
Leon pun berhasil masuk ke dalam mobil tanpa bantuan dari Anggun lagi.
Melihat hal tersebut, Anggun pun merasa sedikit tenang.
Kemudian dia segera menutup pintu mobil tersebut dan menaruh kursi roda di bagasi terlebih dahulu.
Lalu segera duduk di kursi belakang kemudi. Dan mulai menstarter, setelah itu ia langsung melaju membawa tuannya ke tempat tujuan yaitu perusahaan Adinata Grup.
Di sepanjang perjalanan, Leon nampak sibuk dengan pekerjaannya saat ini.
Beberapa kali dia nampak menelpon orang-orang untuk membicarakan suatu kontrak besar ataupun acara meeting yang akan di hadirinya. Tidak hanya itu, ada juga yang terus-terusan membuat panggilan untuk menghubunginya.
Dan ada pula di beberapa momen yang terlihat Leon mengabaikan panggilan tersebut. Hal itu terlihat oleh Anggun yang diam-diam juga memperhatikan Leon di balik kaca spion yang di intipnya.
Hingga tak terasa, mereka pun sampai di parkiran Adinata Grup.
Mobil pun terparkir dengan aman, Anggun segera keluar dan mengambilkan kursi roda untuk tuannya tersebut.
Anggun kembali mendekatkan kursi roda setelah membuka pintu mobil. Dia hanya menahan kursi roda tersebut supaya kursi rodanya tidak bergerak dan meluncur kesembarang arah saat Leon hendak mendudukinya.
Kemudian dia segera membantu mendorong kursi roda bosnya sampai ke ruang kantor.
Dan saat memasuki ruangannya Anggun nampak terkejut, di sana sudah ada sesosok wanita cantik yang menanti kedatangan Leon.
Membuat Anggun menghentikan langkahnya sebelum ia membawa Leon ke tempat meja kebesarannya.
Leon yang fokus menelpon seseorang, belum sadar bahwa di ruangannya sudah ada orang yang menanti kehadirannya.
“Hey.. kenapa kau berhenti di sini!” ucap Leon yang merasa dorongan di kursi rodanya terhenti sambil tetap menerima panggilan telponnya.
“Cepat bawa aku ke meja kerja, aku harus segera menyelesaikan dokumen pekerjaan ku!” lanjutnya memerintah.
Dia masih belum menyadari kehadiran seorang wanita, hingga wanita cantik tersebut mulai berbicara dan menghampiri Leon.
“Pagi.. sayang.” ucap wanita itu pada Leon dengan percaya dirinya.
“Kau?!..” ucap Leon nampak tak senang dengan kehadiran wanita tersebut.
“Silvia, sejak kapan kau berada di ruangan ku?”
__ADS_1
Melihat Leon yang mengenali wanita tersebut, membuat Anggun merasa ada sesuatu yang membuat hatinya terasa sedikit panas dan sesak.
Kemudian Leon segera menyuruh Anggun untuk keluar dan meninggalkannya bersama mantan kekasihnya tersebut.
Tanpa banyak protes Anggun pun menuruti perintah bosnya.
Namun diam-diam Anggun sedikit memperhatikan wanita itu sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Anggun merasa penasaran, siapa wanita yang berani masuk keruangan Leon tanpa seizin dari yang empunya, selain rekan bisnis atau mungkin wanita spesialnya, pikir Anggun saat ini.
Sementara di dalam ruangan, Leon dan Silvia mulai berbicara. Tapi tampaknya Leon terlihat tidak senang dengan kedatangan mantan kekasihnya tersebut.
Apalagi dengan pakaian yang di kenakan Silvia saat ini terlalu mencolok dan terlihat seperti wanita penggoda.
Hal tersebut semakin membuat Leon tidak sudi untuk menatapnya langsung. Bukan karena dia bernafsu melihat tubuh seksi Silvia yang kurang bahan tersebut tapi lebih kepada jijik untuk melihatnya.
“Cepat katakan!! Apa sebenarnya yang membawamu kemari. Aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang dengan mu” ucap Leon tanpa berniat basa basi.
“Sayang… kenapa bicaramu sinis begitu” ucap Silvia dengan sok manis dan mendayu-dayu. Masih berharap Leon akan bersimpati dan tergoda olehnya.
“Tetap di situ. Dan jangan mencoba mendekat ataupun merayuku!” ucap Leon tidak perduli mulutnya terdengar pedas, saat melihat sang mantan hendak mendekati dirinya.
Memang benar selama berhubungan dengannya Leon tidak pernah membentak ataupun menolak sentuhan darinya. Tapi semenjak Silvia meninggalkannya hanya karena dirinya terlihat lumpuh dan belum menjadi CEO saat itu dengan mudahnya Silvia memutuskan hubungan dan pergi begitu saja.
Tentu hal tersebut membuat Leon tidak habis pikir tentang kekasihnya itu. Pada hal selama itu Leon selalu mempertahankan hubungannya dengan Silvia walaupun papanya sering kali menolak hubungan tersebut.
Hingga membuat papanya harus menjodohkan Leon dengan gadis pilihannya, yaitu Anggun.
Namun setelah mereka sah menikah, dengan teganya Leon mengusir Anggun. Dan bahkan bukan hanya itu, Leon dengan kasar dan dengan rasa marahnya mengambil kehormatan Anggun yang selama ini slalu di jaganya. Meskipun saat itu Leon melakukannya setelah menikahi Anggun terlebih dulu.
Tapi apa yang di lakukan Leon saat itu menjadi penyesalannya saat ini.
Bukan karena ia menyesal telah menyentuh istri sahnya tersebut melainkan karena ia menyesal telah memperlakukan Anggun dengan kasar hingga sampai tega mengusirnya.
Dan kini saat dia mengetahui bahwa Anggun sudah kembali dan berada dekat di sampingnya tapi Leon tidak bisa dengan leluasa untuk meminta maaf dan memeluknya merasa rindu.
Leon ingin mencari tahu terlebih dahulu apa maksud dan tujuan Anggun hingga sampai membuatnya harus berpura-pura menjadi orang lain dan bekerja padanya seperti saat ini.
Berbeda dengan Silvia yang memiliki maksud dan tujuan yang buruk padanya. Dan tentu hal tersebut sudah dapat Leon duga.
__ADS_1
Namun meskipun begitu, Leon tidak bisa menghukumnya secara terang-terangan. Selain Silvia wanita pertama yang ia cintai, dia juga belum tega sepenuhnya untuk menghukum sang mantan tersebut.
Terlebih Leon belum memiliki bukti nyata untuk membuat Silvia mengakui niat buruk dan niat jahatnya tersebut.
Sementara itu, Anggun sudah berada di parkiran di dalam mobil tuannya.
Dia nampak duduk di belakang kemudia sambil memikirkan sesuatu.
Sepertinya kejadian tadi membuatnya kepikiran, apalagi saat ia tadi melihat seorang wanita cantik di ruangan bosnya tersebut.
“Ya Tuhan… kenapa juga aku harus memikirkan siapa wanita itu dan ada hubungan apa dia dengan, Mas Leon” ucapnya berbicara sendiri sambil menyebut nama Leon seperti dulu.
“Itu bukan urusanku…. Bukan urusanku. Aku disini hanya untuk bekerja… bekerja dan bekerja” lanjut Anggun berbicara sendiri, mengingatkan dirinya sendiri supaya tetap fokus pada pekerjaannya saja, demi si kembar dan masa depan mereka.
“Aaakhhh…” pekik Anggun sambil mengusap wajahnya sendiri demi menghilangkan frustasinya tersebut.
Lalu tiba-tiba menarik nafas dan mulai mengaturnya pelan-pelan. Tidak ingin berlarut-larut dalam perasaan yang tidak ingin dia mengerti apalagi sampai harus memikirkannya lagi.
Kemudian tiba-tiba, terdengar suara nada dering handphone memanggilnya.
Anggun segera mengangkat telpon tersebut yang merupakan panggilan dari bosnya.
“Tuan?!..” tanya nya sedikit heran.
“Ada apa dia memanggilku. Apa wanita itu sudah pergi?” lanjutnya bertanya-tanya sebelum mengangkat panggilan tersebut.
“Ha.. hallo, tuan” ucap Anggun mendadak sedikit gugup.
“Kau di mana?. Kenapa tidak membuatkan aku kopi lagi?!” tanya Leon dengan nada dinginnya.
“Ko.. kopi?!” tanya Anggun masih belum peka.
“Iya kopi. Kopi yang seperti kemarin kau buat” ucap Leon menjelaskan.
“Cepat bawakan aku sekarang. Dan harus sama persis yang seperti kemarin. Mengerti!” lanjut Leon dan kembali memerintahnya kemudian segera menutup sambungan tersebut tanpa berniat mendengarkan ucapan dari Anggun.
“Dasar bossi!!. Kenapa tidak dari tadi saja menyuruhku membuatnya sebelum aku tadi keluar” ucap Anggun merasa sedikit kesal dan mengomel pada handphonenya, seolah itu adalah Leon.
Entah karena Leon menyuruhnya sesuka hati atau karena masih kepikiran wanita tadi yang terlihat dekat dengan Leon.
__ADS_1