SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
046 - ROH SIHIR


__ADS_3

“Jadi ... apa yang sebenarnya terjadi pada Fyodor? Apa kilatan cahaya ungu itu?”


Igor mengangguk setuju dengan pertanyaan Rachel. Itu juga hal yang membuatnya penasaran dari tadi.


Selama pertarungan melawan jendral musuh yang kekuatannya bisa dibilang setara, ia tidak teralihkan sama sekali.


Tapi kilatan ungu itu membuatnya berpaling. Entah apa itu.


Di hadapan keduanya, Dimitri  diam. Masih teringat jelas kejadian di medan perang tadi, kejadian saat dirinya berhasil mengalahkan Fyodor.


Mengalahkan penyihir dengan sihir keabadian yang tidak bisa dibatalkan.


***


Fyodor tertawa meremehkan di tengah kepulan asap perang, asap yang timbul akibat sihir-sihir yang meledak beradu.


Pria itu menatap kulitnya yang dilapisi mantra yang berpendar kebiruan, mantra yang dapat mengunci aliran sihir orang yang dijadikan target.


Itu adalah sihir yang menyebalkan walau tidak terlalu berbahaya, tapi dalam pertarungan mortal, makhluk tidak abadi, beberapa menit tanpa sihir hampir setara dengan kematian.


Beda hal bagi Fyodor. Dia adalah makhluk abadi. Immortal. Hal seperti ini hanya akan menundanya membunuh lawan. Paling lama lima menit waktu yang ada untuk mantra itu aktif.


Setelahnya ia bisa mencabik Dimitri lagi.


“Apa ini? Sebuah mantra yang menyegel kekuatan sihir?” Fyodor terkekeh meremehkan. “Mantra semacam ini hanya bertahan paling lama lima menit, apa yang akan kau lakukan dalam lima menit, heh?”


Benar kalimat Fyodor. Menunda lima menit di depan makhluk abadi tidak berarti apa-apa, itu adalah keputusan yang sia-sia kecuali untuk menyelamatkan seseorang atau menyelamatkan diri.


Apalagi dalam kasus ini, Dimitri harus membunuh orang itu untuk menang. Atau semua akan tetap hancur.


Tapi Dimitri malah menyeringai, ia tahu betul itu. Mantra pengikat kekuatan sihir hanya akan menunda kematian, tidak bisa digunakan untuk membunuh Fyodor.


Tapi memang itu rencananya. Dia sama sekali tidak berniat membunuh Fyodor.


“Sistem, mari kita lakukan.”


Dimitri tersenyum miring, hal yang membuat Fyodor merasa ada yang tidak beres.


[Baik, Dimitri. Sungguh, ini rencana brilian. Aku terkesan kau terpikirkan untuk melakukannya.]


“Dimensi spasial!”


Sekejap, hanya bagai kilatan halilintar, atau bagaimana hewan buas yang berkedip cepat, celah dimensi terbentuk di antara mereka.


Berpendar berwarna ungu cerah, melebar cepat. Melahap Dimitri dan Fyodor, lalu menutup kembali.


Di dalam sana, di sebuah dunia yang segalanya bagai dilapisi cat air berwarna ungu cerah,  di dunia yang tidak terhubung dengan kenyataan, terpisah seutuhnya dengan dunia mereka.


Dimitri berdiri takzim, memasang kuda-kuda khusus untuk memperkuat aliran sihir di tubuhnya.


Sementara di hadapannya, sepuluh meter di depan, Fyodor takjub melihat sekitar. Semua berwarna ungu, persis seperti kisah-kisah penyihir hebat masa lalu. Persis seperti ingatannya seratus tahun lalu.


Ia menyeringai jahat.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka ada yang mampu menggunakan sihir Dimensi Spasial di zaman ini. Dimensi Spasial adalah sihir dengan kapasitas penggunaan mana paling tinggi meskipun sihir ini bukan sihir tipe serangan.”


“Terakhir kali aku mengalahkan orang yang membawaku masuk ke dalam Dimensi Spasial adalah seratus tahun lalu. Aku takjub kau mampu melakukannya, Dimitri.”


Dimitri memandang Fyodor dengan tatapan yang dibuat sok santai, padahal dirinya tengah mengumpulkan sejumlah besar sihir untuk rencana finalnya.


Satu-satunya cara mengalahkan Fyodor yang notabene adalah seorang makhluk abadi.


“Ah, jadi kau yang mengalahkan mereka di dalam dimensi spasial dan keluar sebagai pembawa dongeng? Tidak heran mereka kalah, karena mereka melawanmu sendirian.”


Dimitri mencoba berlagak santai, memancing amarah Fyodor.


“Kau bocah yang sombong, Dimitri. Levelmu memang hebat, tapi tidak lebih hebat dibanding para ahli sihir pada masa kejayaan dulu. Kau jauh di bawah mereka. Jadi jangan pikir kau bisa mengalahkanku di sini.”


Dimitri tersenyum. Ia sudah selesai mengumpulkan sejumlah besar sihir dalam tubuhnya. Ia siap untuk rencana akhir.


“Yah, tapi ... sudah kubilang bukan kalau mereka kalah karena mereka melawanmu sendirian?”


Fyodor menatap tidak mengerti.


“Dimensi spasial adalah sihir duel, kau tidak akan bisa membawa rekan ke dalam sini. Satu lawan satu, itulah dimensi spasial.” Ucapnya terbahak, menganggap Dimitri sedang melawak sok tahu.


Dimitri menyeringai menang.


“Kau siap?” Bisiknya pada sistem.


[Lebih dari siap. Kita lakukan kapanpun kau mau.]


“Dimensi spasial memang tidak mengizinkan kita membawa rekan. Tapi itu kalau rekan yang dimaksud adalah sesama makhluk hidup. Apa kau tidak tahu itu?”


Sihirnya masih tersegel. Butuh beberapa waktu lagi sebelum dia bisa kembali menerjang Dimitri dan keluar dari tempat ini.


“Apa maksudmu?!”


“Sistem! Sekarang!”


[Baiklah. Mari kita ubah tatanan ‘Dunia ini’]


Dimitri melepaskan kekuatan sihir berjumlah besar ke udara, menyebar ke segala penjuru dunia dalam dimensi spasial.


Fyodor menatap heran, tidak mengerti apa yang dilakukan bocah di depannya.


Dimitri terus mengerahkan seluruh sihirnya, terus dan terus. Keringat mulai mengucur di dahi dan tubuhnya. Ia memaksakan segala kekuatan sihir untuk menyebar luas.


[Bahaya, vitalitas tubuhmu menurun. Kau harus menghentikan ini atau akan jadi terlalu beresiko.]


“Tidak bisa. Kesempatan kita hanya satu bukan, tidak ada lain kali. Kau hanya harus mendukungku, Sistem.”


Dimitri terus melepaskan intensitas sihir yang begitu besar ke segala penjuru, intensitas sihir yang bisa dirasakan oleh Fyodor.


Tapi pria itu malah tersenyum. Entah apa yang dilakukan Dimitri, sebentar lagi Fyodor akan mendapatkan kekuatannya kembali, Dimitri malah melepas kekuatan sihirnya secara cuma-cuma ke udara.


“Dasar bodoh, kau hanya buang-buang energi, Nak. Apa yang kau lakukan tidak akan mengubah apa pun, Sia-sia! Keabadian milikku tidak akan batal apa pun yang terjadi. Dasar bodoh!”

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, tubuh Dimitri ambruk, nafasnya menderu seperti seseorang yang habis lari maraton seratus kilometer tanpa henti.


“Makan sana, ‘Hal sia sia’ yang baru saja kulakukan.”


Fyodor tertawa lebar. Waktu segel itu sudah pasti habis mengingat mereka sudah berada di dalam dimensi spasial ini lebih dari lima menit.


Namun, saat Fyodor hendak memanggil meteor untuk menghancurkan lawannya yang kelelahan, ia terbelalak hebat.


Mantra itu tidak hilang, pendar-pendar di tubuhnya masih ada. Tetap ada. Terus ada!


“Apa yang kau lakukan padaku?! Kenapa segel ini tidak enyah?!”


Dimitri berdiri, kemampuan regenerasinya membuat pemuda itu cepat pulih. Dengan santai ia meregangkan badan, seakan Fyodor di hadapannya bukanlah lagi sebuah ancaman berbahaya.


“HEI BAJINGAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TUBUHKU?!”


Dimitri mengangkat tangan, melemparkan tombak es yang menembus kepala Fyodor.  Membuatnya terpelanting ke belakang.


Sama seperti sebelumnya, kekuatan keabadian itu membuatnya tetap hidup dan mengembalikan bagian badannya yang hilang dalam sekejap.


Itu benar-benar sihir yang tidak terkalahkan. Tapi ....


“SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU, DIMITRI?!!”


Dimitri dengan santai berdiri, menyeka peluh yang membasahi sekujur tubuh.


“Tidak banyak. Aku hanya menyetel ulang Dimensi Spasial menggunakan seluruh sihir yang kupunya, membuat segala sistem waktu di dimensi ini berhenti. Selesai. Kau paham apa yang akan terjadi jika tidak ada sistem waktu yang berjalan di sini?”


Fyodor terbelalak sambil menatap ukiran mantra yang berpendar di tubuhnya.


“Benar sekali. Mantra itu menyegel sihir lawan. Kuat sekali bukan? Tapi kelemahan mantra itu adalah durasinya yang terbatas. Itu saja. Jadi aku membuat dunia di mana kelemahan mantra itu tidak pernah ada, dan memasukkanmu ke dalamnya, bersama mantra yang menyegel seluruh sihir di tubuhmu. Selesai. Kau kalah, aku menang. Kau akan terjebak di sini selamanya sementara aku kembali ke rumah. Selamat tinggal. Bajingan.”


Fyodor meranggung kencang, dia tidak pernah menyangka keabadian miliknya tetap bisa dikalahkan.


“BEDEBAH KAU, DIMITRI! BAJINGAN!!”


Fyodor memaki Dimitri, teriakannya terdengar ke seluruh penjuru.


Sayang, yang diteriaki sudah kembali ke dunia nyata. Karena bagaimanapun, Dimitri adalah pemenangnya.


Sejak awal, kemenangan di Dimensi Spasial tidak selalu ditentukan oleh siapa yang berhasil membunuh lawan.


***


Rachel dan Igor tidak percaya dengan apa yang mereka dengan. Kalau bukan karena cerita itu datang dari mulut Dimitri, mereka pasti menolak mentah-mentah.


[Hei, Dimitri. Aku sudah menemukan cara dan waktu untuk membuatmu bisa berevolusi menjadi super sistem.]


“Katakanlah.”


[Kau harus mengumpulkan orang yang dipilih oleh Roh Sihir dan membawa mereka ke satu tempat pada saat bulan purnama dua bulan dari sekarang.]


“Baiklah.”

__ADS_1


Dimitri berdiri, meninggalkan dua rekannya yang masih mencerna cerita darinya tadi.


“Tujuan kita selanjutnya sudah ditentukan. Kita harus menemukan empat orang yang direstui oleh Roh Sihir untuk melepas segel yang mengekang para penyintas.


__ADS_2