
“Tuan, kenapa tidak menunggu saya dulu?” ucap Anggun dengan wajah khawatirnya.
Meskipun tadi sempat kesal mendengar Leon terus mengomel padanya. Tapi Anggun tetap saja merasa khawatir di saat melihat Leon seperti itu.
“I.. ini semua gara-gara kau. Aku jadi seperti ini” ucap Leon tiba-tiba menyalahkan Anggun, supaya dia tidak menyadari bahwa tuannya tersebut sudah dapat berjalan.
“Loh … kok tuan jadi nyalahin saya. Memangnya saya salah apa?” ucap Anggun, tidak terima dirinya di salahkan begitu saja.
“Ya iyalah ini salah kau. Coba tadi kau bangunkan aku lebih dulu. Pasti aku tidak akan memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi sendirian” ucap Leon beralibi, tidak perduli jika harus terkesan menyalahkan orang lain.
Mendengar hal tersebut, membuat Anggun merasa apa yang di katakan Leon ada benarnya juga. Dia pun kembali merasa bersalah.
“Kalau begitu.. ma.. maafkan saya, tuan” ucap Anggun kembali mengalah.
“Cepat bantu aku!!”
“I..iya, tuan” ucap Anggun sambil kembali berusaha membantu Leon.
Setelah itu, beberapa menit berlalu. Leon meminta Anggun untuk membawanya ke suatu tempat. Entah apa yang akan di lakukannya di sana. Namun Anggun hanya dapat mematuhi dan mengikuti perintah tuannya tersebut.
Dan saat mereka sudah berada di dalam mobil, Anggun pun mulai bertanya kemana dia harus membawa tuannya tersebut.
“Tuan, kita akan pergi kemana sekarang?” tanya Anggun sambil memasangkan seatbelt pada tubuhnya. Sementara Leon sudah berada di kursi penumpang.
“Kita akan pergi ke pantai A” ucap Leon dengan santainya. Namun tiba-tiba membuat Anggun sedikit tertegun. Tempat yang di ucapkan Leon mengingatkannya pada masa lalu mereka.
Di mana saat itu, Anggun seringkali mengajak Leon ke tempat tersebut di akhir pekan.
Saat itu Anggun masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas. Dan jika dia libur sesekali Anggun mengajak Leon untuk ikut bersamanya mana kala melihat Leon yang nampak setres dengan pekerjaan-pekerjaan kantornya tersebut.
Saat itu mereka juga terbilang cukup akrab dan Leon masih bersikap baik dan perhatian pada Anggun. Menganggap Anggun seperti adiknya sendiri.
Itu sebabnya Leon tidak menolak jika Anggun sesekali mengajaknya ke suatu tempat. Yang kini menjadi tempat kenangannnya bersama Anggun.
“Kenapa kau diam saja. Ayo jalan!” ucap Leon, membuat Anggun kembali tersadar dan segera menstarter mobilnya.
“Ba..baik, tuan” ucap Anggun sedikit terbata-bata saat tersadar dari lamunan sesaatnya.
Anggun pun mulai menjalankan mobilnya, mereka melaju dan keluar dari halaman rumah tersebut.
Mereka pun sampai di saat matahari menjelang sore. Hembusan angin pantai mulai terdengar di telinga mereka.
__ADS_1
Leon perlahan menurunkan kaca mobilnya, dia mulai mengingat kenangan di masa lalunya bersama Anggun saat itu.
Entah Anggun menyadari hal tersebut atau tidak, tapi yang pasti saat ini Leon sedang membayangkan masa lalunya itu.
Leon teringat akan kebersamaannya dengan Anggun. Saat itu di sore hari yang sepi tinggal lah mereka berdua di pantai tersebut.
Anggun nampak berlari-lari di pinggir pantai, sementara Leon duduk memandang matahari yang hendak tenggelam.
Anggun yang merasa sendirian, segera menarik Leon untuk ikut bermain ombak dan pasir di pinggir pantai.
Leon tidak menolak, ia pun mengikuti langkah Anggun yang menariknya sambil berlarian.
Kini mereka terlihat memandangi lautan yang tak nampak ada ujungnya secara bersamaan.
Sambil bergandengan tangan, mereka nampak terlihat seperti sepasang kekaksih yang sedang menghabiskan waktu libur mereka.
Leon pun entah mengapa merasa nyaman dan bahagia saat itu.
Sesekali mereka terlihat saling memandang satu sama lain.
Hingga beberapa saat mereka baru menyadari dan melepaskan pandangan dan tangan mereka masing-masing.
Namun mereka kembali menormalkan perasaan mereka saat itu juga.
Membuat Leon yang sedang membayangkan saat-saat itu tersenyum sendiri sambil melihat ke luar jendela mobil.
Anggun yang tidak sengaja melihat senyum di wajah Leon yang tak tahu apa penyebabnya, mencoba bertanya dan mengganggu lamunannya.
“Dia tersenyum sendiri?. Apa aku tidak salah liat” ucap Anggun dalam hati saat melihat wajah Leon di dalam kaca spionnya. Sambil tetap menjalankan mobilnya pelan.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” lanjut Anggun bertanya pada Leon. Namun sayangnya tak ada respon dari tuannya tersebut.
“Apa dia sedang tidak waras?” tanya Anggun pagi dalama hati, merasa kesal tidak ada jawaban dari Leon.
Lalu tiba-tiba Anggun menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat yang di belakang terhempas ke depan tidak siap.
Brughh suara tubuh Leon yang membentur kursi depan.
“Apa yang kau lakaukan?” Pekik Leon kesal sambil memegang jidatnya sendiri yang terkena benturan depan.
“Apa kau sengaja melakukannya, hah?” lanjut Leon belum puas.
__ADS_1
“Maaf, tuan. Tidak sengaja” ucap Anggun sambil menutup rasa tawanya. Rupanya dia sengaja berhenti mendadak, untuk mengerjai tuannya tersebut.
Sementara Leon masih tetap memegang jidatnya dengan wajah kesalnya. Dia tahu bahwa Anggun melakukannya dengan sengaja. Tapi dia sedang malas untuk berdebat dengan Anggun.
“Cepat bawakan aku kursi roda!” ucap Leon memerintah.
Kemudian Anggun pun segera membawakan kursi roda yang di pinta Leon.
Dia segera membantu Leon untuk keluar dan mengangkat tubuhnya untuk duduk di kursi roda tersebut.
Diam-diam Leon tersenyum, merasa senang saat melihat wajah Anggun lebih dekat lagi. Mencuri-curi pandang setiap kali Anggun mengangkat tubuhnya.
Anggun yang menyadari hal tersebut, dengan cepat dan sedikit kasar segera menaru Leon di atas kursi rodanya dan brug, lagi-lagi Leon di buatnya ke sakitan.
“Awww… pantatku” pekik Leon merasa kesakitan di pantatnya.
“Kau benar-benar ingin membuatku terluka, ya” lanjut Leon tidak dapat menahan kekesalannya.
Anggun hanya diam dan merengutkan wajahnya, tidak terima Leon seringkali kedapatan memandangi wajahnya diam-diam.
“Biar kau tahu rasa. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau slalu memperhatikan wajahku” ucap Anggun dalam hati sambil menatap Leon dengan kesal.
“Oh iya… Aku baru sadar, dia sering memperhatikan wajah ku dari dekat. Apa jangan-jangan dia mulai curiga pada ku” ucap Anggun dalam hati, berpikir bahwa Leon mulai curiga padanya. Pada hal selama ini Leon sudah mengetahui siapa dirinya.
Namun Anggun masih tidak sadar bahwa apa yang di lakukan Leon tersebut memang karena sedang mengaguminya dan sengaja mencuri-curi pandang padanya.
Kini mereka pun mulai berjalan di atas sebuah jembatan untuk melihat laut yang lebih luas lagi.
Anggun mendorong kursi roda Leon dengan pelan-pelan. Mereka nampak menikmati hembusan angin pantai di sore itu.
Beruntung tidak banyak orang yang datang saat ini, jadi mereka dapat menikmati suasana hembusan angin pantai dengan damai dan tenang.
Mereka nampak terlihat santai, Leon pun tidak berbuat ulah untuk mengerjai Anggun terus-terusan.
Seperinya saat ini Leon sedang menikmati suasana tersebut.
Anggun pun mulai mendengarkan setiap ucapan dan curhatan Leon saat ini. Tidak sekalipun Anggun menyela ucapannya. Kali ini Anggun akan menjadi pendengar yang baik untuk tuannya tersebut.
Karena ucapan Leon kali ini terdengar sedih dan menyayat hatinya. Seolah yang sedang ia dengarkan bukanlah Leon, melainkan seperti orang lain.
Baru kali ini Anggun mendengar dan melihat sisi lain dari Leon. Entah Anggun percaya atau tidak, tapi kali ini Leon terlihat sedang meneteskan air matanya.
__ADS_1