Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Jentikan Jari


__ADS_3

Diam-diam Anggun menyeka air matanya saat ia mendengar penuturan Leon yang kini telah membicarakan masa lalunya.


Entah Leon sengaja atau terbawa perasaan saat ia sedang mengingat masa lalunya bersama Anggun.


Sementara Anggun entah dia harus percaya atau tidak dengan apa yang di katakan Leon saat ini.


Namun yang pasti kata-kata Leon saat ini membuatnya merasa tersentuh.


Anggun tidak ingin memperlihatkan air matanya, dia berpura-pura meminta izin untuk mengambil air minum.


“Maaf, tuan saya permisi ambil air minum dulu” ucap Anggun sambil menahan rasa tangisnya, tanpa perduli Leon memberinya izin atau tidak.


Lebih cepat dia segera meninggalkan Leon yang masih menatap lautan tanpa berniat untuk berbalik dan melihatnya.


“Ya Tuhan … aku sudah berbicara panjang lebar tapi dia…” ucap Leon menggantungkan kalimatnya, setelah Anggun pergi.


“Apa dia masih marah pada ku dan tidak mau memaafkan kesalahanku?” lanjut Leon mengira-ngira.


Dia berharap Anggun akan membuka jati dirinya setelah dia meluapkan isi hatinya tersebut pada Anggun.


Tapi ternyata Anggun seolah menghindar dan tidak perduli dengan apa yang di katakannya, pikir Leon.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Anggun nampak meredakan tangisannya. Dia masih belum percaya dengan apa yang di katakan Leon tadi.


“Ya Tuhan… Apa benar dia sudah menyesali perbuatannya pada ku?” ucap Anggun pelan, sambil mengingat apa yang di katakan Leon tadi.


“Tapi bagaimana jika dia hanya berpura-pura saja supaya aku membuka jati diriku saat ini?” lanjut Anggun menerka-nerka.


“Tidak… aku tidak akan melakukannya. Mungkin saja dia mencurigaiku dan sedang membuatku bingung supaya aku masuk ke dalam perangkapnya” lanjutnya.


Kemudian Anggun pun segera membeli apa yang tadi ia katakan.


Lalu setelah itu, Anggun pun perlahan berjalan kembali untuk menemui Leon di tempat tadi terakhir kali ia tinggalkan.


Dan saat Anggun sampai di tempat tadi, dia tidak menemukan keberadaan Leon.


Anggun pun mulai nampak terlihat panik dan khawatir. Dia tidak tahu ke mana Leon pergi. Dia mencoba mencari-cari sekitaran tempat tersebut.


Dan setelah Anggun mencari-cari keberadaan Leon, ia melihatnya dengan seorang perempuan cantik yang tidak ia kenali.

__ADS_1


Anggun tidak tahu siapa wanita itu, tapi melihat kedekatan mereka sepertinya wanita itu bukan orang asing bagi Leon.


Membuat Anggun kembali berpikiran yang tidak-tidak terhadap Leon.


“Benarkan, apa yang aku pikirkan. Baru saja tadi dia berbicara menyesal dengan apa yang dia lakukan pada ku dulu. Tapi lihat sekarang, dia begitu mesra dengan wanita lain. Dasar laki-laki, tidak bisa di percaya!!” kesal Anggun dalam hati saat melihat Leon dengan wanita lain yang tidak ia kenal.


Sadar atau tidak, seperinya Anggun mulai cemburu dengan hal-hal seperti itu.


Anggun tidak berani mendekati mereka yang saat ini sedang terlihat dekat itu.


Dia hanya berdiri di tempat sambil mengawasi tuannya tersebut dari kejauhan.


Dengan perasaan tidak menentu Anggun hanya dapat menggerutu sendiri.


Sementara Leon nampak asik mengobrol dengan teman wanitanya tersebut.


Tidak biasanya Leon berbaik hati pada wanita saat ini, pada hal biasanya dia seringkali bersikap sinis dan acuh tak acuh pada wanita yang ada di sekitarnya.


Rupanya wanita tersebut adalah teman baik masa kuliahnya. Wanita tersebut bernama Jeni. Dan dia sedang menghabiskan waktu bersama suaminya, yang tanpa sengaja bertemu dengan Leon.


Itu sebabnya Leon masih dapat berbaik hati dengan wanita tersebut. Selain wanita itu teman baiknya, wanita tersebut juga sudah menikah. Jadi Leon berpikir tidak mungkin jika Jeni akan sampai berperilaku seperti wanita kebanyakan yang ia temui selama ini.


Leon nampak tersenyum saat melihat Anggun yang terlihat kesal dan bete.


Anggun tidak menyadari apa yang Leon lihat saat ini.


Sementara teman wanitanya tersebut tengah kembali ke tempat suaminya berada, meninggalkan Leon yang terus memandangi seseorang, yaitu Anggun.


Namun Anggun masih saja cemberut dan berdebat dengan pemikirannya sendiri tanpa berani melihat ke arah Leon.


Sementara itu Leon perlahan mendekati Anggun yang kini tengah membelakanginya. Dengan kursi roda otomatisnya, Leon mulai mengontrol kursi roda tersebut dengan mudahnya.


Tapi tiba-tiba ada beberapa anak remaja yang sedang bercanda tidak sengaja menabrak kursi roda Leon, hingga membuatnya terjatuh.


Dan hampir saja membuat emosi Leon kembali naik dan hendak menghajar mereka.


Tapi tiba-tiba Anggun menghampirinya dan membuat Leon berpura-pura tidak berdaya di depan Anggun.


“Kurang ajar. Apa kalian tidak punya mata, hah?!” pekik Leon yang tengah terjatuh dari kursi rodanya akibat anak remaja yang tidak sopan itu.

__ADS_1


“Salah sendiri. Sudah tahu lumpuh, kenapa tidak diam saja di rumah, paman” ucap anak remaja yang membuat Leon terjatuh. Anak remaja tersebut bukannya minta maaf dia malah menyalahkan Leon dan menghinanya.


Anggun yang mendengar hal tersebut, tentu tidak terima dan tiba-tiba berlari dan menghajar anak remaja bandel tersebut.


Seolah ia tidak takut sama sekali, dan membuat teman-teman anak remaja tersebut tidak berani ikut campur untuk membantu temannya tersebut.


“Sialan… kurang ajar kau. Kenapa kau berani menghajar ku, hah?” pekik anak remaja tersebut saat menerima pukulan di pipinya secara tiba-tiba dan ambruk ke tanah.


Dia mencoba meminta bantuan pada teman-temannya, tapi mereka memilih lari meninggalkannya.


“Kurang ajar… kenapa kalian malah lari?!”teriak anak tersebut, tidak percaya bahwa teman-temannya malah meninggalkannya sendirian.


“Kenapa. Apa kau ingin aku hajar lagi, hah?” ucap Anggun menggertaknya.


“Masih bocah tapi beraninya bersikap tidak sopan dengan orang… “ ucap Anggun tidak berani melanjutkan kalimatnya, saat menyadari kata lemah yang hendak ingin dia ucapkan adalah hal sensitif bagi tuannya tersebut.


“Sudahlah lupakan. Sekarang kau pergi atau kau ingin aku pukul lagi, hah?” lanjut Anggun berbicara, dan mengusir anak remaja nakal tersebut. Hingga membuatnya lari terbirit-birit.


Sementara itu, Leon yang melihat Anggun bak pahlawan baginya merasa tersanjung dan terpesona dengan keberanian Anggun tersebut.


Leon tidak lagi merasa marah dan kesal saat Anggun memperlakukannya seperti orang lemah. Karena dia sendiri sudah tidak lemah seperti sebelumnya.


Jika dia ingin, mungkin anak-anak nakal itu sudah Leon beri pelajaran dengan caranya sendiri.


Tapi demi menjaga rahasianya dari Anggun, bahwa dia sudah tidak lagi lumpuh, Leon tidak perduli jika dirinya di anggap lemah dan lumpuh oleh orang lain.


Berbeda dengan dulu saat dia masih benar-benar lumpuh dan tak berdaya.


Leon slalu merasa tersinggung dan tidak ingin di perlakukan layaknya orang yang cacat.


Kini Leon kembali menatap Anggun dengan rasa kagum dan cinta.


Bahkan dia seolah menjadi tuli tak mendengar dengan omelan Anggun padanya.


Yang saat ini tengah berbicara sambil membantunya kembali duduk di atas kursi roda miliknya. Hingga Leon tidak menyadari bahwa dirinya sudah duduk kembali di atas kursi roda tersebut.


“Tuan… tuan, apa kau baik-baik saja?” ucap Anggun seraya beberapa kali menjentikan jarinya di hadapan wajah Leon yang tidak ada respon.


Hingga beberapa kali jentikan jari, barulah Leon tersadar dari lamuanannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2