
“Tuan, siapa itu Karol Lieva?” tanya Gabriel.
Saat ini mereka sedang beristirahat di suatu ruangan yang besar. Anak-anak Didik Dimitri sedang sibuk mengobati satu sama lain.
Yang paling dekat dengan Dimitri saat ini adalah Gabriel. Salah satu muridnya yang cukup terampil, dan pintar.
“Karol Lieva adalah antek-antek dari organisasi misterius yang selama ini mengincarku,” jawab Dimitri dengan sorot wajah menerawang jauh.
Jendral muda ini nampak menatap pada kejauhan. Pikirannya menerawang pada puncak masalah yang selama ini menghantui dirinya.
“Maaf, tuan, tapi..., Kenapa mereka terlihat berambisi sekali ingin menangkap anda?” kembali sang murid bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Di dunia yang keras ini, sudah biasa memiliki beragam musuh ‘kan?” kata Dimitri sebagai jawaban sederhana bagi muridnya.
Anak-anak itu pun merenungi ucapan gurunya. Bagi mereka yang baru masuk ke dunia penuh tantangan ini, mereka sudah merasakan yang namanya dikecam, dan dimusuhi seperti kejadian di depan pintu utama labirin.
Apalagi Tuan Dimitri yang sudah sejak lama masuk ke dunia yang penuh kontroversi ini. Ditambah Dia memiliki beragam keistimewaan dan naik pangkat dengan waktu yang cukup singkat.
Jelas Dimitri memiliki banyak musuh dibanding mereka para murid yang baru masuk ke dunia kontroversial ini.
“Tapi tuan, ini sedikit aneh. Seakan..., tujuan utama organisasi mereka adalah menghabisi anda. Maaf, kalau boleh saya tahu, apa ini tujuan Anda membentuk dan mengumpulkan kami?” tanya Gabriel dengan hati-hati.
“Benar sekali. Awalnya aku membentuk kalian karena aku ingin mendapat bantuan lebih banyak untuk menyelidiki sekaligus menemukan orang-orang itu. Tetapi semakin ke sini, tujuanku semakin berubah.”
Dimitri memandang sendu pada setiap wajah yang kini berfokus padanya. Jenderal muda itu tersenyum melihat raut wajah polos anak-anak yang kini sudah mulai terurus dibandingkan saat pertama kali dia menemukan mereka.
Wajah-wajah polos itu memandang Dimitri dengan sorot mata penuh kekaguman. Mereka menatap Dimitri dengan lekat-lekat seakan menanti kelanjutan ucapannya.
“Tujuanku berubah saat melihat kalian bisa belajar dengan cepat, dan tersenyum dengan riang. Sikap polos kalian mengingatkanku pada masa lalu. Kini aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk menikmati kebahagiaan berlatih bersama kalian.”
__ADS_1
Dimitri tersenyum dengan wajah tampannya itu. Senyum yang sukses membuat anak-anak didiknya ikut tersenyum senang. Bahkan beberapa diantara mereka manik lembutnya mulai berkaca-kaca.
“Ketulusan dari kalian mengajarkan aku bahwa di dunia yang kelam ini masih banyak hal yang bisa disyukuri,” lanjut Dimitri semakin membuat anak-anak didiknya senang.
Di sisi lain, Karol yang telah berhasil membawa kabur Valentine kini sedang bersantai di sebuah restoran sederhana di pusat kota.
Pemuda dengan tubuh tegap itu kali ini mengenakan pakaian sederhana layaknya penduduk biasa. Dia memesan makanan dan segelas bir untuk mengisi perut di jam makan siang.
Saat sedang makan diam-diam Karo mencuri dengar pembicaraan beberapa pendatang. Maupun pembicaraan beberapa penyihir dan pejuang yang sedang beristirahat makan siang di restoran tersebut.
“Haahh!! Entah kapan negeri ini akan memiliki kebijakan baru yang lebih baik bagi kita,” gumam salah seorang pria pada rekannya di meja tepat di sebelah meja Karol.
Kedua pengunjung ini mengenakan baju santai seperti Karol saat ini. Ditambah dengan tongkat sihir di sisi tubuh mereka memperjelas bahwa mereka adalah penyihir tingkat rendah yang menetap di salah satu sudut kota.
Meja itu diisi oleh dua orang pria dewasa. Satu orang pria berbadan besar, dan gagah namun memiliki rambut yang panjang. Sedangkan seorang pria lainnya adalah pemuda kurus berambut cepak, dan mata sipit.
“Iya. Kita yang memiliki kemampuan sihir rendah ini selalu saja dipandang sebelah mata. Berbeda dengan si Dimitri yang langsung mendapat posisi mentereng di kerajaan,” keluh si pria berbadan kurus.
Melihat kedua orang itu Karol merasa mendapatkan kesempatan besar. Dia membawa semangkuk berisi daging yang besar ke meja mereka. Kemudian dengan senyum ramah berkata, “mari menikmati hidangan lezat ini bersama-sama, tuan-tuan!”
Dengan penuh semangat Karo menyendok daging dan meletakkan satu di masing-masing mangkok pria misterius itu.
“Apa yang kau lakukan, tuan? Kenapa kau begitu murah hati kepada kami?” tanya si pria dengan rambut panjang.
“Saya hanyalah seorang pejuang yang lewat. Kebetulan saya mendengar perbincangan kalian, dan saya pun merasa iba. Sebenarnya saya juga setuju bahwa negara ini harus segera memiliki tatanan baru yang lebih baik bagi kita para penyihir,” ucap Karol memulai hasutan kejinya.
“Naahh!! Benarkan, apa kataku?! Seharusnya negara ini lebih menghargai kita para penyihir. Sebab tidak banyak orang di negara ini yang bisa menggunakan sihir,” kata pria kurus semakin bersemangat.
Mereka bertiga pun terlibat pembicaraan yang seru. Sampai Karol minta tambah sub agar bisa dibagi lagi kepada kedua teman ngobrolnya.
__ADS_1
Pemuda misterius itu semakin gencar menghasut orang-orang untuk menentang aturan kerajaan yang terdengar tidak masuk akal bagi para penyihir.
Karol bahkan juga menghasut mereka untuk semakin membenci Dimitri yang seolah diperlakukan lebih istimewa. Padahal mereka sama-sama bisa menggunakan sihir.
“Kalau kami mendapatkan guru yang layak sudah pasti kami bisa setingkat lebih tinggi dibandingkan kemampuan Dimitri itu!” kata si pemuda kurus terdengar berapi-api.
Kedua orang dihadapan Karol ini jelas sudah sangat kesal kepada Dimitri. Mereka sangat iri sebab Dimitri memiliki karir yang lebih bagus dibandingkan mereka berdua yang sudah lebih dulu ada di kota ini.
“Naahh! Ngomong-ngomong soal guru saya bisa menemukan guru yang jauh lebih hebat dibandingkan guru Dimitri. Jika kalian belajar sihir pada mereka dan masuk ke organisasi Mereka kalian pasti akan lebih sukses dibandingkan Dimitri itu!”
Karol mengucapkan janji manis untuk menjerat kedua pria di hadapannya. Pria licik itu berpikir dengan sekali pukul 2 lalat langsung mati. Sembari menyebarkan rumor, dia juga bisa mendapatkan anggota baru bagi organisasi yang sedang dibentuk oleh tuan-tuannya.
Rasa iri, dan benci menutup nurani kedua pria itu. Seketika mereka mengangguk setuju untuk mengikuti Karol masuk ke organisasinya. Mereka kehilangan akal sehat, dan tidak menaruh curiga sedikitpun kepada Karol yang baru saja mereka kenal.
Setelah puas makan mereka berdua pun mengikuti Carol untuk menuju organisasi yang sudah dibicarakan.
Saat hendak melewati gang yang sempit dan sepi mendadak mereka dihadang oleh Dimitri yang mengenakan jubah setengah badan berwarna putih.
“Dimitri,” gumam Karol dengan wajah pucat.
“Sudah lama aku menantimu keluar dari restoran itu. Energi negatif yang kau keluarkan membuat kepalaku pening saat menunggu!” cerca Dimitri.
Tanpa banyak berbasa-basi lagi kedua orang hebat itu pun terlibat dalam pertarungan yang cukup sengit.
“Jangan menghalangi jalanku!!” Cerca Karol di sela melawan Dimitri.
“Jangan banyak bicara dan tunjukkan saja jalannya Aku juga ingin mengikutimu ke organisasi itu, kok!” jawab Dimitri di sela pertarungan.
Sementara kedua orang itu sibuk bertarung, Igor, dan Rachel mencoba membujuk kedua pria misterius untuk tidak mengikuti Karol. Tetapi kedua pria itu justru mengacungkan senjata kepada dua saudara Dimitri tersebut.
__ADS_1
“Kami mengikuti tuan Karol atas dasar ikhlas, tanpa paksaan! Jadi jangan halangi kami!!” ujar si pria berbadan besar dengan sorot mata tajam.
Akhirnya kedua saudara Dimitri berhenti melarang kedua pria itu. Sebab mereka pikir awalnya kedua pria itu dihipnotis atau dipaksa untuk mengikuti Karol. Jika memang mereka dengan rela hati mengikuti Karol, maka kedua pejuang ini tidak bisa mencegahnya.