SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
032 - SEBUAH RENCANA


__ADS_3

"Rachel!"


Setelah melakukan itu, Lieva segera menekan sebuah tombol dan ia masuk ke sebuah lubang di bawah injakan kakinya. Igor kurang cepat menangkap Lieva sehingga ia hanya mendapatkan bayangan perempuan itu saja.


"Rachel!" Teriak Igor.


Semua bersedih ketika melihat bagaimana padang itu masih tertusuk di tubuh perempuan itu dan darah masih mengalir. Dimitri memegang tangan Rachel dan ia masih berusaha membuat perempuan itu tetap sadar.


"Rachel!"


"Igor, katamu… ini tidak sakit…kita adalah penyihir…Kita tidak akan mati bukan?"


Suara Rachel mulai serak seperti ingin menghilang. Dimitri berdiri dan kemudian, melangkah ke punggung Rachel.


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Apa yang ingin kamu lakukan?! Dia akan semakin sakit!"


"Diam!"


Dimitri memegang gagang pedang itu dan kemudian menarik nafas panjang, ia tahu dirinya berbeda dari yang lain dan ia juga bukanlah penyihir biasa seperti bagaimana yang lain. Dimitri sadar, ia berbeda.


Saat Dimitri hendak menarik pedang itu, mereka semua kemudian mendadak di tarik ke suatu tempat.


***


Entah sudah selama  apa mereka tertidur dan saat mereka terbangun, jelas mereka bahkan tidak ada luka lecet  sedikitpun bahkan yang paling melegakan adalah Rachel tampak baik-baik saja.


Rachel bangkit dari tidurnya dan kemudian berlari ke Igor.


"Kamu benar! Kita baik-baik saja!"


Rachel cukup senang, tetapi dia juga tetap bersedih apalagi, melihat banyak juga dari pihak kerajaan penyihir yang tumbang. Namun, korban dari pihak Holy Mount juga tidak kalah banyak.


Bisa dibilang, pertarungan ini cukup seimbang dan tidak ada pihak yang menang maupun kalah. Hal itu membuat mereka sadar bahwa organisasi Holy Mount hanya sengaja melakukan hal ini dengan memancing amarah para penyihir terutama Dimitri karena tujuan utama mereka adalah melenyapkan keberadaan Dimitri dari dunia ini.


Karena mereka tahu bahwa Dimitri bukanlah penyihir biasa seperti yang lainnya ia berbeda.

__ADS_1


Pemimpin datang menemui Rachel, Dimitri dan Igor.


"Kalian hampir berhasil melenyapkan organisasi itu. Tapi, aku sengaja membawa kalian kembali karena mereka hanya akan menjebakmu Dimitri"


Dimitri jelas tahu bahwa keluarga Damien adalah orang-orang berbeda dari yang lainnya. Dan keluarga Damien, memang sangat ampuh jika di gabungkan melakukan ritual itu.


"Bagaimana dengan organisasi itu? Jika kita tidak menghentikan mereka, akan semakin berbahaya!" ucap Rachel


"Kita tidak bisa begitu saja melangkah, mereka orang-orang licik yang bisa mencengkeram dan memasukkan kita ke dalam kandang bahkan, mereka tidak takut dengan kerajaan."


Pria yang berkata hal itu segera keluar dari ruangan tersebut setelah selesai berbicara.


"Igor, apa kakimu baik-baik saja?"


"Ya, seperti yang kamu lihat"


Igor menatap wajah itu dan kemudian dia merasakan sesuatu yang sangat sulit dijelaskan bahkan setelah beberapa tahun belajar di Academy penyihir yang sama, membuat Igor merasa ada sesuatu yang ingin ia katakan pada perempuan itu tetapi rasanya ia takut untuk mengatakan hal itu karena ia tidak ingin membuat semuanya terkesan berbeda setelah semua perasaan itu ia ungkapkan.


***


"Lieva!"


"Hanya kamu yang tersisa, jika aku tidak menyelamatkanmu mungkin kepalamu sudah menggelinding di tanah kala itu"


Perempuan itu bertekuk lutut di hadapan pemimpin organisasi Holy Mount. Siapa dan sejak kapan orang itu menjadi pemimpin Holy Mount tidak ada yang tahu bahkan Lieva tidak berani menatap wajah itu.


Perempuan itu terlalu takut untuk menatap bayangan hitam yang bersuara itu bahkan sejak ia masuk dalam organisasi ini ia tidak pernah melihat wajah dari pemimpin organisasi ini. Ya Iya tahu organisasi ini jelas membawa dampak yang baik karena bisa menangkap para penyihir dan kemudian membuat dunia ini menjadi lebih baik.


Hal yang tidak diketahui oleh perempuan itu adalah organisasi ini malah memperbudak para penyihir demi untuk kepuasan semata bahkan hal itu tidak pernah diketahui oleh Lieva. Lieva masih setia berlutut di hadapan bayangan hitam itu


"Kita kehilangan banyak anggota akibat peperangan tadi tuan"


"Itu tidak seberapa, dan itu juga bagian dari rencana. Aku sudah melihat anak itu dan dia masih belum mau menunjukkan bakatnya. Apakah aku harus mengirimkan hadiah dulu pada anak itu agar dia bisa memperlihatkan semuanya?" Suara itu terdengar mengejek.


Lieva animasi terdiam karena ia juga merasa bersalah atas begitu banyak korban jiwa dari pihak mereka apalagi orang-orang itu sama sekali hanya ingin masuk ke dalam organisasi ini untuk merubah dunia ini karena seperti apa yang terjadi dan juga mereka lihat bahwa para penyihir itu begitu kejam dan juga salah satu dari mereka bisa membolak-balikkan dunia ini Dan juga bahkan bisa membolak-balikkan benua seperti apa yang dikatakan dalam ramalan.


Livea hanya tidak di dunia ini berakhir hanya karena para penyihir-penyer itu sehingga apapun yang terjadi ia akan berusaha untuk mempertahankan organisasi mereka walaupun banyak kecaman dan juga ancaman yang bahkan bisa merenggut nyawa diri dia sendiri. Tetapi perempuan itu tidak peduli menang atau kalah ia tidak akan pernah menyerah sampai titik darah penghabisan.

__ADS_1


Peperangan tadi cukup mengerikan dan juga begitu seru apalagi tidak ada memakai kekuatan baik dari pihak kerajaan maupun dari pihak organisasi ini membuat perempuan ini berpikir bahwa mereka juga cukup sportif. Livea kemudian kembali berkata


"Valentino dan Maks adalah orang baik"


"Mereka sudah bahagia bersama para Demon, kita hanya harus membangkitkan para Demon Livea dan kemudian Valentino dan juga Maks akan kembali pada kita"


Livea sebenarnya hanya berpikir bahwa dia ingin kerajaan sihir itu musnah dan kemudian dunia ini kembali baik-baik saja bahkan perempuan ini berpikir dengan adanya organisasi Holy Mount, semuanya menjadi hal yang baik-baik saja dan dunia tidak akan terpecah-belah apalagi ia juga tahu bahwa Dimitri memiliki kekuatan dahsyat yang bisa menghancurkan dunia dan bisa meluluhlantakkan dunia ini.


"Kamu hebat Livea"


Setelah berkata demikian suara dari bayangan itu pun menghilang dan entah apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu tetapi kemudian ia segera bangkit dan berjalan ke arah kamarnya. Jika pemanggilan para Demon itu bisa mengembalikan Valentino dan juga Maks maka Livea sekarang punya alasan lebih untuk menumbangkan kerajaan.


Perempuan ini hanya berpikir bahwa semua ini demi kebaikan apapun yang terjadi ia harus mengembalikan dunia ini seperti semula tidak ada penyihir dan juga tidak ada yang bersikap bahwa dunia ini adalah milik mereka. Dunia ini, milik bersama.


Livea sebenarnya juga merasa sedikit sedih tapi yang namanya peperangan pasti di kedua belah pihak pasti akan banyak korban yang berjatuhan dan dari pihak Holy Mount dia melihat banyak sekali orang-orang yang berjatuhan bahkan darah mengalir begitu sangat banyak di tanah.


Kerajaan itu harus diberantas dan peperangan ini bukanlah akhir tetapi baru awal dari kehancuran mereka.


***


"Rachel"


Igor datang tiba-tiba saat perempuan itu sedang duduk di kursi di belakang kerajaan. Halaman yang begitu luas dengan beberapa penyihir lainnya yang sedang duduk juga disana.


"Ada apa Igor?"


"Kamu benar baik-baik saja? Dimana Dimitri? Apakah dia juga baik-baik saja?"


Igor menghela nafasnya, namun ia tidak berniat mengatakan apa yang ada dalam pikirannya karena ia merasa bahwa itu adalah hal yang hanya akan memecahkan hubungan mereka dalam satu tim itu.


"Saudaramu itu, sangat hebat Igor"


Igor kembali menatap perempuan itu rasanya ada yang mengganjal di dalam hatinya dan juga ia tidak tahu harus mengatakan apa karena pada kenyataannya ia juga tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa ada sesuatu yang lain dalam dirinya sejak ia pertama melihat perempuan ini.


"Lihatlah yang lain sedang berlatih, ayo kita berlatih bersama" ucap Rachel memberi Igor pedang.


"Baiklah"

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya berdiri sejajar dan kemudian saling melawan satu sama lain sehingga mereka terlihat begitu sangat serasi Dan juga begitu terlihat dekat tanpa disangka seseorang menatap kedua insan itu dari jauh menatapnya dengan tatapan yang aneh dan juga tatapan yang sarat akan kesedihan.


__ADS_2