
Setelah terbentuknya pasukan Supreme Wizard, mereka langsung menjadi pusat perhatian. Sebab untuk pertama kalinya, Dimitri menerima murid. Apalagi kemampuan belajar mereka sungguh luar biasa cepat dibandingkan anak-anak seusianya. Dalam waktu singkat, tim ini menjadi buah bibir di kalangan bangsa atas, maupun rakyat biasa. Dari sinilah muncul rasa iri di hati seseorang.
“Sialan!!! Aku jijik sekali mendengar nama kelompok sombong itu terus dibicarakan di jalanan! Padahal mereka hanya anak rendahan dari pinggir jalan!!” kata sosok pucat dengan rambut panjang tersebut.
Dia adalah Valentine Maks. Seorang bangsawan dari pinggiran ibu kota yang memiliki penampilan misterius. Pemuda ini memiliki kulit putih pucat namun bibirnya semerah darah. Dia selalu memasang wajah angkuh meski penampilannya begitu menawan. Dia adalah sosok yang sangat ingin berdiri di sisi Dimitri. Namun langsung ditolak oleh jenderal muda itu karena dia menyadari ada energi negatif dari sosok valentine ini.
“Tuan, mengapa anda tidak menantang mereka untuk masuk ke labirin yang telah anda atur sedemikian rupa? Jika kemampuan mereka memang demikian hebat tentu Mereka bisa keluar dengan selamat,” tutur sang pelayan setia dari sisinya.
“Ide bagus, kepala pelayan!! Segera buat pengumuman besar-besaran bahwa aku mengadakan sayembara permainan kecil-kecilan. Aku menantang siapapun orang untuk melewati labirin misterius di rumahku ini. Sertakan juga pengumuman hadiah yang begitu besar bagi mereka yang berhasil lolos dengan selamat dari labirin ku ini,” kata Valentine dengan senyum mengembang mengerikan di wajah pucatnya.
Pria misterius ini tersenyum bahagia membayangkan sepuluh orang yang dianggap sebagai musuh terjebak, ataupun mati di dalam labirin yang telah dia atur. Pria ini sangat yakin pemuda-pemuda itu tidak akan bisa lolos dari labirinnya yang mengerikan. Sebab Dia sudah meletakkan beragam jebakan, dan racun di antara jalan yang berliku, dan mengerikan.
“Eh! Guys, kalian sudah dengar kabar yang menggemparkan belum?” tanya salah seorang murid anggota tim Supreme Wizard, Sana. Dia adalah seorang gadis dengan rambut pendek berwarna merah alami.
Gadis ini baru saja kembali dari pasar, dan membawa kabar mengagumkan. Sehingga dengan penuh semangat dia ingin segera mengatakan hal itu pada semua rekan-rekannya Di tim Supreme Wizard.
“Ada kabar apa saja?” tanya para anggota yang sedang berkumpul di dapur. Mereka sedang mempersiapkan makan siang untuk seluruh anggota tim.
Di bawah didikan Dimitri, anak-anak ini dituntut untuk mandiri agar bisa mengurus diri mereka sendiri. Jadi mereka dituntut bisa memasak, bertarung, maupun menjaga kesehatan di saat-saat genting. Lalu yang terpenting dari itu semua, mereka dituntut untuk bisa bekerja sama dengan rekan satu timnya siapapun itu. Tidak peduli Dia lelaki maupun wanita, lebih tua maupun lebih muda, mereka harus siap tolong menolong antar sesama terutama rekan tim mereka.
__ADS_1
“Aku mendengar ada seorang bangsawan di sudut kota membuat sayembara untuk siapapun yang bisa melewati labirin ciptaannya. Aku dengar hadiah yang dijanjikan cukup besar!!” ucap gadis itu dengan senyum merekah, senang.
“Beberapa anggota ikut berbinar mendengar ucapan Sana. Sebagai anak dari golongan bawah berapapun nilai uang yang mereka dapatkan pastilah itu terasa begitu banyak. Karena itulah mereka sangat senang jika mendapatkan misi, sebab mereka bisa mendapatkan upah.
“Hemm, Bukankah ini sedikit aneh? Bayaran tinggi hanya untuk melewati lorong labirin? Bukankah itu berarti labirinnya adalah medan yang cukup berbahaya?” tanya salah seorang gadis yang terkenal pemalu, dan sedikit penakut.
Mendengar ucapan gadis ini semua anggota mulai saling menatap dengan keraguan. Mereka semua setuju bahwa ucapan gadis yang rambut panjang ini adalah benar. Tidak ada harga yang mahal untuk sesuatu yang sederhana di dunia ini.
“Ayolah, guys! Apapun ujiannya, kita pasti bisa melewatinya bersama-sama! Pikirkan saja imbalannya!” ucap Sana masih berapi-api. Gadis tomboy ini nampaknya sangat berambisi ingin mendapatkan hadiah uang tersebut.
“Sana benar. Seperti yang Tuan Dimitri pernah katakan, kerja kelompok bisa menyelesaikan segalanya. Bagaimana kalau kita berkunjung ke sana sekaligus melatih ilmu yang telah kita dapatkan dari Tuan selama ini?” usul seorang pemuda paling bijak di kelompok itu, Gabriel.
Mendengar ucapan sang pemimpin kelompok semua anak pun sepakat untuk berkunjung ke labirin Valentine jika waktu mereka sudah luang, dan Dimitri sudah mengizinkan.
“Kenapa anak-anak dari kelompok itu belum datang juga?!” keluhnya sembari meminum cairan merah dari gelas yang indah.
“Mungkin saja mereka belum mendengar hal ini, tuanku. Sebab mereka terpenjara di dalam asrama yang ketat. Bisa jadi mereka belum mendengar kabar soal labirin dan hadiah besar dari Tuan,” jawab sang pelayan dengan sopan.
Saat ini Valentine sedang duduk di kursi mewah. Ditemani segelas anggur dia menyaksikan orang-orang yang merasa memiliki kemampuan gagal melewati labirinnya. Dia duduk sembari menatap keluar jendela yang menyuguhkan pemandangan hamparan labirinnya yang begitu indah, namun mengerikan. Valentine nampak begitu bangga orang-orang tidak bisa melewati labirin buatannya tersebut.
__ADS_1
“Padahal sudah banyak orang-orang yang mencoba labirinku. Tapi targetku justru belum datang. Ini sedikit menjengkelkan,” kata Valentine sembari meremas kuat gagang gelas. Wajah pucat pria dewasa ini terlihat sangat kesal.
“Sabar, tuanku. Sebentar lagi mereka pasti akan datang. Anak-anak itu pasti tidak tahan mendengar banyaknya hadiah yang akan mereka dapatkan jika berhasil melewati labirin, tuanku,” sahut sang pelayan lagi. Pria dengan seragam hitam putih itu terlihat begitu tunduk di samping Valentine.
“Semoga ucapanmu benar, Simon. Aku tidak sabar melihat mereka satu persatu mati di dalam labirin itu,” gumam Valentine sembari tersenyum melihat labirin buatannya. Ranjau darat yang ditutupi tembok hijau itu berjajar rapi menanti mangsa jati mereka.
Keesokan harinya, seluruh anggota tim Supreme Wizard bersiap. Mereka semua mengenakan seragam putih yang terbuat dari bahan terbaik.
Seragam ini memiliki lengan panjang dan juga celana panjang. Di bagian bahu terdapat kain tambahan yang melingkar menutupi seluruh bahu seakan seperti sayap yang sedang tertutup. Di bagian depan baju ada kancing dengan pemilihan bahan dari berlian dan kain sutra yang begitu mewah.
Dimitri sangat memanjakan mereka terlihat dari seragam yang mereka dapatkan. Seragam ini dipesan khusus oleh Dimitri untuk murid-muridnya tersebut. Sehingga mereka memakainya dengan penuh kebanggaan dan percaya diri.
Setelah mendapatkan izin dari gurunya, yaitu Dimitri, kesepuluh pemuda itu pun menuju ke kediaman Valentine. Mereka semua menuju ke tempat bangsawan itu menaiki kuda putih yang nampak tangguh.
Di sepanjang perjalanan lima kuda putih yang membawa 10 orang pemuda dengan pakaian putih tentu sangat menarik perhatian. Ditambah lagi wajah kesepuluh pemuda-pemudi itu sangatlah menawan. Mereka berubah sangat menarik semenjak di bawah dukungan Dimitri, sang jendral muda terbaik saat ini.
Kedatangan 10 pemuda itu langsung menyita perhatian orang-orang yang sedang berkumpul di depan pintu masuk labirin.
“Wah, bukankah itu Supreme Wizard?! Mereka anak didik jendral Dimitri ‘kan? Sedang apa mereka di sini?” gumam salah seorang di depan gerbang itu sembari berbisik pada rekannya.
__ADS_1
“Bukankah seharusnya mereka masih di karantina di asrama khusus? Lantas sedang apa mereka di sini, ya?”
Bisik-bisik dari peserta lain semakin riuh terdengar. Mereka semua umumnya mempertanyakan kehadiran Supreme Wizard di tempat seperti itu. Bahkan ada yang menduga mereka datang untuk membersihkan tempat itu. Kedatangan mereka seakan mengganggu jalannya kompetisi yang sedang seru. Mereka tidak tahu bahwa kesepuluh pemuda itu datang untuk memeriahkan suasana.