Sistem Cheat Craftsman

Sistem Cheat Craftsman
Chapter 33 - Berakhirnya Penyiksaan Vargus


__ADS_3

Meskipun Liza dan Anna sudah tak tega melihat penderitaan Vargus, tetapi di dalam lubuk hati mereka masih tertanam kebencian dan dendam padanya.


Hal ini yang membuat Liza dan Anna tidak menolak untuk menyiksa Vargus.


Mereka berdua pun segera mengambil pedang yang tergeletak di hadapan mereka, kemudian mereka berdua pun bergabung bersama Veronica untuk menyiksa Vargus.


Mereka bertiga pun akhirnya menyiksa Vargus secara bersamaan.


Kini luka yang Vargus alami, lebih banyak daripada sebelumnya.


Vargus pun juga tak sadarkan diri lebih cepat dari sebelumnya, tapi Clay tetap menyembuhkan Vargus secara terus menerus.


Penyiksaan pada Vargus ini pun berlangsung selama 3 jam lamanya.


Hal ini yang membuat Vargus menjadi mulai mati rasa, ia kini tak lagi memberontak maupun berteriak.


Vargus tak lagi merasakan rasa sakit, kini sekujur tubuhnya telah mati rasa, bahkan mentalnya kini sangat kacau.


Vargus hanya terdiam dengan tatapan kosong, ia tak lagi berteriak dan tak lagi memberontak, meskipun ia kini masih di tebas oleh Liza, Anna dan Veronica.


Saat ini Vargus benar-benar tidak peduli lagi dengan hidup dan matinya.


Disaat penyiksaan itu terus berlanjut, kini tampak beberapa orang muncul dari pintu ruangan bawah tanah.


Sosok tersebut adalah Max dan lainnya beserta kedua bandit yang telah di tebus dengan 100 Gold.


Kedatangan mereka, membuat kedua belah pihak terkejut.


Max dan lainnya terkejut karena mereka melihat banyak darah yang berceceran di hampir setiap sudut ruangan dan penyiksaan sadis terhadap Vargus.


Sedangkan pihak Clay juga terkejut karena kedua bandit yang mereka beli dari Clay itu masih hidup. Padahal Clay mengira kalau kedua bandit itu akan di bunuh oleh mereka karena kedua bandit itu telah membunuh rekan-rekannya.


"Clay... Kenapa dia? Kenapa menyiksanya? Bukankah kamu berniat untuk menyerahkannya ke pihak kerajaan?" Tanya Max dengan raut wajah terkejut.


Max bertanya dan terkejut karena ia tidak tahu penyebab kenapa Clay menyiksa Vargus. Sedangkan dengan Ariana, ia mengisyaratkan pada Max dengan jari telunjuk yang di tempatkan ke mulutnya, isyarat itu menunjukkan agar Max segera diam dan tidak ikut campur dengan urusan Clay.


Clay pun tersenyum dan segera menjawab pertanyaan Max. "Hehehe... Ketiga budakku ini, memiliki dendam pribadi padanya."


Max pun tetap melanjutkan pertanyaannya, meskipun kini ia sedikit ragu karena sebelumnya Ariana telah memberikan isyarat kepadanya. "Tapi kenapa kamu menyiksa? Hanya karena masalah dendam seorang budak, kamu menyiksa dia? Padahal kamu akan mendapatkan banyak hadiah dari Raja kalau menyerahkan buronan kerajaan ini..."

__ADS_1


Disini Max tidak bermaksud berpihak pada Vargus, tetapi melainkan Max hanya ingin mengingatkan Clay agar ia menyerahkan Vargus pada kerajaan dalam kondisi hidup, agar Clay mendapatkan banyak hadiah.


"Hanya masalah budak katamu? Hahaha..." Clay tertawa beberapa detik, kemudian ia melanjutkan ucapannya. "Jangankan Vargus... Jika dunia ini berani menyakiti budak-budakku, mereka ku anggap musuh!"


Ariana, Max dan rekan-rekannya pun terkejut mendengar jawaban Clay.


"Apa kamu gila!? Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu!? Kalau budak-budakmu mati, kamu kan bisa membelinya lagi." Ucap Max dengan raut wajah terkejut.


Sedangkan kini, Ariana pun mulai mengendap-endap mendekat ke arah Max. Ariana mendekat kearah Max dengan tujuan untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang Max lontarkan pada Clay.


"Aku tidak gila dan aku sangat yakin dengan ucapanku! Budak-budakku telah melakukan sumpah setia padaku... Mereka ku anggap seperti keluarga sendiri dan aku harus melindungi mereka." Jawab Clay dengan santai.


Max masih tidak percaya dengan apa yang dipikirkan Clay dan ia pun masih tetap ingin melanjutkan perbincangan pada Clay.


"Tapi..." Disaat Max berkata, tiba-tiba tangan Ariana menutup mulut Max sambil berkata. "Diamlah! Dasar bodoh..."


"Clay, tolong abaikan dia dan lanjutkan penyiksaanmu." Lanjut ucap Ariana pada Clay sambil tersenyum ramah. Padahal sebenarnya saat ini Ariana sangat ketakutan menatap wajah Clay, tetapi ia berusaha memberanikan diri agar menghentikan perbincangan antara Max dan Clay.


Ariana ingin menghentikan perbincangan itu karena ia tidak ingin Max semakin memperburuk keadaan dan takutnya nanti akan berimbas pada Max.


"Hehehe kamu sangat pintar memahami situasi, Ariana." Jawab Clay dengan senyuman ramah sekali lagi.


30 menit pun berlalu, kini Max pun mulai faham, kenapa Ariana menghentikan dirinya berbicara dengan Clay.


Max mulai mengetahui bahwa Clay bukan lah anak remaja biasa, ia adalah seorang anak manusia yang berdarah dingin, kejam dan sadis.


Selama penyiksaan Vargus berlangsung, Max dan rekan-rekannya mengamati dengan kedua kaki yang gemetar, wajah pucat dan mual.


Mereka tak menyangka kalau mereka akan melihat pemandangan yang tidak enak dipandang itu.


Tak lama kemudian, kini anggota Guild Black Dragon yang melakukan pemakaman pada ras Demi-human itu pun menghampiri Clay dan segera melapor.


"Tuan muda... Kami sudah selesai memakamkan mereka semua dengan baik. Sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan ke kerajaan Grandle." Ucap Zen pada Clay dengan sikap sopannya.


Clay pun menjulurkan tangannya kearah Liza, Anna dan Veronica untuk segera menghentikan penyiksaan, dan akhirnya penyiksaan Vargus pun selesai.


Lalu kemudian Clay menjawab ucapan Zen yang baru saja melapor.


"Baiklah, sekarang waktunya berangkat... Tapi sebelum itu, kita harus mengisi tenaga dulu."

__ADS_1


"Baik, tuan muda. Kami akan menyiapkan makanan untuk anda." Jawab Zen yang tetap dengan sikap sopannya.


"Tunggu! Apa kamu hanya ingin aku makan sendirian? Tidak... Siapkan makanan untuk semua orang. Aku ingin kita makan bersama-sama."


"Apa mereka juga, tuan muda?"


Mereka yang di maksud Zen adalah Ariana, Max dan rekan-rekannya.


"Tentu saja. Kita kan punya banyak daging... Gunakan itu semua."


"Baik, tuan muda."


Zen dan beberapa anggota Guild Black Dragon pun segera pergi untuk menyiapkan makanan untuk semua orang.


Dan kini suana pun kembali hening menyeramkan, tak ada satu orang pun yang berani memulai pembicaraan karena mereka semua masih dalam keadaan syok setelah melihat penyiksaan sadis.


*


*


Beberapa jam kemudian, kini mereka semua pun berada di suatu ruang yang cukup luas.


Ruangan yang cukup luas itu, mereka gunakan seperti ruang makan. Dengan meja kayu yang tertata rapi dan memanjang dan ada banyak kursi disana.


Tak hanya itu saja, makanan-makanan lezat pun telah matang tersedia dan siap untuk di santap.


Meskipun semua tempat dan makanan itu telah siap, tetapi tak ada satu orang pun yang berani duduk dan memakan makanan itu.


Suasana pun masih tetap hening seperti sebelumnya.


Hingga akhirnya kini Isabel pun bertanya pada Clay. "Kakak... Kakak... Kenapa wajah mereka pucat? Apa mereka sakit?"


"Mungkin mereka tidak tahan melihat makanan lezat ini, Isabel. Makanya mereka semua terlihat pucat... Benar kan semuanya?" Ucap Clay dengan raut wajah ramah dan seolah-olah tak terjadi apapun sebelumnya.


Di sisi lain, Clay juga tidak ingin membahas hal-hal yang mengarah ke kejadian sebelumnya karena hal itu tidak baik bagi Isabel yang masih anak-anak.


Ariana pun tersenyum dengan terpaksa, lalu berkata pada Isabel. "Be-benar, Isabel... Perutku lapar sekali."


Dengan wajah polosnya, Isabel pun berkata sambil melangkah ke meja makan dan lalu duduk di atas kursi. "Lalu, tunggu apalagi? Ayo kita makan bersama-sama."

__ADS_1


__ADS_2