
Clay meminta Zen untuk diam agar tidak mengkhawatirkan dirinya dan bertanya jumlah anggota bisa bertarung saat ini.
"Semuanya bisa bertarung menggunakan insting binatang kami tuan... Tapi hanya ketua divisi saja yang memiliki kekuatan diatas rata-rata."
"Seberapa kuat kalian?"
"Kami tidak tahu seberapa kuat kami... Tapi jika kami melawan monster C-Rank, kami seimbang..."
"Sepertinya itu cukup... Dalam 1 jam kedepan kita harus berangkat melanjutkan perjalanan dan kembali ke jalur tercepat... Untuk sementara waktu, kita akan menuju ke kerajaan Grandle sambil berburu monster." Ucap Clay dengan percaya diri.
Zen pun tidak berani membantah dan segera melakukan apa yang diinginkan tuannya. "Baik, tuan muda."
Dalam benak Clay, ia ingin mendapatkan banyak inti monster dan menjual banyak equipment di kerajaan Grandle yang saat ini menjadi tujuan mereka.
1 jam pun telah berlalu, kini mereka telah siap untuk pergi melanjutkan perjalanan.
Seperti yang diminta oleh Clay sebelumnya, mereka melanjutkan perjalanan dengan kembali ke jalur tercepat sekaligus masuk ke zona para monster berada.
Selama dalam perjalanan, anggota Guild Black Dragon merasa khawatir dan was-was akan serangan monster yang mengancam keselamatan tuannya.
Bagaimana pun juga, Clay dan Isabel adalah jantung pertahanan terakhir kehidupan mereka.
Jiwa Clay dan Isabel terbunuh, maka 200 nyawa ras Demi-human yang telah bersumpah setia, akan kehilangan nyawa dalam sekejap seperti layaknya pembunuhan berantai.
Waktu pun terus berlalu dan mereka pun juga telah cukup jauh dari tempat peristahatan sebelumnya.
Tiba-tiba suasana menjadi sepi dan sunyi, hanya terdengar suara hentakkan langkah kaki dan gerobak kereta Guild Black Dragon saja yang terdengar di telinga.
Tak lama kemudian, Jhon dapat merasakan hawa keberadaan monster disekitarnya dengan menggunakan penciumannya.
Penciuman Demi-human jenis serigala yang tajam, membuat Jhon dapat mengetahui bahwa saat ini, di dekat mereka ada beberapa monster yang mengintai perjalanan mereka.
"Hati-hati... Aku merasakan keberadaan monster dan jumlahnya cukup merepotkan..." Teriak Jhon kepada rekan-rekannya agar mereka lebih waspada.
"Tetap tenang dan terus maju... Kita tidak mengganggu mereka dan berharap semuanya bisa berjalan lancar!" Teriak Zen yang sebenarnya tidak ingin ada pertarungan.
Bukan karena Zen ini penakut atau semacamnya, tapi ia lebih mementingkan keselamatan tuannya.
__ADS_1
Sedangkan dengan Clay, justru sebaliknya, ia ingin segera bertemu dengan monster dan mendapatkan inti monster darinya.
"Frank... Bukankah seharusnya burung Elang itu memiliki insting dan mata yang tajam? Aku perintahkan kau untuk mencari keberadaan mereka dan segera laporkan kepadaku." Ucap Clay sambil menatap ke arah Frank yang saat ini sedang berwujud burung elang.
"Baik, tuan muda."
Disisi lain, Zen terkejut dengan perintah yang diucapkan tuannya dan berniat untuk menghentikannya. "Tapi, tuan muda..."
Disaat Zen belum selesai dengan perkataannya, Clay pun langsung memotongnya. "Terima kasih kau telah khawatir akan keselamatanku, Zen... Tapi percayalah kepadaku, kita harus melawan monster agar kita bisa tumbuh menjadi lebih kuat dan mendapatkan banyak pengalaman... Jika kita kuat, musuh akan tunduk."
Zen terdiam membisu, tiba-tiba ia teringat ucapan kalimat yang dikatakan Clay itu terlintas di dalam benaknya.
Sebuah kalimat yang mirip seperti Chris katakan kepadanya di masa lalu.
Zen tersenyum sambil berkata dalam hati."Anda memang mirip seperti tuan Chris, tuan muda..."
Seketika semangat bertarung Zen pun kembali membara, seperti saat pertama kali ia bertarung bersama Chris dimasa lalu.
Sedangkan disisi lain, Melissa kembali tersenyum dari kejauhan, sambil mengamati Zen yang saat ini sedang melamun bernolstagia.
"Apa kau merindukan tuan kita, Zen? Apa kau melihat sosok dirinya ditubuh tuan muda kita?" Ucap Melissa dalam hati.
Bagaimana pun juga, Melissa lah yang paling mengenal Chris karena ia adalah pengikut pertama Chris, jauh sebelum Guild Black Dragon ini dibentuk.
Waktu pun terus berlalu, beberapa menit kemudian, Frank si burung Elang itu pun kembali ke dalam rombongan dan segera melaporkan apa yang diperintahkan Clay.
"Tuan muda... Di sisi kiri kita ada sekelompok monster Serigala bertanduk yang bersembunyi dan mengintai dari atas tebing... Di depan dan berjarak kurang lebih 300 meter, ada sekelompok monster Cita petir yang sedang bertarung melawan monster Ular Batu."
"Baiklah, terima kasih informasinya..." Ucap Clay ke Frank dan kemudian ia kembali berkata dengan lantang ke semua orang. "Berhenti... Kita akan menunggu disini."
Semuanya pun berhenti melangkahkan kakinya, sesuai dengan apa yang telah diucapkan Clay.
Sebelum Clay memberhentikan laju anggota Guildnya, ia telah memiliki sebuah ide untuk memangcing monster serigala agar segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Ketua divisi... Kalian kemari lah..." Ucap Clay meminta semua ketua divisi untuk segera mendekat kepadanya.
Dengan cepat, keenam ketua divisi itu pun berada di hadapan Clay dan kini Clay pun menjelaskan ide rencana yang ada di dalam benaknya.
__ADS_1
"Kita akan berjalan pelan agar serigala bertanduk yang sedang bersembunyi disekitar sini terpancing dan menyergap kita... Ketika mereka sudah termakan umpan, kita harus melaju sekuat tenaga kearah kawanan cita dan ular batu itu berada... Kita akan mengganggu pertarungan mereka saling bertarung... Tapi ada yang perlu diingat, pihak kita jangan bertarung berlebihan... Kita harus menunggu hingga para monster kuwalahan dan membunuhnya... Ketika mereka sedang bertarung satu sama lain, kita harus mengepung mereka agar mereka tidak bisa kabur dan jangan biarkan satu pun yang melarikan diri... Apa kalian punya ide lain?"
"Bukankah itu berbahaya, tuan muda? Kami belum terbiasa bertarung sambil melindungi seseorang." Ucap Melissa dengan raut wajah yang sedikit khawatir.
"Baiklah kalau begitu... Melissa, prioritasmu bukan bertarung, tapi melindungi Isabel. Apa kau keberatan?"
"Tidak, tuan muda. Saya akan melindungi nona Isabel dengan nyawa taruhannya." Jawab Melissa dengan sopan.
Clay tersenyum dan kemudian ia kembali berkata. "Apa ada hal lain yang ingin kalian katakan?"
"Bagaimana dengan anda, tuan muda?" Tanya Zen.
"Aku bisa bertarung dan melindungi diriku sendiri."
"Baiklah, tuan muda. Tolong utamakan keselamatan anda..."
"Ya. Terima kasih."
Setelah rencana telah berhasil di buat, kini mereka pun menjalankan rencana yang telah di diskusikan bersama.
Berjalan maju ke depan dengan kecepatan rendah, suasana hening pun menghiasi jalannya rencana menjebak monster.
"Kak... Aku takut." Ucap Isabel sambil menggenggam tangan Clay.
"Tenanglah, ada aku dan Melissa yang akan melindungimu..."
"Kenapa kita harus bertarung melawan monster yang berbahaya? Mereka itu menakutkan..." Ucap Isabel yang masih trauma dengan monster yang sebelumnya pernah menyerang kota dan mengakibatkan kematian keluarga.
"Kita butuh sesuatu yang dapat dijual di kerajaan Grandle... Kita akan pergi ke tempat terbuang dengan membawa oleh-oleh uang banyak..." Ucap Clay dengan senyum ramah.
"Hm, oke baiklah kak..."
Setelah beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara lolongan serigala di telinga semua orang.
*Aaaauuuuuu... Aaauuuuu... Aaaaauuuu...*
"Tuan muda... Mereka mendekat." Ucap Jhon yang berhasil mencium bau tubuh monster serigala bertanduk.
__ADS_1
"Semuanya!! Bergerak sesuai rencana!"