
Kelima Pemimpin tertinggi Organisasi sibuk membaca mantra. Mereka mulai merasakan aliran energi yang begitu kuat mencuat dari bawah kaki mereka.
Dari kejauhan di salah satu menara murid Dimitri melihat pancaran cahaya aneh di langit malam kota. Mereka segera memberi isyarat kepada menara yang lain untuk segera menuju ke lokasi.
Tidak lupa salah satu prajurit baru ditugaskan untuk memberikan kabar kepada Dimitri akan fenomena mengerikan yang baru saja terjadi.
Seluruh anggota Supreme Wizard pergi lebih dulu ke asal sumber cahaya. Firasat mereka semakin tidak enak setiap kali jarak mereka semakin dekat dengan sumber munculnya cahaya.
Dan benar saja. Di salah satu bangunan mansion yang begitu besar cahaya itu mengeluarkan seperti api yang membara.
“Kak Gabriel, yakin mau masuk sekarang? Firasatku tidak enak melihat bangunan itu,” kata salah satu anggota Supreme Wizard pada sang pemimpin.
“Iya. Tidak apa-apa. Kita masuk dan membuat sedikit kekacauan saja sebelum Tuan Dimitri datang. Kalau tidak bisa setidaknya kita mengawasi sekitar untuk membuat laporan penting kepada tuan Dimitri,” kata Gabriel dengan nada suara tenang.
“Apa semuanya paham yang kapten katakan?” Tanya sang wakil kapten.
“Mengerti!!” Jawab mereka semua serentak.
“Kalau begitu, menyebar!!”
Begitu sang wakil kapten selesai berbicara kesepuluh pemuda itu sudah menyebar ke segala arah.
Pemuda-pemuda itu ada yang berlari dengan cepat, terbang, dan bahkan memanjat dinding mansion begitu cepat. Mereka semua memakai cara berbeda-beda untuk memeriksa setiap bangunan mansion yang mencurigakan itu.
Akhirnya dua orang murid Dimitri sampai di salah satu ruangan yang memiliki energi sihir hitam paling kuat. Di tempat ini bahkan tercium bau amis dan busuk yang sangat menyiksa Indra penciuman.
Di depan pintu utamanya yang lebar ada beberapa penjaga yang menghalangi pintu.
Dengan cepat kedua pemuda itu menjatuhkan para penjaga satu-persatu. Saat seluruh musuh sudah tumbang mereka memindahkan para penjaga itu dengan sihir ke salah satu ruangan kosong yang baru saja mereka lewati. Setelah itu mereka berdua menguping pembicaraan orang-orang yang ada di dalam ruangan.
“Wah! Tuan-tuan melakukan ritual suci dengan sangat baik! Lihatlah Medan energi semerah darah yang membumbung tinggi itu!” tutur salah satu pengikut yang diwajibkan mengikuti jalannya ritual.
Para pengikut yang berdiri di barisan paling belakang sibuk mengomentari jalannya ritual yang begitu mengagumkan. Menurut mereka.
__ADS_1
“Iya! Tuan-tuan kita memang orang-orang pilihan dewa! Setelah Dewa dipanggil dan turun kemari kita akan langsung merasakan perubahan dari tatanan dunia sihir yang kacau ini,” sahut rekan sesama pengikut.
Dua orang murid Dimitri dari Supreme Wizard yang mendengar hal itu seketika langsung beradu pandang dengan mata membelalak lebar. Mereka terkejut mendengar sedang ada ritual pembangkitan Dewa di dalam ruangan itu.
“Dewa apanya yang dipanggil dengan darah manusia seperti itu?! Dasar tidak masuk akal!” Komentar salah satu murid Dimitri yang sedang menguping.
Rupanya, sosok yang baru saja selesai bicara adalah Sana. Gadis tomboy yang memiliki mulut pedas saat berbicara.
“sana!!! Ssshhtt!!” satu rekannya mengingatkan dengan mata menyorot tajam.
Naasnya, suara mereka sudah terdengar oleh orang-orang di dalam ruangan. Seketika semua mata tertuju kepada dua sejoli yang sedang berjongkok di depan pintu utama.
Pintu besar itu terbuka lebar hingga kedua sejoli itu terperanjat kaget. Mereka langsung mendapat sorot mata tajam dari semua orang yang ada di dalam ruangan. Bahkan jalannya ritual sampai terhenti.
“Oh, halo!” ucap Sana dengan sorot mata canggung.
“Ka- kalau begitu..., kalian lanjutkan saja ritual anehnya. Kabuurrr!!” Sana segera mengambil langkah seribu saat dirasa akan diterkam seperti mangsa oleh anggota-anggota organisasi sesat tersebut.
“Na! Kenapa gak kamu lawan saja?! Kamu ‘kan kuat!!!” kata rekan Sana.
Meski banyak anggota organisasi yang keluar untuk mengejar Sana, tetap masih banyak yang tinggal di dalam ruangan untuk mengikuti jalannya ritual suci.
Karena sedikit gangguan dari sana ritual sejenak berhenti. Setelah itu mereka kembali memulai dari awal membaca mantra sakral dengan konsentrasi penuh. Pada saat ini mendadak..., BRAK!!!
Lagi-lagi pintu utama dari ruang ritual didobrak dengan sangat kencang. Sehingga membuat para anggota dewan organisasi kembali terhenti melakukan ritual.
“SIAL!!! SIAPA LAGI SEKARANG YANG BERANI MENGGANGGU JALANNYA RITUAL SUCI?” teriak sang pemimpin tertinggi. Dia murka sebab untuk kedua kalinya jalannya ritual diganggu.
“Ini aku, cecunguk sialan! Akhirnya aku berhasil menemukan tempat persembunyian kalian,” ucap pria gagah yang berdiri dengan tenang di tengah pintu utama.
“Dimitri,” gumam para pemimpin organisasi bersamaan.
Sejenak mereka semua terpaku melihat sosok Dimitri yang demikian gagah namun juga memiliki mangga kejam yang nampak mematikan.
__ADS_1
“Bagaimana mungkin kau sampai di tempat ini dengan begitu cepat?! Padahal aku sudah memasang Medan anti dirimu di sekitar rumah ini!” kata salah satu pemimpin yang mendapat tugas memasang Medan penjagaan lingkungan.
“Cih. Trik murahan seperti itu tidak akan mempan pada murid-muridku. Apalagi padaku,” tutur Dimitri dibarengi nada sombong seperti biasanya.
“SE- SEMUANYA!! HALANGI PEMUDA TERKUTUK ITU MENUJU KEMARI!!” teriak seorang pemimpin organisasi dengan nada panik.
Mereka khawatir Dimitri menemukan para sandera, melepaskan mereka, dan menghentikan jalannya ritual yang begitu sakral.
Seluruh anggota organisasi nampak ragu saat diperintahkan untuk menghalangi Dimitri. Sebab mereka tak mereka semua tahu bagaimana hebatnya kekuatan seorang Dimitri Demian.
Lihat sikap ragu musuh musuhnya Dimitri tersenyum senang. Kemudian, dengan sekali kibasan pedangnya, dia menyingkirkan musuhnya, dan membuka jalan menuju ke tengah ruangan.
Pada saat itulah terlihat jelas wajah-wajah korban yang terikat di tengah lantai yang dingin di atas simbol keramat para iblis.
“Ibu, ayah,” gumam Dimitri saat mengenali wajah berkeriput kedua orangtuanya.
Seluruh pemimpin organisasi mulai panik. Mereka tidak fokus membaca mantra sebab menyadari Dimitri berhasil menyingkirkan segala hambatan, dan sekarang dia sedang menuju ke arah mereka dengan wajah murka.
Pada saat inilah sang pemimpin tertinggi organisasi mengeluarkan senjata rahasia nya dia menyebabkan lengan kirinya sehingga terciptalah medan teleportasi yang begitu besar. Dari tengah lingkaran yang dikelilingi oleh petir dan api tersebut menjela dua orang pemutih yang tidak asing bagi Dimitri.
“Karol, Valentine,” lirih Dimitri saat melihat kedua sosok pria di hadapannya.
Sedetik kemudian terjadilah pertempuran sengit antara Dimitri melawan Karol dan valentine. Mereka bertiga bertarung menggunakan kekuatan terbaiknya.
Sesekali mereka bertarung di udara terbuka, Sesekali mereka terjatuh di lantai yang dingin. Tetapi bagaimanapun keadaannya, dan sengitnya pertarungan itu, Dimitri menolak untuk di teleportasi keluar ruangan. Dia tidak mau kehilangan jejak kedua orang tuanya.
Jenderal muda itu bertarung dengan membabi-buta. Dia melupakan seluruh amarah yang begitu mengganggu di hatinya kepada kedua musuhnya.
Dimitri sadar kedua musuhnya kali ini telah mengalami kemajuan pesat dari segi kekuatan. Meski begitu dia juga tidak kalah beringas dalam memberikan perlawanan sebab saat ini dia sedang dikuasai oleh amarah yang begitu besar.
Pemuda itu murka saat melihat kedua orang tuanya demikian mengerikan. Ditambah lagi saat ini mereka sedang duduk menjadi tumbal bagi ritual yang begitu kejam.
Saat anggota lain dari kerajaan masuk ke ruangan itu mereka kaget melihat kondisi ruangan yang sudah kacau balau. Apalagi melihat tim Dimitri yang bertarung dengan begitu beringasnya.
__ADS_1
“Ki- kita harus menggagalkan jalannya ritual itu!! Cepat!!” ucap Igor dengan suara terbata. Dia sejenak syok melihat orang tuanya ikut diikat, dan menjadi tumbal bagi ritual pemanggilan sang Dewa tertinggi Demon.
Meski begitu dia segera menguasai diri, dan mencoba mengacaukan jalannya ritual dibantu oleh anak-anak didik Dimitri dan juga Rachel.