
“Seorang bangsawan seperti dirimu cemburu pada anak-anak muda ini? Kenapa lucu sekali di telingaku, ya?” Tutur Dimitri sembari memberikan isyarat pada para muridnya untuk menyingkir lebih dulu.
Kesepuluh pemuda itu menurut kata gurunya. Mereka menepi ke pinggir goa untuk menghindari pertarungan antara kedua orang besar tersebut. Untuk sementara mereka memilih menyingkir demi menyelamatkan dan memulihkan tubuh lebih dulu.
“Itu karena anda lebih memilih anak-anak itu sebagai murid dibanding kan aku yang bangsawan ini! Hyakk!!!”
Valentine mengibaskan lengan kanannya hingga keluar kilatan petir berwarna merah yang nyaris mengenai tubuh Dimitri.
Untungnya jenderal muda itu berhasil menghindar dengan cepat. Dimitri melompat dari area lapang ke arah salah satu batu yang mencuat.
Jenderal muda itu berdiri dengan tenang di atas batu yang runcing seakan tidak khawatir akan melukai kakinya sebab kekuatan sihirnya yang begitu besar dia mampu melakukan hal mustahil itu.
“Karena inilah aku tidak bisa menerimamu. Sejak awal aku sudah curiga bahwa anak ada energi hitam yang tersimpan rapat di dalam dirimu,” kata Dimitri dengan ekspresi tenang.
Jendral muda Dimitri perlahan mulai mengeluarkan energi Mana-nya. Lingkungan di sekitar gua itu pun berderak, bergetar. Sedetik kemudian dari dalam tanah muncul akar pohon yang begitu besar dan kuat yang melilit sekujur tubuh Valentine.
“Sialan kau, tuan Dimitri!!” cerca Valentine yang tidak bisa bergerak.
“Valentine Maks, atas titah kerajaan kau sebagai pengguna sihir hitam sekaligus makhluk terkutuk akan segera mendapat hukuman yang tidak ringan,” tutur Dimitri mengencangkan lilitan pada tubuh Valentine.
Valentine Maks yang merupakan pemilik labirin itu berkata, “kau benar-benar Pemuda sialan pembawa petaka ke dunia ini! Ingat ini baik-baik Dimitri! Era kejayaanmu akan segera berakhir!! Dan kekacauan akan muncul!! Hahahaha!”
Valentine masih bisa tertawa di saat kondisinya sudah demikian terdesak. Dia lanjut berkata, “iblis seperti kami akan bangkit kembali, dan menguasai dunia ini!! Hahaha!!”
Tawa makhluk terkutuk itu semakin menggelegar membuat anak-anak Supreme Wizard bergidik ngeri.
Meski begitu Dimitri belum berniat menghabisinya. Dia ingin Valentine mengatakan lebih banyak soal rencana ‘Tatanan Dunia Sihir’ yang baru.
“Lihatlah nanti, Dimitri! Secepatnya posisi akan segera berganti. Kelak kaulah yang akan terdesak seperti aku saat ini,” ucap Valentine menatap tajam pada Dimitri yang masih memandang dirinya dengan tenang.
“Kenapa kau begitu yakin posisi akan segera berubah? Dunia sihir ini besar, tidak mungkin beberapa orang saja bisa menjatuhkan kami dengan mudah,” jawab Dimitri sembari mengulas senyum mengejek di sudut bibirnya.
Valentine meradang. Emosi memuncak sampai ke ubun-ubunnya. Dengan sekuat tenaga Valentine berusaha meraih peluit panjang dari balik baju. Lalu dengan sekali tiupan kencang, muncul dua orang di depan bangsawan tersebut.
Kedua lelaki itu mengenakan baju serba hitam lengkap dengan masker yang menutupi wajah.
“Serang jendral Dimitri, dan bebaskan Aku sekarang juga!” Perintah Valentine yang langsung dipatuhi oleh kedua orang itu.
Satu orang segera menyerang Dimitri dengan pedang yang bisa memancarkan kilat petir. Sementara satu lainnya melepaskan Valentine dengan sangat cepat.
Dalam hitungan detik terjadilah pertarungan yang sengit antara Dimitri, dan Supreme Wizard melawan Valentine, dan antek-anteknya.
Dimitri sengaja menyasar Valentine lebih dulu. Sementara kedua antek-anteknya dilawan oleh masing-masing lima murid Dimitri.
__ADS_1
BLAR!! DUAR!! DUAR!!
Berulang kali terdengar ledakan dari masing-masing serangan. Para pemuda anggota Supreme Wizard pun terlihat tidak gentar melawan kedua antek-antek Valentine.
Mereka melakukan kombinasi kerjasama yang sangat bagus sehingga kedua antek-antek itu berhasil di sudutkan.
Di sisi lain Valentine pun semakin terdesak oleh serangan gencar dari jenderal Dimitri.
Ugh!! Uhuk! Uhuk!!
Makhluk terkutuk itu batuk darah saat terkena serangan sihir dari Jendral Dimitri yang tidak main-main dahsyatnya.
“Sepertinya kau tidak berniat memberikan belas kasihan padaku, UKH!” Valentine masih sempat mengeluh pada Dimitri di sela kondisinya yang kritis.
“Mau bagaimana lagi? Pihak kerajaan memintaku untuk tidak memberikan ampun pada sosok terkutuk seperti dirimu,” jawab Dimitri dengan senyum licik di sudut bibirnya.
Valentine menengok pada sudut lain. Dia melihat kedua antek-anteknya pun sudah tersudut. Senjata mereka berhasil dihancurkan oleh anak-anak dari Supreme Wizard.
Bangsawan berdarah makhluk tertutup itu mulai panik. Kini Dia hanya bisa melawan dengan kata-kata.
“Kini aku semakin yakin bahwa organisasi telah melakukan pemilihan yang tepat. Kau memang layak untuk dimusnahkan dari muka bumi ini,” gumam Valentine dengan senyum licik yang mengembang.
“Kau tahu organisasi apa yang ingin membunuhku?” Dimitri bertanya dengan wajah heran.
Makhluk terkutuk itu terkekeh pelan sembari memegangi perut yang kesakitan. Meski mulutnya sudah memuntahkan darah Tetapi dia tidak mau berhenti bicara. Sebab ini satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk menunda Dimitri membunuh dirinya.
“Kau buta atau pura-pura buta, Dimitri? Kau sungguh tuli atau hanya pura-pura tuli? Bukankah kabar itu sudah menyebar luas hingga kerajaan?” Tanya Valentine.
Bangsawan dengan darah terkutuk itu masih sempat mengulas senyum mengejek pada Dimitri. Dia terlihat begitu senang melihat Dimitri penasaran sekaligus kesal.
“Jangan berbahasa-basi lagi Valen! Katakan padaku siapa orang-orang organisasi yang mengincarku ini!” titah Dimitri dengan sorot mata tajam.
Jenderal muda ini berdiri menjulang sementara Valentine jatuh tersungkur. Sang bangsawan dengan darah terkutuk itu kini sudah semakin.
Apalagi di sisi lain gua kedua antek-anteknya sudah dikalahkan oleh murid-murid Dimitri. Sepuluh pemuda itu bahkan tidak mengalami luka yang berarti. Dengan cepat mereka meringkus kedua antek-antek Valentine.
“Mereka menyebut organisasi itu Holy Mount. Organisasi kelam yang didirikan oleh orang-orang hebat dengan kemampuan istimewa,” tutur Valentine pelan.
Dimitri menurunkan pedang saat melihat Valentine bersedia berbicara soal organisasi tersebut.
“Lanjutkan!” Perintah Dimitri dengan nada ketus.
Saat Valentine hendak kembali bercerita kedua murid Dimitri mendekat. Mereka melaporkan bahwa antek-antek Valentine sudah berhasil diikat dengan kuat.
__ADS_1
“Salah satu pemimpin di organisasi itu adalah seorang penyihir peramal,” ucap Valentine tanpa menghiraukan kehadiran kedua bocah murid Dimitri.
Sang jenderal pun beralih pada Valentine. Alhasil ketika orang itu fokus mendengarkan apa yang ingin dikatakan sang bangsawan berdarah terkutuk tersebut.
“Penyihir peramal? Bukankah mereka sudah punah Tuan Dimitri?” tanya seorang murid pada gurunya.
“Setahuku juga begitu,” gumam Dimitri sebagai jawaban.
“Berarti aku telah memberikan informasi penting kepada kalian seharusnya kalian membiarkan aku lolos kali ini,” seolah senyum terbit semakin lebar di wajah Valentine.
Bangsawan dengan wajah pucat itu kembali berkata, “dia adalah keturunan terakhir dari para penyihir peramal yang dibantai oleh orang-orang,” tuturnya dengan sorot wajah yang begitu tenang.
“Berarti ini memang informasi yang sangat penting, tuan Dimitri!!” ucap salah satu muridnya dengan penuh semangat.
“Tuan Valen, Kalau anda memberitahu kami di mana markas penyihir peramal itu, mungkin saja kami bisa membebaskanmu,” ucap salah satu murid Dimitri yang berdiri di sampingnya, Gabriel.
“Muridku benar, Valen. Kalau kau mau bekerja sama dengan kami memberitahukan markas mereka aku bisa membantumu lepas dari jerat hukuman.” Dimitri mencoba membujuknya dengan beragam pilihan.
Untuk saat ini menemukan pusat organisasi itu adalah hal yang lebih utama dibandingkan meringkus Valentine sendirian.
Bangsawan dengan kulit pucat itu terdiam. Dia nampak serius memikirkan penawaran Dimitri dan murid-muridnya.
Namun saat Valentine hendak buka suara, memberikan jawaban. Mendadak sebuah lubang hitam yang memancarkan api sekaligus petir menyala-nyala begitu kuat di atas Goa.
Lubang itu tidak terlalu lebar tetapi cukup untuk keluar masuk satu orang dewasa. Dari lubang cahaya yang dibingkai petir dan api itu melompat seorang pria dewasa dengan pakaian serba hitam.
Meski sebagian wajah pria itu tertutup oleh masker hitam Dimitri masih bisa mengenali siapa sosok tersebut.
“Karol Lieva,” gumam Dimitri sembari menatap sengit pria yang kini menghalangi pandangannya pada Valentine.
“Apa yang kau lakukan disini, Karol?! Kau ingin adu jotos lagi denganku?!” Tantang Dimitri pada sosok yang kini berdiri santai di hadapannya.
“Maaf saja! Aku sibuk hari ini,” jawab Karol.
Sedetik kemudian pria itu menarik Valentine hingga berdiri dengan bahunya. Lalu dengan cepat dia membawa Valentine melompati lubang cahaya, dan mereka pun menghilang.
“Sialan!” keluh Dimitri saat dia tidak bisa mencegah kedua musuhnya kabur.
“Mereka kabur! Apakah kita harus menggunakan kekuatan Medan observasi untuk menemukan mereka, tuan?” Tanya Gabriel dengan sikap cekatannya.
“Tidak perlu. Medan perpindahan mereka sangat kuat yang berarti mereka berpindah dari tempat yang jauh tidak mungkin kita bisa menemukan mereka dengan mudah,” jawab Dimitri dengan nada sendu.
Setelah pertarungan yang menegangkan itu mereka semua berhasil keluar dengan bantuan Dimitri. Mereka kembali dengan tangan kosong sebab hadiah yang dijanjikan oleh Valentine adalah kebohongan belaka.
__ADS_1
Saat istana makhluk berdarah kotor itu diperiksa para pelayannya bahkan sudah melarikan diri. Kedua antek-antek yang telah ditangkap pun sudah meminum racun sehingga semua sumber informasi telah sirna.