Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Kemana Dia?


__ADS_3

“Kenapa kau tiba-tiba terlihat bersedih begitu?” tanya Raja saat menyadari raut wajah Anggun.


“Ah.. tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja” ucap Anggun dan sedikit berbohong. Tidak ingin kesedihannya tersebut di ketahui olehnya.


“Ya sudahlah kalau begitu, masuklah!. Ini sudah larut malam. Kau pasti sangat lelah” ucap Raja, dia percaya dengan apa yang di katakan Anggun barusan. Apalagi saat melihat keadaannya yang memang terlihat lelah dan waktu yang sudah larut malam.


“Terima kasih, sudah membantuku” ucap Anggun berterima kasih pada Raja, sebelum ia benar-benar masuk ke rumah tersebut dan meninggalkannya.


Raja pun ikut pergi setelah ia melihat Anggun sudah masuk ke dalam rumah kosan itu.


Ke esokkan paginya, anak-anak mulai terbangun. Mereka nampak masih menguap, mereka belum mengetahui jika ibu mereka telah pulang dan Anggun sengaja memang tidak memberitahu mereka lebih dulu.


Dan saat mereka pergi ke dapur untuk mencari Nina seperti biasanya. Betapa terkejut dan senangnya mereka saat mengetahui ibunya datang dan kini sedang memasak untuk mereka.


“Kejutaaan…” ucap Anggun saat melihat anak-anaknya, Anggun segera mematikan kompor sejenak untuk memeluk mereka terlebih dahulu.


“Ibu..” ucap Juni dengan senangnya.


“Mami..” ucap Juna tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.


Mereka pun segera berhamburan untuk memeluk ibu mereka.


Anggun tentu melebarkan kedua tangannya di udara untuk menerima kedatangan mereka dalam pelukannya.


Mereka nampak bahagia dan meluapkan rasa rindu di hati mereka.


Dan Anggun sepertinya mulai dapat melupakan apa yang terjadi pada pekerjaannya.


Dia mengingat perkataan bi Asri, Bi Asri benar setidaknya dia dapat berkumpul dan meluangkan waktu untuk anak-anaknya saat ini.


Sebelum dia benar-benar mendapatkan pekerjaan lainnya nanti. Dan sebelum itu terjadi, Anggun akan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya dengan baik.


“Mami… kenapa mami tidak memberitahu kami lebih dulu kalau akan pulang?” ucap Juna sambil melepaskan pelukannya.


“Iya.. kenapa ibu tidak membelitahu kami” ucap Juni menimpali.


Anggun hanya tersenyum, apalagi mendengar ucapan Juni yang masih terdengar cadel.


Dia begitu gemas dengan kedua anaknya tersebut. Apalagi untuk beberapa bulan ini Anggun sudah menahan rasa rindu dan gemasnya tersebut pada kedua anaknya itu.

__ADS_1


“Maaf sayang tidak mengabari tahu kalian lebih dulu” ucap Anggun pada kedua anak kembarnya tersebut sambil tersenyum.


“Tapi sekarang ibu kan sudah ada disini. Apa kalian senang?” lanjut Anggun ingin melihat kembali reaksi anak-anaknya saat dirinya dapat bersama dengan mereka lagi.


“Tentu saja, kami sangat senang. Kami sangaaaat lindu pada ibu” ucap Juni dengan antusiasnya.


“Benal kan kak Juna” lanjut Juni sambil melirik Juna mencari dukungan.


“Hemm.. itu benar, mami. Kami sangat rindu” ucap Juna membenarkan.


“Apa mami akan pergi lagi?” lanjut Juna bertanya, dia takut kedatangan mami nya datang hanya untuk sebentar dan akan kembali meninggalkan mereka lagi, pikir Juna.


“Mmhh… bagaimana, ya” ucap Anggun berpura-pura berpikir.


“Menurutkan kalian, apakah ibu akan pergi lagi?” lanjut Anggun membuat teka teki untuk kedua anaknya tersebut.


Juna dan Juni pun saling memandang satu sama lain, mencari jawaban atas pertanyaan ibunya tersebut.


Mereka sedikit bingung, tapi tentu saja mereka tidak ingin jika harus berjauhan kembali dengan ibunya tersebut.


“Apa mami akan pergi lagi?” ucap Juna dengan pertanyaan pula, namun kini wajahnya terlihat sendu dan menunduk. Dia pikir ibunya akan kembali pergi lagi dengan cepat.


“Karena mami akan pergi lagi” ucap Juna tanpa basa basi lagi.


“Memangnya siapa yang bilang ibu akan pergi lagi?” ucap Anggun dan membuat Juna kembali berbinar begitu pun dengan Juni.


“Jadi.. mami tidak akan pergi lagi?” ucap Juna begitu terlihat senang saat melihat anggukan dari maminya yang menandakan bahwa apa yang di pikirkan nya benar, bahwa ibunya tidak akan pergi lagi meninggalkan mereka.


Meskipun Anggun tidak mengatakan lebih lanjut, bahwa dia akan bersama mereka hanya sampai mendapatkan pekerjaan lainnya.


Tapi Anggun berharap di pekerjaannya nanti tidak harus sampai meninggalkan mereka lagi.


Mereka pun kembali saling berpelukan, hingga Nina dan suaminya pun datang membuat Anggun segera melanjutkan apa yang tadi dia tinggalkan.


Setelah beberapa saat, Anggun pun selesai menyiapkan hidangan untuk mereka sarapan bersama.


Meski pada awalnya Nina merasa tidak enak jika ternyata tamunya tersebut malah bangun lebih dulu dan bahkan sampai membuatkan sarapan untuk mereka.


Setelah selesai sarapan, suami Nina segera pergi meninggalkan mereka untuk berangkat ke kantor.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, Leon mulai terbangun. Dia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing gara-gara dia terlalu banyak minum.


Tiba-tiba kepala pelayannya datang dan membuat Leon bertanya-tanya. Karena biasanya yang datang adalah Anggun.


“Kenapa kau yang datang. Kemana asisten pribadiku?” tanya Leon sambil tetap memegang kepalanya yang masih terasa pening.


“Maaf tuan muda. Tuan Dino sudah pulang dari semalam” ucap kepala pelayan tersebut mengira asisten yang sedang di bicarakan tuannya tersebut adalah Dino.


“Maksudku bukan Dino. Tapi orang yang biasa membantuku untuk menyiapkan segala keperluanku di rumah” ucap Leon memberitahu.


“Oh.. maaf tuan. Maksud anda orang yang sekaligus menjadi sopir pribadi, tuan?” tanya kepala pelayan tersebut memastikan.


“Iya itu” pekik Leon sedikit kesal karena harus menjelaskan berturut-turut.


“Kemana dia?” lanjut Leon kembali bertanya.


Membuat kepala pelayan tersebut sedikit berpikir-pikir untuk mengatakan kebenarannya.


“Kenapa kau diam saja. Katakan kemana dia?” ucap Leon bertanya lagi tak sabaran.


“Ma..maaf, tuan. Setahu saya nyonya besar sudah memecatnya” ucap kepala pelayan tersebut yang bernama Pak Usman


“Apa?” pekik Leon merasa terkejut dengan apa yang di katakan kepala pelayannya tersebut.


“Kenapa mama bisa sampai memecatnya?” lanjut Leon bertanya kembali dengan perasaan tak percayanya.


“Kalau itu saya kurang tahu, tuan” ucap Pak Usman tidak berani mengatakan yang sebenarnya terjadi.


“Keluar!!” bentak Leon yang kembali dalam mode dinginnya. Tidak perduli lawan bicaranya saat ini lebih tua dari kedua orang tuanya.


Pak Usman pun segera pergi dengan di ikuti kedua pelayan bawahannya.


Tadinya dia akan menyuruh kedua pelayan tersebut untuk membantu Leon dan menyiapkan segala keperluannya sebelum pergi ke kantor.


Namun ternyata Leon lebih dulu mengusirnya tanpa memberi kesempatan pada kedua pelayan tersebut.


Saat mengetahui bahwa Anggun sudah di pecat dan tidak lagi berada di rumah tersebut, Leon segera bergegas ke kamar mandi dan menyiapkan diri untuk segera pergi dari rumah tersebut.


Tapi sebelum itu, Leon lebih dulu menemui ibunya dan bertanya kenapa dia sampai memecat asisten sekaligus sopir pribadinya itu, namun tidak dengan menunjukkan bahwa dirinya sudah sembuh dari lumpuhnya.

__ADS_1


__ADS_2