SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
025 - MENJELAJAH LABIRIN


__ADS_3

“Sedang apa, sih, anak-anak bau kencur ini?! Jangan bilang mereka akan menghentikan permainan atas titah jendral sombong itu!” kata salah seorang peserta yang nampak kesal melihat kehadiran Supreme Wizard.


“Halo, para pejuang muda!” tuan Valentine datang menemui Supreme Wizard.


Gabriel sebagai pemimpin kelompok maju untuk menyambut salam dari bangsawan misterius itu. Mereka berdua berjabat tangan sebagai bentuk ramah-tamah antara tamu, dan tuan rumah. Senyum tuan Valentine disambut hangat oleh Gabriel. Tanpa dia sadari, tuan Valentine menjabat tangan Gabriel terlalu erat membuat pemuda itu sedikit terhenyak kaget.


“Terimakasih atas sambutan anda, tuan,” kata Gabriel mencoba mengulas senyum terbaik. Di belakangnya, sembilan orang lain tersenyum kecil saat pendangan mereka bersirobak dengan mata tuan Valentine.


“Saya senang mendapatkan kunjungan dari murid-murid tuan Dimitri,” ucap tuan Valentine dengan senyum merekah, menunjukkan gigi taringnya yang tajam.


“Tuan Valen!! Jangan-jangan mereka datang hanya untuk mengganggu kompetisi yang menyenangkan ini!!” teriak salah seorang peserta dengan nada kesal.


“Iya, tuan! Jangan-jangan mereka diutus tuan Dimitri untuk membubarkan kompetisi ini!!” sahut yang lain terdengar semakin menuduh kesepuluh pemuda itu. Pemuda-pemuda itu menatap sekeliling pada orang-orang yang terlihat tidak suka akan kehadiran mereka.


“Tidak, kok, tuan-tuan. Kami datang untuk memeriahkan suasana. Ini pun sudah atas izin guru kami yang rendah hatinya,” ucap Gabriel mencoba menjelaskan dengan senyum yang dipaksakan.


“Hah! Memeriahkan acara?! Memangnya kalian bisa apa?! Kalian kan baru beberapa minggu bergabung menjadi murid Tuan Dimitri!!” cerca yang lain.


“Apa karena kalian adalah murid Tuan Dimitri, lantas kalian berani memandang rendah kompetisi ini?!” ucap yang lain semakin terdengar riuh meremehkan pemuda-pemudi itu.


Kompetitor yang lain menatap seluruh anggota Supreme Wizard dengan sorot mata menghakimi, menilai, bahkan meremehkan. Beberapa murid nampak merengut, kesal dan ragu. Sedangkan yang lain sedikit emosi. Di sisi lain, tuan Valentine tersenyum senang melihat anak-anak itu dicerca oleh para kompetitornya.


‘ini sangat menarik. Belum mulai saja mereka sudah mendapatkan serangan mental. Hari ini pasti akan menjadi hari terbaik dalam hidupku,’  batin tuan Valentine bermonolog penuh kemenangan.


“Sudah, sudah! Mereka hanya ingin memeriahkan suasana seperti kalian. Biarkan mereka lewat dan memulai permainan!” kata tuan Valentine dengan nada tegas.


Sikap Tuan valentine ini membuat peserta lain langsung bungkam. Mereka hanya melihat ke arah Supreme Wizard dengan sorot mata kesal. Sebenarnya mereka khawatir Supreme Wizard mampu menaklukkan permainan, dan pulang membawa hadiah yang selama ini mereka incar.


“Silahkan, tuan, dan nona!” Ucap tuan Valentine memberikan jalan pada kesepuluh pemuda untuk masuk ke labirin lewat pintu utama.


“Oh, iya, tuan! Apakah ada aturan khusus dalam permainan ini?” tanya Gabriel sebelum Mereka memasuki area labirin.


“Tidak ada aturan khusus dalam permainan ini. Kalian bebas menggunakan ilmu sihir, itu pun jika kalian bisa. Karena area ini dilengkapi dengan mantra khusus yang bisa melemahkan kekuatan sihir. Kalian juga tidak boleh terbang, karena di atas area terdapat jaringan energi tidak kasat mata yang akan langsung menyengat kalian. Itu saja peringatan dari saya,” tutur tuan Valentine dengan senyum mengembang yang sedikit mencurigakan.


“Baiklah, kami mengerti,” jawab Gabriel mewakili anggota yang lain.


Setelah mendengarkan semua penjelasan dan interupsi dari tuan rumah, para pemuda itu menatap dinding labirin yang menjulang tinggi.


Gabriel menatap ketiga anggota lain. Mereka adalah tiga pemuda dengan kemampuan survei lokasi yang sangat bagus. Mereka bertiga bersama dengan Gabriel menyebar ke beberapa titik di area depan.


Dari jarak masing-masing sepuluh meter, mereka mengucapkan mantra yang sama. Kemudian medan energi yang begitu kuat terpancar mengobservasi lingkungan sekitar, hingga nyaris ke seluruh lokasi labirinnya.

__ADS_1


“Tuan, mereka...,” Pelayan pribadi Valentine terhenyak kaget merasakan medan energi yang demikian kuat tersebut.


“Wahh, ini akan jadi sangat menarik,” gumam tuan Valentine sembari menatap tajam kesepuluh pemuda-pemudi itu.


Di saat Tuan Valentine dan pelayannya terkagum melihat kekuatan Supreme Wizard, kompetitor lain justru syok. Rasa kesal di hati mereka mendadak semakin menjadi sebab khawatir hadiah yang dijanjikan akan dibawa pergi oleh anak-anak muda itu.


Meski beberapa peserta memilih mengalah, dan sadar diri, beberapa peserta lainnya justru semakin bersemangat ingin mengalahkan Supreme Wizard di dalam labirin. Mereka tidak rela jika hadiah itu jatuh ke anak-anak muda dari kalangan bawah seperti anggota Supreme Wizard itu.


Setelah menggunakan energi untuk observasi, kesepuluh pemuda-pemudi itu langsung masuk ke dalam labirin. Melihat mereka sudah masuk lebih dulu, kompetitor lain pun menyusul untuk segera memenangkan hadiah. Menyisakan Tuan Valentine dan pelayannya tersenyum melihat peristiwa itu.


“Semuanya, seperti yang sudah direncanakan, kita berpencar dengan masing-masing tiga anggota. Di setiap anggota akan ada tim medis dan juga tim petarung. Satu orang lagi akan ikut dengan timku. Ingat perjanjian kita sebelum kemari. Jika kalian terdesak langsung kirimkan sinyal kami akan melakukan transportasi ke lokasi kalian,” kata Gabriel mengingatkan rencana awal sekali lagi pada setiap anggota.


“Baik! Kami mengerti!” sahut semua anggota dengan semangat.


Kemudian mereka pun berpencar menjadi tiga kelompok. Mereka semua menyusuri area yang begitu rumit. Tanpa mereka ketahui di belakang mereka para kompetitor yang terkenal belinya menyusul dengan tekad untuk mengalahkan mereka.


Halangan pertama mereka adalah tumbuhan pemakan daging yang berukuran sangat besar. Mereka dihadang oleh tumbuhan itu beserta akarnya yang menjulur ke segala arah.


Mereka semuanya harus terperangkap namun kelompok bertahan mengeluarkan elemen air sehingga tumbuhan itu langsung membeku.


Kemudian kelompok petarung langsung menghajar mereka hingga hancur. Ketika kelompok itu pun lolos dari ujian pertama. Mereka terus berbelok mengikuti insting dari observasi yang telah mereka lakukan di depan labirin.


Namun di area kedua mendadak ada dinding batu bata yang menghalangi jalan mereka.


“Tidak ada gunanya mengeluh, kak. Ayo, hancurkan saja!” Ucap salah seorang pemuda yang langsung mengarahkan tinju ke depan tembok.


Tembok di depan mereka langsung hancur dengan sekali pukul, sebab pemuda dari tim penyerang itu menggunakan kekuatan tenaga dalamnya. Baru saja mereka akan bernafas lega dinding baru muncul lagi menghadang langkah mereka.


“Oh, jadi begini cara mereka bermain?!” ucap Sana tersenyum kecut melihat tembok besar yang menghalangi jalan mereka sekali lagi.


Dengan santai gadis tomboy ini maju ke depan tembok, kemudian dengan sekuat tenaga menghantam tembok menggunakan bogem yang penuh dengan energi sehingga tembok itu langsung hancur.


Beberapa kali mereka mengalami kejadian yang sama. Setiap kali tembok penghalang dihancurkan akan muncul tembok lain yang menghalangi jalan mereka. Akhirnya pemuda pemudi itu memilih untuk istirahat sebentar sambil memikirkan jalan keluar lain.


“Tembok itu tidak ada habisnya,” gumam salah seorang anak dari anggota ketiga.


“Iya. Apa yang harus kita lakukan? Jika terus seperti ini kita bisa kehabisan energi spiritual,” kata anggota lain.


Saat anggota tim Supreme Wizard sedang duduk beristirahat, mendadak tembok besar itu bergetar. Keempat sisi tembok mendesak masing-masing anggota untuk semakin berhimpitan. Seakan mereka akan dilumat oleh tembok-tembok itu.


“Apa-apaan ini?! Ukh!!! Ini berat sekali!!” Ucap salah satu anak yang berusaha menahan laju tembok.

__ADS_1


Saat mereka semua semakin terdesak, mendadak ada pintu jebakan di bawah kaki mereka. Kesepuluh pemuda-pemudi itu pun jatuh ke dalam kotak jebakan yang begitu dalam. Mereka terus meluncur ke bawah hingga terjatuh di dalam sebuah jurang bawah tanah.


“Loh!! Tim dua!” Gabriel dari tim satu kaget melihat tim dua juga terjatuh tidak jauh dari mereka. Saat mereka hendak berkumpul, dan saling menyapa, mendadak anak-anak dari tim tiga juga terjatuh tidak jauh dari lokasi mereka.


“Ada apa ini? Kenapa hanya kita yang terjatuh di terowongan jebakan itu?!” tutur Gabriel sembari menelisik area yang gelap tersebut.


Rawrr!! Ssshhh!


Saat anak-anak itu sedang berpikir dan melihat lokasi sekitar, mendadak terdengar suara auman sekaligus desisan yang cukup kencang. Membuat mereka mendadak memasang sikap siaga. Dari sisi kanan gua suara desisan dan auman itu terdengar semakin kencang. Membuat mereka semakin waspada sekaligus bergidik ngeri.


Tidak berapa lama dari kegelapan muncul seekor harimau putih sekaligus ular yang cukup besar seukuran tubuh manusia. Kedua hewan buas itu langsung menyerbu ke arah mereka. Membuat kesepuluh pemuda-pemudi itu langsung berpencar.


Pertarungan sengit pun terjadi. Lima orang melawan satu hewan buas dengan kekuatan sihir yang cukup kuat. Mereka semua cukup kewalahan melawan dia hewan buas itu. Bahkan,  beberapa anak langsung terluka dengan sekali hantam.


“Kapten! Kita terdesak! Bagaimana ini?!” tanya seorang anggota wanita pada Gabriel yang sedang mempertahankan perisai untuk bertahan dari serangan musuh.


Melihat kondisi mereka yang semakin terdesak, anggotanya yang terluka, dan musuh yang begitu kuat, membuat Gabriel akhirnya memilih keputusan paling darurat.


Pemuda itu mengambil belati di saku kanannya, kemudian membuat lukaa sayatan yang cukup lebar di telapak tangan kiri. Dari luka ini darah menetes cukup deras.


Gabriel langsung meneteskan darah itu di atas tato yang ada di punggung tangan kanannya. Seketika itu juga cahaya yang menyilaukan mata menghalangi pandangan semua orang.


Bahkan kedua binatang buas itu pun sepertiga berhenti bertarung karena terhalang oleh sinar yang begitu terang. Saat sinar itu menghilang muncullah sosok pria kata dengan jubah putih yang berkibar.


“Guru,” gumam Gabriel dengan wajah lega.


“Waahh, rupanya ada yang menggunakan cara curang di sini,” gumam pria itu sembari melangkah tenang ke hadapan si macan putih.


RWARRR!!


“Guru!!” Anak-anak itu berseru saat melihat si macam bersiap menerkam guru mereka. Namun dengan santainya Dimitri menahan serangan cakar macam dengan satu lengan.


“Giliranku,” gumam Dimitri dengan nada dingin. Kemudian dia mencengkram kuat lengan si macan sembari berkata, “flosh”


Seketika kilatan listrik mengalir dari lengan Dimitri, dan menyengat hewan buas itu dengan begitu kuat. Begitu kuatnya kilatan listrik sehingga menimbulkan cahaya yang menyilaukan saat listrik itu berhenti berkedip, si macan sudah gosong, dan langsung tewas terpanggang.


“Guru! Tolong kami!!” Teriak beberapa anak lain yang terjerat oleh ekor ular besar.


Dimitri beralih pada mereka. Dia menatap tajam pada ular besar yang kini sedang melilit ketiga muridnya. Begitu sorot mata mereka bertemu kepala ular itu langsung berubah menjadi separuh badan tuan Valentine.


“Oh, rupanya ini perbuatan mu sendiri Valen? Kenapa aku tidak terkejut, ya?” tutur Dimitri berbicara pada jelmaan tuan Valentine. “Tapi, kenapa kau melakukan ini kali ini, Valen?”

__ADS_1


“Karena aku marah padamu! Kenapa kau lebih memilih anak-anak lemah ini dibandingkan aku yang lebih pantas menjadi muridmu!!” kata Valentine dengan wajah marah.


Seketika kemudian ular jelmaan itu berubah lagi menjadi tubuh asli tuan Valentine. Anak-anak itu pun langsung terjatuh saat tuan Valentine berubah wujud. Mereka jatuh dari ketinggian tiga meter sehingga membuat beberapa anak langsung berdarah di beberapa titik.


__ADS_2