
“Tuan… tuan… kenapa anda menatap saya terus?” tanya Anggun memberanikan diri.
Setelah beberapa saat Leon pun tersadar dan berlagak tidak terjadi apa-apa.
“Gr sekali kau. Siapa juga yang sedang menatap mu” ucap Leon saat dirinya ketahuan memandanginya.
Dengan berlagak sok acuh, Leon bersikap kembali dingin dan sinis pada Anggun.
“Lalu kenapa tuan terus memandangi saya?” tanya Anggun lagi, tidak perduli dirinya akan di bilang ke gr ran atau tidak.
“He… he.. lancang sekali mulut mu itu. Kau pikir aku sedang benar-benar menatap mu. Apa kau kira aku menyukai sopir seperti mu, hah?” pekik Leon berpura-pura marah.
“Apa jangan-jangan kau yang diam-diam menyukai ku, hah!!” lanjut Leon membalikkan keadaan.
“Jangan-jangan kau gay, ya?!!” lanjutnya melebih-lebihkan.
“Tuan!!.. anda jangan sembarangan!” pekik Anggun tidak terima.
“Sudah cukup!!. Aku di sini mau makan. Bukan untuk berdebat” ucap Leon tidak ingin sampai ketahuan bahwa memang dirinya yang sedang menatapnya tadi.
“Tapi, tuan. A..” ucap Anggun masih belum terima tapi tiba-tiba mulutnya sudah di sumpel dengan makanan yang Leon masukan ke dalam mulut Anggun supaya dirinya diam dan tidak banyak bicara lagi.
“Lebih baik kau makan atau aku akan memotong gaji mu karena banyak bicara dan terus berdebat dengan ku. Mengerti!” ucap Leon yang akhirnya berhasil membuat Anggun terdiam dan lebih memilih untuk makan bersama bosnya tersebut.
Memang kelemahan Anggun adalah dengan ancaman gaji atau dirinya akan di pecat, barulah Anggun tidak akan banyak bicara lagi.
Mereka pun akhirnya makan bersama dan menikmati hidangan yang tersedia di tempat tersebut.
Meskipun ada beberapa orang yang menatap mereka dengan tatapan aneh. Entah karena mereka terlihat dua pria yang sedang makan bersama atau karena seorang bos yang berbaik hati mengajak sopirnya makan bersama berdua.
Namun hal itu tidak membuat Leon merasa terganggu ataupun perduli dengan opini mereka yang melihatnya.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah kembali ke kediaman Adinata.
Nyonya Murni nampak sudah menunggu ke datangan putra satu-satunya tersebut.
“Leon… kamu dari mana saja?. Kenapa jam segini baru pulang. Harusnya kamu itu istirahat, bukannya keluyuran di luar rumah” ucap nyonya Murni yang merasa khawatir berlebihan. Dia tidak suka jika anaknya tersebut pergi ke luar di hari minggu.
__ADS_1
Karena sudah menjadi keputusan bersama sebelumnya.
Bahkan sebelumnya nyonya Murni tidak mengijinkan putranya tersebut untuk bekerja di kantor, melihat kondisi Leon yang sampai saat ini belum juga pulih dari lumpuhnya.
Itu sebabnya, nyonya Murni meminta Leon untuk full istirahat di hari minggu.
Tapi dia tidak tahu jika putranya tersebut sudah dapat berjalan kembali.
“Ma.. mama tenang. Leon baik-baik saja” ucap Leon pada mamanya.
“Please, ma. Leon mohon mama jangan terlalu khawatir. Leon gak suka kalau mama seperti ini” lanjutnya.
“Tapi sayang…” ucap nyonya Murni tanpa dapat menyelesaikan kalimatnya.
“Ma, please” ucap Leon cepat tidak ingin membiarkan ibunya menyelesaikan ucapnya tersebut. Yang ujung-ujung hanya berkata khawatir.
Dan Leon tidak ingin ibunya terus-terusan mengkhawatirkannya. Meskipun dia tahu itu adalah bentuk kasih sayang dari ibunya tersebut.
Leon pun segera pergi dari hadapan ibunya, dia menjalankan kursi rodanya sendiri tanpa berniat menerima bantuan dari Anggun.
Anggun yang hendak membantu mendorongnya, seketika di tahan oleh Leon dengan memberikan isyarat tangan.
Anggun pun hanya dapat terdiam dan menghentikan langkahnya.
Merasakan aura yang tidak nyaman di tempat saat ini berdiri, Anggun pun segera menunduk dan melangkah pergi setelah melihat ke arah nyonya Murni yang memberikan kedipan untuk ia dapat pergi.
“Hhuh…. Cape sekali hari ini” ucap Anggun sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Tiba-tiba ia pun teringat dengan kedua anaknya.
“Apa anak-anak sudah tidur belum ya?” lanjutnya bertanya pada diri sendiri.
“Coba aku lihat jam berapa ini” ucapnya lagi sambil merogoh kantong saku untuk mengambil hp dan melihat jamnya.
“Yah… kalau jam segini anak-anak pasti sudah tidur” ujar Anggun merasa sedikit kecewa tidak dapat menelepon anaknya lebih dulu sebelum ia tidur.
“Hemm.. ya sudahlah” lanjutnya sambil kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Sementara itu, Leon pun sudah berada di dalam kamarnya. Dia segera menutup pintu kamarnya tersebut. Namun sebelum itu, ia memastikan tidak ada siapapun yang ada di depan kamarnya tersebut.
Dan setelah memastikan tempat tersebut aman dari orang-orang yang bisa kapan saja masuk ke kamarnya, Leon pun segera kembali menutup pintu dan mengunci kamarnya tersebut dari dalam.
Lalu perlahan-lahan Leon mulai menggerakkan kakinya. Satu demi satu kakinya ia angkat untuk keluar dari kursi roda tersebut.
Dia mulai sedikit tersenyum, saat mengetahui bahwa dirinya dengan sadar dapat menggerakkan kakinya tersebut.
Kemudian dengan perlahan dia mulai menopang kakinya sendiri. Perasaannya mulai bergemuruh, tapi ia mencoba untuk mengontrol perasaan tersebut.
Ia memastikan terlebih dahulu, bahwa dia tidak hanya dapat menggerakkan kakinya.
Leon mulai melangkahkan kakinya secara perlahan dan meninggalkan kursi rodanya tersebut.
Betapa bahagianya Leon saat ini mengetahui bahwa kakinya benar-benar kembali normal dan sembuh.
Ia mulai melompat-lompat ke girangan seperti anak kecil. Sikap nya saat ini jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
Jika orang yang melihatnya saat ini, mungkin akan menganggapnya sebagai orang lain dan bukan Leon.
Tiba-tiba di tengah kebagiannya Leon teringan pada Anggun.
Hatinya kembali menghangat saat teringat pada Anggun. Dia berpikir kesembuhannya tersebut pasti karena Anggun. Meskipun Leon sedikit tidak percaya sebelumnya jika Anggun bisa mengurut dan terbilang pandai dalam mempelajari ilmu saraf seperti kakinya.
Dan hal itu semakin membuat Leon mengagumi Anggun dan merubah persepsinya terhadap wanita yang dulu ia sia-siakan.
Namun ia masih belum bisa memberitahu Anggun bahwa dirinya sudah mengalami kemajuan dan mungkin sudah dapat di bilang sembuh dari lumpuhnya tersebut.
Beberapa hari sudah berlalu, Leon hendak mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya sudah di nyatakan sembuh oleh dokter.
Tapi sebelum memberitahu kedua orang tuanya, Leon berniat untuk memberitahu Anggun lebih dulu dan juga mengungkap bahwa dirinya juga sudah tahu jika selama ini yang di anggapnya sopir adalah Anggun.
Leon nampak sudah tidak sabar untuk memberitahu yang sebenarnya. Terlihat dari meeting yang saat ini ia pimpin nampak baik-baik saja, tapi dirinya terlihat tidak fokus dan lebih banyak tersenyum membuat orang-orang yang melihatnya merasa aneh dan langka.
Mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru mereka merasa ikut senang karna untuk pertama kalinya mereka dapat melihat senyum manis dari bos dinginnya tersebut.
Bahkan kebanyakan yang datang di acara meeting tersebut adalah karyawan wanita. Membuat beberapa dari mereka diam-diam mengambil foto bosnya tersebut di saat sedang tersenyum manis tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mereka mengambil kesempatan tersebut untuk berbagi di sosial media, menunjukan pada karyawan lain bahwa mereka dapat membuat bosnya tersenyum seperti saat ini, meskipun mereka sedikit berbohong.