SISTEM PENYIHIR TERTINGGI

SISTEM PENYIHIR TERTINGGI
029 - MELAWAN!


__ADS_3

“Wahh! Lihat itu! Dalam waktu beberapa bulan saja anak didik Tuan Dimitri sudah berhasil membuat menara yang begitu tinggi dan kokoh!”


Para warga mulai ramai membicarakan kinerja pemuda dari Supreme Wizard yang berhasil membuat menara dalam waktu singkat. Pemuda-pemuda ini segera menjadi buah bibir karena kinerja mereka yang begitu bagus, dan sikap mereka yang begitu ramah.


Harumnya nama Supreme Wizard menarik rumor baik tentang Dimitri. Perlahan doktrin perihal nama buruk Dimitri akhirnya sirna. Dari sini perlahan nama baik Dimitri kembali. Orang-orang mulai bersikap ramah lagi kepada jenderal muda ini.


“Menara-menara itu megah, dan kokoh sekali!” Kata salah satu warga sembari sibuk belajar di pasar.


“Benar! Kemarin Raja sendiri yang datang untuk meresmikan menara itu!” Sahut warga yang lain.


Di pasar maupun di tempat-tempat umum lainnya orang-orang masih sibuk membicarakan menara-menara yang dibangun oleh anak didik Dimitri. Umumnya mereka kagum sebab anak-anak muda itu mampu membuktikan kualitas di depan semua orang lewat proyek besar.


“Aku dengar menara itu dibangun untuk melindungi kita dari aura negatif sihir hitam!” Ucap salah satu warga yang sedang bekerja di ladang.


Kedua pria dewasa ini sedang duduk di tepi ladang sembari melihat ke salah satu menara yang menjulang tinggi.


“Benarkah?! Kalau begitu kita bisa merasa lebih aman sekarang!” sahut salah satu petani di sana.


Kabar perihal pembangunan menara menyebar dengan lebih cepat dibandingkan dengan kabar doktrin soal kesalahan dalam kinerja kerajaan menanggulangi ilmu hitam. Kabar-kabar angin yang dahulu menjatuhkan PH kerajaan kini perlahan sirna tertutup oleh kabar perihal pembangunan menara.


Setelah menara itu selesai 100% dibangun Raja mendatangi satu persatu menara untuk membukanya secara resmi. Dari sinilah banyak anak-anak muda yang ingin mendaftar sebagai penyihir maupun prajurit.


Di tiap masing-masing menara dipimpin oleh satu anak didik Dimitri. Merekalah yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah tempat menara itu berdiri. Mereka juga bertanggung jawab untuk pendidikan ilmu ketahanan diri maupun kekuatan sihir dari para pemuda yang mendaftar.


Dalam waktu singkat banyak anak muda yang ingin menjadi bagian dari menara tersebut. Dari sini doktrin perihal organisasi tatanan dunia sihir, maupun perihal kinerja buruk Dimitri akhirnya sirna seutuhnya. Sebab semua orang sibuk membicarakan perihal masa depan cemerlang setelah dibangunnya menara.


“Sial! Sial! Sial!!” Salah satu pemimpin tertinggi dari organisasi kelam itu berteriak marah.


Dia kecewa karena rumor yang selama ini mereka bangun hancur dalam sekejap mata. Kerja keras mereka sirna setelah menara-menara itu berdiri dengan bantuan tangan-tangan muda yang begitu berbakat.


Saat ini para pemimpin tinggi organisasi itu sedang melakukan rapat darurat di ruangan yang begitu besar namun dengan pencahayaan yang temaram. Mereka semua begitu pusing melihat kemajuan pesat dari Dimitri dan murid-muridnya.

__ADS_1


“Kerja keras kita selama ini menciptakan doktrin buruk tentang kerajaan dan Dimitri akhirnya runtuh hanya dalam sekejap mata!” keluh salah seorang pemimpin yang sibuk memijat pelipis yang pening.


“Pemuda licik itu memiliki beragam cara untuk menghalangi kita mencapai tujuan,” sahut yang lainnya.


Raut wajah semua pemimpin tinggi itu terlihat tidak enak dipandang. Mereka semua memasang wajah kesal bahkan ada yang merasa begitu murka saat mendengar kabar semua orang sibuk memuji Dimitri dan muridnya.


“Tuanku, Apa langkah kita selanjutnya?” tanya seorang pemimpin pada ketua tertinggi organisasi.


Saat ini mereka semua seperti seorang anak ayam yang kehilangan induknya. Kalang kabut memikirkan rencana kedepannya untuk menjatuhkan Dimitri di mata semua orang. Sekaligus untuk menetapkan doktrin di kepala semua orang bahwa tatanan dunia sihir yang barulah yang lebih baik.


“Terpaksa kita harus melakukan langkah ekstrem untuk memanggil demon tertinggi,” ucap sang pemimpin tertinggi dengan sorot mata serius.


Seluruh anggota pemimpin organisasi itu seketika terhenyak, kaget. Mereka tidak menyangka sang pemimpin utama akan langsung mengambil jalan paling berbahaya. Sebab memanggil sang demon tertinggi memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit.


“Kenapa kalian diam saja Apa kalian tidak setuju dengan caraku ini?” Tanya sang pemimpin tertinggi dengan sorot mata tajam.


Pria dewasa itu menatap setiap wajah di dalam ruangan dengan mata bengis. Seketika semua orang menunduk, takut. Meski mereka memiliki hak yang sama untuk mengutarakan pendapat tetap saja sang pemimpin paling tinggi lah yang pada akhirnya mengambil keputusan.


Para pemimpin yang lain pun ikut menyusul langkah sang petinggi. Dengan tergesa-gesa mereka turun ke ruang bawah tanah dan memeriksa setiap tahanan dengan teliti.


“Siapa yang pertama akan kita korbankan, tuanku?” Tanya salah satu orang itu kepada sang pemimpin tertinggi..


Pria dengan tubuh tinggi tegap itu menatap setiap korban dengan sorot mata tajam. Dia nampak serius meneliti tiap wajah sebelum menentukan pilihan.


“Kita bawa semuanya!” Ucap sang pemimpin dengan nada suara tegas dan lugas.


Laki-laki keputusan pemimpin tertinggi ini mengejutkan anggota yang lain. Menurut mereka mengorbankan semua penghuni tahanan cukup ekstrim bagi mereka yang hampir tidak memiliki hati.


Biasanya pemimpin tertinggi mereka ini suka menyiksa para tahanan perlahan dan satu persatu. Sikap pemimpin tertinggi yang berubah dengan begitu cepat membuat para anggotanya dewan yang lain cukup terkejut.


“Penjaga bahwa semua tahanan ke ruang pengorbanan!” titah sang pemimpin tertinggi yang langsung dituruti oleh para penjaga tahanan.

__ADS_1


Setelah itu mereka semua pergi menuju ruang khusus untuk upacara pengorbanan. Ruangan itu lebih besar daripada ruang pertemuan. Di ruangan yang luas, terbuka, dan tidak ada penghalang apapun ini para pemimpin tertinggi organisasi persiap melakukan pemanggilan kepada sang Dewa Demon.


Kelima pemimpin tertinggi itu membuat garis di lantai menggunakan darah segar dari masing-masing pemimpin organisasi. Setelah itu mereka meletakkan lilin besar mengelilingi tanda yang telah mereka gambar di lantai.


Baru setelah itu para korban atau bisa disebut persembahan akan diletakkan tepat di tengah tanda yang telah dibuat oleh para pemimpin organisasi.


“Tidak!!! Jangan!! Saya mohon lepaskan kami!!”


“Lepaskan kami!! Saya mohon!! Kami masih ingin bertemu anak-anak kami!!”


Para tahanan mulai historis saat mereka dibawa ke tengah simbol iblis di lantai. Dahulu mereka bisa tenang karena mereka mampu bertahan dari berbagai macam cobaan. Kini jika mereka harus menjadi tumbal untuk memanggil Dewa tertinggi para Demon sudah jelas nyawa mereka tidak akan mampu bertahan.


Teriakan, dan permohonan dari para tahanan sama sekali tidak menyentuh hati para pemimpin organisasi. Mereka menatap dingin pada para tahanan yang sudah demikian menderita.


“Tolong, tuan! Saya mohon lepaskan kami dari tempat ini!!”


“Mohon lepaskan kami dari penderitaan ini!!” Begitu riuh permohonan di sela Isak tangis para tahanan.


Sosok-sosok tubuh tua itu memohon ampunan kepada para pemimpin organisasi yang notabene berusia lebih muda. Mereka rela merendahkan diri demi menyelamatkan nyawa sendiri.


Namun sekali lagi ceritangis maupun permohonan mereka sama sekali tidak didengar oleh para pemimpin organisasi yang kejam itu.


“Baiklah. Aku akan segera melepaskan kalian dari penderitaan ini,” ucapan dingin dari sang pemimpin tertinggi organisasi ini mendadak membuat ruangan berubah sunyi.


Mereka semua syok mendengar penuturan sang pemimpin tertinggi. Bahkan ada yang berpikir pemimpin tertinggi tersebut sudah mulai gila sebab merubah-rubah keputusannya sendiri.


“Aku akan melepaskan kalian dari penderitaan penyiksaan ini, dan sebagai gantinya mengorbankan kalian untuk memanggil dewa para Demon,” lanjut sang pemimpin tertinggi yang langsung membuat para korban semakin histeris.


Pemimpin tertinggi organisasi tersenyum semakin lebar. Dia senang melihat korbannya semakin menderita setelah dia beri harapan palsu.


Tanpa membuang-buang waktu lagi kelima pemimpin tertinggi organisasi mulai mengambil tempat. Mereka semua mengelilingi lingkaran dari darah tersebut. Kemudian menyatukan kedua telapak tangan di depan dada sembari mengucapkan mantra dari bahasa yang tidak umum di negara tersebut.

__ADS_1


Melihat situasi ini para korban semakin putus asa. Mereka berpikir tidak mungkin lagi dapat bertahan apalagi bertemu dengan anak-anak mereka yang pasti kini telah tumbuh dewasa.


__ADS_2