
Entah apa yang terjadi, Fyodor menghilang dari pandangan semua orang, menyisakan Dimitri yang berdiri gagah dengan nafas menderu.
Peluh membanjiri pelipis, mengalir membentuk anak sungai melewati rahang kokoknya.
Entah apa yang terjadi pada Fyodor, jasadnya tidak ada, kejadian itu hanya sekejap mata. Sekali kedip.
Tidak ada yang memperhatikan karena setiap orang tengah bertarung dengan semangat yang sudah patah.
Yang jelas tadi, beberapa detik sebelumnya, mereka melihat kilatan cahaya berwarna ungu terang. Sekejap, bagai kilat.
Lalu Fyodor menghilang.
Meski tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, melihat pemimpin pasukan lawan menghilang entah kemana, moral pasukan penyihir Dimitri kembali naik.
Kali ini semangat mereka membara, berkobar-kobar. Andai semangat memiliki wujud fisik, para penyihir itu layaknya terbakar oleh api.
Moral mereka memuncak drastis, fokus mereka kembali, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Bola api melesat ke berbagai arah, bertabrakan dengan sihir es dan tanah, menciptakan ledakan yang memekakkan telinga.
Lawan menahan dengan tameng gelap, kokoh. Itu pertahanan kuat. Tapi serangan bertubi-tubi dari pasukan penyihir Dimitri lebih dari cukup untuk merobeknya.
Dengan cepat keadaan berbalik, Rachel berhasil menghindari tembakan angin yang dilancarkan jenderal musuh, meliuk layaknya berdansa.
Fokusnya yang kembali melihat Dimitri menang entah bagaimana, membuatnya bisa lebih gesit dan lebih cepat melancarkan serangan. Lebih presisi.
Rachel membalas balik dengan melemparkan sihir tanah ke kaki lawan berusaha menghentikan pergerakan jenderal musuh.
Satu serangan melesat. Rachel menghindar serangan balasan sambil merapal mantra es yang lebih presisi. Melemparnya ke kaki lawan.
Kena!
Jenderal itu terjatuh, kakinya beku, pergerakannya terhambat. Dengan cekatan Rachel melompat, merapalkan mantra api yang kuat.
Ujung tongkatnya menyala, percikan api merah berkobar.
“Mati kau!”
Bola api itu melesat ganas, tapi masih bisa ditahan oleh tameng hitam yang sempat dirapalkan jenderal itu.
Tidak sampai di situ, Rachel terus menyerang membabi buta, melemparkan serangan bola api bertubi-tubi.
Perlahan tameng itu retak, lalu hancur lebur. Rachel berhasil membakar hangus kepala jenderal itu dengan serangan gilanya.
Sedangkan Igor entah bagaimana sedang mencabik-cabik tubuh lawannya dengan sabit es . Puluhan sabit es. Ia seperti penjagal yang suka membantai orang.
Darah memancar ke segala arah, membuat yang melihatnya terbirit ketakutan. Bahkan tentara kawan juga berlari menjauh.
Mereka semua semangat, musuh terdepak mundur dengan kuat. Kali ini giliran pasukan organisasi Holy Mount yang kehilangan moral mereka.
Memang kepala adalah inti kekuatan, kehilangan kepala akan membuat sisanya tidak terkoordinasi.
Pemimpin orang-orang itu hilang entah ke mana, membuat bawahannya gentar dan takut saat melihat Dimitri mengangkat tangannya ke udara.
Cahaya benderang keluar dari tangan pemuda itu, melihatnya sangat menakjubkan sekaligus mengerikan.
__ADS_1
Entah sihir macam apa yang akan dilancarkan untuk membunuh para penjahat yang lintang pukang melarikan diri.
Itu jelas sihir hebat, Dimitri bukan tandingan mereka semua bahkan jika mereka bersatu. Dimitri adalah lawan pemimpin mereka, yang saat ini entah dimana rimbanya.
“Kalian tidak akan bisa kabur.”
[Rantai jiwa rasanya bagus untuk mengekang mereka semua.]
Dari tangannya yang mengacung tinggi, keluar garis-garis cahaya yang melesat cepat, berpendar hijau, jumlahnya puluhan. Mengejar para penjahat.
Cepat sekali gerakan cahaya itu, licin, berkelit. Seperti tidak bisa meleset sekali target telah ditentukan.
Orang yang terkena pancaran cahaya itu menjerit singkat seakan jantungnya diledakkan, berdebum jatuh, untuk sesaat kemudian berdiri tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
Hanya butuh kurang dari setengah menit, setiap anggota organisasi Holy Mount yang selamat sudah terkena garis cahaya dari tangan Dimitri.
“Apa yang kau lakukan pada mereka? Sihir apa itu?”
Rachel bertanya sambil mendekat penuh rasa penasaran, diikuti Igor di belakangnya.
“Ini Rantai Jiwa, sihir yang mengikat jiwa mereka agar tidak kabur. Sihir ini efektif karena mengekang keinginan mereka untuk kabur. Jadi meski mereka ketakutan atau apa pun, tidak akan pernah berkeinginan untuk kabur.”
Rachel menatap takjub, itu sihir yang baru ia dengar. Sedangkan di belakangnya, Igor mematut-matut mengerti.
Igor pernah membaca sihir itu dari buku mantra warisan keluarganya, tapi ini pertama kali ia melihatnya dengan mata kepala sendiri.
“Kenapa kau tidak menggunakan sihir ini untuk melawan Fyodor? Bukankah ini sihir yang membuat orang yang terkena menuruti perintahmu?”
Dimitri mengernyit ke arahnya. “Apakah kau tidak mendengarkan perkataanku? Ini hanya mengikat keinginan seseorang untuk kabur, itu saja. Tidak bisa digunakan untuk memerintah.”
Rachel ber oh pelan, agak tersipu.
Dimitri tidak menggubris tingkah Rachel. Kembali fokus pada orang-orang jahat yang sudah terkena sihir rantai jiwa.
Sosok-sosok berjubah gelap itu melangkah gontai mengikuti perintah Dimitri, selain karena takut, ada hal lain dalam diri mereka yang tidak beres.
Entah kenapa, mereka merasa tidak punya keinginan untuk kabur.
Melihat pasukan musuh berkumpul dalam satu lingkaran, para penyihir di bawah kepemimpinan Dimitri langsung siap siaga. Mengangkat tongkat sihir sambil merapal mantra channeling.
Mereka mengira bahwa orang-orang itu hendak menggunakan mantra tingkat lanjut dengan mengumpulkan kekuatan.
“Tidak perlu takut, mereka tidak akan berani melakukan apapun karena itu hanya akan mengancam nyawa mereka sendiri.”
Dimitri mengangkat tangan menghentikan ketegangan di antara prajuritnya.
Mereka semua saling tatap tidak mengerti. Tapi karena yang berbicara adalah pemimpin mereka, semuanya mengendurkan kewaspadaan, meletakkan tongkat sihir mereka.
“Dimana keluargaku? Orang-orang yang kalian tahan untuk uji coba?”
Tidak ada yang menjawab, Dimitri melemparkan balok es sebesar pohon pada salah seorang anggota Holy Mount. Membunuhnya seketika.
“Jawab, atau kalian akan berakhir sepertinya.”
Mereka saling tatap, ngeri dan takut. Dimitri tidak main-main dengan ucapannya. Dia tidak pernah main-main dengan penjahat.
__ADS_1
“Aku tanya sekali lagi, di mana kalian menyekap keluargaku dan orang-orang yang kalian culik untuk uji coba?!”
Sepuluh deting tidak ada yang menjawab, Dimitri mengangkat tangan tinggi. Tombak-tombak api bermunculan di udara, besar dan berbahaya.
Membuat orang-orang itu gemetar ketakutan.
“Di-di markas kami di gunung Greelop!” Cicit salah satu anggota mengangkat tangan, ternyata dia lebih takut mati daripada berkhianat.
“Maju!”
Dimitri memerintah tegas, laki-laki itu tergopoh berlari ke depan menghampiri Dimitri.
Tepat saat dia sampai di hadapan Dimitri, tombak-tombak api di udara melesat kencang, membakar anggota Holy Mount dengan ledakan mematikan.
“Aargh!!!”
“Tidak!”
“Aaahhh!”
Orang-orang itu menjerit meregang nyawa, kulit mereka mengelupas, terbakar menjadi abu.
Satu orang yang tadi menjawab bergidik ngeri melihat rekannya mati mengenaskan, beruntung ia menjawab pertanyaan Dimitri.
“Sekarang tunjukkan jalan ke markas mu, atau kau akan kubuat merasakan kematian seribu kali dalam sehari.”
Demi mendengarnya, laki-laki itu mengangguk panik.
Penyelamatan dimulai. Dimitri melakukan teleportasi skala besar untuk memindahkan seluruh prajurit ke lokasi yang sudah ditentukan.
Mereka muncul di sebuah bangunan di kaki gunung, bangunan yang lebih cocok disebut kastil ketimbang kerajaan. Kasti hitam yang suram.
“Hiyaah!”
Sekali serang, pintu kastil yang tingginya delapan meter langsung porak poranda, hancur lebur berkeping-keping dihantam bola api.
Dimitri terburu-buru menyusuri kastil, diikuti Rachel dan Igor. Tentu saja anggota Holy Mount yang tersisa ikut mereka, ia bertugas menunjukkan jalan.
Mereka sampai di sebuah penjara, ada sekitar belasan orang yang dikurung di sana. Keadaan mereka lemas, kurang makan. Entah apa yang dilakukan organisasi Holy Mount pada mereka.
“Rachel, bebaskan mereka!”
Tanpa menunggu lama Rachel menebas jeruji besi itu dengan bilah es sihir, membantu mereka keluar.
Ketiganya senang karena akhirnya bisa menyelamatkan keluarga mereka sekaligus orang-orang yang diculik.
Tapi kesenangan itu hancur ketika anggota terakhir Holy Mount yang tersisa memberitahukan pada Dimitri bahwa orang orang yang sudah diculik tidak bisa bebas semudah itu.
“Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada mereka, kenapa mereka tampak begitu lemah?”
Laki-laki itu ragu menjawab.
“Mereka semua sudah dipasangi segel sihir dengan garis mantra yang sangat rumit, segel itu mengonsumsi energi kehidupan mereka. Hanya tuan Fyodor yang bisa melepasnya karena itu adalah segel sihir yang ia ciptakan.”
“Sial! Apa tidak ada cara untuk melepaskannya?”
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Tapi saya hanya bawahan, tidak tahu informasi lebih.”
[Ada. Kau harus berubah menjadi Super Sistem.]