan rezeki berlebih untuk Moura. Salah satunya adalah di kelilingi orang-orang baik di tengah gempuran orang-orang jahat yang selalu mencoba menjatuhkan Moura saat ini.
Tidak lama Keysha pamit pulang, Moura menidurkan Qilla. Gadis kecilnya terlihat kelelahan setelah bermain dengan onty barunya. Moura bergegas mengerjakan tugas rumah tangga sebelum hari semakin larut. Setelah selesai semua, dia kembali pada rencananya membalaskan perlakuan yang ia terima di kantor dua hari kemarin.
"Aku ingin tahu apakah masih orang yang sama yang mengerjaiku?!"
__ADS_1
Moura mengotak-atik laptop miliknya yang sangat berharga. Di dalamnya berisi software yang jarang di miliki oleh orang normal lainnya. Salah satunya seperti yang tengah di lakukan Moura kali ini. Dia kembali meretas sistem keamanan kantornya dan mengambil data dari kamera pengawas. Moura menyunggingkan senyumnya, dia tidak menyangka Margareth yang semestinya sedang mendapatkan sanksi skorsnya di bantu Ratu dan satu teman lainnya menjebak dirinya.
"Kau tak lebih dari wanita yang otaknya berada di dengkul!" umpat Moura menghina Margareth.
Dengan lihai Moura mengambil data kamera pengawas dan mengeditnya sebelum dia menyebarkan apa yang di lakukan Margareth CS terhadapnya. Bahkan Moura menyisipi percakapan mereka tentang rumos Moura dan semua hal rencana jahatnya untuk menggiring publik menindas Moura di kantor.
"Huh! Akhirnya bisa bobo cantik sekaraaang!" Moura mengebangkan senyumnya, dia sungguh tidak sabar menanti esok hari yang dia perkirakan akan menggemparkan se-antero Adhiaksa Utama Group.
***
Keesokan harinya Noegha menjemput Moura, kali ini raut wajah Moura jauh lebih berseri dari biasanya yang selalu memperlihatkan wajah di tekuknya.
"Kau sedang senang?" tanya Noegha dengan senyuman yang terasa menular setelah melihat senyuman sambutan dari wanitanya.
"Tentu saja!" sahutnya sumringah.
"Ada kabar baik apa sampai kamu seceria hari ini?" Noegha mendekat ke tempat duduk Moura. Wanita itu kembali merengut, tidak ada habisnya atasanya ini bertindak mesum di sampingnya.
Noegha terkekeh dengan penuturan Moura yang jauh lebih terlihat percaya diri dari sebelumnya. Noegha merasa senang, ternyata penindasan yang terjadi sebelumnya memiliki sisi positifnya. Moura jauh terlihat lebih berani dan percaya diri atas kemampuannya yang selama ini selalu ia tutupi.
Noegha bertanya pasal sarapan paginya, kemudian mereka memutuskan untuk sarapan kembali di tempat yang akan menjadi makanan favorite Moura yang berasal dari Kepri ini. Noegha sampai di buat kagum oleh jawaban nyeleneh Moura setiap kali mereka terlibat percakapan.
"Ini enak bukan? Kamu ampe request kesini terus," tanya Noegha menyesap cangkir kopinya menatap wanitanya yang sibuk melahap luti gendangnya.
"Enak!" sahut Moura cepat dengan anggukan kepala yang berulang-ulang. "Pada dasarnya, bagiku rasa itu hanya ada dua!" ujarnya kemudian menatap Noegha dengan menunjuk makanannya kemudian melahapnya kembali.
Noegha mengernyit. "Tentu saja, bocah juga tahu kalau di tanya rasa ada berapa jawabnya pasti dua!" Noegha menatap Moura dengan sedikit kekehan. "Enak sama gak enak kan?" lanjut Noegha.
"No... No... No!" Moura menggeleng dan menggerakan telunjuk bersamaan saat menghardik jawaban Noegha.
__ADS_1
"Heh?!" Noegha kembali mengernyitkan keningnya, kemudian menatap serius ke arah Moura. Mengapa jawabannya salah. "Jadi apa?" tanya Noegha penasaran.
"Enaaak sama enak bangeeeet! Hihi...," Moura menjawab dengan cekikikan, Noegha mengeraskan rahangnya merasa sangat tertipu, sejurus kemudian dia ikut terbahak.
"Dasaar kamu ini!" umpat Noegha lirih menundukan wajahnya.
Noegha tidak menyangka setiap pagi Moura bisa menjadi mood boosternya. Walau kadang tidak bisa di prediksikan apakah Moura membawa tawa atau kekesalan. Pokoknya Moura adalah mood maker bagi Noegha saat ini.
Tak lama mereka telah selesai menyantap sarapan langsung melesat menuju kantor yang lumayan memerlukan waktu extra untuk kesana. Di jam kerja yang padat ini tentu sedikitnya mereka terjebak macet di beberapa tempat. Moura yang biasanya meminta untuk keluar lebih dulu kali ini seperti dugaan Noegha, dia sudah lebih berani menunjukan dirinya. Mereka akhirnya keluar bersama, Noegha merasa Moura berubah hanya dalam waktu yang sangat singkat tanpa ia duga.
"Aku menyukai keberanianmu saat ini!" kata Noegha dengan senyuman lebarnya menghentikan langkah kaki keduanya di lobby kantor.
"Ya, aku bersyukur terkadang Tuhan memiliki banyak cara untuk membuat kita belajar. Entah itu datangnya dari cobaan atau kebahagian," ujar Moura menatap sendu kearah Noegha. "Aku belajar bahwa tidak selalunya hal yang buruk itu benar-benar buruk untuk kita. Begitu pula sebaliknya, aku pikir hal yang mungkin terlihat baik hasil akhirnya akan terlihat baik." Moura menghirup udara perlahan dan menghembuskannya perlahan juga. "Aku pernah mendengar ungkapan yang cukup menarik untukku."
"Semua orang hidup terikat dan bergantung pada pengetahuan atau persepsinya sendiri, itu disebut kenyataan. Pengetahuan dan persepsi itu sesuatu yang samar. Bisa saja kenyataan itu hanya ilusi, bisa jadi semua orang hidup dalam ilusi dan asumsi." Moura mengembangkan senyumnya, Noegha terpaku dengan jawaban yang tidak pernah ia dengan sebelumnya dari wanita manapun.
"Menjadi hebat tidak selamanya menyenangkan. Ketika kau menjadi kuat, kau menjadi sombong dan menarik diri. Bahkan jika yang kau incar adalah mimpimu!" ujar Moura memberikan kata penutup atas ceramah singkatnya kali ini.
"Wow..," puji Noegha terdengar lirih, pria itu masih terpaku dengan ucapan dewasa wanitanya. "Aku tidak menyangka kamu memiliki pemikiran yang begitu─" Noegha kehilangan kata untuk mengungkapkan pujian pada wanitanya.
Moura terkekeh menundukan wajahnya. "Ah kamu ni ga seru, masa ga pernah dengar ungkapan itu? Aku hanya mengutip dari apa yang di ucapkan Babang Uchiha Itachi selama ini!"
"Oh Shiiit Moura Putri Sarasvati!!" umpat Noegha merasa bodoh dia sendiri tahu siapa Uchiha Itachi, Moura kembali cekikikan dia melambaikan tangan dan menjulurkan lidahnya sebagai perpisahan. Moura bergegas menuju ruangannya ada hal yang harus dia kerjakan segera saat ini.
"Oh shiiit!" Noegha masih mengumpat dengan terus menggelengkan kepalanya.
"Lu kenapa Brow? PMS?" sambut Michel mengolok bosnya sendiri.
Sungguh tidak habis pikir Noegha akan Michel yang sangat berani padanya. Di depan Michel harga dirinya sebagai bos sirna. Apalagi jika istri asisten khususnya, Shaveera itu sudah ikut bergabung. Mereka yang justru akan menindas dirinya. Tentu saja jika hanya ada mereka bertiga saja. Di hadapan umum Noegha tetap terlihat sebagai Bos Angkuh yang di segani siapa saja.
__ADS_1
To be continue...
*****