Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
04 # Ketahuan!


__ADS_3

Moura terkejut dengan ucapan pria narsis di depannya, tetapi dia menyadari bahwa kenyataannya memang bosnya itu ganteng ga ada obat fix! Jadi meskipun pria arogan itu menyombongkan dirinya tentu saja termaafkan rasanya.


“Iya, Bapak ganteng sekali!” canda Moura kaku dan terpaksa.


“Haha... Cukup berani juga kamu menggoda saya!” Noegha terbahak mendengar penuturan Moura yang sungguh menggemaskannya.


‘WTF!!’ umpat Moura dalam hati merasa sudah salah berbicara. “Maaf pak saya lancang..," lirihnya kemudian, wanita itu membuang wajahnya ke lantai dengan sedikit kesal dan mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang bergemuruh di dalam dadanya.


“Jangan panggil Pak lah kalo lagi berdua gini!” sahutnya kemudian kembali mencairkan suasana. “Aku tidak setua yang kamu pikir!! Atau jangan-jangan kamu mikirnya aku udah tua ya?!” rutuknya terlihat seperti anak labil.


Moura terbelalak dan bibirnya kelu, bagaimana harusnya dia menjawab pernyataan bos besarnya itu!


“Enggak ko Pak.. Eh anuu─” Moura mengerutkan keningnya begitu enggan. “Lantas saya harus panggil apa?”


Moura balik bertanya dengan malu-malu menatap wajah tampan Noegha yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Bahkan 50% pikirannya saat ini melayang entah kemana. Semoga saja bosnya itu tidak bertanya pasal


pekerjaan yang tidak ia mengerti, pasalnya kemungkinan dia akan menjawab asal. Noegha melengkungkan senyumnya, membuat Moura semakin jantungan. Rasanya dia juga akan mimisan saat ini.


‘STOP PAK aduuuuhh... Diabetes aku!!’ jerit suara hati Moura saat ini.


“Panggil apa bagusnya ya?” goda Noegha yang justru semakin senang memperlama Moura berada di ruangannya.


Noegha bangkit dari kursinya, dia mendekatkan tubuhnya di hadapan Moura menahan bobot tubuhnya di atas meja kerjanya menatap wajah mempesona wanita di depannya yang begitu menggodanya. Wanita itu sudah dalam mode freeze membulatkan mata, menelan salivanya, dan bersusah payah mengontrol debar jantungnya supaya tidak terdengar oleh pria tampan di hadapannya. Moura juga mengatupkan bibirnya saat wajah Noegha semakin mendekati wajahnya. Wangi menggoda pria dewasa itu semakin menyeruak dalam indra penciumannya membuat tubuh Moura lemas seketika.


‘Apa memungkinkan bagi ku untuk lari saat ini juga?’ Moura terus bermonolog dalam hatinya selama bosnya melakukan hal-hal di luar nalarnya. Bisa-bisanya dia berkesempatan mendapat peran di perhatikan bos besarnya. Tidak! Sejauh ini Noegha dirasa sangat mempersulit dirinya.


‘SIAL dia sangat manis, polos dan bibirnya.... Aaarrrghhh!!’ umpat Noegha dalam hatinya kini mulai terkontaminasi pikiran kotor Moura.


Noegha segera kembali ke tempat duduknya, dia juga sama gelisahnya saat ini. Dia jelas terlihat gusar dengan mengusap wajahnya kasar. Bahkan dia membenarkan dasi dan melonggarkannya. Pakaian yang dia kenakan saat ini begitu formal karena ada beberapa jadwal pekerjaan yang mengharuskan dia mengikuti rapat dengan beberapa klien dan investor.


Tok… Tok… Tok…


Suara ketukan pintu membuyarkan kesenjangan keduanya, Moura terlihat menghela nafas lega dan kembali membuang wajahnya menjauh dari pria yang membuat jantungnya berpacu dengan cepatnya.


“Haish… Masuk!”


“Pagi Pak, saya bawakan beberapa berkas yang harus anda verifikasi sekarang juga!” suara lantang seorang perempuan mendekat ke arah keduanya. “Saya ingatkan juga satu jam lagi anda akan bertemu dengan Koh Bastian, dia sudah dalam perjalanan dari bandara.”


Wanita yang tengah berbicara itu adalah sekretaris direktur, namanya Shaveera. Moura menatap tidak berkedip pada si wanita yang ternyata tengah berbadan dua dan sangat cantik walau dia tengah berbadan dua tubuhnya tidak sebongsor miliknya dulu saat ia mengandung Qilla putrinya. Pikiran nistanya mendominasi otaknya saat ini. Dia melirik Noegha sekilas kemudian kembali melirik Shaveera. Noegha yang memperhatikan tingkah konyol Moura merasa mengerti apa isi otak Moura saat ini. Noegha mengeraskan rahangnya dan mengusapnya perlahan.


Gleeek!


Moura melihatnya dan kembali menelan salivanya berat.


“Siapa dia?” tanya Shaveera dingin.

__ADS_1


“Clerk project!” sahut Noegha cepat. “Sudah kamu kembali lagi sana, siapin data yang di butuhkan dan jamuan buat Koh Bastian. Aku tidak ingin di ganggu lagi!” tukas Noegha tegas.


Shaveera menatap tajam ke arah Moura, di tatap dengan tatapan mengintimidasi dirinya Moura berkeringat dingin saat ini.


‘Aku tahu, aku banyak dosa... Tapi sehari di kasih kejutan kayak hari ini ya aku bengeek juga lama-lama!!’


Moura menundukan wajahnya, dia telah salah mengartikan. Dia berpikir mungkin bosnya ada affair atau bisa jadi memang kenyataan jika sekertaris itu wanita bosnya. Buktinya saat Shaveera menatapnya, dia menatap dengan sangat dingin dan terlihat begitu angkuh seolah cemburu.


“Heh, apa kamu sedang memikirkan ku?” tanya tuan di hadapannya.


“Eh?” Moura mendongak dengan wajah herannya, lantas Moura meringis kemudian menggelengkan kepala lemah takut-takut atasannya murka padanya.


“Dia sekretarisku Shaveera... Dia istri asisten pribadiku!" sahutnya mengerti apa yang ada di pikiran Moura saat ini. “Apa kamu pikir aku yang menghamilinya?”


Moura membuka mulutnya lebar dengan kembali membulatkan matanya. Noegha terkekeh lirih dengan sikap karyawannya.


“Ehm... Tidak!” Moura menjawab sedatarnya dan sebisanya. “Jadi, ada apa anda memanggil saya?” tanya Moura kembali mengembalikan keadaan seperti semula. “Saya pikir sudah cukup lama saya berada di ruangan anda. Orang pasti mikirnya macam-macam," lirih Moura membuang wajahnya kembali ke lantai dengan perasaan gusar.


Sebelum semua terlambat, dia sudah tidak kuat jika harus terus berada satu ruangan dengan bos tampan, wangi dan menggodanya.


“Panggil Noegha saja, aku tidak begitu tua!" ucapnya kembali mengalihkan. “Jangan gunakan saya dan anda. AKU DAN KAMU!” lanjutnya dengan nada meninggi.


“Em.. Saya mana berani,” sahut Moura lirih. Tengkuk leher Moura merinding seketika saat bosnya mengatakan Aku dan Kamu dengan tatapan tajam untuk memperjelas.


“Kenapa kamu tidak berani, apa aku begitu menakutkan?”


“B-Bukan begitu... Tapi karena anda atasan saya dan saya hanya bawahan.” terang Moura merasa lelah harus mencari kata-kata sebagai jawaban dari pertanyaan yang mblunder ini.


“Aku kan bilang jika hanya kita berdua saja Moura Putri Sarasvati!”


DEG!!!


‘Mon maap ini maksudnya apaaaaaa?’


Ingin rasanya Moura kabur saat ini juga, dia sungguh gelisah luar biasa. Selama ini dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Dulu saat ia bekerja menjadi staff di salah satu kantor tempat ia magang tidak begini amat. Wajah Moura yang sudah seperti tomat masak membuat Noegha semakin gemas dan terus saja menggoda wanita itu.


“B-Baiklah...” sahut Moura gugup.


“Aku menyuruh mu kemari ingin bertanya beberapa hal!”


“Apa pekerjaan kemarin masih salah ya pak? Eh anu─”


“Aih...” Moura kembali menunduk merasa sangat gugup.


Bayangkan bagaimana rasanya saat kita harus menyebut nama seseorang yang jabatannya lebih tinggi dari kita? Seperti dipaksa memanggil nama orang tua kita dengan nama langsung lantas orang tua kita akan memukul kita karena tidak sopan!

__ADS_1


Noegha menunduk dan tertawa lirih akhirnya dia sudah tidak kuat lagi.


“Apa yang kamu lakukan pada Margareth apa kamu tahu konsekuensinya jika bagian HRD mengetahui itu tindakan mu?” ujar Noegha mulai menyerang mental Moura. “Kamu membuat keonaran di depan kantor sepagi itu, membuat beberapa karyawan bukannya langsung bekerja malah asik menonton pertunjukan yang kamu suguhkan!”


DEG!!!


‘MAMPUS KAN MOURAAA KAMU KETAHUAAN!”


Tubuh Moura bergetar hebat atas apa yang di ucapkan bosnya yang telah mengetahui tindakan pembalasannya pada Margareth. Tetapi Moura kembali mendapat kekuatannya kembali. Dia justru menjadi korban pertama Margareth.


“Aku hanya tengah membela diriku sendiri!” sungutnya membela diri.


“Oh ya? Dari hal apa? Bukannya kamu karyawan baru?” tanya Noegha terus saja menyelidik wanita di depannya seolah tengah memuaskan pandangan matanya melihat pemandangan indah di depannya saat ini. “Apa kamu sangat senang berbuat ulah dengan yang lainnya?” tanya Noegha menatap tajam memprovokasi Moura kembali.


“BUKAN AKU YANG MULAI!” pekik Moura tidak terima. “Mereka yang menindasku duluan... Aku bahkan tahu Margareth mencampurkan obat pencahar di kopi ku kemari yang membuat aku mengacaukan meeting penting dengan Vendor!” cercanya kemudian. “Aku juga dirugikan karena harus ke klinik!”


“APAAA?!” Noegha terlihat terkejut dengan pengakuan Moura saat ini. “Margareth sungguh berani mengerjaimu?!” tanya Noegha memastikan.


“Iya...Aku bahkan mendengar sendiri dari mulutnya dia menyebarkan gossip tentang aku!” sahut Moura kembali membela dirinya. “Dia bilang aku wanita simpanan! Padahal aku kenal dia saja tidak...” ucap Moura sendu.


Moura mulai menunjukan perannya di hadapan Noegha, dia juga tahu bahwa menjual kesedihan dan air mata akan membuat siapapun iba, siapa tahu dia terbebas setelah Noegha iba padanya. “Disini aku anak baru... Entah salahku di mana mereka selalu menindasku dengan rumor dan fitnah yang tidak benar!”


“Wanita simpanan?” tetiba Noegha merasa tidak suka atas julukan ini.


Selama ini rumor Moura belum sampai di telinganya, dia baru saja memeriksa CCTV tadi pagi yang di berikan asistennya. Di sana hanya melihat Moura yang menjadi dalang perkara si wanita bayaran menindas Margareth.


“Kamu dirumorkan jadi simpanan siapa HAH?” tanya Noegha mendadak cemburu. “Pak Khairul?”


Noegha berubah sewot saat ini, seharusnya hanya Moura yang kesal. Tidak disangka Noegha sama kesalnya. Wanita yang ia incar di gosipkan dengan pria lain yang dia tidak tahu itu siapa.


“B-BUKAN!” sahut Moura cepat, bisa berabe jika masalahnya melebar kemana-mana.


“Lantas?” Noegha mengernyitkan keningnya bingung.


Moura menundukan wajahnya malu, harusnya dia tidak banyak bicara tadi. “Ehm... Lupakan saja pak, yang jelas itu rumor... Di Batam aku hanya pendatang. Tidak kenal siapapun dan tidak punya siapapun!” Moura berharap ini menjadi kalimat penutupan menjelaskan keadaan dirinya.


“Huh!” Noegha berkacak pinggang menjauh dari Moura menatap di samping jendela besar di ruangannya. Dari sana dia bisa melihat pemandangan sekeliling kantor.


‘Mengapa dia begitu gelisah seperti itu? Apa dia akan memecatku? Belum juga sebulan, belum gajian, belum balik modal tapi udah seapes ini!! Huhu’ Moura kembali menundukan wajahnya, bergerutu dalam hati adalah jalan ninjanya. Noegha berbalik badan dan memperhatikan wanita itu, dia menaikan sudut bibirnya.


“Aku ada meeting sejenak, kita akan lanjutkan pembahasan kita! Nanti sepulang kerja kamu aku antar pulang.” ujar Noegha lantang menatap serius ke arah Moura yang sudah kembali terbelalak sekarang ini. “Jika kamu berani kabur lagi, aku akan memecatmu dan memberikanmu pinalti atas kinerja burukmu!” ancamnya sebagai penutup.


“APAAA?!”


Lengkap sudah kesialan Moura hari ini, dia keluar ruangan dengan lemas. Apa boleh buat, jangankan membayar sejumlah uang untuk menebus pinalti dia mendapatkan pekerjaan baru saja belum. Mau tidak mau dia menuruti apa kemauan bos besarnya demi panjang umur berada di sana. Dia seolah kemakan omongan sendiri, sebelumnya dia dengan angkuh meyakini tidak masalah jika harus di pecat karena ulahnya ini. Nyatanya dia sangat takut tidak mendapatkan kembali pekerjaan. Keluarganya akan mencemooh tindakan bodohnya kali ini.

__ADS_1


To be continue...


*****


__ADS_2