
Dimitri bersama Rachel dan Igor memimpin pasukan penyihir menuju destinasi selanjutnya, markas Holy Mount.
Pakaian Dimitri yang compang-camping sudah kembali seperti semua, sistem menggunakan sihir restorasi untuk mengembalikannya ke keadaan semula.
Begitu pula Rachel dan Igor, juga semua pasukan penyihir yang mengikuti mereka. Itu sihir ringan dengan skala fantastis.
Tiba-tiba, belum sempat mereka meninggalkan kerajaan, satu per satu api hitam muncul di atap-atap rumah, berkobar sesaat sebelum menghilang. Jumlahnya puluhan.
Hal itu membuat Dimitri dan kawanannya kaget, mereka menatap tajam pada sosok-sosok berjubah gelap dengan tudung yang menutupi wajah mereka.
Sosok-sosok itu tetap diam hingga sebuah api paling besar meledak tepat di depan istana, gelombangnya menggoyahkan mental pasukan Dimitri.
Itu Fyodor. Fyodor Efgen. Pemimpin Holy Mount.
Pasukan Dimitri disergap oleh organisasi bejat itu.
Namun bukannya ketakutan, Dimitri malah menyeringai senang. Ini berarti mereka tidak perlu melakukan perjalanan jauh hanya untuk m3nemukan Holy Mount.
Baru saja Dimitri maju satu langkah hendak memulai pertarungan, salah satu anggota Holy Mount dengan tanda merah di jubah hitamnya maju. Ia adalah jenderal pasukan Fyodor.
“Berhenti, Tuan Dimitri. Kau tidak harus melawan kami.”
Pemuda itu mengernyit heran dengan seruan sosok berjubah dua puluh langkah di depannya. Suaranya lantang, namun masih dengan intonasi sopan. Penuh hormat.
“Apa yang kau maksudkan dengan kalimatmu itu? Tidak perlu melawan kalian? Aku hendak mengembalikan kedamaian dunia sihir, dan kalian adalah hama yang harus kubasmi!”
Fyodor terdengar menahan tawa mendengar emosi Dimitri, tapi tidak menyela pembicaraan bawahannya.
“Kami punya penawaran untukmu?”
“Penawaran?”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Iya, tuan kami, Fyodor, akan memberikan keabadian dan kekuatan tiada tara jika kau bersedia bergabung dengan Holy Mount. Holy Mount tidak ingin berkonflik dengan penyihir hebat sepertimu, kau akan menjadi kekuatan hebat bagi Holy Mount untuk mencapai tujuan kami membenahi tatanan dunia.”
Rachel hendak maju dan berteriak, ia mulai muak dengan omong kosong jenderal Holy Mount.
Igor sigap menahan gerakannya, menggeleng diam saat gadis itu menatap protes. Biarkan Dimitri mengurusnya. Maksud pria itu.
“Membenahi tatanan dunia katamu? Memang apa yang salah dengan dunia kita sampai-sampai kalian melakukan segala kekacauan ini?”
Jenderal Holy Mount itu mengangkat tangan kanan, sebuah cahaya berpendar di udara, membentuk lingkaran besar berwarna putih dengan beberapa bercak hitam yang menyebar tipis seakan mencemari bola putih.
“Dunia ini tidak seimbang, Tuan Dimitri. Kau bisa melihat kekuatan hitam selalu dikucilkan dan dibuang. Padahal keseimbangan itu penting.”
“Banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh sihir putih, di samping itu sihir hitam bisa melakukannya. Kita bisa membuat dunia tanpa kematian, semua kesengsaraan bisa dipulihkan. Sihir hitam memiliki potensi untuk membuat dunia penuh kedamaian, asalkan ia dianggap setara dengan sihir puti—”
“Heh! Omong kosong! Tidak ada yang salah dengan tatanan di dunia ini. Sihir hitam hanya akan merusak takdir dan ketetapan dunia.”
Dimitri menggeram marah, jenderal Holy Mount itu memiliki pandangan yang melenceng terhadap cara kerja kehidupan.
__ADS_1
“Kau salah, Tuan Dimitri. Dunia ini butuh sihir hitam. Dunia ini akan lebih baik dengan keberadaan sihir hi—“
Kalimat jenderal itu terhenti oleh gumpalan darah yang berdesakan keluar dari tenggorokannya. Ia terbatuk-batuk, darah berceceran di atas pualam istana.
Entah sejak kapan Bilah es sepanjang dua meter muncul dari bawah tanah, telak menusuk dadanya. Itu sihir tunggal yang mematikan.
Tangan Dimitri terangkat, butiran salju berguguran di sekitar jemarinya yang mengacung.
Fyodor bangkit dari duduk, menggeram. Wajahnya memerah, rahang kokoh itu beradu kuat. Ia tidak menyangka salah satu bawahannya akan diserang.
Ia berpikir negosiasi ini setidaknya akan berlangsung lebih lama.
“Keparat kau, Dimitri! Bunuh mereka semua!”
Tempat perintah itu sampai di ujungnya, seluruh anggota organisasi Holy Mount berteriak lantang.
Mereka mengangkat tongkat sihir ke depan, serentak merapal mantra serangan hitam.
Lingkaran sihir berwarna gelap muncul di hadapan mereka, memancarkan sihir hitam berbentuk laser ke arah Dimitri dan pasukannya.
Tidak tinggal diam, pasukan sihir yang dipimpin Dimitri balik mengangkat tongkat mereka, tameng cahaya mengkilap terbentuk di sekitar pasukan seiring mantra dirapalkan.
Memblokir hantaman kuat dari pasukan organisasi Holy Mount.
Perang pecah begitu saja oleh hantaman sihir hitam yang menabrak tameng cahaya. Ledakan dahsyat membuat bangunan-bangunan di sekitar mereka terhempas bagai daun.
Penduduk kerajaan dan prajurit yang tadi selamat sudah dievakuasi sejak tadi, mereka berteriak ngeri dari luar medan tempur.
Gentar menatap ledakan yang menjamur ke angkasa seperti asap bom nuklir.
Dimitri terhempas ke belakang dua langkah, Fyodor menyerangnya dengan bola api hitam. Ledakannya dahsyat. Tameng es ungu milik Dimitri hancur lebur tak mampu menahannya.
[Kekuatan orang ini berada jauh di atas, level sihir kalian sama sekali tidak sebanding.]
“Tapi kau bisa melawannya, kan? Kau punya banyak sihir hebat.”
[Entahlah, aku tidak bisa menjaminnya dengan pasti. Kita harus menggunakan strategi yang baik untuk mengalahkannya, adu kekuatan tidak akan berhasil.]
Belum sempat Dimitri mengambil posisi, Fyodor kembali menghantamnya dengan bongkahan batu yang diselimuti sihir hitam.
Dimitri mengaduh tertahan, tubuhnya terpelanting, menghantam tembok hingga roboh.
Jika bukan karena kemampuan regenerasinya, ia pasti sudah sekarat sekarang.
“Matilah kau, Dimitri!”
Gelombang selanjutnya datang dari langit, menyergap dari delapan penjuru mata angin. Itu sihir elemen es yang sudah dicampur dengan kegelapan.
Dimitri menggunakan sihir teleportasi untuk menghindar, bongkahan es berwarna abu-abu menghantam tanah hingga terkoyak.
Batu dan tanah yang terkena serpihan es itu mengering, tumbuhan layu, itu sihir yang sangat korupsi.
__ADS_1
Beruntung Dimitri bisa menghindarinya. Salah-salah sihir korupsi seperti itu bisa melemahkan kemampuan regenerasi miliknya.
“Kita harus melawan balik!”
[Aku setuju.]
Dimitri menatap sekitar, pertarungan tengah terjadi di segala penjuru. Petarung sihir jarak dekat dan jarak jauh saling mengadu kemampuan.
Pertarungan hidup dan mati. Mereka mengerahkan seluruh kemampuan untuk membunuh lawan.
Beberapa meter darinya Rachel sedikit kewalahan dikepung dengan dua jenderal organisasi Holy Mount.
Dimitri tidak menyangka bahwa mereka cukup kuat untuk mendengar gadis itu. Perasaan tadi ia bisa mengalahkan salah satunya dengan satu serangan tunggal.
Pemuda itu mengacungkan tangannya ke arah jenderal yang mengepung Rachel, melepas sihir angin mematikan.
Sekejap, tanpa dapat dihindari oleh salah satu jenderal itu, kepalanya terpenggal oleh sayatan udara tajam darah memancar deras.
“Terima kasih, Dimitri!”
Rachel berseru senang, satu lawan satu tidak akan sulit baginya
Sementara Igor entah di mana, kabut dan asap pertempuran membuat jarak pandang Dimitri terbatas.
“Melihat ke mana kau, hah?!”
Entah sejak kapan Fyodor sudah berada tepat di hadapannya. Pria itu mengerahkan sibir tanah kedua tangannya, memukul Dimitri dengan kekuatan penuh.
Tubuh pemuda itu terbanting mundur lima langkah, namun kuda-kudanya tidak goyah.
Ia sempat menggunakan mantra pelindung level tinggi untuk menahan serangan tadi.
Tameng itu hancur lebur terhantam, tapi setidaknya Dimitri dapat bertahan tanpa luka serius. Hanya mundur beberapa langkah.
“Apa kau meremehkanku, hah? Berani-beraninya kau memalingkan wajahmu saat bertarung denganku.”
Fyodor geram, gumpalan tanah yang ada menyelimuti kedua tangannya mengeluarkan api hitam membara.
“Giliranku!” Dimitri berseru sebelum Fyodor melepas serangan berikutnya.
Kali ini dia yang maju, pedang es muncul di tangan kanannya, sedangkan pedang api membara muncul di tangan kirinya.
Itu dua elemen yang saling beradu, serangan dari keduanya akan menimbulkan ledakan kuat.
Dibantu sihir angin Dimitri melesat cepat ke udara, melancarkan serangan dengan kedua pedangnya dari atas.
Fyodor lebih dari siap menahan serangan itu, ua menggunakan tangan yang diselimuti batu hitam membara sebagai tameng.
Ledakan memekakkan telinga terdengar saat pedang itu beradu dengan sihir tanah milik Fyodor.
“Argh!”
__ADS_1
Dimitri menyeringai senang saat bilah pedangnya menghantam tanah, diikuti dua tangan yang terjatuh bersama dengan bongkah batu yang menyelimutinya.
Dimitri berhasil. Itu serangan yang sangat telak.