
Noegha menatap wajah Moura dengan warna yang sedikit gelap. Pria itu begitu marah pasalnya wanitanya menolak di jemput dan mendapati Moura di antar oleh pria lain yang tak lain mantan suaminya.
"Apa kamu bodoh?" tanya Noegha sarkas. "Apa kamu kembali lagi pada pria brengsek itu?" Rentetan pertanyaan kekecewaan Noegha ia layangkan pada wanitanya.
Semalam Moura menginap di hotel bersama mantan suaminya. Bahkan keduanya berujar khilaf kembali memadu kasih dengan panas semalam. Setelah itu Raffa meminta maaf dan membujuk Moura agar tidak lagi menjadi masalah kedepannya. Susah payah Raffa menemukan Moura saat ini, bahkan wanita itu sudah sedikit mau berkominunikasi dengannya, hanya karena gairah semalam yang begitu sukar di tahan membuat keduanya berselisih di pagi hari. Padahal jelas-jelas Moura juga dalam keadaan sadar, dia sendiri merintih keenakan di bawah gempuran mantan kekasih sekaligus ayah biologis putrinya.
"Apa urusannya sama Bapak!" umpat Moura kesal.
Setibanya Moura di kantor dan Raffa meninggalkannya tangan Moura di tarik langsung oleh Noegha. Pria itu membawa Moura pergi keluar dan seperti saat ini mereka terdampar di salah saru kopitiam membahas betapa plin-plannya wanita incarannya.
"MOURA!" bentak Noegha membuat beberapa orang memperhatikan mereka. "Huh!" Noegha menyadari tingkah implusifnya membuat Moura kini pasti merasakan malu luar biasa di perhatikan beberapa orang yang memang berada di tempat yang sama. "Maaf aku lepas kendali... Aku sangat cemburu!" imbuh Noegha mulai menenangkan dirinya.
"Hah?!" Mulut Moura terbuka lebar dengan pernyataan atasnya. Harusnya dia sudah tahu bahwa Noegha tengah mengejar perhatian dan cintanya. Hanya saja Moura selalu menipu dirinya sendiri bahwa Noegha hanya tengah bermain-main saja.
"Ngap! Lalat masuk nanti!" Noegha menutup mulut Moura dengan tangan besarnya yang langsung di hardik Moura. Pria itu terkekeh saat ini.
"Moura, dia sudah menjadi mantanmu... Apa kamu memberikan kesempatan kesalahan yang sama terulang kembali hmm?" Noegha tidak rela jika mantan suami Moura kembali mendapatkan wanita incarannya. "Kamu bercerai dengannya karena kamu di kecewakan bukan?" Noegha menatap lekat pada Moura yang masih terpaku menutup rapat mulutnya.
"Ini urusan pribadiku, untuk apa kamu ikut campur!" hardik Moura.
"Tentu saja aku ikut andil! Kamu wanitaku saat ini ingat?" tutur Noegha percaya diri.
"Apaa? Hahaha..., Bangun kisanak udah siang!" ejek Moura membuat Noegha geram.
"Satu, aku tidak mau terikat dalam hubungan cinta-cintaan! Dua, aku sedang mengejar karierku... So, please baik dia atau kamu tidak akan bisa membuka pintu hati aku saat ini!" Moura menjelaskan dengan jelas dan lugas berharap Bos Angkuhnya mengerti setiap kata yang ia ucapkan.
"Cih, ga usah somboh nanti kamu kemakan omongan sendiri. Aku yakin bentar lagi kamu pasti tepikat olehku dan memohon aku menjadi priamu!" sombong Noegha di hadapan Moura dengan menyesap kopi hitam pekatnya.
Moura kembali membuka mulutnya lebar tidak percaya tingkat kepercayaan diri bosnya di atas rata-rata. Noegha bangkit segera dan menyuruh Moura untuk mengikutinya saat ini juga. Mereka akan kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan Adhiaksa bulan-bulan ini. Terlebih minggu depan adalah anniversary kantor yang ke-10.
Di dalam ruangan Presidir Noegha masih tidak tenang, pikirannya bercabang kemana-mana. Moura sungguh telah menjungkir balikan kondisi Noegha saat ini.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!"
"Kalem aja keleess..." jawab Shaveera mulai mengejek sepupunya.
Bruuk!
"Aku mau ambil cuti melahirkan..." kata Shaveera di hadapan Noegha.
Noegha meliriknya sekilas kemudian mengabaikannya. "Lu cuti, ya cuti aja! Kan ada laki lu yang gantiin tugas lu..."
"Enaaak aja!" sahut Shaveera. "Tugas gue lumayan berat, lah emang Michel ga ngerjain tugas dia? Mau Michel double gajian dengan nominal gaji dia? Gue sih seneng aja..." serang Shaveera. "Gue mau request SDM ama personalia mungkin akhir minggu ini orangnya datang jadi bisa aku ajarin dulu sebelum aku cuti."
"Ye lah suka-suka elu!" sahut Noegha masih dengan nada emosinya. Shaveera sedikit mengerutkan keningnya, sudah dia hafal sifat Noegha. Dia menduga pasti sepupunya tengah mengalami sesuatu yang membuat dia harus uring-uringan seperti ini.
"Lu kalo di tolak cewe jangan lampiasin ke kerjaan ama orang sekitar dong. Gak lucu!" ejek Shaveera kembali. "Kenapa emangnya? Moura lagi?" tanya Shaveera berniat untuk membantu atau memberi solusi pada sepupunya yang selalu bernasib tragis mengenai percintaannya.
"Suruh Moura lakuin assessment jadi sekretaris gantiin lu cuti!" titah Noegha pada Shaveera saat ini.
"Dih, di ingetin ceweknya langsung aja moodnya bagus! Ye lah... Tapi kalau dia ga lolos jangan harap bisa gantiin kerjaan gue... Salah-salah tar nyusahin gue buat benerinnya." sungut Shaveera.
"Gue yakin 100% kemampuan doi jauh di atas elu!" ejak Noegha di jawab jari tengah oleh Shaveera. "Sungguh sekretaris tidak punya akhlaq... Kenapa gue bisa tahan ama duo keong racun itu!" gumam Noegha setelah sepupunya keluar.
"Moura sayang... Kita emang di takdirin berjodoh! Ada aja yang bikin kamu harus deket ama aku!" Noegha mengembangkan senyumnya dan kegelisahan di hati sebelumnya kini sirna. Noegha kembali bersemangat mengerjakan tugasnya.
***
"Anda memanggil saya?"
"Ya duduk sebentar ya Mba... Nanti kita ke ruang sebelah buat lakuin beberapa test saya persiapkan dulu bahannya."
__ADS_1
Moura sudah berada di ruang personalia, dia berhadapan dengan bagian yang mengurusi pengrekrutan karyawan baru. Dia begitu kebingungan saat ini, tidak ada hujan, badai, ataupun angin kencang tiba-tiba saja dia di suruh bagian personalia menghadap. Sekarang ini dia juga di kejutkan dengan di suruhnya melakukan beberapa test yang sama persis seperti awal mula dia melamar.
"Maaf Mba, ini buat apa ya? Apa test kemaren aku ada salah nilai apa gimana?" tanya Moura harap-harap cemas pada staff personalia yang di ketahui namanya Rina.
"Owh, enggak ini Mba Shaveera ngajuin permintaan SDM buat gantiin posisinya sementara pas dia cut melahirkan." jawab Rina ramah.
"Hah? Tunggu Shaveraa? Sekretaris Pak Noegha?" tanya Noegha polos.
"Yups! Beneeer..." Lagi-lagi Rina menjawab dengan senyuman manisnya. "Jadi Mbanya kandidat untuk gantiin Mba Shaveera sementara. Tapi karena jadi sekretaris itu ada kemampuan tertentu yang harus Mba kuasai makanya Mba Shaveera minta di lakuin test ulang ke Mba."
Moura hanya mampu ber-oh ria, dia tidak ingin banyak bertanya. Namun otak nistanya kembali ter*rangsang untuk bertanya lebih lanjut.
"Eh maaf mba ini saya lancang, kalo jadi Sekretaris gaji saya ada penyesuaia dong ya di banding jadi Clerk saat ini."
"Oh itu nanti mungkin Mba bisa di beritahu atasan saya. Saya hanya bertugas lakuin seleksi saja." jawab Rina ramah.
"Owh oke... Makasi Mba, btw boleh minta kisi-kisi gak ujiannya kayak apa isinya?" bisik Moura di telingan Rina yang di sambut tawa wanita minang itu.
"Mba... Mba... Kamu asik juga ternyata orangnya ga kayak rumornya..." Rina menutup mulutnya seketika.
"Rumor lagi..." lirih Moura. "Iya namanya orang syirik pasti nyebar fitnah sana-sini. Kalo nyebar angpau namanya Lebaran Mba." canda Moura mencairkan suasana.
"Hahahahaha... Mba ni ah, yuk buruan ini isi data pribadi dulu. Inget jangan di manipulasi lagi Mba..." canda Rina. Moura menunduk malu dengan peringatan Rina akan status tipuan sebelumnya.
"Di kasih gak nih kisi-kisinya, lumayankan jadi Sekretaris yang aku denger gajinya di angka depannya 8 bisa jadi dua digit kan ya?" Moura memang sangat senang berbincang aslinya. Hanya karena tidak ingin terlalu menjadi ember bocor akhirnya dia menjadi pendiam selama di departement project.
"Kalau dari test yang di minta Mba Shaveera lebih ke kemampuan pengolahan data yang berbasis teknologi. Misalnya penggunaan Ms.Office untuk mengolah data baik dari e-mail atau dokument antar departement. Pokoknya mengenai Sekretaris aja Mba." ujar Rina menjelaskan secara garis besarnya.
Sudut bibir Moura terangkat, sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkannya. Dia yakin pada kemampuannya, Moura juga berpikir data assessment ini harusnya bisa membuatnya mendapatkan kenaikan pangkat atau sejenisnya. Tidak mungkin dia akan turun kembali menjadi Clerk setelah menjadi Sekretaris. Moura sungguh berharap banyak kariernya bisa dia raih di Adhiaksa Group ini, dengan begitu dia akan berusaha dalam test kali ini demi posisi yang jauh lebih baik lagi kedepannya.
To be continue...
__ADS_1
*****