
Beberapa waktu lalu.
Saat Dimitri masih berkumpul dan mengukir kebahagiaan bersama dengan para anggota keluarganya.
Tampak, Dimitri yang begitu senang karena sedang berada di antara Ayah dan Ibunya pun tersenyum begitu lebar.
Bahkan Dimitri merasa jika kebahagiaan ini pasti akan terus berlanjut hingga ia tumbuh menjadi pemuda dewasa dan menikah, suatu hari nanti.
"Ayah? Apakah nanti aku juga akan menikah seperti dirimu dan Ibu?" tanya Dimitri yang masih beranjak dewasa itu.
Mendengar pertanyaan polos dari anaknya itu, sang ayah tidak langsung menjawab pertanyaan itu.
Ayahnya memilih untuk tertawa lebih lepas sebelum nanti ia harus memberikan jawaban yang benar kepada sang anak.
"Menurutmu, apakah kau akan menikah?" tanya balik sang ayah yang mencoba bagaimana pendapat Dimitri jika menggunakan pikirannya sendiri.
Dimitri pun seketika terdiam. Mulutnya bungkam dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun lagi. Sepertinya, pria itu tengah berpikir keras saat ini.
Bagi Dimitri, image dia di depan orang tuanya tentu harus lebih baik. Jika saja ia sampai salah bicara, yang ada nanti ayahnya akan menganggap jika pikirannya tidak secerdik sang ayah. Dan Dimitri tentu saja tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Jika bisa, Dimitri harus menjadi sosok yang lebih bijak daripada sang ayah.
Sedangkan sang Ibu, melihat tingkah dan juga percakapan antara anak dan ayah itu membuat Ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan tingkah kedua manusia yang sangat ia cintai itu.
"Menurutku. Tentu saja, Ayah. Aku pasti juga akan menikah seperti Ayah dan Ibu. Karena Bibi dan paman pun juga sama, bukan? Jadi, tidak mungkin jika aku tidak menikah. Tapi, Ayah apakah aku juga akan menikah dengan gadis yang sama seperti Ibu?
Jika tidak ada yang seperti Ibu bolehkah aku memilih untuk tidak menikah Ayah?" tanya Dimitri yang menyerbu sang ayah dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Meski Ayahnya tidak menyangka Dimitri akan menanyakan semua itu namun dengan sabar dan ikhlas hatinya. Ayahnya pun tersenyum sembari mengelus-elus puncak rambut Dimitri dengan begitu sayang.
"Benar, Dimitri. Tentu saja, kau juga pasti akan menikah suatu saat nanti. Ketika kau sudah siap dan dewasa tentunya. Ingat, Ibu memang lah wanita terhebat dan yang paling terbaik satu-satunya di muka bumi ini di antara wanita-wanita lainnya.
__ADS_1
Namun, bukan berarti tidak akan ada gadis lain yang memiliki sikap yang sama seperti Ibu. Suatu hari nanti, kau harus yakin dan percaya selalu. Yakinkan di dalam hatimu ini, jika kau pasti akan bertemu dengan wanita yang sama seperti Ibu.
Meski nanti dia tidak bisa menandingi kehebatan Ibumu, ya! Tapi, setidaknya dia akan menjadi seperti Ibu yang mampu membuat dirimu tenang, nak," balas sang ayah yang membuat Dimitri mengulas senyuman penuh artinya.
Dari jarak yang tidak terpaut terlalu jauh, wajah Ibu Dimitri pun tampak bersedih. Matanya pun seketika langsung berkaca-kaca saat mendengar kalimat menggemaskan yang keluar dari mulut dua pahlawan terbaik di hidupnya itu.
Terlihat setelah itu, Dimitri pun lalu memeluk dengan sangat erat Ayahnya. Seolah pemuda itu merasa jika ini akan menjadi pelukan terakhir yang bisa ia lakukan kepada sang Ayah.
Wajah polos Dimitri pun lalu membuka matanya, dapat ditangkap jelas oleh atensinya bagaimana bulir-bulir bening itu mulai turun begitu saja dari balik pelupuk mata Sang Ibu.
"Ibu? Mengapa hanya berdiri di sana? Kemarilah! Aku ingin sekali memeluk Ibu dan Ayah secara bersamaan di sini," tutur polos Dimitri yang membuat sang Ibu buru-buru melepaskan jejak air mata yang masih tersisa di pipinya.
Sang Ayah pun tampak tersenyum menyambut kehadiran Ibu Dimitri itu.
"Dimitri kecil kita sepertinya sudah mulai dewasa ya, Ayah?" bisik kecil sang Ibu ketika Dimitri memeluk tubuh sang Ibu dan juga Ayahnya secara bersamaan.
Dimitri pun memeluk dengan sangat erat tubuh kedua orang tuanya itu. Kedua orang tua yang pasti akan menjadi saksi atas jalannya kehidupannya suatu hari nanti.
Mendengar hal itu, Dimitri pun lalu melepaskan rengkuhannya pada kedua tubuh dua manusia kebanggaan dalam hidupnya itu.
"Tentu, Ibu. Kau bisa memberikan janji apapun kepada anakmu yang satu ini. Aku pasti dapat berjanji dengan sebaik mungkin dan menepati janji yang telah aku buat," balas Dimitri meyakinkan kedua orang tuanya.
Setelah itu, Ibunya pun menatap sebentar ke arah sang Ayah sebelum akhirnya ia kembali menatap wajah anak lelakinya itu.
"Berjanjilah pada Ibu dan Ayah, jika kau selamanya akan menjadi anak yang baik. Meski nanti akan ada Ayah dan Ibu atau tidak di masa depan, kau harus tetap menjaga dirimu," tutur sang Ibu yang membuat Dimitri merasa ambigu ketika mendengarnya.
Namun, Dimitri yang polos pun seketika langsung menganggukkan kepalanya begitu saja. Kembali memeluk sang Ibu sebelum akhirnya suara gebrakan pada rumahnya pun terdengar begitu nyaring.
"Duduklah!!! Berdiam diri lah di sana dan jangan melakukan gerakan apapun atau kematian mu akan ku percepat!" tegas seseorang dengan langsung menggunakan sihirnya untuk menyekap tubuh Dimitri dan keluarganya.
Dimitri yang saat itu tidak mengerti apapun, langsung saja memberontak untuk dilepaskan.
__ADS_1
"Apa-apaan ini! Lepaskan Ayah dan Ibuku! Pergilah dari rumahku!" teriak Dimitri sambil terus memberontak secara brutal.
Tak lama setelah itu seorang Kaisar pun datang, memasuki rumah Dimitri. Melangkah dengan perlahan seraya membawa sebuah kertas di tangannya.
Tatapannya pun seketika menatap rendah ke arah kedua orang tua Dimitri.
"Kau tau, bukan? Suatu hal yang terlarang dan dilarang keras untuk seorang manusia memiliki hubungan bersama dengan para Demon. Bahkan aku rasa, kau pasti sudah tau resiko yang harus kau tanggung jika hubungan antara manusia dan Demon yang sudah diketahui itu, akan mendapatkan hukuman yang begitu berat.
Kau sudah melanggar aturan itu!" ucap Kaisar Imperium yang membuat Dimitri mengerutkan keningnya bingung.
Apa maksud dari ucapan Kaisar itu? Apa maksud dari hubungan manusia dan para Demon dengan kedua orang tuanya? Tidak! Kaisar itu pasti telah salah dalam menuduh orang.
Ayah dan Ibu Dimitri adalah orang yang baik. Tidak mungkin kedua orang tuanya akan menjadi seseorang yang melakukan pelanggaran bodoh itu.
"Lepaskan, Ayah dan Ibuku! Lepaskan mereka, Kaisar! Ayah dan Ibuku sama sekali tidak bersalah. Mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan para Demon yang kau maksud, Kaisar! Mereka tidak mungkin akan melakukan hal bodoh seperti itu! Cepat! Lepaskan kedua orang tuaku sebelum aku akan membunuhmu, Kaisar! Lepaskan orang tuaku!" teriak Dimitri yang terus memberontak.
Beberapa kali, Ayah dan Ibu Dimitri pun juga mencoba untuk memberikan penjelasan namun yang terjadi malah orang-orang itu hanya diam dan tetap kekeh pada apa yang dikatakan dan ditegaskan oleh Kaisar Imperium.
Satu persatu, warga-warga pun mulai berdatangan ke dalam rumah Dimitri. Tanpa ada yang mampu membantah ucapan Kaisar Imperium itu, keluarga Dimitri pun seketika langsung saja dieksekusi oleh Kaisar Imperium dan pasukannya.
Tepat di depan mata Dimitri, keluarganya dibantai habis tanpa ada belas kasihan barang sedikit pun.
"Dimitri! Dimitri! Ayo selamatkan satu anak lelaki itu!" sadarkan Rachel pada Dimitri yang tiba-tiba saja terdiam seribu bahasa.
Saat itu, anak kecil laki-laki itu hanya bisa menangis dan memberontak untuk meminta orang-orang membantu orang tuanya yang sudah tertimpa runtuhan bangunan itu.
Dengan gerakan yang gesit, Igor pun langsung melesat begitu cepat untuk menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu.
"Setidaknya, luka anak ini tidak lebih parah dari pembantaian yang pernah kita saksikan secara langsung terhadap orang tua kita karena tuduhan bodoh itu," tutur Igor setelah ia kembali dari menyelamatkan nyawa anak itu.
Seolah paham dengan pikiran yang membuat Dimitri menjadi terdiam itu, Rachel pun menepuk pelan pundak pria itu.
__ADS_1
"Tidak masalah, Dimitri. Masa lalu ada untuk suatu hikmah yang baru. Tanpa masa lalu itu mungkin kita tidak akan bisa menjadi akrab seperti sekarang ini. Masa lalu yang sama membuat kita menjadi saling menyatu dan akrab satu sama lain," kata Rachel sembari mengulas senyuman.