Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
37 # Pisah


__ADS_3

"Moura Putri Sarasvati, janda dengan satu anak? Heh.."


Caroline tengah membaca berkas yang dia inginkan, wanita itu juga sama cemburunya seperti Moura. Dia memang sudah tahu sikap casanova prianya. Tapi baru dengan Moura, Noegha berani mengenalkan pada keluarga besarnya bahwa dia calon istrinya.


"Apa bagusnya dia? Rumor dia di kantor saja jelek begitu! Pantas Noegha mau pasti karena wanita itu sudah naik keranjangnya!" umpat Caroline kesal meremas dokumen Moura dan membuangnya.


"Aku harus membuatmu cepat sadar dimana tempatmu seharusnya!" senyum Caroline mengembang dia sepertinya sudah memiliki rencana.


Di kantor Adhiaksa sudah waktunya jam pulang bekerja. Noegha memberikan titah pada Shaveera sebelum dia pulang.


"Lu kan udah nikah ama Moura, emang ga takut tadi siang makan sama Caroline?" tanya sepupunya kepo.


"Sengajaaa!!" umpat Noegha sedikit kesal.


"LAH?" wajah Shaveera terlihat sangat bingung.


"Huh!" Noegha mulai di kuasai emosi. "Aku ingin tahu apa Moura cemburu padaku? Aku selalu merasa dia tidak mencintaiku. Dia tidak peduli sama sekali!" umpat Noegha malah berencana bergosip dengan sepupunya lebih dulu. Lebih tepatnya curhat, mumpung Michel tengah berada di luar.


"Heh, kamu ini aneh... Bagus dong kalau si cewek gak ngekang! Jarang-jarang loh... Tar pas kehilangan baru nyesel... Cewek sekali di sakitin bakalan inget seumur hidup! Lagian ya, lu kan tahu Moura trauma menjalin hubungan karena pengkhinatan terus lu tadi sengaja terlihat mengkhianatinya? Kalau gue jadi dia gue bakalan minta putus sebelum makin tersakiti lagi ama tingkah konyol lu!"


DEG!


Ucapan Shaveera menghujam jantung Noegha, dia bangkit dan segera menjemput istrinya. Sebelumnya dia benar-benar tidak memikirkan matang-matang. Dia begitu kesal, Moura selalu dingin padanya. Noegha merasa justru Moura berubah dari sebelumnya yang begitu hangat.


"Moura..."


Noegha membuka pintu ruangan divisi sistem, tidak terlihat istrinya disana. Perasaan tidak nyaman mulai menguar di dalam dadanya. Tiba-tiba saja ada salah satu staff yang masih disana.


"Kamu tahu Moura udah keluar apa belum ya?" tanya Noegha.


"Oh Bu Moura emang dari makan siang gak masuk lagi Pak, dia ijin pulang lebih awal katanya ada urusan.


DEG!

__ADS_1


Noegha merasa lemas mendengarnya dan langsung berlari menuju mobilnya. Dia segera menghubungi istrinya namun tidak ada jawaban dari sebrang sana membuat Noegha semakin terbawa emosi. Tak berapa lama Noegha berada di apartemen milik Moura. Moura menyambut kedatangannya seperti biasa, Noegha mengeraskan rahangnya.


"Maksudmu apa HAH?" cerca Noegha memulai pertikaian sedari masuk rumah.


Moura hanya tersenyum dan membawa putrinya ke kamar. Dia tidak ingin Qilla mendengar keributan orang tuanya.


"Di telpon aku sudah bilang, aku memang pulang cepat hari ini. Aku pikir kamu sudah paham."


Sekuat tenaga Noegha menahan emosinya, agar tidak melayangkan kata kasar ataupun pukulan. Moura justru sebaliknya dia mengharapkannya agar menjadi alasan putus hubungan mereka. Keduanya memang paling senang menyiksa diri sendiri.


"Kamu lapar? Oh udah makan ya?" tawar Moura namun segera di jawab sendiri.


"Kamu kenapa sih Moura?!" tanya Noegha membalikkan tubuh istrinya dengan cepat.


"Kita makan? Aku memasak makanan kesukaanmu loh..." lirih Moura masih tersenyum seolah tidak terjadi apapun.


Noegha segera memeluk istrinya, "Maafkan aku Sayaaang... Please jangan kayak gini lagi ya..."


"Kamu minta maaf buat apa? Kamu kan gak salah... Emang kamu bikin salah? Kan aku yang gak bilang pulang duluan?" pancing Moura.


Moura sudah mengira, dia tersenyum pedih dan berlalu menuju meja makan menghidangkan makanan untuk suaminya.


"Mau makan dulu apa mandi dulu?" tanya Moura canggung.


"Aku ingin makan kamu!" ujar Noegha menggenggam jemari tangan Moura dan menciumnya. Sekelebat kejadian tadi siang membuat Moura refleks menarik tangannya.


"Aku lagi halangan!" hardik Moura langsung.


"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kamu sudah halangan minggu lalu?!" selidik Noegha kesal.


"Aku tidak tahu, dia keluar darah begitu saja. Kamu mau lihat?" tantang Moura tanpa ragu sedikitpun, padahal jelas Moura sedang berbohong.


Noegha terkekeh lirih dan pergi menuju keluar mansionnya. "Aku pergi dulu!" pamitnya berhenti di depan pintu.

__ADS_1


"Oke..." sahut Moura datar semakin membuat Noegh emosi jiwa rasanya.


"HAH, MOURA!!" pekik Noegha kembali berbalik badan emosinya semakin menjadi.


Moura siap dengan konsekuensi yang akan di terimanya, bahkan jika harus di hadapkan pada kekerasan dalam rumah tangganya yang baru di jalani 7 bulan lamanya dia sudah siap kehilangan segalanya kembali.


"Kamu sengaja membuat aku emosi kan?" Noegha kembali berjalan mendekati Moura, wanitanya beringsut mundur.


"Kamu memang paling tahu mematahkan hatiku MOURA!!" bentak Noegha membuat air mata Moura tidak tahan untuk keluar.


"Noegha, mari kita berpisah..." lirihnya tidak tahan.


"PISAH KATAMU?! JADI INI YANG KAMU INGINKAN SAMPAI BERUBAH SEPERTI INI?!!" maki Noegha di depan wajah Moura.


"JANGAN HARAP AKU MENCERAIKANMU MOURA!! AKU LEBIH SENANG JIKA KAMU TERIKSA DENGANKU!! AGAR KAMU JUGA BISA MERASAKAN BETAPA TERSIKSANYA DIRIKU SELAMA INI OLEH MU!!"


BRAAAAK!


Tubuh Moura luruh di lantai, dia terisak menutup wajahnya. Noegha membanting pintu dengan keras dan keluar rumah dengan perasaan kecewa dan emosi bercampur aduk di dalam dadanya. Moura mendengar tangis Qilla membuat dia bangkit dan bergegas mendekati putrinya.


"Sayaang, kamu kaget ya... Maaf ya..."


Moura segera memeluk erat putri semata wayangnya. Dia ingat prioritasnya adalah putrinya, dia merasa tidak ada lagi urusan disini.


"Apa aku benar-benar pergi saja? Toh aku kan hanya menikah siri, dia mau nikah lagi juga sebodo amat lah!"


Moura bergegas mengemasi barang-barang penting miliknya dan juga buah hatinya. Dengan cepat juga dia melihat situs lowongan pekerjaan. Dia mulai kembali submit ke beberapa perusahaan, dia berharap tak lama dia harus mendapatkan tempat pekerjaan barunya dan segera keluar dari kota Batam.


Qilla sudah tertidur, Moura menutup pintu dengan perlahan. Merapihkan beberapa barang dan makan malam dalam kesunyian. "Ga usah baper, biasa juga sendiri... Lagian, ini masih mending di banding Raffa dulu!!" cicitnya bermonolog.


Moura kembali menaruh sisa makanan di lemari pendingin dan bersiap menunaikan kewajibannya sebelum dia beristirahat. Moura mengambil ponselnya dan memasukkan nama Noegha ke daftar blacklist agar tidak bisa menghubunginya. Moura benar-benar tidak bisa tertidur, dia menyambar laptopnya dan membuka server kantor dari sana dan mengerakan beberapa deadline pekerjaannya sebelum akhirnya dia hengkang dari sana. Moura juga mulai mempersiapkan surat resign.


"Semoga pihak HRD mau mencetak surat keterangan kerjaku... Huhu" gumam Moura merentangkan tangan ke atas dan menguap, setelahnya dia tertidur pulas tanpa peduli dimana suaminya sekarang ini.

__ADS_1


*****


To be continued


__ADS_2