Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
10 # Berulah kembali...


__ADS_3

Moura terbangun dari mimpi yang di rasakan seperti bukan mimpi. Dia merasa flashback masa lalunya di putar kembali. Dia tidak menyangka hanya satu panggilan dari Raffa, dia kembali mengenang masa lalu hingga terbawa ke alam mimpi. Dia menatap putrinya yang telah terbangun dan sibuk memainkan mainan tangannya.


Tawa renyahnya membuat hati Moura menangis. "Maafkan Ibu Nak... Ibu memisahkanmu dengan Papa hanya karena kelak dia tidak bisa jadi walimu Sayang!" Moura mengusap bulir bening yang sudah membasahi wajahnya saat ini.


Putrinya tengah mencoba merangkak kearahnya, Moura segera meraih dan menggendongnya mencium lekat harum yang mejadi pecutan semangat harinya. Dia tidak boleh terlihat lemah, dia bergegas mempersiapkan apa saja keperluan mereka seperti biasanya sebelum ia meninggalkan Qilla kembali bekerja.


Di kantornya seperti biasa Moura bekerja penuh semangat, dia tidak ingin berurusan dengan kata lembur. Jika saja dia masih single atau tidak memiliki putri mungkin dia akan sangat bersemangat mendapatkan waktu lembur, mengingat bayaran yang di berikan cukup menggiurkan. Sayangnya, demi Qilla dia harus pulang on time dan terus berjuang dengan lebih giat lagi.


"Ra..." panggil Keysha mendekati Moura.


"Hmm..." Moura masih asik menekan tombol keyboardnya mengerjakan laporan anggaran biaya proyek yang sedang dia garap.


"Maksi di luar yuk!" ajak Keysha menarik kursi kecil mendekat pada Moura.


Moura terkekeh pasalnya ini adalah waktunya mereka melakukan ghibah time. "Sorry, gue bawa bekal..." sahut Moura merasa tidak enak.


"Yi ilih... Gue heran ama lu." ejek Keysha. "Padahal elu kan gadis, ko rajin amat sih bekel tiap hari. Gue aja sama-sama rantau tapi kadang suka gak ada waktu!" keluh Keysha kemudian.


Lagi-lagi Moura terkekeh, bukan tanpa alasan dia membawa bekal setiap hari. Selain demi menghemat anggarannya dia juga tentu saja mempunyai waktu lebih untuk melakukan pumping yang disembunyikan olehnya. Di saat orang lain berlomba makan di luar, itu kesempatan Moura untuk pumping dengan leluasa di dalam ruang kesehatan atau Mushola tanpa khawatir di curigai orang-orang.


"Ya gimana ya, demi sebongkah berlian hemat is a must!" canda Moura di sambut cibiran wajah Keysha yang tengah kesal.


***


12.00 PM di sebuah Cafe.


Di salah satu cafe yang berada di sebuah mall besar di pusat kota terlihat sepasang pria dan wanita tengah bersenda-gurau. Tawa mereka pecah seolah memecah teriknya hari ini.


"Lu tenang aja, aman itu!" ujar si pria meyakinnya rekannya.


"Beneran ya Ren, lu matiin kamera pengawas di ruangan itu. Selebihnya lu serahin ke gue! gue jamin ewita lo jos gandos!" sahut Margareth kembali memastikan.


"Ah mantaf!" pekik Rendi antusias yang tak lain merupakan rekan kerja Margareth di Adhiaksa Utama. "Gue emang udah ngincer lama tuh cewek. Bodynya yang aduhai di dukung ama wajahnya yang bening bikin gue kadang suka hor*ny sendiri!" ujar Rendi menambahkan semakin antusias.


"Cih, kayak gitu di bilang body aduhai!" rutuk Margareth tidak terima rekannya jauh lebih memperhatikan musuhnya di banding dia.


"Eiiitsss, tentu aja belum ada apa-apanya di banding elu Say!" pekik Rendi menyadari kesalahannya, jangan sampai mood Margareth berubah dan merusak hari baiknya. "Apalagi goyangan lu ga ada yang ngalahin seantero Adhiaksa Utama deh gue jamin!" bual Rendi menyenangkan hati Margareth.


Benar saja wanita itu kini melebarkan kembali senyumnya, dia merasa tersanjung dengan pujian buaya darat Rendi. Rendi adalah staff IT di Adhiaksa Utama, dia sudah sangat terkenal dengan sebutan playboynya. Tidak ada wanita cantik yang luput dari godaannya. Dia menjadikan para wanita bodoh itu sebagai mainannya. Wajahnya yang rupawan dan gayanya yang selalu terlihat memamerkan kekayaannya tentu saja menjadi nilai plus di hadapan para wanita begitulah cara kerja para buaya darat.


Dia bukannya tidak mengenal Moura, sedari awal dia mendengar rumor kedatangan staff baru yang cantik, sejak saat itu dia mencoba mendekati gadis itu. Dia benar-benar terpikat oleh tampilan Moura, bahkan semenjak melihat Moura dan sempat berbincang sejenak Rendi tidak lagi berselera dengan wanita mainannya yang lain. Moura menghantui pikirannya, beruntung Margareth menawarkan bekerja sama menjebak Moura untuk menyebarkan kembali rumor buruk bagi wanita itu.


Rendi menerimanya tentu saja, dia mendapatkan keuntungan ganda. Bisa mencicipi yang jadi incarannya sekaligus menerima sejumlah uang yang di tawarkan Margareth. "Hari ini kamu akan jadi milikku Moura..." gumamnya senang sebelum akhirnya dia keluar dari kuda besinya yang sudah terparkir di pelataran kantor.


Sedangkan di ruangan BOD di kantor Adhiaksa Utama, Presidir mereka tengah menunjukan wajah frustasinya

__ADS_1


"Kalian duo combo brengsek senang betul memeras otakku HAH!" maki Noegha pada asisten pribadi dan juga sekretarisnya. "Apa-apaan ini berkas sebanyak ini minta selese hari ini juga! Lu pikir gue mesin foto copy!!" rutuk Noegha kembali menggema tidak terima.


"Ckck... Semenjak kenal Moura etos kerja lu menurun kisanak!" ejek Michel yang tak lain asisten pribadi Noegha. Dia meletakan kotak bento yang akan menjadi makan siang tuannya setelah membelinya di salah satu resto favorit Noegha.


"Shut up!" umpat Noegha kesal.


"Hahaha, ternyata Tuan Muda kita sekarang mengganti seleranya." Shaveera yang merupakan sekretaris dan juga istri Michel ikut mengompori. "Tidak menyangka, sekarang gadis yang ia sukai polos dan lugu di luar tapi ganas di dalam!" ejeknya kemudian.


"Kalian dua bajingan mending enyah dari wajah gue. Gue potong bonus tau rasa!!" maki Noegha kasar.


"Uuu... Kang baperan lagi ngambek tatuuuut~" Shaveera menjulurkan lidahnya lagi-lagi mengejek bosnya yang tak lain sepupunya sendiri.


Braaaaak!


Noegha melempar salah satu buku yang ada di sampingnya ke arah keduanya saking kesalnya. Beruntungnya Michel telah menutup lebih dulu dan mereka terhindar dari amukan tiba-tiba tuan moodynya.


Ceklek!


"Buruan kerjain kalo ga lu ga bisa ajak pulang bareng si Moura!! HAHAHA" Michel membuka pintu dan memprovokasi kembali.


BRAAAAAK!


"Bajingan, sialaaaan!"


Moura bersyukur pekerjaannya bisa dia selesaikan dengan cepat. Dengan keahlian yang tidak di ketahui oleh rekan kerjanya Moura bahkan membuat aplikasi yang ia buat sendiri demi efisiensi waktu saat melakukan perhitungan RAB.


Moura merupakan murid berprestasi di kampusnya. Bukan hal sulit baginya terlebih dia masih fresh graduate semangatnya masih membara, dia senang pada akhirnya bisa mengaplikasikan ilmu yang ia geluti selama ini.


"Apa aku sudah bisa meminta bonus kinerjaku?! Hihi" gumam Moura merasa berbangga diri pada memampuannya berharap bosnya bisa menaikan gajinya atas kinerja pronya!


"Lu mau bareng gak?!" ajak Keysha saat semua orang kini sudah berhamburan untuk melakukan absesi pulang.


"Ehm duluan deh, aku masih ada sedikit kerjaan," sahut Moura sisa satu tahapan menyimpan pekerjaannya. Dia juga sebenarnya tidak begitu ingin dekat dengan siapapun, dia takut statusnya terungkap dengan cepat mengingat dia juga baru mengenal Keysha.


"Owh ok, kalo gitu hati-hati ya!" Keysha berlalu pamit menutup pintu ruangan.


Tak berapa lama tiba-tiba datang Rendi menemui Moura. Di divisi project para inspector jarang berada di ruangan. Bahkan pak Khairul berserta supervisor mereka selalu berada di lapangan dibanding di ruangan.


Mereka hanya akan ada di ruangan untuk menyerahkan dokumen hasil inspeksi di pagi hari dan menerima surat pekerjaan yang sudah di kelompokan Moura untuk segera di kerjakan.


Ceklek!


"Permisi..." sapa Rendi membuka pintu ruangan divisi projek.


"Iya..." sahut Moura menatap ke arah asal suara.

__ADS_1


"Maaf nih ganggu waktu pulang, saya di perintahkan buat cek komputer berkala khusus Administrasi." ucap Rendi mendekat dengan membawa satu lembar kertas tipuan agar Moura percaya.


Moura mengernyitkan keningnya, dia yang juga merupakan ahli sistem komputerisasi merasa bahwa perangkatnya tidak memiliki kendala.


"Oh gitu, kok di jam segini ya Mas?!" tanya Moura ramah membuat Rendi semakin gelisah tidak sabar ingin menjamah tubuh Moura.


"Karena kalau jam kerja pasti ganggu kerjaan harian kan Mba?!" jawab Rendi terlihat meyakinkan.


"Owh ok deh silahkan, kalau begitu saya pamit dulu ya." Moura bangkit dari tempatnya dan bersiap keluar ruangan. Tanpa di duga Rendi menangkap tangan Moura, membuat gadis itu segera menepianya.


"Eh, maksud Mas apa ya?!" hardik Moura ketus.


"Ish, jadi cewek tuh ga usah galak Non... Apalagi cewek cantik kayak kamu!!" Rendi benar-benar sudah tidak tahan dia tidak bisa lagi menunggu. Dia mendekat pada keberadaan Moura.


'Aku dah ada feeling ga beres sih dari tadi juga ama dia nih!! Mukanya aja udah bisa ketebak fucek boy!' umpat Moura dalam hatinya.


Moura melihat kesekeliling entah mengapa dia bisa langsung menangkap cahaya titik merah di sudut ruangan yang dia perkirakan seperti kamera yang sedang stand by.


Moura menaikan sudut bibirnya, dia seolah mengerti apa yang terjadi saat ini. Dia bersikap tenang 'Aku yakin Margareth pasti sudah sangat tidak sabar membalaskan dendamnya padaku sekarang! Oke mari kita mulaaaai...' batin Moura menerima tantangan dari ratu bullying di kantor.


"Bukannya Mas mau benerin komputer kenapa sekarang ngurusin sikap aku bukan komputerku?!" tanya Moura dingin.


"Duh, kamu tuh makin jual mahal makin aku semangat buat dapetinnya!" Rendi semakin mendekat ke arah Moura. Gadis itu terus beringsut mundur menjauh. "Sini sayang, aku jamin aku bisa muasin kamu!"


Kata-kata menjijikkan yang di lontarkan Rendi membuat Moura berasa ingin muntah. "Di abyar berapa kamu sama Margareth?!" tanya Moura langsung.


"Wah... Wah... Wah... Gak salah emang, udah cantik, aduhai, pinter pula! Makin, semakin aku menginginkanmu sayaaang....," puji Rendi kini sudah mendapatkan tangan Moura. "Kamu tidak perlu tahu berapa yang sudah wanita itu bayar. Pastinya sekarang kamu bakalan ngerintih enak sayang!!"


BUUG!!


BRUUUKK!!


"Aaarrrghhh!! K-kaaau..." rintih Rendi kesakitan.


Tubuhnya di banting keras oleh Moura. Gadis itu dengan cepat membalikan posisi tangan lawannya dan menerjangnya hingga jatuh tersungkur.


Hal yang tidak di ketahui oleh orang-orang di sini. Moura adalah pemegang sabuk coklat jiu jitsu. Moura memilili keahlian bela diri yang mumpuni untuk melindunginya dalam keadaan bahaya seperti sekarang ini.


"Wah, aku ga nyangka ternyata Mas duluan yang merintih, enak ya?! Apa mau lagi?!" ejek Moura memprovokasi di depan Rendi.


"Shiitt!!" umpat Rendi malu. Dia bangkit dari tempatnya dan dengan emosi dia mencoba melawan Moura. Dia tidak percaya jika dia tidak mendapatkannya. Moura hanya seorang gadis, tentu saja kekuatannya tidak sebanding dengannya.


To be continue...


*****

__ADS_1


__ADS_2