
Setelah Clay memberikan 50 Gold kepada anggota Guild dan memerintahkan anggota Guild untuk merawat 90 budak barunya dengan baik, kini Clay pun pergi ke kamarnya seorang diri.
Clay merenung dan merasa sedih karena rencananya untuk membebaskan ras Demi-human telah gagal.
Di dalam kamarnya, Clay berdiam diri seorang diri sambil melamun dan berfikir.
"Apa yang harus aku lakukan? Awalnya aku mengira kalau ras Demi-human itu hanya di culik dan di jual saja... Tapi pada kenyataannya, setelah mereka di culik, mereka langsung di paksa untuk melakukan kontrak tuan budak agar bisa bertahan hidup lebih lama dan tidak bunuh diri."
....
....
Clay terus berfikir dan merenung, dengan penuh perasaan dilema yang menghantui fikirannya.
Clay berdiam diri di kamarnya hingga sampai berjam-jam lamanya.
Setelah merenung sekian lamanya, kini Clay pun bergumam seorang diri.
"Untuk apa aku merenung dan berdiam diri tidak jelas? Lebih baik aku bertanya sendiri apa kemauan mereka." Gumam Clay yang kini kembali beranjak keluar dari kamarnya.
Clay pun akhirnya keluar dari kamarnya, dan kini ia melihat banyak budak-budak barunya yang telah sadarkan diri.
Melihat Clay telah keluar dari kamarnya, kini Melissa dan Zen menghampiri Clay.
"Tuan muda... Sebagian dari mereka, sudah sadarkan diri... Dan kami juga sudah memberikan mereka makanan dan pakaian yang layak." Ucap Melissa.
"Kerja bagus... Terima kasih semuanya."
"Kenapa anda tidak menjadikan mereka sebagai budak pribadi, tuan? Apa anda berniat menjadikan mereka sebagai anggota Guild Black Dragon?" Tanya Zen dengan sikap sopan.
"Nggak tahu... Fikirkan saja nanti. Yang pasti aku ingin membeli mereka agar mereka tidak di beli oleh orang yang salah."
"Oh jadi begitu... Terima kasih tuan muda."
"Kenapa kamu berterima kasih, Zen?"
"Karena anda memiliki niat baik untuk ras Demi-human kami."
"Iya sama-sama..." Clay berhenti berkata sejenak, kemudian ia kembali berkata sambil duduk diatas kursi sofa. "Kumpulkan mereka semua... Aku ingin bertanya dengan mereka tentang kedepannya."
"Baik, tuan muda."
Akhirnya kini mereka pun segera pergi menghampiri budak-budak baru dan mengumpulkan mereka semua untuk menghadap ke Clay.
Hingga sampai beberapa saat kemudian, kini 90 budak baru ras Demi-human itu telah berkumpul dan menghadap ke Clay.
Tubuh mereka masih terasa lemas dan sebagian dari mereka ketakutan ketika melihat Clay.
Mereka ketakutan karena mereka belum sifat dan sikap Clay kepada ras Demi-human. Disisi lain, mereka juga takut dengan rumor seorang tuan yang selalu menyiksa budaknya dengan sadis dan kejam.
__ADS_1
Hal itu lah yang membuat mereka terlihat tampak sangat ketakutan.
"Tenanglah... Aku bukan seorang tuan yang kejam. Aku juga tidak berniat untuk memperbudak kalian." Ucap Clay pada 90 budak barunya yang masih tersadar.
Semuanya pun masih terdiam tanpa kata, mereka masih takut dengan Clay.
Melihat suasana tersebut, membuat anggota Guild Black Dragon pun berusaha meyakinkan mereka mereka.
"Benar... Tuan muda Clay bukanlah orang jahat."
"Iya... Beliau lah yang memberikan kalian makan dan baju itu untuk kalian."
"Aku berani menjamin, tuan muda bukanlah orang jahat dan akan selalu menjaga kita."
"Percayalah... Kita sama-sama ras Demi-human dan kita juga sama-sama budaknya tuan muda... Tidak mungkin kami membohongi kalian."
"Jangan takut dan layanilah tuan muda dengan baik... Hidup kita pasti akan menjadi lebih baik. Aku berani menjamin!"
...
...
Ungkapan pujian tentang Clay pun terus menerus anggota Guild ucapkan untuk mendapatkan sebuah kepercayaan dari budak-budak baru tersebut.
Tetapi mereka tetap saja tidak percaya dan masih saja terdiam dengan wajah ketakutan.
Suasana pun masih saja hening tak bersuara beberapa detik, hingga akhirnya kini ada salah satu diantara mereka yang memberanikan diri menjawab pertanyaan Clay.
"Aku tidak ingin di perbudak... Aku ingin hidup bebas!" Ucap salah satu dari budak-budak baru itu.
Clay tersenyum mendengar jawaban dari sosok budak yang pemberani, sedangkan budak-budak yang lainnya pun terkejut terheran-heran dengan keberaniannya.
"Kemarilah..." Ucap Clay sambil melambaikan tangannya agar orang tersebut mendekat.
Tanpa ragu-ragu, budak tersebut pun melangkahkan kakinya mendekat ke Clay.
Suasana pun kembali hening menakutkan, semua tatapan mata mengarah ke Clay dan budak pemberani yang mengingkan kebebasan itu.
Setelah budak tersebut kini berjarak cukup dengan Clay, kini Clay pun bertanya kepadanya. "Siapa namamu?"
"Claude... Namaku Claude, tuan."
"Apa kau yakin ingin kebebasan?" Tanya Clay sekali lagi, kini ia bertanya dengan raut wajah serius.
"Ya, tuan. Aku ingin hidup bebas." Jawab budak tersebut dengan raut wajah yakin.
Clay terdiam beberapa detik sambil menatap raut wajahnya, tetutama di bagian mata.
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu itu... Tapi dengan satu syarat." Ucap Clay yang masih tetap menatap wajah Claude.
__ADS_1
"Apa itu, tuan?"
"Jangan melakukan kejahatan yang dapat mencoreng nama baik keluarga Valonia."
Claude terdiam sejenak, kemudian ia menjawab ucapan Clay. "Baik, tuan."
"Di dada mu sudah tertulis nama keluarga Valonia... Kalau kau melakukan kejahatan, aku dan adikku sebagai tuannya akan mendapatkan imbasnya."
"Aku mengerti, tuan."
"Berjanjilah! Kalau kau mengingkarinya, kau akan mendapatkan kematian."
"Aku berjanji tidak akan melakukan kejahatan dan tidak akan mempermalukan nama keluarga Valonia." Ucap Claude tanpa ragu-ragu.
Tepat setelah Claude berhenti berkata, tiba-tiba muncul sebuah kabut hitam yang mengelilingi tubuh Claude.
Semua orang terkejut melihat kabut hitam tersebut, mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sehingga membuat kabut hitam seperti proses kontrak tuan budak itu muncul sekali lagi.
Perlahan kabut hitam tersebut masuk ke dalam pori-pori kulit Claude dan mengikat jantungnya.
"Kenapa ini?" Tanya Clay dengan raut wajah terkejut.
"Saya tidak tahu dengan pasti... Tapi kalau tidak salah ingat, anda dan Claude telah melakukan sebuah kontrak janji antara tuan dan budak, tuan muda." Jawab Melissa yang mencoba menjawab dengan ilmu pengetahuannya.
"Apa benar ada kontrak seperti ini?" Tanya Clay pada Melissa.
"Ada tuan. Kontrak janji ini adalah sebuah belunggu yang lebih kejam bagi para budak... Seorang budak harus menepati dan memenuhi janji yang telah ia janjikan pada tuannya, ntah bagaimana pun cara dan keadaannya. Tapi kalau sang budak itu mengingkari atau tidak menepati janjinya, maka hukumannya akan langsung terjadi pada saat itu juga."
"Sungguh!? Tapi kapan aku merapalkan sebuah mantera?" Tanya Clay dengan raut wajah kebingungan.
Seketika beberapa anggota Guild Black Dragon pun menjawab secara bersamaan. "Baru saja, tuan muda."
"Baru saja? Aku hanya memberikan dia syarat dan memintanya untuk berjan..." Clay menghentikan ucapannya, ia tersadar kalau dirinya meminta Claude untuk berjanji dan Claude pun juga telah berjanji kepadanya.
"Ah, jadi begitu... Tanpa aku sadari, aku telah melakukan kontrak janji antara tuan dan budak." Lanjut Clay dengan bergumam tapi terdengar oleh orang-orang yang ada di dekatnya.
Setelah beberapa detik kemudian, Clay pun kembali melanjutkan percakapannya.
"Apa kau mendengar itu, Claude? Kau sudah melakukan kontrak janji denganku... Kalau kau mengingkari janjimu, kau akan langsung kehilangan nyawa."
Kini keberanian Claude pun sedikit memudar, raut wajahnya menjadi sedikit pucat setelah tanpa sadar ia telah melakukan kontrak budak.
Nyali Claude menjadi ciut, karena sebelumnya ia tak tahu kalau ada kontrak semacam ini.
Padahal sebelumnya, Claude hanya iseng-iseng saja berjanji pada Clay agar ia bisa hidup bebas sesuka hati di luaran sana.
Tetapi pada kenyataannya, kini ia harus ekstra hati-hati agar tidak melanggar perjanjian yang telah ia janjikan.
"Ba-baik, tuan." Jawab Claude dengan raut wajah pucat.
__ADS_1