
Clay terdiam membisu, ia terpana memandang kecantikan gadis bertelinga runcing itu.
Matanya yang indah, kulit putih mulus, rambut pirang, memiliki daya tarik tersendiri yang mampu membuat Clay mengagumi kecantikannya.
Raut wajah Clay semakin memerah, detak jantungnya berdebar kencang.
Tak dapat dipungkiri, bahwa saat ini Clay sedang mengagumi kecantikan sosok gadis yang ada dihadapannya.
Setelah berterima kasih pada Clay dan tidak mendapatkan sebuah jawaban apapun darinya, kini gadis cantik itu pun kembali berkata.
"Namaku Ariana... Dapatkah aku mengetahui siapa namamu, tuan muda?"
Clay masih terdiam tak menjawab, pandangannya benar-benar terpaku melihat keindahan makhluk yang ada di hadapannya.
Clay sadar bahwa ia sedang diajak berbincang dengannya, tetapi ia tak dapat mengontrol menjawab untuk menjawab pertanyaannya.
Setelah beberapa hembusan nafas, kini gadis Elf yang mengaku bernama Ariana itu kembali berkata sambil melambaikan tangannya kearah Clay.
"Halo... Tuan muda? Apa kamu baik-baik saja?"
Clay pun sedikit terkejut, dan kemudian ia menjawab. "Ah, iya... Maafkan aku."
"Kenapa kamu meminta maaf? Namaku Ariana... Siapa namamu?" Tanya Ariana dengan raut wajah sedikit kebingungan dengan sikap Clay saat ini.
"Ah tidak, bukan apa-apa... Na-namaku Clay." Jawab Clay dengan sedikit panik kebingungan karena salah tingkah.
Ariana pun tersenyum setelah mendengar jawaban dari Clay. "Terima kasih, tuan Clay... Terima kasih sudah menyelamatkan kami dari penjahat itu."
"Ah iya, bukan apa-apa... Sama-sama." Jawab Clay yang masih saja bertingkah kaku dan merasa linglung dihadapan Ariana.
"Dia adalah pengawalku... Namanya Max." Ucap Ariana sambil menunjuk dengan sopan kearah pria dewasa ras Elf yang saat ini berada di dekatnya.
"Salam kenal... Aku Clay..." Jawab Clay sambil menganggukkan kepalanya pada sosok pria Elf yang bernama Max.
"Tunggu... Pengawal? Seorang pedagang cantik yang memiliki pengawal? Kalian pasti dari suatu Guild yang besar..." Lanjut Clay bertanya kepada mereka berdua.
Sontak Max tampak sedikit terkejut, dan kemudian ia berusaha menjelaskan tentang dirinya.
__ADS_1
"Sebelumnya aku meminta maaf karena telah berbohong pada anda, tuan Clay..."
Clay langsung memotong ucapan Max. "Maksudnya?"
"Aku tadi mengaku kalau kami adalah pedagang... Tetapi sebenarnya kami adalah anggota Guild yang sedang menjalankan misi pengawalan."
"Oh... Baiklah, tidak masalah." Jawab Clay dengan santai.
"Sekali lagi, saya minta maaf tuan Clay... Saya tadi sangat panik karena banyak rekan-rekan kami yang mati."
"Kalian kan berasal dari Guild? Tapi kenapa kalian tidak mampu melawan para Bandit?"
"Di dalam kelompok kami, ada seorang penghianat... Dia meracuni makanan kami dengan bubuk Vir... Dia juga bersekongkol dengan para bandit untuk menculik nona Ariana."
Di dunia ini ada sebuah racun buatan yang sangat dibenci oleh pengguna sihir, yaitu bubuk Vir.
Bubuk Vir ini, terbuat dari berbagai macam tanaman obat yang diolah sehingga menjadi sebuah racun.
Efek racun bubuk Vir ini, mampu membuat saluran Mana di tubuh pengguna sihir menjadi sangat kacau dan akhirnya Mana tersebut akan meledak di dalam tubuh.
Tapi jika bubuk Vir ini di konsumsi oleh bukan pengguna sihir, maka tidak akan berdampak apapun padanya.
"Terima kasih, tuan Clay. Kematian memang resiko kami sebagai petualang..." Ucap Max dan setelah beberapa detik kemudian, ia kembali berkata. "Ini mungkin kurang sopan... Tapi, apa boleh saya meminta satu permintaan?"
"Apa itu?"
"Setelah anda selesai dengan harta para bandit... Bisakah anda menyerahkan kedua bandit itu pada kami? Kami berjanji, tidak akan mengungkit apapun tentang harta dan sejenisnya... Aku hanya ingin menghukum kedua bandit itu."
Clay terdiam beberapa detik, ia berfikir sejenak. "Tunggu... Kalau difikir lagi, dia seperti berkata padaku kalau aku ini gila harta... Berarti aku tidak jauh berbeda dengan para bandit itu dong!? Ahhh tidak peduli!! Saat ini aku hanya butuh uang, Point Atribut dan menciptakan banyak Equipment... Itu semua demi kehidupanku dan kehidupan orang-orang disekitarku agar menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya!! Tentang seburuk apa diriku di fikiran orang lain, aku tidak peduli!"
Melihat Clay yang tak kunjung menjawab, kini Max pun mencoba menawarkan sesuatu sebagai imbalan permintaannya. "Aku akan membelinya dengan uangku sebagai penukaran untuk kedua bandit itu? Satu kepala 50 Gold... Bagaimana tuan muda?"
Mendengar jumlah yang di tawarkan oleh Max, tentu saja membuat Clay tertarik dengan hal tersebut. "Baiklah. Tapi aku akan menyerahkan mereka setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Baik, tuan Clay."
"Hei... Manusia menjual manusia..." Ucap Ariana dengan sedikit cemberut.
__ADS_1
Sontak Clay pun terkejut, ia baru sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Ah, itu... Anu..." Clay panik tak dapat mengelak ucapan Ariana.
Ariana pun tertawa setelah melihat raut wajah Clay yang saat ini tampak panik. "Hahaha tenang... Tenanglah, tuan Clay... Di dunia ini, siapa yang kuat dia yang berkuasa... Lagipula tidak ada yang melarang hal itu."
"Hehehe..." Clay hanya tertawa kecil, ia masih saja tak berkutik ketika berbicara dengan Ariana.
"Kita sudah saling kenal... Jangan panggil aku dengan sebutan 'Tuan'... Panggil saja Clay." Lanjut Clay pada mereka berdua.
"Oke baiklah, Clay."
Setelah beberapa saat kemudian, kini Zen pun menghampiri mereka bertiga.
"Tuan muda... Kita sudah siap melakukan perjalanan menuju desa Gowa." Ucap Zen dengan sikap sopannya.
"Ah, baik... Kita berangkat."
"Max... Apa kita ikut bersama Clay?" Tanya Ariana.
"Saya berniat seperti itu. Tapi..." Jawab Max yang sedikit ragu karena saat ini ia sedang berada di dalam tugas pengawalan dan tidak ingin membuat pelanggannya kecewa karena membuang banyak waktu demi kepentingan pribadi.
Tetapi, Ariana pun langsung menyela ucapan Max. "Baiklah. Aku tidak keberatan kok... Aku juga sakit hati karena mereka telah membunuh ras Elf, apalagi mereka 1 kerajaan denganku..."
"Terima kasih, nona Ariana."
Kini Clay pun berkata setelah Max berterima kasih pada Ariana. "Baiklah... Kita berangkat bersama-sama."
Akhirnya kini mereka menuju desa Gowa. Sebuah desa kecil yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka bertarung sebelumnya.
Waktu pun terus berlalu, kini mereka telah sampai di desa Gowa.
Mereka sampai ke desa Gowa cukup cepat karena jaraknya memang tidak terlalu jauh.
Tampak jelas di mata Clay, bahwa desa Gowa yang saat ini ada di hadapannya itu adalah sebuah desa kecil yang miskin dan kumuh.
Saat ini Clay juga melihat, bahwa desa Gowa ini adalah desa ras Elf.
__ADS_1
Sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah ras Elf.
"Aneh... Kenapa markas para bandit ras manusia itu ada disini? Di dalam desa ras Elf... Apa warga desa tidak marah kalau desanya digunakan sebagai markas bandit? Atau jangan-jangan mereka tidak tahu kalau disini ada markas bandit? Tapi yang lebih penting itu... Apa benar markas para bandit itu ada disini?" Ucap Clay dalam hati.