SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
041 - PERANG TAK KUNJUNG USAI


__ADS_3

"Sistem."


[Baik.]


Sekejap, seluruh benda sejauh mata memandang berubah keunguan, seakan ada tangan jahil yang sengaja menumpahkan cat di atas sebuah lukisan.


Victor menatap terpana ke penjuru ruangan, berdecap takjub. Pemuda di hadapannya memang sesuai rumor. Luar biasa. Tapi ia yakin dengan keterampilan dan sihir hitamnya.


“Menarik. Sejauh yang kudengar sihir sekat dimensi hanya sebuah mitos, kisah-kisah dongeng. Aku sekarang paham kenapa sihir ini dianggap kabar burung. Karena di antara kita berdua, hanya akan ada satu orang yang akan keluar dari sihir ini untuk menceritakannya.”


Victor mengambil kuda-kuda, tongkat sihirnya mengacung ke depan.


“Dan orang itu adalah aku!”


Tanpa aba-aba ia melesat ke depan dengan cahaya merah menyelimuti seluruh tubuhnya. Cepat sekali. Itu adalah aplikasi sihir api tingkat lanjut.


Dimitri sigap merentangkan kedua tangan ke depan, mempersiapkan pertahanan.


“Sistem, Benteng Angin!”


[Kau bergurau? Kita butuh yang lebih kuat.]


Lapisan es berwarna ungu mengambang di depan Dimitri. Tipis, berbentuk butir salju. Tapi itu pertahanan yang cukup.


Victor terpelanting mundur beberapa langkah, lapisan es ungu retak setengah.


[Sudah kubilang, Kan? Dia bukan lawan yang mudah. Kau harus melawannya dengan segenap kemampuan atau kau akan menyesal.]


Dimitri mendengus, mengambil kuda-kuda. Ia meremehkan Victor hanya karena memiliki sistem sihir tingkat tinggi.


“Tidak buruk. Pertahananmu kuat juga. Bagaimana dengan ini?”


Victor mengangkat tongkatnya tinggi, merapal mantra kelas atas. Lingkaran sihir berpendar terang di sekitar kakinya.


Sebuah bola api terbentuk di atas sana, dengan membesar hingga seukuran bukit. Warnanya yang tadi merah perlahan berubah kuning terang, lalu biru.


“Kelihatannya bahaya.” Dimitri bergumam pelan.


[Skala sihirnya luar biasa.]


“Diamlah. Aku harus fokus mengatasi itu.”


“Makan ini!”


Tepat di ujung kalimatnya, Victor melemparkan bola api raksasa itu ke arah Dimitri. Udara menderu ganas saat sihir skala besar itu meluncur.


“Haa!!”


Dimitri mengangkat tangan, delapan pilar es sebesar rumah muncul dari tanah, memblokir hantaman bola api.


Dentuman memekakkan telinga terdengar pilu, dua mantra dengan elemen berbeda beradu dalam level yang sangat tinggi.


Dimitri terbanting mundur dua langkah, Victor menghilang entah ke mana.


Belum sempat menerka ke mana Victor pergi, panah angin melesat cepat ke arah Dimitri. Ia tidak sempat memblokir sihir itu, tubuhnya tercabik.


Darah memercik ke tanah. Beruntung tubuhnya beregenerasi dengan cepat. Jika tidak ia bisa mati.


Dimitri menggeram kesal, asap masih mengepul di mana-mana, dampak dari hantaman sihir es miliknya dengan sihir api milik Victor.


Pemuda itu melempar sihir es ke sembarang arah, serpihan tajam itu melesat cepat merobek apa saja yang dilewatinya.


Tidak ada teriakan apa pun, hanya ada suara tembok pecah dan pohon tumbang akibat sihir es yang membabi buta.

__ADS_1


Tanpa diduga sebuah sihir menghantam keras punggung Dimitri, membuatnya mengaduh tertahan.


“Argh!”


[Gunakan sihir angin untuk menghilangkan kabut es ini.]


Dimitri menggeleng, dia punya rencana. Ia bangkut, memasang kuda-kuda.


Bibirnya merapal sihir tingkat tinggi.


Gelombang berikutnya datang dari balik kabut. Kali ini sihir api. Bola-bola kecil bercahaya melesat cepat, melengking bermanuver saat Dimitri menghindar.


Itu homing magic dengan hulu ledak dahsyat. Beberapa yang tidak berhasil belok menghantam permukaan, membuat tanah beterbangan di udara.


Sudah tidak terhitung berapa kali Dimitri terbanting akibat ledakan itu. Meski tidak terkena secara langsung, itu tetap sihir mematikan.


Di tengah-tengah ledakan yang hendak menghabisinya itu, Dimitri mengangkat tangan ke langit, melepaskan aliran sihir yang sudah berkumpul di jemarinya.


“Keluarlah. Kirin!”


Awan yang berwarna ungu cerah mendadak gelap menghitam, gemeletuk petir menyambar ganas.


Sepersekian detik, petir biru berbentuk kepala naga menyambar istana, meluluhlantakkan semuanya dalam radius lima ratus meter.


Asap mengepul tinggi, bau gosong memenuhi penciuman. Dimitri bangkit berdiri, rintihan terdengar dari balik asap tebal.


“Gunakanlah sihir angin yang tadi kau sarankan.”


[Baiklah. Rencanamu ternyata tidak buruk, untung saja aku sempat menggunakan sihir pelindung sebelum petir besar itu menyambar. Kalau tidak kau sudah sekarat.]


Kesiur angin mengembus ke segala penjuru, membawa kepulan asap pergi menjauh.


Dua puluh langkah dari tempat pemuda itu berdiri, Victor terduduk dengan tubuh nyaris hangus. Serangan tadi sangat cepat dan kuat


Victor terbatuk, darah hitam berceceran di tanah.


“Ini belum selesai!”


Lingkaran sihir gelap muncul dari percikan darah, berlapis-lapis. Ukurannya semakin besar seiring waktu.


“Kau akan mati di tanganku, Dimitri. Kau tidak punya kesempatan melawan sihir ini.”


Dimitri melangkah mundur, panik. Ini sihir hitam dengan lingkar sihir paling besar yang pernah ia lihat. Berbahaya.


Pemuda itu melempar bola api berwarna putih cerah, tingkatan tertinggi elemen api. Berusaha menghentikan Victor.


Namun, bagai api yang dilempar ke air, sihir itu lenyap ditelan aura hitam uang menyelimuti tubuh Victor.


“Sial! Sihir macam apa yang akan dia gunakan? Apa yang harus kulakukan untuk melawannya?”


[Itu Ecthra, salah satu sihir hitam paling terlarang. Sihir pemanggil entitas berbahaya dari antah berantah. Sekali dia menggunakannya, kesempatan hidupmu kurang dari nol persen.]


“Sial! Informasimu tidak membantu, Sistem. Pasti ada cara untuk menghentikannya, bukan?”


[....]


Sistem diam. Tidak menjawab. Di depan sana, di tengah lingkaran hitam yang terus melebar, sebuah tangan besar muncul dari dalam tanah.


“Sial!”


Melihatnya Dimitri mengambil langkah mundur, gentar. Apalagi sedetik kemudian, tangan itu menarik keluar sesosok makhluk hitam legam tinggi besar dengan tanduk panjang.


Matanya merah menyala, dengus nafasnya membuat batu-batu di sekitar meleleh.

__ADS_1


“Hei, Sistem! Bantu aku!”


[....]


Lagi, sistem hanya diam.


Makhluk itu meraung marah, diikuti senyum Victor yang merekah.


“Habislah kau, Dimitri. Kau harus merasa terhormat bisa mati di tangan Azazel.”


Makhluk itu menatap ke bawah, ke arah manusia yang hanya setinggi mata kakinya. Dengan sekali gerakan ia menerjang Dimitri dengan kuku-kuku panjang.


Namun, belum sempat serangan itu mengenai sasaran, Victor terbatuk, tubuhnya kejang, matanya mengeluarkan darah sehitam langit malam.


Makhluk bernama Azazel itu menghentikan cakarnya di udara, menoleh ke arah Victor, menatapnya dalam diam.


Detik selanjutnya Makhluk itu lenyap, kembali masuk ke tanah. Meninggalkan Victor yang tergeletak tanpa nyawa.


“A-apa yang terjadi?”


Dimitri bertanya dengan rasa penasaran tinggi.


[Itu sihir terlarang. Sudah kubilang. Sihir itu butuh energi kehidupan yang besar, menggunakannya saat sedang sekarat hanya akan membunuh diri sendiri.]


Dimitri mengangguk paham. Dengan ini dialah pemenangnya.


Saat keluar dari Dimensi Spasial, Rachel bertanya ke mana saja ia pergi saat pertarungan dengan prajurit Victor pecah.


“Eh, itu ... Victor membawaku ke pegunungan untuk bertarung empat mata. Dia tidak ingin pertarungan kami diganggu. Beruntung aku menang.”


Rachel menatap curiga dengan perkataan Dimitri, merasa ada yang disembunyikan oleh pemuda itu.


“Di mana jasad Victor?”


“Tidak ada, dia menggunakan sihir hitam terlarang untuk memanggil Azazel, tapi tubuhnya malah dilahap oleh makhluk mengerikan itu karena tidak kuat.”


Jelas Dimitri dengan kisah yang di-improvisasi.


“Di pegunungan mana kalian bertarung? Aku tidak mendengar apa pun dari pegunungan di sekitar sini, Victor pasti menggunakan sihir ledakan. Dia kan pengguna elemen api.”


“Eh? I-itu, aku juga tidak yakin di mana.”


Dimitri tidak bisa mengatakan kalau mereka bertarung dalam ruang waktu khusus yang ia ciptakan dengan sihir. Dimensi yang terpisah dari dunia.


Rachel bisa heboh. Dia tidak mau itu.


“Terserahlah.” Gadis itu mengalihkan pembicaraan, Dimitri bersyukur karenanya.


“Kami beberapa waktu lalu melawan prajurit kerajaan, saat ini orang-orang yang menyerah sedang dikumpulkan. Kami mendapat informasi bahwa ini semua ulah Holy Mount. Mereka yang merancang semua kekacauan ini.”


Dimitri menoleh, nama itu menarik perhatiannya.


Memang ia sudah menduga keterlibatan organisasi itu dengan segala perpecahan ini.


“Aku sudah menduganya dari dulu,” Dimitri menatap Rachel, membuat gadis itu terpaksa membuang muka. “jadi sekarang, kita sudah tahu tujuan selanjutnya untuk membawa kembali perdamaian, bukan?”


Rachel menoleh, kali ini mereka bersitatap sekian detik.


“Ya, kau benar.”


“Beritahu yang lain, kita akan langsung menyerang Holy Mount.”


Pertarungan selanjutnya telah ditentukan.

__ADS_1


__ADS_2