Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
11 # Ferguso!!


__ADS_3

"Ternyata aku tidak bisa meremehkan kemampuanmu Nona!!" puji Rendi terus terucap di bibirnya yang memang sangat lihai bermain kata untuk menjerat mangsanya. "Patutlah Margareth tidak ada apa-apanya denganmu... You're the next level Baby and I really want you!!"


Rendi kembali mendekati Moura, dia bersiap mengungkung wanita yang selalu menghantui benaknya dan menuntaskan apa yang jadi keinginannya.


"Tidak semudah itu Ferguso!!" sahut Moura mengangkat sudut bibirnya. Dengan mudah Moura menghindari dari cengkraman Rendi. Dia melihat jam di dinding sudah 30 menit dia membuang waktunya. Dengan satu kali pukulan penutup Moura layangkan untuk pria cabul di depannya.


Bruukk!!


Rendi terjatuh saat itu juga, Moura memukul tengkuk leher pria itu dengan kekuatan penuh hingga tersungkur dan pingsan.


"Dih, cowok lemah modal bacot doang! Sorry ga level..." Moura bergegas menyambar tas miliknya dan pulang segera menjemput buah hatinya.


Di waktu bersamaan Noegha menatap jam tangannya. Sudah 30 menit berlalu dari waktu pulang kerja. Dia segera bangkit meninggalkan pekerjaannya dia merasa kecolongan kali ini.


"Bodo amat Shaveera mengomel seharian besok gue ga peduli! Di banding harus kehilangan kesempatan dapetin Moura!!"


Noegha mengembangkan senyumnya, dia bersyukut Tuhan masih berpihak padanya. Gadis itu terlihat baru keluar dari lobby. Noegha segera mempercepat langkah kakinya.


Tiiin!!


"Shiiit!!" umpat Moura terkejut dengan suara klakson mobil mewah yang suaranya lain dari om telolet om!!


"Naik Moura!!" pekik Noegha setelah kaca jendelanya terbuka.


Moura terpaku sejenak, kini tatapan para pekerja yang masih berlalu lalang terlihat semakin memicing kearahnya. Moura mengira bahwa mereka pasti tengah berpikir bahwa Moura tengah bertransaksi dengan sugar daddynya.


'Astaga Moura, pemikiran kotor macam apa iniii!!' Moura bergegas memasuki mobil Noegha sebelum si empunya emosi dan membuat keributan di depan umum.


Moura telah berada di dalam mobil, Noega tersenyum setelah melihat wanitanya rasanya kepenatannya sirna begitu saja. 'Bagaimana bisa wanita biasa ini begitu memiliki daya tarik luar biasa. Aku bahkan kembali bersemangat setelah sebelumnya aku sungguh jengah!' Noegha membatin dalam dirinya sebelum dia melajukan mobilnya.


"Paak!" seru Moura membuyarkan lamunan Noegha.


Noegha tersadar kemudian keningnya berkerut menatap tajam kearah Moura. Moura yang di tatap seperti itu menyadari kesalahannya.


"Eh maaf sayaang... Eh maksudku!" Karena gugup Moura sampai bercanda yang membuat jantung Noegha berdetak tidak karuan. "Ampun Gha..." rengeknya manja kemudian.


Deg!!


Jika di banding dengan panggilan sayang yang terkadang siapapun bisa memanggilnya seperti itu. Bahkan para wanita yang menggilainya akan memanggilnya dengan panggilan sayang sejuta umat itu. Noegha benar-benar menyukai panggilan terakhir yang di layangkan Moura untuknya.


Moura memenggal nama Noegha, membuat Noegha tertegun sejenak. Itu adalah panggilan paling merdu, paling lembut, dan yang terpenting adalah yang paling dia rindukan selama ini.


"Aduuuhh... Maaf aku salaaah lagi ya!" Moura kebingungan dengan sikap Noegha saat ini. Dia refleks mengatupkan bibirnya erat.


"Ra..." panggil Noegha perlahan.


"Ya," jawab Moura takut-takut.


"Boleh ga aku minta kamu panggil aku seperti barusan?! Aku sangat menyukainya." pinta Noegha menatap wajah Moura serius.


"Malu atuh..," lirih Moura membuang wajahnya mengira yang bukan-bukan.


"Heh?!" Noegha bingung dengan respon Moura yang mengatakan malu. 'Apa manggil Gha itu malu-maluin?!' batin Noegha menyelidik.

__ADS_1


Tidak habisnya mereka selalu terjebak dalam kesalahpahaman. Noegha melajukan mobilnya perlahan tidak mempermasalahkannya saat ini.


"Mau ga Ra aku ajak lagi makan malam?!" tanya Noegha memecah kesunyian.


"Maaf ya Gha, aku ga bisa..." Moura menatap wajah Noegha memelas. Dia tidak mungkin minta kelonggaran waktu pada tempat penitipan bayinya setiap waktu.


Noegha menelan salivanya saat kembali terdengar bibir manis itu memanggilnya denagn sebutan yang paling dia sukai selama ini.


"Baiklah... Tapi nanti harus ya!" ujar Noegha sedikit mengancam.


Moura terlihat gelisah, tidak mungkin dia jawab iya. Lantas bagaimana nasib putrinya. Terdengar oleh Noegha wanita itu membuang nafasnya berat membuatnya merasa begitu sulit membuat Moura menyetujui apa yang diinginkannya.


Keduanya kembali mengheningkan cipta hingga Noegha telah berada di pelataran rumah entah milik siapa yang di kambing hitamkan oleh Moura.


"Makasih ya Gha, met malem... Jangan lupa istirahat!" Moura berpamitan pada Noegha tapi pria itu segera menarik lengannya dan menjatuhkan badannya di dalam dekapan.


Tanpa meminta ijin dan lain sebagainya Noegha kembali menempelkan bibirnya di bibir indah Moura. Gadis itu terbelalak dengan sikap arogan Noegha. Moura bersiap mendorong Noegha sekuat tenaganya.


'Shiiitt kok tubuh gue malah respon siih!!' rutuk Moura yang dia pikir bisa mendorong dada bidang bosnya justru sebaliknya tangannya begitu lemah saat ini.


Noegha menyesap perlahan bibir manis wanita incarannya. Tidak di sangka Moura menyambut ciumannya. Hati Noegha tengah bersorak. Satu langkah lagi dia telah maju satu langkah untuk mendapatkan Moura.


Noegha melepaskan Moura yang memukul dadanya karena kehabisan oksigen. "Aarghh..."


"Bibirmu manis sekali Moura..." Dengan tidak tahu malu Noegha menyapu kembali bibir Moura yang basah dengan ibu jarinya. Kedua tangannya menangkup wajah wanitanya kembali wajahnya dia tunduhkan dan meminta kembali ciuman memabukkannya.


"Udaah ya Gha...," rengek Moura mendorong tubuh Noegha sebisanya. Noegha tersenyum puas dan melepaskan Moura saat ini. Seolah energinya kembali sepenuhnya di tubuhnya setelah mendapatkan ciuman dari Moura.


"Okey Baby, besok pagi aku jemput kita sarapan bersama ya... Aku gak mau penolakan!" ancam Noegha sebelum wanitanya turun meninggalkannya.


Tanpa bisa menolak akhirnya Moura bersedia, dia turun dari mobil Noegha setelah 20 menit dia di sana melakukan kemesraan yang tidak seharusnya.


Seperti kemarin Moura menunggu bosnya itu menyingkir dari tempatnya dia menuju tempat seharusnya dan menjemput Qilla dengan cepat.


***


07.00 AM Plamo


Moura tengah gelisah dia sudah berada di tempat kemarin Noegha menurunkannya, dia tidak ingin kebohongannya terungkap cepat.


Moura menutup pintu dan berbalik badan, Noegha tengah memetakan senyum pagi yang memabukkan bagi Moura. Moura tidak percaya dia kembali tidak bisa tidur semalaman hanya karena sebelumnya dia terlibat kemesraan bersama bosnya yang tidak di duga olehnya.


"Gimana tidurnya Sayang?!" tanya Noegha menyambut wanita pujaannya.


Moura menelan salivanya serat, sepagi ini Noegha telah gencar memberikan perhatian yang luar biasa memabukan. 'Aku tidak jamin diri ini akan bertahan lama. Aku yang baperan bakalan cepet jatuh cinta kalo gini terus ceritanya!' keluh Moura dalam hatinya.


"Kita sarapan dulu ya, kamu mau makan apa?!" tanya Noegha meminta pendapat wanitanya.


"Apa ya aku terserah aja. Aku udah makan sedikit roti sama minum di rumah." jawab Moura gelisah.


Entah mengapa di samping Noegha dia selalu terlihat lemah. Padahal dia sangat mampu memberontak. Apalagi jika Noegha mengetahui apa yang sudah di lakukannya pada karyawan Noegha yang lainnya, bisa apes Moura di ancam terus oleh Noegha demi terus menempel dengannya.


Noegha mengerti Moura pendatang baru dia langsung mengajak Moura ke suatu tempat yang Moura tidak tahu di mana itu.

__ADS_1


"Kamu pasti belum pernah nyobain sarapan Mie Tarempa kan? Apa lagi luti gendangnya mantuul kamu pasti suka." ujar Noegha tengah memarkirkan mobilnya.


Moura hanya tersenyum canggung, dia mengekor di belakang Noegha. Keduanya makan berhadapan.


"Mba, Mie Tarempa lembabnya satu kopi hitam satu. Kamu apa Sayang?!"


DUAAAR!!


Merona wajah Moura saat Noegha mengatakan Sayang di depan pelayan. 'Aaaarrghh apa orang mikirnya aku pacar bosku ini ya?!'


"Emmm, samain aja tapi minumnya─" Moura tengah memilih.


"Aku rekomendasiin teh tarik! Kombinasi terbaik disini..." ujar Noegha menatap Moura yang terus tersenyum setiap waktu. Moura sampai berkeringat kedua telapak tangannya terus mendapatkan senyuman tampan bosnya.


"Oke deh itu..."


"Ada yang lain lagi?!" tanya si pelayan sebelum pergi.


"Iya Luti Gendangnya satu porsi ya." ujar Noegha menambahkan.


"Baik, di tunggu!"


Setelah kepergian pelayan Moura bertanya memecah kecanggungan. "Kok namanya Mie Tarempa ama Luti Gendang?!" tanya Moura menatap Noegha. "Luti itu roti berarti ya?!" imbuhnya menunjukan wajah keingintahuannya.


"Yups, kamu lupa kita berada di wilayah Kepri. Otomatis kuliner di sini lebih dominan makanan khas Kepri atau melayu." jawab Noegha menarik satu rokoknya. "Boleh aku merokok kan?!" ijin Noegha pada wanitanya, Moura hanya mengangguk tidak mungkin menolak.


Setelah mengepulkan asapnya Noegha kembali berujar. "Mie Tarempa makanan khas kepulauan Anambas. Mie dengan tekstur yang jauh lebih besar dan pipih di masak dengan bumbu bercita rasa khas disajikan dengan toping pilihan. Originalnya toping daging ikan tongkol. Tapi di kedai ini memiliki pilihan lain jika tidak suka daging ikan atau alergi." terang Noegha lugas mudah di pahami.


"Tapi kamu tadi ga nawarin aku mau toping apa?!" dengus Moura.


"Kamu alergi ikan kah?!" tanya Noegha khawatir.


"Enggak sih cuma kalo ada pilihan yang bagus ya─" Moura menggantung kalimatnya.


Noegha menunjukan senyum smirknya, dengan mengetuk batang rokok membuang abunya di asbak. "Apa itu juga berlaku untuk perasaanmu Ra?!"


Deg!


Moura kembali mendengus, pria itu tidak bisa sejenak saja tidak mengusilinya.


"Kalo Luti Gendang?!" tanya Moura mengalihkan. Noegha menggelengkan kepalanya.


"Pengalihan!" umpat Noegha. "Luti Gendang juga sama, dia roti goreng dengan isian abon ikan." terang Noegha menatap nakan ke arah Moura entah maksudnya apa.


"Serba ikan ya mentang-mentang wilayah perairan. Coba di Bandung, perseblakan yang ada... Hahaha!" tawa Moura membuat Noegha terpaku.


"Garing ya?!" keluh Moura kini merasa malu, Noegha terkekeh. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Moura begitu antusias, dari wangi yang tercium hingga indra penciumannya sepertinya rasanya akan menakjubkan.


Benar saja, saat makanannya masuk di mulut, Moura merasakan rasa yang baru dia rasakan. "Enak bingit sih iniii!!" pekiknya.


"Benerkan?! Lain kali kita kesini lagi sesukamu..." ujar Noegha lagi-lagi dengan senyuman yang membuat kadar gula darah meningkat pesat.


To be continue...

__ADS_1


*****


__ADS_2