
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mereka telah pergi meninggalkan tempat ini. Aku rasa tidak ada yang bisa kita lakukan lagi. Bagaimana cara untuk menyelamatkan nyawa orang-orang kota ini lagi?" tanya Dimitri merasa cukup bingung.
Bagaimana tidak? Tujuan Dimitri datang ke kota ini adalah untuk mencari tahu tentang apa tujuan dari 'Tatanan Dunia Baru' itu.
Dan sekarang jika mereka, sosok yang mengetahui alasan maupun tujuan itu telah menghilang dan pergi.
Bagaimana lagi cara untuk Dimitri dapat menyelesaikan pekerjaannya ini? Mungkinkah sekarang ia harus menjadi sosok yang membuat Raja kecewa dengan pekerjaannya? Raja bahkan untuk pertama kalinya memberikan pekerjaan ini kepada dirinya.
Percaya kepada ia sepenuh hati, jika memang ia dan kedua saudaranya itu mampu menyelesaikan tugas yang diembankan kepada mereka ini.
Namun, apa jadinya sekarang? Tidak ada yang bisa Dimitri lakukan lagi. Semua terlihat begitu mustahil dan sangat sulit.
"Dimitri? Apa kau baik-baik saja?" tanya Rachel mencoba berhati-hati takut dalam kalimat yang ia katakan nanti akan menyinggung perasaan pemuda itu.
Rachel sangat tahu bagaimana perasaan dari Dimitri saat ini. Sebuah kekecewaan yang begitu besar akibat kepergian orang-orang yang dapat menjawab semua misi dari datangnya mereka ke kota ini malah pergi.
Parahnya, mereka bahkan tidak bisa menjawab teka-teki dari perubahan yang terjadi pada orang-orang di kota. Mereka hanya tahu semua itu terjadi akibat bubuk-bubuk putih yang diedarkan oleh seseorang.
Sedangkan untuk mengetahui siapa pelaku sebenarnya, apa motifnya dalam melakukan semua kejahatan ini dan untuk apa.
Semua mungkin hanya akan menjadi sebuah rahasia yang entah sampai kapan mampu terungkap.
Raut wajah Dimitri pun seketika berubah menjadi murung. Ia terdiam seribu bahasa dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.
Meski perilaku Dimitri saat ini tidak separah warga-warga kota yang sudah seperti mayat hidup.
Namun, siapa saja mampu menyimpulkan bagaimana wajah Dimitri saat ini yang sedang menunjukkan tanda putus asanya.
"Dimitri. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu hal. Sihir perpindahan yang dilakukan oleh orang-orang penjahat itu mungkin saja hanya di sekitar lingkungan kota ini saja. Mungkin kita masih bisa mengusahakan semuanya. Jadi, menurutmu apakah tidak lebih baik jika kita memilih untuk per.."
Belum usai, Igor mengatakan kalimat yang ia sendiri tidak tau apakah kata-kata yang ia ucapkan itu akan terjadi. Dimitri pun sudah lebih dulu membungkam mulut Igor dengan kalimat telak yang tak mampu untuk dibantah lagi.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi. Apa yang kau katakan pun hanya didasari dengan kata mungkin yang kau sendiri pun pasti merasa ragu akan kebenarannya. Jadi, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi.
Tidak masalah, bukankah lebih baik jika kita sekarang kembali ke istana dan mengabarkan sedikit informasi yang kita dapatkan? Lagi pula aku rasa kedatangan kita di sini tidak lah sia-sia.
Kita masih memiliki informasi mengenai bubuk-bubuk putih yang akan diberikan kepada Raja," ujar Dimitri mencoba untuk terlihat baik-baik saja meski jauh di lubuk hatinya ada rasa sedih yang begitu dalam.
Namun, entah memang Igor yang tiba-tiba berubah menjadi pria bodoh atau bagaimana. Pria itu tiba-tiba saja malah berucap kalimat yang semakin membuat Dimitri menjadi lemah.
"Tapi, tujuan kita di sini bukan untuk itu. Melainkan mencari tau, apa tujuan dari 'Tatanan Dunia Baru' seingatku," sambung Igor tanpa merasa bersalahnya.
Seperti pria itu yang mengatakan kalimat dengan tanpa wajah bersalahnya, begitu pula yang dilakukan oleh Rachel yang langsung saja menjitak keras kepala pria itu.
"Apa kau ingin mati sekarang juga?" tanya Rachel sambil melotot.
Dimitri pun lalu memimpin langkah mereka, berniat untuk keluar dari lorong bawah tanah yang terlihat semakin gelap pertanda kota itu yang mungkin akan mati sebentar lagi.
Namun, saat Rachel baru saja melangkah. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang menyenggol kakinya.
Semua itu ternyata berasal dari seseorang dengan pengguna tudung hitam itu. Dengan gerakan yang cepat serta suara teriakan, meneriaki suara Igor dan Dimitri, Rachel pun berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan kepergian dari sosok demon itu.
Akan tetapi, setelah portal itu menghilang. Tiba-tiba saja cahaya terang membuat mata ketiga manusia itu menjadi silau.
Secara bersamaan, mereka menutupi wajah mereka menggunakan kedua tangan mereka.
Meski sedikit sulit untuk melihat sekitar , ketika cahaya terang terpancar di lorong itu. Namun, Dimitri yang sudah terlampau penasaran pun mencoba untuk melihat asal pancaran itu.
Sebuah lingkaran sihir yang ada di dinding yang ia lihat sebelumnya tiba-tiba saja menjadi aktif.
Menyadari sesuatu yang tidak biasa akan terjadi, buru-buru Dimitri mengajak kedua saudaranya untuk segera melangkah pergi, meninggalkan lorong itu.
Benar saja, sesuai dugaan Dimitri. Ternyata bukan hanya mantra sihir di dinding itu saja yang aktif. Melainkan semua mantra sihir yang mengelilingi kota itu pun juga turut aktif.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah itu, tiba-tiba saja terdengar suara asing yang mengatakan alasan di balik tujuan para demon dan penjahat itu.
"Dengarkan lah! Jawaban atas pertanyaan kalian terhadap tujuan dari Demon maupun para penggiat Tatanan Dunia Baru itu adalah untuk menghabisi nyawa Dimitri yang bisa menjadi ancaman suatu hari nanti,"
Setelah pesan itu muncul, Dimitri dan yang lain pun masih setia untuk menunggu lanjutan kalimatnya. Namun, ternyata pesan itu hanya sampai di situ saja.
Tidak ada penjelasan lebih yang mampu membuat mereka semua menjadi paham maksud sesungguhnya dari para Demon itu.
Di saat pikiran mereka semua mulai diadu dengan berbagai macam argumen yang lainnya, tiba-tiba saja suara ledakan yang begitu keras pun terdengar mengisi seluruh sudut kota.
Ledakan yang hebat dan mampu menghancurkan seisi kota itu pun ternyata berasal dari sihir-sihir aneh yang sebelumnya mengikat kota Sweethoney itu.
Seolah ledakan sihir itu berarti sebagai hancurnya semua mantra yang menguasai kota Sweethoney itu, akhirnya warga-warga yang terlihat tampak seperti zombie pun menjadi tersadar dan mulai memiliki pikiran selayaknya manusia pada umumnya.
Semua orang pun tampak mulai berlari kencang, berbondong-bondong untuk menyelamatkan dirinya dari semua ledakan yang telah menghancurkan kota yang mereka tinggali itu.
"Kita harus bisa membantu orang-orang yang sudah sadar itu untuk selamat dari ledakan sihir ini. Rachel, Igor. Aku membutuhkan bantuan kalian sekarang juga. Untuk mencegah lebih banyak warga yang tidak selamat, lebih baik kita semua berpencar.
Kalian pergilah masing-masing ke bagian sisi kanan dan kiri ku. Biar aku yang akan menyelamatkan warga-warga kota yang ada di sisi tengah ini," instruksi Dimitri yang membuat Rachel ataupun Igor langsung menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
Mereka pun lalu mulai mengambil porsi mereka masing-masing. Mereka semua saling membantu dan menyelamatkan warga yang sekiranya masih mampu untuk mereka selamatkan.
Sihir yang ada tentu hanya bisa dikalahkan dengan sihir juga. Maka dari itu, Dimitri pun lalu membuka telapak tangan kanan dan kirinya.
Mencoba melawan sihir aneh yang ingin meledakkan bangunan yang didekatnya ada begitu banyak warga kota.
Begitu pula dengan Rachel atau pun Igor, mereka juga menggunakan sihir mereka untuk mencegah akan banyaknya korban dari ledakan besar-besaran dari sihir aneh yang membelenggu kota Sweethoney sebelumnya.
Meski tak mampu menyelamatkan semuanya, namun setidaknya ada sebagian besar warga kota itu berhasil mereka selamatkan.
Sisanya, mereka hanya bisa menyaksikan bagaimana dahsyat dan mengerikannya ledakan sihir-sihir itu, meluluhlantakkan bangunan kota yang sudah warga-warga itu bangun sejak lama.
__ADS_1
"Habislah, kota kita. Hancur lah sudah masa depan kita," tutur salah seorang warga yang tentu saja merasa sangat sedih akan lenyapnya kota tempat ia lahir dan tinggal selama ini.
"Semua ini! Gara-gara bedebah tak bertanggung jawab itu! Mereka yang bertanggung jawab atas semua yang telah rusak dan hancur di kota ini!" geram salah seorang warga lain yang mengingat bagaimana awal mula dari kejadian naas pada kota Sweethoney itu.