SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
012 - MAYAT HIDUP DI KOTA SWEETHONEY


__ADS_3

Kini, Dimitri, Igor dan Rachel pun mulai menuruni kereta kuda milik kerajaan itu. Awalnya, mereka tampak menolak ketika ditawarkan untuk menunggangi masing-masing kuda.


Sebab mereka merasa tak pantas saja rasanya ketika baru akan mengerjakan satu kasus yang dipercayakan kepada mereka namun mereka sudah menggunakan fasilitas kerajaan.


Mungkin, akan lebih baik jika mereka menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka terlebih dahulu sebelum nanti mereka mendapatkan hadiah pemberian dari Raja.


Ini adalah otak pemikiran Igor yang tentu merasa turut bangga dan senang karena berkat Dimitri ia menjadi dikenal dan mampu bertemu dengan Raja.


Bahkan berkat kesuksesan Dimitri atas peperangan tempo hari, Igor pun menjadi turut ikut serta masuk ke dalam ruang singgasana Raja yang tidak sembarangan orang mampu memasuki ruangan itu.


Alhasil, karena menuruti malu-malu kucing Igor sekarang mereka hanya diberikan satu kereta kuda beserta kusirnya.


Jika Dimitri atau pun Rachel memprotes keputusan yang dibuat sepihak oleh Igor itu, maka pria itu dengan lantang dan tegas akan membalas dengan kalimat yang sepertinya sudah dipersiapkan dengan matang oleh pria itu sebelumnya.


Sebenarnya mereka bisa saja terbang, tetapi sepertinya akan lebih elit jika mereka menggunakan kereta kuda.


Seolah menjelaskan bahwa misi itu terlihat lebih formal.


"Ingatlah Dimitri, jika bukan karena bantuanku kau tidak mungkin akan mengerti mengenai strategi peperangan garis depan, bukan? Ingatlah baik-baik jika bukan karena aku yang membimbing dan melatih dirimu, maka kau tidak akan menjadi seperti yang sekarang Dimitri. Satu hal yang lebih utama, kalian harus menuruti orang yang lebih tua dibandingkan kalian. Di sini, aku lah yang paling tertua di antara kalian." ucap Igor yang membuat Dimitri maupun Rachel tak mampu lagi untuk menantang apa yang pria itu ucapkan.


Secara bergantian, mereka pun menuruni anak tangga kereta kudanya itu.


"Paman, tunggulah disini sebentar. Secepatnya kami akan kembali setelah bersiap beberapa waktu," tutur Dimitri yang lalu diangguki patuh oleh kusir yang membawa mereka dari kerajaan sampai ke sekolah sihir saat ini.


Dimitri pun lalu melangkah masuk ke kamarnya setelah mengucapkan beberapa kata patah kepada kusir itu.


Sedangkan Igor dan Rachel pun juga turut melangkah mengikuti jejak kaki di mana Dimitri melangkah selanjutnya itu.


"Haruskah aku berkemas dengan membawa banyak barang? Sepertinya iya karena aku tidak tahu berapa lama waktuku di sana," gumam Dimitri yang bertanya pada dirinya sendiri lalu dijawab oleh dirinya juga.


Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Ternyata itu adalah Igor yang datang setelah beberapa saat pergi entah kemana.


"Apakah kau ingin berpindah tempat tinggal, Dimitri? Kenapa tidak sekalian seluruh barang-barang pajangan di rumah ini turut serta kau bawa?" kata Igor ketika atensinya memberikan penglihatan bagaimana satu tas besar kini dibawa oleh sang adik.

__ADS_1


Bukan hanya satu tas hitam yang besar itu saja, Dimitri juga turut membawa tas lainnya untuk memasukkan beberapa helai pakaian yang tidak muat pada tas sebelumnya.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Igor itu membuat Dimitri lantas mengalihkan penglihatannya ke arah Igor.


"Kenapa memangnya dengan dua tas besar ini? Kita kan tidak pernah tau sampai kapan berada di sana. Jika nanti kita pulangnya masih lama dan kasusnya begitu sulit untuk dipecahkan bagaimana? Akankah kita tetap memakai satu pakaian yang sama saja? Aku rasa itu bukan solusi yang terbaik," jawab Dimitri yang memang memilih berpikiran lebih logis dibandingkan dengan Igor yang memilih berpikiran yang lebih baru lagi.


"Seperti kata pepatah, sedialah payung sebelum hujan. Jadi, sebelum badai itu datang, kita harus bersiap lebih dulu. Lebih baik membawa persediaan yang lebih, bukan? Daripada nanti ketika di sana malah kekurangan persediaan?" sambung Dimitri yang membuat Igor hanya mampu menghembuskan nafasnya bosan akan tingkah pemuda itu.


Igor pun lalu kembali membuka resleting tasnya itu, mulai memasukkan beberapa pakaian yang menurutnya penting untuk dibawa saja. Saat itu, Igor hanya membawa beberapa helai pakaian saja.


Meski membawa tas hitam besar yang sama, namun tas milik Igor tidak sepenuh milik Dimitri.


"Apakah kau tidak pernah ke Sweethoney, Dimitri? Apakah kau tidak mengetahui perihal kota itu?" tanya Igor disela-sela kegiatannya memasukkan beberapa pakaian itu.


Meski ia tahu Igor tidak akan melihat gerakannya, namun Dimitri pun tetap menggelengkan kepalanya pertanda jika ia tidak tau akan kota itu.


"Sungguh pemuda yang polos. Aku pun juga sebelumnya tidak pernah ke sana. Namun, yang pasti aku tidak sepolos dirimu yang memiliki pemikiran di bawah rata-rata. Mantan kapten garis depan dalam perang ini pasti memiliki otak yang lebih encer dibandingkan kapten baru seperti dirimu.


Bukan maksud mengabaikan, hanya saja Dimitri pikir ia tak boleh terlalu banyak membuang waktu saat ini.


Setelah siap, Dimitri pun mulai menyampirkan ranselnya. Bertepatan dengan hal itu, Rachel pun datang sembari membawa ransel yang sama seperti kedua pemuda itu.


"Baiklah, mari berangkat sekarang juga," ajak Dimitri yang langsung diangguki oleh Rachel maupun Igor.


Mereka pun lalu kembali menaiki kereta kuda yang sudah diberikan kerajaan sebagai fasilitas yang dapat mereka gunakan.


Perjalanan pun dimulai. Dimitri, Igor dan Rachel pun kini mulai berangkat menuju salah satu kota yang masih termasuk bagian dari kerajaan itu. Tempatnya ternyata tidak terlalu jauh dari kota yang mereka tinggali sekarang ini.


Berbagai macam pandangan mata warga pun mengiringi kepergian mereka dari kota tempat tinggal mereka itu.


Beberapa waktu pun berlalu, tak terasa mereka pun kini sudah mulai memasuki kota Sweethoney.


Aura yang tak biasa pun dapat mereka rasakan saat itu. Di mana hawa hitam dan pekat terlihat menyelimuti kota Sweethoney itu.

__ADS_1


Kota megah dan terkenal yang seharusnya memiliki gambaran begitu ramai akan hiruk-pikuk manusia pun kini terlihat usang seolah tak terurus dan tak bermanusia.


"Ada apa dengan tempat ini? Mengapa mana hitam sepertinya telah menyelimuti kota ini?" tutur Rachel yang diangguki setuju oleh Dimitri dan Igor.


Mereka pun lalu turun dari kereta kuda itu. Tanpa berpikir panjang lagi, mereka pun langsung saja berpencar untuk mencari alasan dibalik gersangnya kota Sweethoney itu.


Beberapa orang terlihat begitu aneh dan memprihatinkan. Orang-orang di desa itu benar-benar terlihat seperti gambaran manusia yang telah kehilangan semangat hidupnya.


Wajah-wajah mereka benar-benar dipenuhi dengan gambaran keputusasaan yang tidak bisa ditolong lebih detail lagi. Pasti, ada sesuatu yang menyebabkan semua orang-orang di kota Sweethoney ini menjadi terlihat menakutkan seperti itu.


Mungkin, kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kondisi orang-orang itu ialah zombie atau mayat hidup.


Dimitri pun tidak pundung menyerah untuk mencari barang bukti yang mungkin dapat mereka temukan di sudut-sudut rumah kota itu.


"Menemukan sesuatu?" tanya Dimitri ketika mereka bertiga tak sengaja kembali berkumpul setelah beberapa saat  berpencar namun tak menemukan apapun.


"Aku yakin, mana hitam ini pasti berhasil dari sesuatu yang sampai saat ini masih bisa dipastikan apa sumbernya. Namun, jika melihat perubahan kondisi orang-orang di sekitar ini.


Tentu, seseorang telah berbuat sesuatu sehingga mengubah pola perilaku semua warga di kota ini. Mungkin, kita harus lebih teliti dalam menyelidiki penyebab dari perubahan orang-orang di kota ini," jawab Rachel bijak yang membuat dua pemuda di depannya mengangguk setuju.


Mereka pun kembali berpencar dan lebih menajamkan atensi mereka lagi. Sesekali mereka menggunakan kekuatan angin mereka untuk memindahkan dedaunan yang tampak menutupi beberapa bagian tempat itu.


Hingga tak jauh dari tempat Dimitri berdiri saat ini. Beberapa tumpukan kertas berserakan di belakang rumah salah seorang warga yang benar-benar terlihat tak berdaya itu.


Dimitri pun lalu mendekat dan mengambil salah satu tumpukan kertas itu.


"Dimitri!" panggil serempak Igor dan Rachel beberapa saat setelah observasi Dimitri pada kertas itu.


"Semua ini, sepertinya berasal dari..."


Belum selesai Rachel melanjutkan ucapannya, Dimitri pun lantas mengangkat kertas kecil yang sudah ditemukannya itu.


"Bubuk putih racun ini?" ucap Dimitri yang langsung diangguki oleh Rachel.

__ADS_1


__ADS_2