Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
09 # Prinsip Aneh


__ADS_3

Semenjak pertanyaan serius Raffa yang ingin melamar atau mengikat Moura ke jalur pernikahan Moura sedikit menjaga jarak dengan Raffa. Sebelumnya Moura juga sudah mengutarakan keinginan dan ambisinya pada Raffa. Berharap laki-laki itu mengerti dan menangguhkan pernikahan mereka.


Moura sendiri mengerti, alangkah bagusnya jika menjalani pacaran setelah menikah sesuai syariat agamanya. Hanya saja hatinya begitu keras untuk meyakini bahwa bisa saja dia mengejar cita-citanya setelah berumah tangga. Dia selalu di liputi perasaan takut bahwa istilah "Wanita lebih baik di rumah setelah menikah dan menangguhkan cita-cita serta mimpinya." benar adanya. Terlebih keluarganya memang menganut paham di mana sejauh apapun wanita berkarier, dia akan berakhir di dapur juga.


"Bee, pemikiran macam apa itu?!" tukas Raffa emosi saat Moura mengutarakan keinginannya untuk menunda pernikahan. "Kehidupan kita akan jauh lebih sempurna bukan setelah adanya pernikahan. Hubungan kita menjadi halal, segalanya akan menjadi keberkahan bagi kita!" Raffa terus memojokan Moura berharap wanita itu mau membukakan hati dan pikirannya.


Raffa sendiri sudah tidak tahan untuk menjamah Moura. Rasa cinta yang besar dan tidak ingin mengecewakan keluarganya serta melindungi Moura tentu saja dia bertahan untuk tidak mencicipi Moura sebelum waktunya.


"Sayaaang, please ngertiin aku ya..." Mohon Moura pada Raffa, dia sungguh belum siap. "Aku juga kan belum lulus kuliah, orang nanti mikirnya aku hamil duluan makanya cepet-cepet nikah!" ujar Moura ketus masih keukeuh* atas prinsipnya tidak mau menikah di usia yang masih muda yang masih memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuannya.


Raffa menegaskan rahangnya, dia sungguh emosi dengan pikiran Moura yang keras kepala. 'Apa salahnya dengan menikah? Toh aku tidak akan melarangnya melanjutkan kuliahnya.' batin Raffa tak kalah keras mempertahankan keyakinannya.


"Lagian kamu juga kan belum bekerja, nanti kamu ngasih makan aku gimana?" tanya Moura rasional.


"Heh, jadi kamu takut akan financialku hmm?" tanya Raffa balik dengan menunjukan wajah kesalnya. "Kamu lupa ya, aku itu bakalan gantiin Papa di kantor. Pekerjaanku udah jelas Moura!!" tukasnya dingin mulai mengungkung tubuh Moura.


"Ehm... Kamu ni, kalo emang udah kebelet nikah sana cari cewek lain aja!!" rutuk Moura kesal dan emosi bersamaan.


"MOURA!! JANGAN SEMBARANGAN KALO NGOMONG!!" maki Raffa emosinya kembali memuncak. "Nanti giliran aku beneran pindah ke lain hati kamu nyesel!" ancam Raffa mulai menggerayangi tubuh Moura.


"Aaarrghh RAFFA!!" pekik Moura merasa tengah di permainkan gairahnya.


"Yes Baby..." Raffa terus memberikan gerakan sensualitas di tubuh molek kekasihnya. "Jadi ga usah songong, masih untung aku ingin segera menikahimu Sayang!" umpat Raffa kasar menoreh luka di hati Moura.


"Kalau gitu kita putus!" ujar Moura serius mendorong tubuh Raffa dengan sekuat tenaganya.


"A-apa?" Raffa terdiam tidak menyangka dengan mudahnya wanita yang sudah membersamainya selama empat tahun itu meminta berpisah hanya karena kesungguhan Raffa ingin melanjutkan hubungan ereka kejenjang yang lebih serius.

__ADS_1


Raffa terdiam, dia tengah mengontrol emosinya. Jangan sampai dia melukai wanita pujaannya dengan kekerasan fisik yang berujung Moura membencinya. Raffa sungguh telah cinta mati dengan Moura, bagaimana tidak dia bahkan masih bisa menahan dirinya saat harga dirinya seolah tidak diindahkan kekasihnya. Raffa menatap wajah sendu Moura yang kini tengah menangis. Dia merasa Moura wanita aneh, mengapa dia tidak seperti wanita lainnya yang justru selalu meminta kepastian hubungan mereka. Moura kebalikannya!


Dengan menghembuskan nafas berat Raffa bertahan. "Maafkan aku Sayang..." bisiknya mengusap lembut wajah cantik Moura yang sudah basah oleh air matanya. "Aku gak mau putus, aku akan ikuti mau kamu... Kamu gak mau nikah sekarang ga papa. Tapi gak masalah bukan kalau aku mengikatmu dengan pertunangan?"


Raffa selalu memiliki banyak akal untuk terus menjerat Moura di sampingnya. Moura tersenyum bahagia, dia begitu bodoh jika benar membiarkan prianya memilih wanita lain. Raffa adalah makhluk bumi paling sabar dalam menghadapi keras kepalanya Moura.


"Makasi Sayaaang..." Moura memeluk erat Raffa, tanpa di sadari Moura bahwa Raffa tengah melingkarkan senyum smirknya. Raffa tengah berpikir sebuah rencana agar Moura tidak bisa lepas dari dirinya.


'Kamu yang memintanya Moura, kamu tidak ingin melegalkan hubungan kita maka jangan salahkan aku...'


***


"Aarrrghh, Sayaaang aku kepanasan!" pekik Moura merasa ada yang salah dengan tubuhnya.


"Kenapa Bee? Ini di minum dulu Sayang..." Raffa menyodorkan satu botol air mineral yang sudah dia buka.


Raffa menelan salivanya, dia menyapu habis tampilan Moura yang menggodanya. Hari ini Raffa mengadakan party dadakan yang di adakan di villanya di wilayah Dago Pakar. Dia mengundang beberapa rekannya, dia melamar Moura di hadapan seluruh tamu yang datang. Moura tersipu bahagia dengan keromantisan yang di suguhkan Raffa padanya. Raffa bahkan telah mempersiapkan semua yang di kenakan Moura saat ini.


Wanitanya mengenakan gaun pesta berbahan sutra dengan tali tipis mengekspos bahunya yang indah sepuluh senti di atas lutut. Warna nude yang sangat lembut menegaskan kepribadian Moura. Moura selalu berhasil memukau Raffa, bahkan teman-temannya iri pada pria itu bisa mendapatkan wanita sesempurna wanitanya. Raffa mengenakan cincin bertahtakan permata indah di jari manis Moura, tak lupa ia juga memakaikan kalung senada di leher jenjang wanitanya. Moura sungguh di buat jatuh cinta berkali-kali oleh kekasihnya itu.


"Kalau ini Bee..." Raffa mendekat dan mencium bibir Moura seketika. Gadis itu justru jauh tidak sabar berinisiatif menyesap bibir Raffa lebih dulu.


Hasrat Raffa sudah sampai di ubun-ubunnya, jemarinya sudah bergerak memegang gunung kembar milik kekasihnya. Walau sudah bukan hal yang baru, Raffa terus mencengkram dua bongkahan squishy kesukaannya membuat tubuh kekasihnya menggelinjang hebat. Raffa melepaskan pagutan panas keduanya, wajah Moura terlihat begitu kecewa.


"Ko berhenti sih Bee... Kamu gak mau aku lagi ya!! Aku masih kepanasaaan Bee..." rengek Moura menggelayut manja di leher kekasihnya.


"Jangan di sini sayang, kita ke kamar ya. Aku akan membuat panas di tubuhmu menghilang..." bisik Raffa di cuping telinga Moura dan menggigitnya kecil. Moura melenguh perlahan membuat sesuatu yang sesak di balik ripped jeansnya menggeliat menginginkan wanitanya segara. Raffa menggendong Moura ala bridal, Moura masih melingkarkan kedua tangan di bahu kekasihnya bahkan dia sungguh arogan dengan menciumi bahu prianya.

__ADS_1


"Moura, aku sangat mencintaimu Sayang... Maafkan aku..." ucap Raffa setelah menidurkan Moura di kasur.


"Aku juga sangat mencintaimu Raffa sayaaaang. Maaf aku belum mau kita menikah sekarang, aku masih ingin mengejar masa depanku!" ucap Moura sebelum kesadarannya menghilang.


Mendengar penuturan Moura yang masih berkeyakinan yang sama seperti sebelumnya Raffa tidak memiliki pilihan lain. Dia mengambil kesucian wanitanya dengan cara yang salah, berulang kali dia mencoba bertahan namun yang sudah dia lakukan dengan memberi obat afrodisiak pada kekasihnya tidak bisa lagi dia hentikan. Keduanya melewati malam mereka dengan sangat bergairah, Raffa lupa apa itu dosa dan keyakinan di pegang sebelumnya. Dia hanya takut kehilangan wanitanya. Demi mengikat Moura dengannya dia terpaksa melakukannya, dia sengaja membenamkan benihnya semakin dalam berharap mereka tumbuh di rahim Moura. Dengan begitu Raffa harus menikahi Moura segera, rencana yang sempurna pikirnya tanpa berpikir jangka panjang atas ulahnya.


***


"Kamu brengseeek Raffa!! Huhu..." Moura telah terjaga dari tidur nyenyaknya. Betapa terkejutnya dia saat terbangun dia tengah memeluk tubuh polos kekasihnya, bahkan dia sendiri dalam keadaan yang sama polos tanpa balutan sehelai benang di tubuhnya.


"Maafkan aku Sayang, semalam kamu mabuk!" ujar Raffa menenangkan wanitanya yang terisak pilu. Hatinya juga merasakan sesak membohongi wanitanya. Seumur mereka bersama kali ini Raffa bertingkah bajingan demi menjerat kekasihnya.


"Kamu pasti bohong!" maki Moura, dia yakin tidak pernah menyentuh minuman haram itu.


"Sayang, aku akan bertanggung jawab!" ucap Raffa langsung pada intinya dia menjebak Moura tentu untuk ini.


"Ini pasti rencanamu kan!!!" Moura kesal dia bangkit dan berencana pulang meninggalkan Raffa yang sudah mengkhianatinya.


Raffa terpaku dengan respon Moura yang masih sangat keras kepala. Dia sendiri bangkit dan berusaha meyakinkan kekasihnya, saat menatap bercak merah noda kesucian kekasihnya hatinya bersorak sebagian. Sebagian lagi dia menyesal, dia menyesal dia melakukan dosa ini.


Beruntungnya Moura saat Raffa melakukan tindakan asusilanya dia sedang mengalami masa tidak subur, sehingga dia mendapat jadwal menstruasinya. Dia memekik bahagia tapi tidak dengan Raffa yang merasa rencananya gagal. Moura berpikir Raffa tidak akan bisa menikahinya sekarang juga. Sialnya, keduanya justru terjebak dalam rasa yang memabukan dari hubungan terlarang itu. Raffa sering kali kembali meminta jatahnya setiap saat, dan wanitanya tidak menolak. Raffa semakin tidak ingin berpisah dengan wanitanya. "Moura, kamu benar-benar canduku..."


To be continue...


*****


Note : *Keukeuh** (Ngotot!)

__ADS_1


__ADS_2