SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
043 - KEMENANGAN?


__ADS_3

Sayang, kesenangan Dimitri tidak berlangsung lama.


Masih tersenyum senang karena serangannya berhasil mengenai pemimpin dari organisasi Holy Mount, ia tidak menyadari bahaya yang tengah berkumpul di bawahnya.


Tombak batu tajam mencuat menyerang Dimitri, membuatnya mengernyit kesakitan.


Ia segera melepaskan dirinya dari tusukan duri panjang yang menerjang dari dalam tanah, menghindar cepat sebelum lebih banyak duri menyerang tubuhnya.


Tidak cukup sampai di situ, tepat saat kaki Dimitri menginjak tanah setelah melenting di udara untuk menghindari stone spike tadi, api hitam melahapnya dari tanah, membuat pemuda itu berteriak kesakitan.


[Sihir es.]


Lapisan es berwarna ungu menyelimuti permukaan tanah, menghentikan api hitam yang menyembur ganas.


Dimitri kewalahan, tubuhnya sakit, luka bakar memenuhi kulit. Walau tidak lama kemudian semua luka itu membaik dan berangsur sembuh


Tetap saja rasa sakit yang ia terima melemahkan fokus dan menguras tenaganya.


“Sial. Bagaimana mungkin dia masih bisa merapalkan mantra sekuat ini setelah kehilangan kedua tangan. Bukankah ia tidak bisa memegang tongkatnya?”


[Tidak. Lihat ke depan.]


Rasa penasaran Dimitri terjawab dengan sebuah pemandangan  yang membuatnya menggeram kesal.


Do depan sana, Fyodor dengan santai mengusap pergelangan tangannya, meregangkan badan layaknya orang yang habis melakukan olahraga ringan.


Kedua tangannya masih di sana, terpotong, tergeletak di tanah. Tapi disisi lain, Fyodor tidak kehilangan bahkan hanya seujung jari.


Tubuh orang itu lengkap. Tidak kurang satu apa pun. Bagaimana bisa?


“Kau penasaran dengan apa yang terjadi?”


Dimitri tidak menjawab, menggenggam erat kedua pedang elemen di tangannya. Ia menggeram, meningkatkan level sihir yang ada di kedua pedangnya.


Pedang es di tangannya mengeluarkan kepulan asap yang mengerikan, bilahnya perlahan berubah ungu, tanah di sekitar pedang itu membeku seketika.


Sedang di sebelahnya, pedang api yang tadi membara kehilangan kobaran api, namun bilahnya kali ini berwarna biru menyala, dengan percik-percik listrik kecil.


“Itu tampak mengerikan, Dimitri. Sungguh. Siapa pun akan mati dengan satu tebasan dari pedang sihir di kedua tanganmu itu.”


Fyodor terkekeh meremehkan, ia seperti sangat yakin bisa menahan serangan yang akan dilancarkan oleh lawannya itu.


Dimitri meraung, berteriak marah. Sihir angin yang ia gunakan sudah dilipat gandakan. Tingkat lanjut. Pendar hijau memancar dari punggungnya.


Itu gerakan yang sangat cepat, hampir sulit diikuti mata. Dimitri melesat sesingkat mungkin, menebas leher Fyodor yang masih terkekeh.


Satu serangan, kepala pria itu terpenggal, darah mengucur dari leher yang terpotong.


Dimitri membalikkan badan, memastikan bahwa Fyodor benar-benar sudah kalah.


Tapi ia malah terbelalak kaget karena pemimpin Holy Mount itu kini menatapnya dengan seringai mengerikan.


Hah? Bagaimana bisa, jelas-jelas dia sudah menebas kepala orang itu hingga darah mengucur deras dari lehernya.


Dimitri menyapu pandang ke sekitar, mencari kepala Fodor yang  tadi terpotong. Ketemu, kepala itu tergeletak di tanah dekat batu-batu bekas puing yang berserakan.


“Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?”


[....]

__ADS_1


Sistem tidak berkata apa-apa, hanya diam. Sepertinya entitas itu juga sedang mencerna kejadian di depan Dimitri.


Fyodor tertawa terbahak-bahak, seakan serangan tadi hanyalah kelakuan anak kecil yang menggelitiknya.


“Seranglah kau sepuasmu, aku biar kesempatan untukmu selama sepuluh detik untuk mengerahkan segala yang kau punya agar dapat membunuhku.”


Fyodor tersenyum sambil merentangkan tangan, memejamkan mata dengan senyum puas di bibirnya.


“Mati kau!”


Dimitri berteriak marah, persetan dengan apapun trim yang dilakukan pemimpin Holy Mount itu, ia akan mengerahkan segala jenis sihir untuk membunuhnya.


Pasti ada cara agar Fyodor mati, ia hanya harus mencoba segala kemungkinan untuk menemukan cara itu.


Dimitri mengangkat tangannya, mengerahkan segala kemampuan sihir yang ia punya.


Rantai cahaya muncul dari dalam tanah, mengekang tubuh Fyodor, menariknya berlutut ke tanah. Pria itu hanya tersenyum diperlakukan demikian.


Dimitri menggeram lagi, bilah es berjatuhan dari langit menerjang tubuh Fyodor, menembus jantung, kepala, dan sekujur tubuh pemimpin Holy mount itu.


Tidak cukup sampai di sana, Dimitri membakarnya dengan api biru padat, ia memadatkan sihir api skala ratusan meter, membuatnya berkumpul di satu titik.


Ia melakukan itu untuk fokus membakar tubuh Fyodor yang saat ini tengah berteriak kesakitan seiring badannya hancur terbakar.


Meski begitu Dimitri merasa ada yang salah, ia merasa kekuatan dahsyat seperti itu belum cukup membunuh Fyodor.


Maka ia memanggil Kirin, membuat sihir alam itu menerjangkan sambaran petirnya hanya untuk satu orang.


Itu sihir yang dahsyat, sihir skala raksasa dengan daya hancur mengerikan difokuskan untuk menyerang satu orang saja.


Itu sama saja dengan memberikan serangan untuk membunuh sepuluh ribu orang hanya kepada satu orang saja.


Serangan itu membuat penyihir lain menoleh, peperangan terhenti beberapa saat.


Sialnya, Fyodor malah tertawa terbahak-bahak di bawah sana. Menertawakan usaha Dimitri yang sia-sia belaka.


Dimitri terguncang hebat mendengar tawa pria itu, dengan sigap ia mengibaskan tangan, kesiur angin membawa kepul asap pergi.


Di sana, di bawah kawah yang terbentuk oleh hantaman kirin, Fyodor berdiri kokoh. Tertawa jahat.


Tidak sedikit pun tubuhnya tergores, seakan semua sihir dahsyat tadi tidak pernah terjadi.


Padahal seharusnya Fyodor sudah lenyap menjadi abu mengingat betapa dahsyatnya sihir yang dilemparkan oleh Dimitri.


“Apa hanya itu kekuatanmu, Dimitri? Apa kau yakin bisa mengalahkanku dengan kemampuan seperti itu?”


Mendengar pemimpinnya masih hidup, para bawahan Holy Mount yang mengenakan jubah gelap itu kembali menyerang dengan buas.


Sedangkan di sisi satunya, pasukan penyihir yang dipimpin Dimitri terdepak mundur.


Moral mereka turun, menatap pemimpin lawan tidak terkalahkan membuat semangat juang mereka terkikis.


Begitu pula Rachel dan Igor. Mereka masing masing sudah membunuh beberapa anggota organisasi Homy mount, dan seorang jenderal.


Tapi, melihat Fyodor tidak terkalahkan. Fokus mereka tercemar rasa putus asa.


[Kita butuh rencana untuk mengalahkan keabadian miliknya.]


“Apa?”

__ADS_1


Dimitri terkejut, ia lupa jika Fyodor adalah penyihir gelap yang sudah menguasai banyak mantra terlarang. Salah satunya adalah keabadian.


Sial, pertarungan ini akan semakin sulit. Melawan musuh yang abadi adalah sebuah pertarungan yang tidak bisa dimenangkan.


“Apa tidak ada cara untuk membatalkan sihir itu? Merusaknya atau apalah?”


Dimitri berdecit ngeri saat Fyodor mulai melangkahkan kakinya, bebatuan kecil melayang di sekitar pria itu.


Ia benar-benar berharap sistem bisa membatalkan sihir keabadian sialan itu. Jadi Dimitri bisa menang.


[Sayangnya tidak ada.]


“Argh.”


Dimitri menjerit kencang.


Satu, karena jawaban sistem jelas membuatnya kesal bukan kepalang, sekaligus putus asa.


Dua, Fyogor sudah melancarkan serangan berikutnya. Sebuah sihir elemen angin yang sangat kuat.


Membuat tubuh Dimitri terpelanting kencang menghantam kerumunan orang yang sedang bertarung..


“Dimitri!” Rachel yang melihatnya berseru tertahan, ia hendak membantu tapi, jenderal yang sedang dilawannya tidak memberi celah.


Kondisi Dimitri payah. Tubuhnya lebam sana sini, luka di mana-mana.


Meski hanya butuh kurang dari satu menit untuk memulihkan luka semacam itu, rasa sakitnya tetap membebani.


“Ada apa ini, Dimitri. Aku dengar kau adalah penyihir super? Apa mungkin rumor itu salah?”


Dimitri berusaha bangkit, ia tidak boleh diam menunggu tubuhnya pulih. Salah-salah Fyodor bisa melancarkan serangan yang mematikan saat ia terkulai lemah.


“Matilah.”


Fyodor mengangkat tangannya, bola api hitam muncul sejengkal dari wajah Dimitri, meledak dahsyat.


Tubuh Dimitri terpelanting, wajahnya kuyu. Ia sempat membuat tameng sesaat sebelum ledakan tadi, jadi ia berhasil selamat.


Beberapa saat kemudian Fyodor menghujaninya dengan sihir, membuat tubuh Dimitri terpelanting kesana-kemari.


Dimitri hanya bisa bertahan, tubuhnya belum cukup pulih untuk melancarkan serangan.


Setidaknya untuk saat ini, ia harus menghindari luka fatal. Ia bisa mati jika tidak menahan-serangan-serangan Fyodor.


Saat moral pasukan Dimitri sudah hampir habis, saat mereka semua hampir menyerah melihat pemimpin mereka dijadikan bulan-bulanan.


Saat itulah Dimitri melancarkan serangan balik.


Dengan cepat Dimitri melemparkan mantra ke Fyodor yang hendak menyerangnya. Itu mantra unik, mantra yang dapat menyegel kekuatan sihir dalam kurun waktu tertentu.


Saat terkena, tubuh Fyodor dipenuhi simbol-simbol kebiruan. Sihir yang tadi hendak dilemparkannya lenyap seketika.


“Apa ini? Sebuah mantra yang menyegel kekuatan sihir?” Fodor terkekeh meremehkan. “Mantra semacam ini hanya bertahan paling lama lima menit, apa yang akan kau lakukan dalam lima menit, heh?”


Dimitri menyeringai, ia tahu betul itu. Mantra pengikat kekuatan sihir hanya akan menunda kematian, tidak bisa digunakan untuk membunuh Fyodor.


Tapi memang itu rencananya.


“Sistem, mari kita lakukan.”

__ADS_1


[Baik, Dimitri. Sungguh, ini rencana brilian. Aku terkesan kau terpikirkan untuk melakukannya.]


“Dimensi spasial!”


__ADS_2