
Lama Leon menatap Anggun, hingga tatapan itu tak terkendalikan lagi, membuatnya kembali berani mencium Anggun lagi.
Namun kali ini tidak seperti sebelumnya, kali ini Leon hanya menempelkan bibirnya dengan bibir ranum milik Anggun hingga beberapa saat lamanya.
Membuat Anggun yang tadinya begitu mengantuk tiba-tiba matanya terbelalak mendapati dirinya kembali di cium secara tiba-tiba oleh tuannya tersebut. Dan membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan gelas susu yang masih di pegangnya tadi hingga tumpah membasahi sebagian kecil lantai kamar Leon. Dan tidak membuat Leon melepaskan pangutannya.
Hingga terdengar suara pintu tertutup dengan cukup keras yang membuat Leon sedikit tersentak dan kaget. Membuatnya tersadar dari lamunan nakalnya. Rupanya Leon tadi sedang mengkhayal.
Dan Anggun yang sudah menegur dan memanggil-manggil tuannya tersebut tidak mendapatkan jawaban, membuatnya memilih untuk segera keluar dari kamar tuannya dan tanpa sengaja menutup pintu dengan cukup keras.
“Sial… ternyata aku hanya sedang berkhayal” ucap Leon sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepala dalam posisi terakhir kali Anggun menaruh susunya.
Sementara Anggun yang sudah sangat mengantuk segera pergi setelah menaru susu di atas nakas samping tempat tidur tuannya.
“Tapi… kenapa dia barusan menunjukan jati dirinya padaku. Apa dia tidak sadar dan tidur sambil berjalan?” lanjut Leon bertanya-tanya, tidak mengerti kenapa Anggun bisa sampai seperti itu.
“Ahh… sudahlah. Biar aku lihat nanti. Kalau sampai dia besok masih berpura-pura jadi sopir pribadiku. Berarti aku baru tahu kalau dia punya kebiasaan tidur sambil jalan… dasar aneh” ucap Leon pada dirinya sendiri.
Beruntung di malam itu hanya Leon yang melihatnya dan Anggun menganggap malam itu bahwa dirinya sedang bermimpi.
*************
Kini Leon telah terbangun, matanya mengedarkan ke setiap sudut ruangan. Namun dia tidak melihat keberadaan Anggun yang biasanya sudah berada di kamar dan menyiapkan kebutuhannya.
Leon tidak marah, hanya saja merasa aneh dan tidak biasanya. Kalaupun keluar, kenapa Anggun tidak bilang padanya, pikir Leon.
Tidak ingin berpikir lama-lama dan tidak ingin terus-terusan mengerjai Anggun, Leon pun memilih untuk melakukannya sendiri. Bagaimana pun Leon masih bisa melakukannya sendiri tanpa orang lain, meskipun harus berangsur-angsur ataupun mengesot.
Namun saat Leon hendak mengambil kursi roda yang ada di samping tempat tidur untuk di naikinya, tiba-tiba Leon tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya hingga membuatnya hampir terjatuh menghantam lantai.
Namun beruntung Anggun yang baru datang dan membuka pintu kamar tersebut melihatnya dan dengan sigap segera berlari untuk menahan tubuh Leon supaya tidak menghantam lantai yang pasti keras jika terbentur.
__ADS_1
Tapi karna tubuh Leon yang memang besar dan Anggun yang bertubuh kecil tetap saja tidak dapat menahannya dengan sempurna. Walaupun Leon masih terbilang selamat dan mengobarkan tubuh Anggun yang harus menahan tubuh besar Leon di atas lantai kamar tersebut.
Membuat Anggun yang tidak siap menguatkan diri harus bertahan di tindih Leon tanpa sengaja.
Mereka malah terlihat dalam posisi yang ambigu, membuat orang lain yang melihatnya akan mengira kalau mereka sedang bikin musiun.
“Tut.. tuan. Bi..bisakah anda ber… berguling sebentar” ucap Anggun dengan suara tercekat, merasa sedikit sesak saat harus menahan tubuh Leon secara tiba-tiba.
Menyadari dirinya tanpa sengaja menyakiti Anggun, Leon pun segera berguling dan membenarkan posisinya tersebut.
Kemudian segera membantu Anggun bangun dengan menarik tanggannya.
Dan saat Leon menarik tangannya tanpa sengaja terlalu keras, membuat Anggun tertarik cukup keras hingga membuat hidung keduanya menempel.
Anggun yang merasa syok berhadapan terlalu dekat hanya dapat melebarkan matanya merasa malu. Sementara Leon malah menyunggingkan sedikit senyumannya, dan dalam hati begitu senang mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk menatap Anggun lebih dekat lagi.
“Tut… tuan. Kenapa tadi tidak memanggil saya” ucap Anggun seraya cepat-cepat berdiri dan nampak terlihat memalingkan wajahnya tidak berani menatap wajah Leon secara langsung.
Dia hanya mengesotkan tubuhnya dan menarik kursi roda yang tidak jauh darinya. Tapi sebelum Leon menaiki kursi rodanya lagi, dia memastikan kembali kursi roda tersebut dalam keadaan terrem.
Namun Anggun yang melihat hal tersebut kembali berucap dan sedikit kesal karena dirinya merasa diabaikan tanpa di beri jawaban. Terlebih Leon seolah cuek dan malah tidak meminta bantuannya untuk naik ke atas kursi rodanya.
“Tuan.. kau ini bandel sekali. Kalau anda jatuh lagi bagaimana?” lanjut Anggun berbicara saat melihat Leon seolah tidak memperdulikan bantuannya. Dan hendak kembali menaiki kursi rodanya lagi sendiri.
Namun Anggun yang tiba-tiba kesal lebih memilih untuk membantu Leon menaiki kursi rodanya tersebut.
“Hey.. apa yang kau lakukan?. Aku masih bisa melakukannya sendiri” ucap Leon di tengah Anggun yang sedang memeluknya untuk membantu Leon duduk di kursi roda.
“Tuan tenang saja, aku juga tidak akan membuat mu jatuh lagi” ucap Anggun sedikit kesal dan gregetan.
Akhirnya Leon pun diam dan hanya mematuhi apa yang akan di lakukan Anggun padanya.
__ADS_1
Membuat Anggun melakukan pekerjaannya di siang itu.
Sementara di tempat lain, si kembar sedang di ajak jalan-jalan ke sebuah mall besar di kota tersebut. Mereka nampak senang dan bahagia, apalagi setelah bertemu dengan ibu mereka.
Sambil bercerita dan berjalan-jalan, Nina hanya mendengarkan dan mengiyakan setiap ucapan yang keluar dari mulut bocah-bocah tersebut. Seolah saat itu Nina menjadi tempat curhat para bocil tersebut.
Mereka nampak bahagia dan berceloteh ria. Seolah rasa rindu yang mereka simpan dan menggembung kini sudah sedikit terbayarkan.
Sementara itu, di sebuah restoran yang cukup mewah nampak para ibu-ibu sosialita sedang mengadakan arisan, termasuk di dalamnya ada nyonya Murni.
Namun kali ini, nyonya Murni nampak tertuju pada seorang anak gadis yang berusia kisaran empat atau lima tahun yang sedang berjalan-jalan bersama saudaranya yang tak dapat dia lihat.
Tapi raut wajah bahagia anak kecil tersebut entah mengapa membuat nyonya Murni seolah penasaran apa yang membuat gadis kecil tersebut nampak begitu bahagia. Hingga membuatnya ikut tersenyum dan ikut merasa bahagia.
Seolah kebahagiaan yang sedang di rasakan anak kecil tersebut menular hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.
“Jeng… Jeng lihat apa, sih?. Kok senyum-senyum gitu sendiri?“ tanya salah satu teman arisannya yang merasa penasaran saat melihat nyonya Murni senyum-senyum sendiri saat melihat ke arah jendela luar restoran tersebut.
“Ahh… enggak Jeng Rena. Hanya… rasanya seneng aja lihat anak kecil itu, kayanya happy banget. Lihat wajah anak kecil itu seolah hidupnya tanpa ada beban. Kita yang lihat aja jadi ikutan seneng, gitu” ucap Nyonya Murni memberitahu apa yang tengah di rasakannya saat ini.
“Makanya Jeng cepetan punya cucu. Biar bisa punya mainan di rumah?” ucap nyonya Rena menanggapi.
“Jeng Rena ini. Mainan, memangnya boneka?!” ucap Nyonya Murni terkekeh.
“Maaf Jeng. Maksud saya kita ini kan udah pada tua, tapi kalau ada cucu di rumah kita bisa main sama mereka. Apalagi kalau lagi lucu-lucunya, hidup kita ini jadi berwarna lagi” ucap Nyonya Rena yang sudah mengalami, merasa senang dan bahagianya memiliki cucu sendiri.
Namun rupanya ucapan teman arisannya tersebut membuat perasaan nyonya Murni sedikit tersinggung.
Ia menjadi teringat akan anak laki-laki satu-satunya yang belum bisa memberikan cucu padanya, pada hal jika di pikir-pikir anaknya tersebut umurnya sudah berkepala dua atau tiga.
Namun ia juga tidak bisa menyalahkan anaknya tersebut.
__ADS_1
Tapi jauh di lubuk hatinya terkadang nyonya Murni, menginginkan keramaian tawa dan tangis anak kecil di tengah rumah yang bak istana tersebut.