SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
045 - EVOLUSI SUPER SISTEM


__ADS_3

“Apa itu Super sistem?”


[Itu adalah entitas sihir terkuat yang tidak tertandingi, bisa menaklukan apapun, melakukan apapun. Bisa dibilang, super sistem adalah entitas dewa.]


Dimitri tertegun mendengar hal tersebut, itu sangat-sangat  di luar dugaan, ia tidak pernah menyangka kalau ada cara untuk menjadi entitas seperti itu.


Bukankah berarti dia bisa saja menghancurkan sebuah benua hanya dengan membalikkan telapak tangan. Berbahaya dan sangat kuat sekali.


“Bagaimana aku bisa berubah menjadi sesuatu seperti itu? Bukankah itu terlalu mengada-ada untuk dijadikan sebuah kenyataan?”


[Tentu saja tidak mustahil. Sulit memang, tapi tidak mustahil. Dan itu nyata, memang nyata. Walau hanya bisa dilakukan pada purnama ke seribu bulan setelah perdamaian di masa lalu.]


“Hah, seribu bulan?”


[Iya, hanya pada bulan itulah kau bisa berevolusi menjadi entitas super sistem. Berat dilakukan, tapi sepadan , kau tahu? Itu adalah entitas berkekuatan sihir paling tinggi. Membuka segel yang mengekang keluargamu dan orang-orang itu hanya segelintir hal yang bisa dilakukan jika kau bisa mencapai entitas tersebut.]


“Kira-kira kapan waktunya?”


[Waktu apa?]


Dimitri berdecak sebal. Padahal sistem baru saja membahas soal waktu untuk dirinya agar bisa berubah menjadi entitas super sistem. Kenapa sekarang dia lupa.


“Waktu aku bisa berubah menjadi Super sistem. Bulan purnama ke seribu dari saat perdamaian yang kau bilang.”


[Aku akan menganalisisnya dulu, mungkin butuh beberapa waktu sampai mendapatkan hasilnya. Untuk sekarang aku belum bisa memberikan jawaban pasti.]


Dimitri mengangguk paham.


“Kita harus pulang, mereka butuh perawatan serius.”


Igor dan Rachel mengganggu, mereka memanggil pasukan lain untuk membantu membopong orang-orang yang terkena segel sihir.


Mereka terpaksa pulang berjalan kaki, status para penyintas yang tersegel dengan segel sihir rumit ini membuat keadaan sedikit rumit.


Segel sihir yang diberikan pada mereka membuat orang-orang ini tidak bisa menerima sejumlah besar sihir berkapasitas tinggi.


Dan sayangnya, teleportasi termasuk salah satu sihir yang tidak bisa mereka terima, atau jika tetap dipaksakan, mereka akan mati.


Satu-satunya sihir yang bisa mereka terima adalah sihir penunjang kehidupan. Healing. Penyembuh. Selain itu, semua sihir beresiko memutus tali kehidupan mereka.


Jadilah mereka berjalan menuju kota terdekat untuk mendapatkan alat transportasi. Kereta kuda akan sangat membantu.


Walau akan butuh lebih dari dua puluh.


Kereta kuda di istana sebelumnya hancur semua, kudanya pun mati terkena hantaman sihir yang membabi buta. Menyerang tanpa arah.


Maka dari itu mereka terpaksa berjalan kaki.


Dimitri bisa saja melakukan teleportasi sendiri, tapi sebagai pemimpin, ia tidak boleh egois. Lagi pula sudah sejak lama ia tidak melakukan perjalanan jauh menggunakan otot alih-alih sihir pemindah.

__ADS_1


“Hai, Dimitri.”


Rachel menyapa sambil melangkah ke sisi pemuda yang sudah sejak lama ditaksirnya itu, menautkan jemarinya di belakang punggung.


Meski sudah sering berbincang dan selalu berkelana bersama, teman seperjuangan, dan bahkan satu regu.


Rachel tetap tidak terbiasa berada di dekat pemuda itu. Jantungnya selalu berdegup kencang, tidak karuan, wajahnya akan memerah jika ditatap oleh Dimitri.


Rachel tahu ini namanya suka, cinta, tapi ia memilih untuk memendamnya dan berusaha bertingkah biasa saja. Bahkan meski itu sulit.


Ia juga tahu kalau Dimitri menyadari perasaannya. Entah kenapa pemuda itu tetap diam meski tahu segalanya.


“Oh, Rachel, ada apa?”


Dimitri menyahut santai, tidak pakai perasaan. Pemuda itu tahu benar hati gadis ini melantunkan lagu cinta untuknya. Tapi sayang, hatinya memilih nada yang lain.


“Tidak apa-apa, aku hanya .... senang kita menang.”


“Ah, aku juga senang kita menang.”


[Dia berbohong. Dia tadinya ingin bilang kalau dia senang berada di sisimu.]


Dimitri tersenyum mendengar keterusterangan sistem. Untung Rachel tidak bisa mendengarnya.


Kalau tidak, sistem pasti sudah dibantai habis oleh gadis itu—kalau hal itu bisa dilakukan.


Entah kenapa yang keluar dari mulutnya malah begitu. Apa itu ‘senang kita menang’. Sial.


‘Bodoh, bodoh, bodoh! Apa sih Rachel, kau seharusnya bilang kalau kau senang bisa satu tim bersamanya, atau bilang senang akhirnya bisa di dekatnya. Atau apalah! Dasar bodoh!’


Rachel memaki dirinya sendiri.


“Kenapa wajahmu kesal begitu?” Dimitri bertanya saat wajah Rachel kelihatan seperti ingin meledak.


[Dia kesal karena gagal jujur padamu. Aku yakin dia sedang memaki dirinya sendiri. Aku berani bertaruh untuk itu.]


“Eh? Ti-tidak, aku tidak apa-apa. Hanya ... Ah, iya, aku hanya kesal karena tidak bisa melihat Victor mati.”


Yes! Kali ini Rachel berseru menang. Otaknya selalu bagus dalam mencari alasan. Kadang. Yah, terkadang.


“Yah, mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa melihat mayatnya. Dilahap oleh Azazel.”


Mereka memasuki kawasan hutan asri yang terkenal ramah terhadap petualang. Hutan yang hampir tidak memiliki monster berbahaya.


“Oh, iya, Dimitri. Sebenarnya apa yang terjadi pada Fyodor? Aku tidak mengerti sama sekali. Maksudku, kejadian itu hanya sekejap saja. Aku ingat beberapa waktu sebelumnya kau masih dibantai habis-habisan olehnya, lalu aku fokus ke pertarungan dan sekejap kemudian ....”


Kalimatnya menggantung di atmosfer hutan, kunang-kunang mulai bermunculan tanda kalau hari sebentar lagi padam.


“Kau berdiri disana, kelelahan. Tanpa adanya Fyodor. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku ingat jelas ada kilatan berwarna ungu datang dari arahmu, sekilas saja, tapi aku yakin. Apa itu? Apakah sihir terhebat lainnya milikmu?”

__ADS_1


Igor yang mendengar pembicaraan mereka ikut maju, menghampiri adik angkatnya itu.


“Aku juga penasaran soal pertarunganmu dengan Fyodor. Dia itu sudah menjadi makhluk abadi yang sangat hebat, aku tidak pernah tahu ada sihir yang bisa melenyapkan makhluk abadi. Apa itu?”


Dimitri menghentikan langkah, tidak langsung menjawab.


“Akan kuceritakan saat kita beristirahat.”


Setelah berkata demikian, pemuda itu membalikkan badan ke arah prajuritnya yang sudah menunggu sejak dirinya menghentikan langkah. Mereka menunggu instruksi selanjutnya.


Di sekeliling mereka, kunang-kunang tampak menawan dengan pendar kebiruan melayang-layang di udara. Suasana hutan tenteram sekali, cocok sebagai tempat menetap.


Dimitri memutuskan untuk beristirahat di sini.


“Kita akan bermalam di sini. Sekarang, persiapkan tenda untuk mereka yang terluka, yang masih bisa berdiri carilah kayu bakar.”


“Siap, Tuan Dimitri!”


Para prajurit penyihir itu bahu-membahu mendirikan tenda, mencari kayu bakar.


Meski bisa menggunakan sihir,  disiplin mereka adalah untuk melakukan pekerjaan ringan dengan tenaga dan otot.


Lagi pula jika semua hal kecil menggunakan sihir, mereka akan sulit memulihkan diri. Berhenti menggunakan mana dalam tubuh untuk sementara waktu akan memulihkan energi sihir mereka.


Hanya dalam beberapa menit, semua selesai dipersiapkan.


Beberapa penyihir yang mendalami ilmu memasak bertugas menyiapkan makan malam, lainnya menyalakan api, berburu bahan makanan seperti rusa dan kelinci.


Aroma sup lezat serta daging bakar segera memenuhi udara, menggoda penciuman para prajurit yang sedari awal pertempuran belum mengisi kembali perut mereka.


Suasana malam itu sungguh tenteram, mereka duduk mengelilingi api unggun. Mereka saling merangkul, merayakan kemenangan dan keselamatan.


Sesekali menangis sedih bersama mengenang rekan mereka yang gugur di medan tempur. Lalu berdoa dan mengucap hormat pada mendiang.


Bangga memiliki rekan yang gugur dalam perang menjunjung kebenaran.


Di tenda-tenda, penduduk kerajaan dipersilakan beristirahat setelah perjalanan. Kebanyakan mereka bukan penyihir, hanya manusia biasa.


Juga para penyintas yang selamat dari penjara itu, mereka diberikan perawatan di tenda-tenda khusus yang dijaga oleh para penyembuh.


Fisik mereka tidak sekuat para penyihir yang malah menghabiskan waktu bersenda gurau alih-alih beristirahat.


Hanya Dimitri, Rachel dan Igor yang tidak ikut merayakan kemenangan. Dimitri tadi sudah menyampaikan pidato singkat dan kalimat penyemangat. Tapi itu saja. Dia tidak ikut mengitari api unggun. Begitu pula dua temannya.


Bukan karena Dimitri, Igor atau Rachel tidak asyik, atau karena mereka menganggap para prajurit adalah bawahan. Bukan.


Mereka tidak ikut karena kehadiran mereka hanya akan membuat keadaan di sekeliling api unggun menjadi canggung. Terutama kehadiran Dimitri sebagai komandan.


Di dalam tenda paling luas itu, ketiganya sedang membicarakan suatu hal penting.

__ADS_1


__ADS_2