
“Dimitri, mereka mengikutinya dengan senang hati!!” Rachel berteriak pada Dimitri yang sibuk bertarung.
“Apa?! Kau serius?! Sungguh mereka tidak sedang dihipnotis?!” tanya Dimitri yang menghentikan sejenak serangan pada Karol.
“Untuk apa aku menghipnotis mereka kalau sejak awal mereka sudah tidak suka dengan tatanan dunia sihir yang saat ini,” kata Karol dengan sorot wajah mengejek.
Karol memegangi bahunya yang terluka karena terkena serangan dari Dimitri. Meski darah mengucur dari bahu pria itu, dia tetap bisa berdiri, dan menatap Dimitri dengan sorot mata menantang.
Pertarungan di antara kedua pria ini begitu sengit. Selain karol yang mendapatkan luka cukup parah, Dimitri juga nampak sangat kelelahan melawan Karol.
Ketika orang yang menghadang lawan atas nama kerajaan itu seketika terdiam. Mereka bertiga saling menatap dengan sorot wajah bingung. Pada saat itu kedua pria berbeda bentuk tubuh itu langsung mendekati Karol.
Si pria licik utusan organisasi itu lagi-lagi menggunakan jurus teleportasi tingkat tinggi dengan sisa tenaganya. Dia membawa dua calon pengikut organisasi dengan teleportasi itu. Menyisakan Dimitri yang lagi-lagi gagal menangkap mereka.
“Dimitri ini sudah keterlaluan. Si mata-mata dari organisasi misterius itu bebas masuk ke area kota ini. Kita harus segera mengusulkan kepada raja untuk membuat menara sihir demi ketentraman kota ini,” kata Igor sembari membantu Dimitri beristirahat.
“Kau benar. Mereka tidak boleh dibiarkan bebas berkeliaran di kota ini dan mencuri informasi sesuka hati mereka,” jawab Dimitri memasang wajah serius.
Jenderal termuda di pasukan kerajaan itu nampak serius memikirkan ucapan yang akan dikatakan pada sang Raja. Sebab Dia harus berhasil meminta sang raja untuk mendirikan menara-menara sihir itu.
Hari itu Mereka lekas kembali ke kerajaan. Ketika ksatria kebanggaan raja itu langsung menghadap kepada sang pemimpin utama. Seperti rencana sebelumnya mereka berniat membangun menara sihir di beberapa titik pinggir kota.
“Menara sihir?” tanya sang Raja setelah mendengar usulan dari Dimitri.
“Apa itu cukup efisien untuk mencegah para penyusup dari organisasi yang menggunakan ilmu hitam itu?” tanya sang Raja meminta penjelasan pada Dimitri.
“Cukup efisien, yang mulia,” jawab Dimitri dengan wajah serius.
Dari ekspresinya terlihat jelas Dimitri tidak bisa ditawar. Pemuda ini bertekad ingin mendirikan sepuluh menara sihir untuk mencegah masuknya doktrin dari Aurel kelam para penyihir hitam.
Sang raja nampak berpikir dengan serius. Sembari menatap salah satu prajuritnya yang sangat terpercaya, Dimitri. Melihat wajah yang penuh keteguhan itu, sang Raja akhirnya menyetujui usulan mereka.
“Baiklah. Aku menyetujui pembangunan menara sihir ini. Tetapi rencanamu berapa menara sihir yang ingin kamu dirikan?” Sang raja bertanya dengan wajah serius.
__ADS_1
“Sepuluh, tuanku,” jawab Dimitri dengan sikap sopan.
Pemuda itu menundukkan kepala saat menjawab pertanyaan rajanya. Sikap sopan Dimitri ini juga sering menjadi buah bibir di kalangan para bangsawan maupun rakyat biasa.
“Sepuluh?! Menara sebanyak itu siapa yang akan menjaga?!” tanya sang pemimpin tertinggi dengan sorot wajah terkejut.
“Murid-murid didikan hamba, tuanku,” sekali lagi Dimitri menjawab dengan nada sopan dan lembut.
“Yah, aku pernah mendengar soal murid-muridmu itu. Meski mereka masih muda tetapi paket mereka sangat luar biasa. Aku mendengar itu beberapa kali dari para pelayan yang sibuk bergosip,” ucap sang Raja sembari tersenyum bangga pada Dimitri.
“Anda terlalu memuji hamba, yang mulia,” kata Dimitri merendahkan diri di depan Rajanya.
“Kalau mereka yang akan memimpin pembuatan menara itu, aku akan semakin lega. Karena aku sangat percaya pada penilaian,” tutur sang Raja dengan senyum mengembang penuh kelegaan.
“Terima kasih, Tuanku,” jawab Dimitri sembari membungkukkan badan singkat.
Hati jenderal muda itu kini merasa begitu lega. Sebab setelah menara sihir ini didirikan akan semakin meminimalisir kemungkinan penyebaran energi negatif dari sihir hitam.
Sore itu ketiga pejuang tangguh itu keluar dari istana dengan senyum lega. Nampak di dalam genggaman tangan Dimitri ada selembar surat izin dari yang mulia raja. Dengan surat itu Dimitri bisa memulai proses pembangunan 10 menara sekaligus.
Sebelum memulai proses pembangunan, Dimitri mengajak kedua saudaranya, dan kesepuluh anak didiknya untuk rapat di rumah utamanya. Mereka mulai membahas apa-apa saja yang dibutuhkan selama proses pembangunan. Sekaligus Siapa saja yang akan bertanggung jawab di menara-menara tersebut.
“Nah, Apa kalian mengerti apa saja yang baru aku jelaskan?” tanya Dimitri begitu selesai menjelaskan pada semua orang yang ada di sana.
“Kami mengerti, tuanku!’ jawab mereka semua serempak.
“Tapi tuan, ada hal yang ingin saya tanyakan!” kata Gabriel sembari mengangkat lengan kanan tinggi-tinggi.
“Ada apa, Gabriel?”
“Berapa hari anda akan mengecek hasil kerja kami? Karena ini proyek besar pertama kami, beberapa di antara kami khawatir melakukan kesalahan,” tutur Gabriel dengan wajah khawatir.
“Oh, begitu? Tenang saja, aku akan sering mengunjungi kalian dan melihat hasil kerja kalian. Paling lambat 3 hari aku akan mengecek ke lokasi kalian,” jawah Dimitri dengan wajah penuh keyakinan.
__ADS_1
“Aku percaya kan awal baru misi besar ini pada kalian,” kata Dimitri.
Jenderal muda ini menatap satu persatuan wajah di hadapannya. Di bahu para pemuda ini Dimitri menitipkan harapan agar kota bisa lebih terjaga dari energi negatif ilmu hitam.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin, tuanku,” sahut anak-anak itu dengan penuh semangat.
Malam itu mereka semua berkumpul dengan penuh kebahagiaan. Mereka makan hidangan enak dan juga minum segala macam minuman segar. Hal ini Dimitri lakukan untuk menyemangati murid-muridnya yang akan segera melakukan proyek besar.
Esok harinya Dimitri mengantar murid-muridnya ke toko tempat pembelian barang-barang untuk membangun menara.
Karena koneksi dari Dimitri sekaligus surat pengantar dari raja, pemuda-pemudi itu pun mendapatkan apa yang mereka butuhkan dengan mudah.
Bahkan mereka mendapatkan para pekerja yang mau membantu mereka dengan senang hati. Meski begitu anak-anak dari Supreme Wizard akan tetap membayar hak mereka sebagai pekerja. Dengan begini kedua belah pihak akan merasa diuntungkan.
“Murid-muridmu berkembang dengan sangat cepat,” kata Rachel pada Dimitri yang sedang mengawasi anak-anak mengatur pembagian bahan pembangunan.
Salah satu kendala dari proyek besar biasanya adalah kurangnya kerjasama serta persaingan antar sesama pemimpin proyek. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi anggota Supreme Wizard.
Anak-anak muda ini berhasil mengatur pembagian setiap bahan yang terbatas. Selain itu mereka justru saling mengingatkan sama satu sama lain jika ada kekurangan dalam proses pemindahan bahan-bahan. Hal inilah yang membuat Dimitri semakin bangga kepada mereka.
“Kau benar. Mereka membuatku sangat bangga,” jawab Dimitri tanpa mengalihkan pandangan dari setiap anak yang nampak sibuk memberikan arahan pada para pekerja.
“Melihat cara kerja mereka yang demikian bagus, aku yakin proyek ini akan segera selesai,” kata Rachel.
Gadis itu ikut tersenyum senang melihat murid-murid Dimitri bekerja dengan keras. Sikap mereka inilah yang patut dicontoh generasi muda zaman sekarang.
Setelah bahan-bahan bangunan sampai di lokasi, para pekerja segera memulai pembangunan.
Pertama mereka membuat parit untuk membuat pondasi yang kuat. Setelah itu, batu bata pun diletakkan. Selama proses pembangunan itu, anggota Supreme Wizard memperkuat bangunan dengan beragam mantra.
Mantra ini bekerja untuk memperkuat, sekaligus mensucikan tempat itu. Dengan bantuan sihir, para pekerja tidak mudah lelah sehingga projek pembangunan selesai dengan lebih cepat.
Dimitri yang sesekali datang berkunjung pun ikut bangga melihat hasil kerja keras murid-muridnya. Dimitri merasa lega mereka hampir menyelesaikan proyek besar pertama dengan lancar.
__ADS_1