
Clay terkejut tak percaya, ia tak menyangka kalau selama ini Ariana adalah seorang tuan putri kerajaan.
"Tunggu Clay... Aku tidak bohong sama kamu. Aku memang anak dari saudagar kaya di kerajaan ini." Ariana berusaha menjelaskan pada Clay agar Clay tidak kecewa karena merasa di bohongi oleh dirinya.
"Tapi... Lihat semua orang? Mereka berlutut kepadamu dan memanggil namamu dengan sebutan 'tuan putri'." Ucap Clay sambil menunjuk ke semua orang yang berlutut.
"Beri aku waktu untuk menjelaskan..." Ariana berhenti berkata beberapa detik dan Clay pun langsung memotong ucapannya. "Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu."
"Ayahku adalah seorang pedagang kayaraya yang ada di kerajaan ini dan tentu saja aku adalah anak dari saudagar kaya... Tapi aku juga merupakan seorang cucu dari raja kerajaan Grandle."
Rasa kecewa Clay mulai menurun, saat ini ia tahu kalau Ariana tidak sepenuhnya berbohong padanya.
Hanya saja Ariana belum bercerita sepenuhnya tentang kalau dirinya termasuk dalam keluarga kerajaan.
"Berarti... Kakekmu adalah raja kerajaan Grandle?"
"Hehe iya." Jawab Ariana sambil tersenyum kecil.
"Lalu, Max dan lainnya itu bukan anggota Guild? Tapi melainkan pengawal kerajaan?"
"Benar Clay... Kebetulan mereka adalah pengawal kerajaan yang di pilih oleh kakekku untuk mengawalku di luar wilayah."
"Lalu sebenarnya apa yang kamu lakukan sebelum bertemu denganku?"
"Untuk cerita itu, aku tidak mengarang apapun... Kami pergi ke kerajaan tetangga dan ketika dalam di perjalanan, kami dikhianati oleh salah satu prajurit." Ucap Ariana yang benar-benar bercerita dengan jujur.
"Kenapa kamu tidak cerita sejak awal? Kalau aku tahu sejak awal kalau kamu adalah tuan putri, mungkin aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik." Tanya Clay yang masih sedikit tak terima karena ia terlambat mengetahui identitas Ariana.
"Memang apa bedanya kalau aku orang biasa atau pihak kerajaan? Kita semua sama Clay... Aku juga tidak suka kalau di perlakuan berbeda dengan yang lain. Lagipula akan sangat berbahaya kalau aku menunjukkan identitas asliku ketika berada di luar wilayah kerajaan." Jawab Ariana yang kini mulai berani terang-terangan dengan Clay.
Mendengar jawaban Ariana, membuat Clay semakin terkagum dengan sifat Ariana.
"Tidak hanya cantik... Tapi dia juga rendah hati dan tidak sombong. Dia wanita Idaman para lelaki! Tapi... Kita memiliki kasta yang berbeda, dia bergelar keluarga kerajaan, sedangkan aku hanyalah orang biasa yang telah kehilangan kedua orang tua... Bagaimana mungkin aku bisa memilikinya." Ucap Clay dalam hati dengan rasa rendah diri karena sadar akan perbedaan kasta antara dirinya dengan Ariana.
Tepat setelah Clay berkata dalam hati, tiba-tiba sebuah sirine kerajaan menyala dan sirine tersebut terdengar cukup keras di telinga semua orang.
*Niiiiiiuuuuuuu.... Niiiiiuuuu... Niiiuuuu...*
"Bunyi apa ini? Apa yang akan terjadi?" Ucap Clay pada dirinya sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Mendengar ucapan Clay, kini Ariana pun menjelaskan maksud dari sirine yang saat ini berbunyi itu.
__ADS_1
"Ini adalah sinyal untuk memanggil prajurit kerajaan."
"Kenapa mereka memanggil prajurit kesini?"
Ariana pun mulai cemberut. "Tentu saja mereka akan menjemputku... Itulah kenapa aku sangat tidak suka kalau diperlakukan seperti ini... Semuanya harus di kontrol dan penjagaan ketat. Sangat rumit dan aku tidak bisa bebas melakukan hal-hal yang aku suka."
"Hahaha hahaha... Benar juga. Mohon bersabar ya, tuan putri... Hahaha." Jawab Clay sambil tertawa terbahak-bahak dengan niatan bercanda dengan Ariana yang kini menunjukkan ekspresi cemberutnya.
"Dasar... Clay!" Ariana pun sedikit gemas karena Clay sedang menggoda dirinya, sedangkan Clay masih saja tetap saja tertawa karena melihat tingkah Ariana yang tampak lucu menggemaskan dengan wajahnya yang cantik.
Setelah beberapa saat kemudian, tibalah ratusan prajurit yang datang ke gerbang kota Sier.
Mereka semua berbaris dengan rapi layaknya prajurit yang terlatih.
Disaat bersamaan dengan datangnya prajurit, Clay mencoba mengamati jubah besi dan senjata perlengkapan yang prajurit kerajaan itu kenakan.
"Mereka semua tampak kuat... Tapi sepertinya tidak ada satu pun prajurit yang menggunakan Equipment sihir atau Equipment tingkat tinggi." Ucap Clay dalam hati sambil mengamati ratusan prajurit yang baru saja datang.
"Clay, sepertinya kita harus berpisah... Mereka sudah menjemputku." Ucap Ariana sambil tersenyum kearah Clay.
Clay juga tersenyum sambil menatap mata Ariana, kemudian ia menganggukkan kepalanya seolah-olah Clay mengiyakan ucapan Ariana.
Setelah Clay menganggukkan kepalanya, kini Ariana pun kembali berkata. "Clay... Apa kau tahu? Kamu adalah teman pertamaku di dunia ini."
"Iya juga sih... Tapi mereka bukanlah teman yang benar-benar teman. Kita hanya berteman karena hubungan politik antar kerajaan saja. Kalau denganmu, aku merasa kalau menganggapku sebagai teman yang tulus. Benar, kan?" Ucap Ariana dengan raut wajah yang ceria dan senyum nya yang indah.
Clay pun faham dengan apa yang Ariana maksud dengan hubungan teman dalam hubungan politik.
Teman politik yang Ariana maksud adalah hubungan baik antar kedua belah pihak kerajaan yang benar-benar harus di jaga agar kedua kerajaan mendapatkan berbagai hal yang menguntungkan.
Keuntungan yang di dapatkan dari hubungan ini biasanya berupa keuntungan dalam hal perekonomian kerajaan dan bantuan kemiliteran ketika salah satu kerajaan sedang dalam kondisi terdesak.
"Oh baiklah kalau begitu... Aku faham." Ucap Clay sambil tersenyum ramah.
Ariana pun mengangguk sekaligus menjawab. "He'em... Isabel dan lainnya juga temanku... Intinya aku senang bertemu dengan kalian semua."
"Aku juga senang bisa berteman denganmu, kakak..." Saut Isabel yang mendengar ucapan Ariana.
Tak lama setelah perbincangan mereka berlangsung, kini ratusan prajurit kerajaan pun telah tiba di sekitaran gerbang kota.
Kemudian salah satu prajurit yang berada di barisan paling depan pun menghampiri Ariana sambil berlutut dan berkata. "Selamat datang, tuan putri..."
__ADS_1
"Iya, terima kasih sudah menyambutku." Jawab Ariana dengan nada ramah.
"Kami datang untuk menjemput anda tuan putri... Yang mulia telah menunggu kedatangan anda."
"Hm, oke baiklah."
Ariana pun pergi meninggalkan Clay dan lainnya kearah kereta kuda miliknya.
Kemudian Max pun menghampiri Clay dan lainnya, sambil berkata dengan nada yang formal layaknya seorang prajurit. "Terima kasih atas kebaikan kalian semua... Saya berjanji akan membalas kebaikan kalian di kemudian hari."
Clay pun tampak sedikit kesal mendengar ucapan Max.
"Max, bukankah kita juga teman?" Tanya Clay dengan raut wajah tersenyum, meskipun ia tak suka dengan cara bicara Max saat ini.
Max terkejut beberapa detik, ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Clay.
"Ta-tapi... Aku hanya seorang prajurit."
"Memangnya kenapa? Aku juga orang biasa... Sekali lagi aku bertanya, apa kita teman?" Clay tetap dengan raut wajah tersenyum.
Max pun juga ikut tersenyum pada Clay dan kemudian ia menjawab. "Tentu saja, Clay. Kita teman."
"Hahaha baguslah... Aku menantikan pertemuan kita di lain waktu. Aku akan menantangmu memakan daging monster sebanyak mungkin hahaha."
"Hahaha aku tidak takut."
Mereka berdua pun akhirnya tertawa beberapa saat, hingga akhirnya kini Max kembali berkata sambil melangkahkan kaki pergi meninggalkan Clay dan lainnya. "Aku harus segera pergi. Sekali lagi, terima kasih Clay."
"Ya, sama-sama." Ucap Clay sambil melambaikan tangannya.
Setelah semua prajurit telah bersiap dan Ariana telah menaiki kereta kudanya, kini mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Disaat rombongan prajurit yang mengawal Ariana itu melangkahkan kakinya beberapa langkah, kini Ariana pun mengeluarkan tubuhnya setengah badan melalui cendela yang ada di kereta kuda, lalu ia berteriak kearah penjaga kota Sier.
"Hei penjaga... Mereka adalah teman-temanku! Jangan kau persulit mereka dan biarkan mereka masuk dengan mudah. Aku berani menjamin kalau mereka adalah orang-orang baik."
Penjaga kota Sier yang berada di dekat Clay itu pun menjawab ucapan Ariana. "Baik, tuan putri."
Kemudian, Ariana pun kembali teriak, tetapi kini ia berteriak pada Clay. "Oh ya, Clay... Aku akan menceritakan semua tentangmu pada kakekku... Dan aku menantikan pertemuan kita selanjutnya..." Ariana berteriak dengan senyuman bahagia sambil melambaikan tangannya.
Sekali lagi raut wajah Clay memerah dibuatnya, ia tersipu malu karena ucapan Ariana yang terdengar sangat keras sehingga tatapan mata semua orang kini hanya tertuju pada Clay.
__ADS_1
"Sial! Kenapa dia berteriak seperti itu... A-aku malu..."