
Seolah waktu terasa lamban, di mana Leon terus mengamati wajah yang saat ini sedang memandikannya.
Dan saat Leon terus menatap bibir ranum Anggun, dirinya mulai tersadar dan segera memalingkan wajahnya dari hal tersebut.
“Gila… bagaimana bisa aku bernafsu saat melihat bibir orang ini?!” ucap Leon dalam hati, tidak percaya dengan apa yang di rasakannya saat ini.
“Dia ini kan sopir dan dia juga seorang..“ lanjut Leon dalam pikirannya, tapi segera ia tepis pikirannya tersebut saat mengingat kembali bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang laki-laki.
“Sudah cukup!!” pekik Leon dan mulai kembali mendorongnya, tatkala saat dirinya mengingat bahwa orang yang sempat sesaat di nafsuinya adalah laki-laki.
Mendapat perlakukan kasar kembali lagi dan lagi, Anggun hanya dapat menarik nafasnya kasar dan mata mendelik. Dia sudah mulai menerima perlakukan kasar tersebut.
“Lihat kan, aku sudah tidak terpeleset lagi dan aku bisa melakukannya sendiri” ucap Leon setelah dapat menaiki kursi rodanya sendiri.
“Sekarang kau keluarlah!” lanjut Leon mengusir kembali.
“Apa kau ingin melihat ku melepas celana boxer ku juga, hah?!” pekik Leon yang masih melihat Anggun berdiri di tempat, membuat Anggun merasa ngeri mendengar ucapan Leon saat ini.
Tentu hal tersebut tidak ingin dia lihat apalagi terus memandanginya. Membuat Anggun segera melangkahkan kaki seribunya.
“Tit.. tidak, tuan. Terima kasih. Saya keluar dulu kalau begitu. Sekalian saya juga mau ganti baju” ucap Anggun dan segera berlari dari tempat tersebut.
Kemudian dia juga segera mengganti pakaian yang tadi terkena cipratan shower.
Tidak membutuhkan waktu lama, Anggun pun segera kembali berlari dan kembali ke kamar Leon.
Bertepatan dengan Leon yang juga sudah selesai dengan ritual mandinya, Anggun pun segera menutup pintu kamar Leon dengan pelan.
“Cepat sekali kau ganti baju” ucap Leon yang melihat Anggun sudah kembali dengan cepat.
“Iya, tuan” ucap Anggun menanggapi.
“Apa kau sudah menyiapkan kemeja ku?” tanya Leon yang biasanya sudah melihat pakaiannya di siapkan di atas kasur king sizenya.
“Belum, tuan” ucap Anggun yang memang belum menyiapkan apa-apa.
Selain dirinya baru bekerja dengan Leon, waktu dari tadi dia habiskan untuk berdebat di kamar mandi dengan Leon.
Tentu membuat Anggun tidak dapat menyiapkan kebutuhan lainnya di sela-sela menunggu tuannya tersebut mandi.
“Sudahlah… cepat ambilkan pakaianku!” ucap Leon yang kembali dengan mode tak sabarannya tapi dia sudah lelah untuk terus berdebat kembali dengan karyawan barunya tersebut.
Anggun pun segera mengambilkan pakaian kantor untuk Leon. Sementara Leon hanya memperhatikan dan melihat apa yang di lakukan Anggun saat ini.
__ADS_1
Namun Leon merasa sedikit aneh dan sedikit curiga, dia belum memberitahu tata letak kemeja dan pakaian apa saja yang akan dia kenakan tapi Anggun dengan cepat sudah mengetahui hal tersebut.
Tapi hal itu tidak terlalu ia pikirkan, mungkin saja ibu atau pelayan lainnya sudah memberitahu Anggun sebelumnya.
“Sekarang bantu aku kenakan pakaian dan kemeja ku” ucap Leon setelah melihat keperluan outfit kantornya telah siap di atas kasur king sizenya.
“Baik, tuan” ucap Anggun tanpa mendebat.
Kemudian Anggunpun mulai melepaskan jubah mandi milik Leon dari tubuhnya. Dan perlahan mulai mengenakan kemeja putih pada tubuh Leon. Meskipun dengan menutup buka matanya sendiri.
Sempat ia merasa canggung dalam situasi tersebut, apalagi tadi pada saat di kamar mandi.
Tapi rasa canggung tersebut segera ia atasi, Anggun lebih memilih untuk berpura-pura biasa saja. Sementara Leon terus melihat wajah Anggun yang tengah membantunya.
Wajah mereka begitu dekat, tapi Anggun seolah tak memperdulikan hal tersebut.
Diam-diam Leon masih memperhatikan wajah Anggun dan sadar atau tidak ada sedikit senyum tipis di bibir Leon.
Entah dia sadar bahwa itu adalah Anggun atau dia memang sedang memikir hal lucu di benaknya.
Sementara Anggun masih tetap melakukan pekerjaan doublenya tersebut.
Selesai mengenakan kemeja di tubuh berotot Leon, kini selanjutnya Anggun akan membantu mengenakan celana tuannya.
Perlahan Anggun mulai memasukan kaki yang tak dapat di gerakan itu ke dalam celana hitam tuannya.
Tapi sesaat bayangan masa lalu terlintas di benaknya, dimana kaki yang kini tak berdaya sempat menendangnya dulu. Dan membuat Anggun tersenyum getir menggelengkan kepala tanpa Leon sadari.
Sementara Leon masih terus memperhatikan Anggun dan gerak geriknya. Namun ia tidak begitu memperhatikan wajah Anggun yang sedang menunduk tersenyum getir sambil mengenakan celana pada kakinya tersebut.
Namun semenjak keluar dari kamar mandi sikap Leon sedikit penurut dan tak banyak protes ataupun mengeluh seperti yang di lakukannya tadi.
Setelah selesai dengan persiapan Leon untuk pergi ke kantor, Anggun segera membawanya ke ruang makan. Di sana sudah ada mama dan papa Leon.
Sementara Anggun segera meninggalkan Leon dan keluarganya. Dia tidak ingin seseorang mencurigai siapa dirinya.
Terlebih pandangan tuan Michael yang terus memperhatikannya seolah dia sedang mencari tahu siapa yang saat ini sedang berada di samping Leon anaknya tersebut.
Anggun pun pamit dengan alasan hendak menyiapkan mobil yang akan di gunakan untuk mengantar tuannya tersebut.
“Dia sopir baru Leon, pa” ucap nyonya Murni yang melihat raut wajah suaminya yang terus memperhatikan sopir anaknya tersebut.
“Papa tahu. Papa hanya merasa sedikit penasaran saja, sepertinya papa tidak asing dengan wajah sopir baru itu” ucap tuan Michael memberi alasan pada istrinya tersebut.
__ADS_1
“Mungkin hanya perasaan papa saja. Sudah cepat sarapan!” ucap nyonya Murni tidak ingin ada yang mengganggu jam sarapannya tersebut.
Sementara Anggun, menuju mobil yang akan di gunakannya, diam-diam Anggun mengeluhkan sesuatu.
“Ya Tuhan… bagaimana ini, kalau aku setiap hari bertemu dia terus, aku takut cepat atau lambat aku akan ketahuan juga” ucap Anggun merasa bimbang.
“Tapi… apa yang sebenarnya terjadi pada mas Leon. Kenapa dia sampai lumpuh seperti itu?”lanjut Leon merasa bingung dengan kenyataan bahwa suami yang dulu mengusirnya mengalami kelumpuhan.
Dan di sisi lain dia sedikit merasa tenang karena mungkin Leon tidak akan bisa berbuat yang tidak-tidak seperti dulu lagi. Meskipun di saat tengah malam tadi, Leon membuatnya kembali takut dan mengingatkannya pada masa lalu yang kelam itu.
Tapi di lain sisi Anggun juga merasa iba dan kasihan.
Namun setidaknya Anggun tidak perlu merasa khawatir berlebih saat berkerja dan bersama dengan Leon.
Tapi yang menjadi beban pikiran di benak Anggun saat ini adalah dimana dia harus slalu siap siaga jika di perlukan oleh Leon, seperti halnya pagi ini. Anggun harus membantu melakukan rutinitas mandi tuannya tersebut.
Meskipun memang tidak sampai berbuat yang tidak-tidak, tapi tetap saja baginya akan terasa sulit dan canggung jika hal tersebut di lakukan setiap hari.
Tapi untuk saat ini mau tidak mau Anggun harus bersabar dan tetap menerima pekerjaan doublenya tersebut.
Sementara itu di rumah sakit, Juni nampak siuman dan mulai menanyakan keberadaan ibunya tersebut.
“Kak… Kak Juna, kita ada di ana?” tanya Juni dengan suara khas anak kecilnya, begitu pelan dan lemah saat dirinya melihat sang kakak berada di samping tempat tidurnya.
“Ibu di ana, kak?” tanya Juni lagi, saat menyadari keberadaan ibunya tidak ada di sana.
“Ibu sedang kelja” ucap Juna yang di beri pengertian bahwa ibunya sedang bekerja untuk membiayai adiknya yang sedang sakit.
Meskipun pada awalnya Juna merasa bingung saat mendengar bahwa ibunya akan lebih lama di tempat pekerjaannya, tidak seperti dulu yang masih bisa kembali di jam-jam sore atau malam.
Dia tidak menerima hal tersebut dan membuatnya menangis dan bersedih, kenapa ibunya harus sampai tinggal dan meninggalkan dirinya dan adiknya yang masih sakit.
Namun beruntung Juna masih dapat di beri pengertian, meskipun pada awalnya Anggun juga bersedih harus meninggalkan kedua anaknya tersebut.
Tapi bagaimana lagi, biaya perawatan dan operasi anaknya begitu besar. Masih beruntung anaknya tersebut dapat di operasi oleh pihak rumah sakit tanpa menunggu biaya operasinya masuk terlebih dahulu.
Namun kini, Anggun tetap harus membayar biaya operasi dan perawatan anaknya tersebut.
Dan tidak mungkin dia harus terus mengandalkan biaya dari Bi Asri dan anak menantunya.
Meskipun untuk saat ini Anggun masih menerima kebaikan mereka dengan ikut mengurus kedua anaknya tersebut.
Entah berhati apa Bi Asri dan keluarganya tersebut hingga sampai saat ini mereka begitu perduli dengan Anggun dan kedua anaknya. Membuat Anggun merasa berhutang budi pada mereka.
__ADS_1
Namun Anggun bersyukur Tuhan telah mempertemukan mereka dengannya.