
"Tugas menjadi seorang kapten garis depan sangat berat," kata Igor saat itu.
Malam hari mereka bertemu setelah sebelumnya melakukan diskusi untuk membahas tentang peperangan yang akan berhadapan dengan Kerajaan Redhat dalam waktu dekat.
Perang yang dimaksudkan untuk mengambil perbatasan yang ada pada sebagian wilayah pada kerajaan masing-masing.
Mereka bertemu di belakang gedung sekolah militer sambil melihat bulan purnama yang malam itu begitu nampak indah.
Mereka duduk disana dengan tenang, karena tak ingin mengganggu yang lain.
"Aku tahu itu, aku bisa melihat dari dirimu. Dirimu adalah bukti bahwa menjadi kapten garis depan begitu berat," ucap Dimitri.
"Apa maksudnya itu? Kau mengejekku?" tanya Igor, lalu ia sambil merangkul bagian leher Dimitri.
"Tidak. Kau terlihat gagah perkasa. Lepaskan tanganmu, aku tidak bisa bernapas." Dimitri mencoba melepaskan diri dari tangan Igor.
"Lakukan jika kau bisa."
"Jika aku lakukan dengan cara keras apa kau mampu menandinginya?"
Pertanyaan Dimitri itu membuat Igor melepaskan tangannya. Bukan ia takut dengan Dimitri hanya saja ia masih terbayang dengan kekuatan Dimitri tempo hari.
Meskipun tak lama melihat Dimitri mengamuk, tetapi ia bisa melihat bahwa Dimitri sekarang jauh lebih hebat.
Mungkin dulu jika bertarung dengannya, Igor bisa menang dengan mudah. Namun, sekarang ia tak akan berharap sama sekali.
Jangankan menang, mungkin ia yang akan kalah dengan mudah.
"Kau takut?" Dimitri bertanya lagi.
"Aku tidak takut denganmu, tetapi dengan kekuatanmu yang tak masuk akal itu. Meskipun kau sudah mengatakannya, tetapi aku masih tidak yakin."
"Memang kenapa kau tidak yakin dengan itu?"
"Kau bisa mendapatkan kekuatan hebat itu secara tiba-tiba, lalu elemen dasarmu yang sihir bisa berubah menjadi api. Bahkan kau pengguna api terkuat."
Dimitri tahu apa maksud pembicaraan Igor itu, meskipun begitu ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Igor tentang sistem yang ia miliki.
Karena sistem memberitahunya bahwa dirinya harus menyimpan semua rahasia sistem dari siapapun, termasuk teman-temannya.
Saat Igor dan Dimitri masih berada di sana. Sementara itu di waktu bersamaan Rachel baru saja selesai mengajari para pasukannya tentang penyembuhan.
Hal yang sangat ia banggakan. Sejak dulu ia sudah mencintai dunia pengobatan meskipun untuk sampai di titik saat ini cukup sulit digapai.
Hidupnya dulu menderita setelah keluarganya hancur dan mati dan hanya menyisakan dirinya.
__ADS_1
Lalu ia masuk panti asuhan pada usia sepuluh tahun, dan menetap di sana beberapa waktu yang lama.
Selama di panti asuhan yang langsung terhubung dengan gereja, ia sudah tertarik dengan dunia medis dan belajar tentang itu hingga akhirnya ia bergabung dengan anggota medis gereja.
Namun, ternyata didikan seorang seorang penyihir medis sangat berat dan sulit sekali dilakukan.
Rachel di sana belajar dengan banyak orang, bersama dengan anak-anak seusianya yang sama-sama dari panti asuhan itu.
Rachel masih ingat betul tentang semboyan Penyihir medis di sana, yang mengatakan "Sebagai seorang penyihir medis dilarang mati apalagi terluka, karena jika sampai mereka terluka mereka tidak akan bisa mengobati orang lain nantinya."
Rachel dan anak-anak lainnya diajari bagaimana caranya menggunakan sihir medis, teknik penyembuhan dan sebagainya.
Pada usia sepuluh tahunan, ia juga sudah bisa membaca buku pengobatan dan meracik obat sendiri, tetapi ia harus mencobanya pada tubuhnya sendiri sebagai pembuktian bahwa obat itu aman.
Beberapa anak yang melakukan hal itu ada yang mati akibat keracunan racikan obat, ada yang mengalami efek samping luka yang mereka buat sendiri.
Sebagai percobaan mereka biasanya menyayat tubuh mereka yang kadang dekat dengan organ vital, lalu mencoba obat yang mereka buat.
Bahkan dari sana pun ada beberapa anak yang mengalami luka parah hingga kemudian mati. Kematian itu dianggap biasa oleh para pengurus gereja.
Lalu pada usia 12 tahun ia diadopsi seseorang dan menyekolahkannya di sekolah militer dan akhir ia belajar kembali tentang medis.
Beberapa tahun lalu keluarga angkatnya itu telah tiada, tetapi yang lebih mengejutkan lagi bahwa ia ternyata penerus keluarga bangsawannya yang dulu ia pikir telah hancur.
Namun, ia bersyukur bisa lepas dari itu semua dan akhirnya kini menjadi seorang kapten penyihir medis.
Ia bisa mengajari banyak siswa tentang bagaimana caranya menyembuhkan dan membantu saat dibutuhkan di medan peperangan.
Kini ia memiliki mana yang cukup banyak, jika bandingkan dengan Igor, dan Dimitri dulu.
Namun, ia memang bukan tipe penyerangan, maka dari itu ia tak pandai dalam pertempuran.
Dan kini setelah beberapa tahun di sana, ia masih sama seperti Igor dan Dimitri, yakni mencari kebenaran tentang kematian keluarganya.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Rachel begitu melihat Igor dan Dimitri masih berada di luar selarut itu.
Kemudian Rachel mendekati keduanya.
"Bukankah ini sudah cukup malam untuk kalian berada di luar. Kalian tidak sedang patroli, kan?" sambung Rachel dengan pertanyaan barunya.
"Kami tengah mendiskusikan sesuatu tentang persiapan perang," jawab Igor.
"Semalam ini?"
"Ini hanya diskusi kecil saja antara mantan kapten garis depan dengan kapten garis depan yang baru," kata Dimitri.
__ADS_1
"Terserah apa yang mau kalian lakukan, tapi jangan terlalu lama di sini," ucap Rachel. "Aku akan pergi lebih dulu."
Setelah mengatakan hal itu Rachel pun berlalu pergi dari sana. Dan kembali meninggalkan Igor dan Dimitri yang belum bergegas pergi.
"Sepertinya Rachel kekhawatiranmu," ucap Dimitri kemudian.
"Mana mungkin ia melakukan itu." Igor menanggapi ucapan Dimitri.
"Tapi kau senang kan kalau Rachel peduli padamu?"
"Akun senang, tapi mana mungkin ia melakukannya."
"Kenapa tidak?"
"Ia tampak dingin denganku, bahkan ia bersikap biasa seolah ia tak sadar bahwa aku menaruh perasaan padanya."
Dimitri berusaha memahami perasaan Igor, meskipun ia tak paham sama sekali, wajar saja karena ia tak pernah jatuh cinta.
***
Satu minggu kemudian peperangan melawan Kerajaan Redhat sudah mulai memanas.
Hubungan keduanya di banyak perbatasan sudah sampai pada titik di mana jika ada yang memberikan serangan terlebih dulu. Maka, sudah bisa dipastikan perang besar akan langsung terjadi.
Perang besar itu sebenarnya sudah berkecamuk lama, untuk perebutan batas-batas wilayah, tetapi masih mereka redam.
Hingga kemudian hal itu terus berlanjut dan mereka pun memutuskan untuk berperang.
Di sinilah Tugas Dimitri memimpin salah satu perbatasan dan menjadi pasukan utama sekaligus kapten satu-satunya di perbatasan itu.
Sebuah perbatasan yang oleh kerajaan dianggap tidak akan bisa dimenangkan oleh Kerajaan Blackbear.
Di sinilah peran Dimitri dengan bantuan sistem untuk memberikan beberapa barang berharga, dia meminta pertemuan damai dengan pemimpin lawan dan berniat memberikan sebuah kesepakatan.
Tak disangka, salah satu Jenderal Kerajaan Redhat menerimanya. Terjadilah sebuah diskusi.
Dalam diskusi kali ini, kedua kubu masing-masing membawa sepuluh orang yang mewakili.
Kedua kubu ini saling tidak percaya dan bersiap siaga jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
Disini akan banyak perdebatan panjang antara dua petinggi masing-masing kubu. Sampai akhirnya perdebatan panjang mereka mengarah tentang perebutan Tambang Kristal Mana yang berada tak jauh dari sana.
Sebuah alasan kenapa kedua kerajaan sama-sama saling bersitegang agar bisa menguasai Tambang Kristal itu.
Dimitri sudah mencoba banyak cara sampai tapi masih tidak berhasil untuk menarik hati musuhnya itu. Akhirnya peperangan di perbatasan itu tak terelakkan lagi.
__ADS_1