
Dan setelah Anggun masuk ke dalam rumah tersebut satu persatu bayangan masa lalu yang indah kembali berlarian dalam benak Anggun saat dirinya masih mengenyam pendidikan.
Dimana Leon masih menganggapnya adik dan bersikap hangat kepadanya.
Sekuat mungkin Anggun menahan perasaannya untuk tidak menangis dan berulangkali menghapus air matanya yang menetes di saat dia sedang di tinggal sendiri.
Sementara Bi Asri masuk lebih dalam untuk menemui nyonya besarnya.
Di sisi lain Leon sudah berada di kantornya. Di dalam kesibukannya, Leon kembali teringat pada orang yang selama ini dia sia-siakan. Membuatnya sejenak menghentikan jari-jemarinya untuk mengetik.
Saat ini pikirannya tak dapat lepas dari bayangan masa lalunya.
“Anggun… dimana kamu sekarang?” ucap Leon sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.
“Ya Tuhan… kenapa aku dulu begitu bodoh” keluh Leon.
“Papa benar, aku akan tahu setelah aku kehilangan. Dan sekarang aku…” lanjut Leon sambil menggantung kalimatnya dengan frustrasi.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan masuk setelah Leon mengizinkannya.
“Permisi, tuan. Saya ingin memberitahu, bahwa nanti siang tuan ada meeting dan setelah itu tuan ada undangan makan malam dengan nona Silvia. Apa tuan akan menghadirinya?” ucap seorang sekertaris yang bernama Ani.
“Untuk meeting aku akan datang, tapi kalau untuk undangan makan malam nanti aku pikirkan lagi” ucap Leon menanggapi.
“Sekarang kau boleh pergi” lanjutnya mempersilahkan sekertarisnya untuk pergi.
Kemudian setelah sekertarisnya pergi, Leon kembali berbicara sendiri.
“Wanita itu, masih saja berharap. Apa dia pikir aku ini bodoh” ucap Leon merasa kesal dengan wanita yang bernama Silvia.
Pasalnya wanita tersebut adalah mantan kekasihnya, yang mana wanita tersebut tega meninggalkannya setelah mengetahui Leon lumpuh setelah kecelakaan waktu itu.
Wanita tersebut berpikir jika Leon lumpuh maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa selain harus mengurus laki-laki cacat seperti Leon.
Dan pada saat yang bersamaan, Leon mendengar hal tersebut. Dimana Silvia sedang berduaan dengan kekasih barunya yang mana laki-laki barunya tersebut adalah teman Leon sendiri.
Mendengar hal tersebut tentu membuat Leon sangat marah dan murka. Dan semenjak saat itu lah Leon sangat sensitif jika ada seseorang melihatnya lumpuh dan cacat.
Tidak hanya itu, Leon pun dengan marah langsung memutuskan hubungannya dengan sang kekasih.
Dan semenjak saat itu juga Leon membuktikan bahwa dirinya tidak selemah yang orang-orang pikirkan.
Bahkan mengetahui temannya telah berselingkuh dengan sang kekasih, Leon dengan tanpa ampun menghancurkan bisnis keluarga temannya tersebut setelah Leon berhasil menjadi CEO di perusahaan milik ayahnya.
__ADS_1
Dan setelah saat itu, Silvia mulai menyadari bahwa mantan kekasihnya tersebut tidak selemah yang di lihat dan yang dipikirkannya.
Silvia mulai berencana untuk mendekati mantan kekasih nya terebut agar dapat kembali. Bahkan dia rela meminta maaf sambil berpura-pura menangis dan bersujud di kaki Leon.
Hingga pada akhirnya Leon memaafkannya tapi tidak untuk kembali.
Namun Silvia tidak ingin pergi begitu saja dari kehidupan Leon. Dia ingin tetap kembali, namun kali ini dia harus lebih bersabar dan slalu berpura-pura menjadi wanita baik-baik di depan Leon.
Silvia masih berharap menjadi nyonya Leon Adinata. Dan dengan keadaan Leon seperti saat ini, jika dirinya sampai menikah dengan Leon tentunya dia bisa mengambil alih posisi Leon tersebut di perusahaan. Apalagi jika Leon tak berumur panjang, pikir Silvia.
Sementara itu di kediaman Adinata, Bi Asri membawa nyonya Murni untuk di pertemukan dengan Anggun.
Perlahan nyonya Murni datang dengan menuruni tangga bersama dengan Bi Asri yang lebih dulu di depan untuk menunjukan.
Anggun yang berada di lantai bawah, melihat orang yang dulu begitu sulit untuk di dekati bahkan mungkin orang tersebut memang tidak suka jika Anggun berada di lingkungan keluarganya, orang tersebut yaitu nyonya Murni.
Hingga membuat Anggun saat ini merasa khawatir jika sampai tahu bahwa dirinya adalah orang yang sangat tidak nyonya Murni sukai.
“Ya Tuhan.. bagaimana ini. Bagaiman jika tante Murni tahu siapa aku sebenarnya. Dia pasti akan segera mengusirku” ucap Anggun dalam hati saat melihat nyonya Murni melangkah turun untuk menemuinya.
“Apa aku cari pekerjaan lain saja, ya” lanjut Anggun dalam hati.
“Tapi bagaimana dengan anak-anakku?. Kalaupun aku dapat pekerjaan di tempat lain, pasti gajinya tidak akan sebesar yang di tawarkan di sini” ucap Anggun dalam hati, kembali ragu-ragu dan gelisah.
Sementara saat ini, gaji yang dapat memberikan lebih besar hanya di tempat tersebut.
“Ini nyonya orangnya yang mau bekerja sebagai sopir pribadi tuan muda” ucap Bi Asri sekaligus membuyarkan lamunannya Anggun.
“Kamu yakin ini orangnya?” tanya nyonya Murni setelah melihat postur tubuh Anggun yang kecil seperti anak gadis remaja. Merasa kurang yakin dengan kemampuannya jika menjadi sopir pribadi anaknya nanti.
“I.. iya nyonya” ucap Bi Asri terbata-bata, mulai merasa panik takut ketahuan siapa orang yang tengah di bawanya tersebut.
Begitupun Anggun yang mulai tersadar dari lamunannya dan ikutan panik mendengar hal tersebut. Namun sebisa mungkin Anggun atasi dengan berpura-pura biasa saja.
“Ke..kenapa nyonya bertanya seperti itu?” tanya Bi Asri memastikan apa yang di khawatir kannya adalah salah.
“Ya kamu lihat aja! badannya kecil begini, gimana kalau nanti anak saya butuh bantuannya untuk di bopong atau di angkat” ucap nyonya Murni memberitahu alasan dari pertanyaannya.
“Memangnya ada apa dengan Mas Leon, kenapa sampai harus di bopong dan di angkat juga?” tanya Anggun dalam hati, merasa bingung. Belum tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Leon.
“Haah sudahlah… untuk sementara biar anak ini saja dulu yang aku pekerjakan. Setidaknya sampai aku mendapatkan yang lain dari agen terpercaya” ucap nyonya Murni dalam hati, sambil menimba-nimba keputusannya.
“Sudahlah… lupakan ucapan saya tadi” ucap nyonya Murni, tidak ingin mempersulit alasannya.
__ADS_1
“Tapi… apa kamu sudah benar-benar ahli dalam mengendarai mobil?” lanjut nyonya Murni bertanya.
“Su.. sudah, nyonya” ucap Anggun mendadak terbata-bata lagi.
“Apa saya perlu menunjukan sim saya nyonya?” lanjut Anggun berpura-pura menawarkan, pada hal sebenarnya dia takut menunjukan identitas simnya tersebut.
“Sudah tidak perlu. Saya percaya sama kamu. Tapi ingat!! Jika terjadi sesuatu pada anak saya di saat kamu yang bawa kemudi, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kalian berdua, mengerti” ucap nyonya Murni terdengar ancaman.
Membuat Anggun yang mendengar hal tersebut merasa terbebani dan takut membawa-bawa Bi Asri dalam masalahnya nanti.
“Ta…” ucap Anggun menggantung hendak protes, tapi saat Bi Asri menatapnya dan memberi kode untuk diam. Anggun pun mengerti dan terpaksa mengikuti apa yang di isyaratkan padanya.
“Bab..baik nyonya” ucap Anggun sambil menunduk pasrah.
“Kalau begitu besok pagi kamu sudah bisa mulai bekerja sebagai sopir pribadi anak saya” ucap nyonya Murni memberitahu dan di balas anggukan pelan oleh Anggun.
“Ngomong-ngomong dari tadi kita bicara, tapi saya belum tahu nama kamu siapa” lanjut nyonya Murni yang belum mendengar nama karyawan barunya tersebut.
Membuat Anggun dan Bi Asri yang mendengar hal tersebut kembali merasa gelisah takut salah bicara tak sama.
“Namanya Ang…” ucap Bi Asri hampir kelepasan karena belum kalikong untuk nama yang akan di gunakan Anggun di tempat tersebut.
“Angga, nyonya. Nama saya Angga” samber Anggun lebih cepat, sebelum Bi Asri mengatakan yang tidak seharusnya di ucapkan.
“I..iya, Angga. Namanya Angga, nyonya” ucap Bi Asri menimpali. Sambil berucap syukur dalam hati, merasa tenang kembali, mulutnya tidak keceplosan.
“Untung…untung” lanjut Bi Asri dalam hati sambil mengusap-usap dadanya tanpa di sadari oleh nyonya Murni.
“Ya sudah kalau begitu, hari ini kamu bisa tinggal di sini, di ruangan yang sudah di siapkan buat para karyawan” ucap nyonya Murni memberitahu.
“Nanti biar Bi Asri yang antarkan kamu. Dan satu hal lagi, saya tahu katanya kamu sudah punya anak dan anak kamu sedang sakit dan sedang di rawat. Tapi saya tidak mau dengar kalau kamu sampai minta izin keseringan, mengerti!” ucap nyonya Murni mengingatkan.
“Bab.. baik, nyonya” ucap Anggun dengan berat hati. Belum apa-apa sudah di larang untuk tidak sering-sering menengok anaknya.
Membuat Anggun berpikir, bagaimana jika nyonya Murni tahu sebenarnya bahwa yang sedang di rawat di rumah sakit adalah cucunya sendiri, pertanyaan Anggun dalam benaknya.
Sementara itu, berbeda dengan pemikiran nyonya Murni yang menilai Anggun di usianya sebagai anak laki-laki yang masih terbilang sangat muda sudah memiliki anak, membuatnya berpikir bahwa hal tersebut terjadi pasti karna suatu insiden yang tidak seharusnya terjadi.
“Dasar anak jaman sekarang, bisa-bisanya masih muda sudah punya anak. Apa mereka pikir punya anak di usia muda itu gampang apa” pikir nyonya Murni geleng-geleng kepala pelan, sambil melihat langkah Anggun yang mengikuti Bi Asri.
“Anakku yang sudah kepala tiga saja malah belum punya anak. Kalau begini terus, kapan aku akan menimang-nimang cucu” ucapnya pada diri sendiri.
“Hah.. sudahlah. Kenapa aku jadi mikirin kehidupan pribadi sopir baru itu” lanjut nyonya Murni merasa kesal sendiri.
__ADS_1