
Di kantor, Leon nampak sedang berbicara dengan asisten pribadinya. Dia terlihat serius menyampaikan sesuatu pada asisten kepercayaannya tersebut.
“Dengar! Aku ingin mendapat info sekecil apapun tentang dia. Dan aku tidak mau mendengar kesalahan apapun lagi. Mengerti!” ucap Leon pada asistennya tersebut dengan sungguh-sungguh.
“Baik, tuan. Saya tidak akan melakukan kesalahan lagi” ucapnya sambil menunduk dan kemudian pergi dari ruangan bosnya tersebut.
Sementara itu, Leon kembali nampak memikirkan sesuatu. Sambil melihat ke arah jendela yang memperlihatkan orang-orang berlalu lalang di luaran sana.
Pikirannya tertuju pada seseorang yang selama ini ia benci dan juga ia rindukan.
Namu Leon masing belum mengerti pasti dengan perasaannya tersebut.
Kadang dia benci dan kadang dia juga merindukan wanita itu.
Tapi setiap kali dia teringat seorang anak memanggil wanitanya ibu, membuat Leon benar-benar marah dan tidak terima.
Dia masih berpikiran bahwa anak tersebut adalah hasil dari perbuatan laki-laki lain.
Meski Leon sadar bahwa dirinyalah yang pertama kali merenggut kesucian Anggun. Tapi dia tidak yakin jika dengan hanya satu kali melakukan hal tersebut dapat membuatnya memiliki seorang anak dari Anggun.
Itu sebabnya Leon hanya beranggapan dengan pemikirannya sendiri.
“Permisi, tuan” ucap seorang wanita yang merupakan sekertaris Leon, dia mengetuk pintu lebih dulu sebelum dia benar-benar masuk ke ruangan bosnya tersebut.
Namun karena berkali-kali dia tidak mendapatkan jawaban akhirnya sekertaris yang bernama Dewi itu membuka pintunya terlebih dahulu lalu kembali mengetuk pintu ruangan bosnya lagi.
Leon pun mulai sadar dari lamunannya dan mempersilahkan sekertarisnya tersebut untuk masuk.
“Masuklah” ucap Leon mengijinkan sekertarisnya untuk masuk.
“Terima kasih, tuan” ucap Dewi sambil melangkah menghampiri Leon yang berada di depan meja tempatnya berkutat.
“Begini tuan. Saya ingin menginformasikan jadwal tuan hari ini” ucap Dewi yang sudah berada di hadapan meja tuannya.
“Ya, katakanlah!”
“Hari ini, nanti sore anda ada meeting. Dan klien kita meminta anda untuk datang ke tempat yang sudah beliau sediakan”
“Baiklah, di mana tempatnya?”
“Di sebuah kapal pesiar, tuan”
“Baiklah, tidak masalah. Aku akan mendatanginya” ucap Leon.
__ADS_1
“Sekarang kau boleh pergi” lanjutnya mempersilahkan Dewi pergi.
“Baik, tuan” ucap Dewi sedikit menunduk lalu pergi.
Sementara itu Anggun sedang mengantarkan anak-anaknya sekolah.
“Kalian yang rajin belajarnya. Perhatikan bu guru dan jangan nakal, oke” ucap Anggun pada kedua anaknya sebelum mereka masuk ke dalam kelas.
“Iya, mi” ucap Juna dengan wajah datarnya.
“Siap, bu” ucap Juni dengan senyuman manisnya.
Mereka pun segera mencium pipi Anggun di kiri dan kanannya, sebelum mereka benar-benar meninggalkan ibu mereka untuk masuk kelas.
“Ya Tuhan… tolong jaga mereka dan buat mereka slalu bahagia” ucap Anggun dalam hati penuh harap untuk kedua anaknya tersebut.
Kemudian Anggun pun pergi setelah memastikan kedua anaknya masuk kelas.
Dia berharap tidak akan bertemu lagi dengan Leon, cukup tadi malam dia bertemu lagi untuk terakhir kalinya.
Anggun benar-benar marah dan menyesal atas apa yang di lakukan Leon tadi malam padanya.
Lagi-lagi dia harus kembali berurusan dengan Leon. Bahkan Leon berani memaksanya untuk melakukan hubungan intim itu kembali terulang.
Meski dirinya sudah menolak namun tubuhnya berkata lain dan seolah menginginkan lebih dari itu.
Dan tidak dapat di pungkiri bahwa Leon saat itu terlihat perkasa dan menggairahkan.
Namun hal itu tidak membuat Anggun semata-mata melupakan kekecewaannya pada Leon.
Segera ia menepis pikirannya tentang apa yang membuatnya sempat terlena dengan sentuhan malam itu.
*********
Beberapa minggu kemudian dari kejadian tersebut. Anggun merasa sedikit lega karena beberapa minggu ini, dia tidak lagi bertemu dengan laki-laki yang saat ini sangat di hindarinya.
Namun meskipun begitu entah mengapa ada sedikit perasaan yang mengganggu di sudut hatinya.
Anggun benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya tersebut.
Tapi yang jelas dia tidak ingin berfokus pada hal itu.
Dia terus berusaha menepis perasaan tersebut yang seringkali mengganggu pikiran dan hatinya.
__ADS_1
Dan di tengah kegundahan dan lamunannya tersebut tiba-tiba nada dering di hpnya membuyarkan lamunannya.
Anggun segera melihat notifikasi di hpnya yang menunjukan bahwa ia mendapatkan orderan baru.
Segera ia menerima orderan tersebut dan melajukan taxinya untuk segera menjemput para penumpang dan mengantarkannya.
Untuk saat ini sepertinya dia mendapatkan orderan cukup banyak. Membuatnya sedikit banyak melupakan kejadian-kejadian buruk yang menimpa dirinya.
Sementara itu di tempat lain, si kembar sedang bermain bersama teman-teman sebayanya.
Mereka nampak ceria dan terlihat melakukan permainan yang menyenangkan. Hingga datang beberapa anak pengganggu dan usil mendatangi mereka.
Si kembar yang tadinya terlihat ceria bersama dengan teman-teman lainnya mendadak takut dan beberapa anak perempuan lainnya tiba-tiba segera bersembunyi di balik tubuh Juna yang di anggap Juni dan teman-teman perempuan lainnya dapat melindungi mereka.
Pasalnya di antara anak-anak yang tadi bermain dengan si kembar, hanya Juna anak laki-laki satu-satunya yang ada di grup mereka.
Membuat Juna sedikit bingung dan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat ke belakang punggungnya untuk memastikan dan melihat kenapa adik perempuan dan teman-temannya tersebut malah bersembunyi di belakangnya.
“Kalian kenapa malah bersembunyi di belakang ku?” bisik Juna pada adik dan teman-temannya yang hanya di tanggapi dengan ekspresi rasa takut dan ngumpet.
Sementara itu anak-anak pengganggu yang semuanya anak laki-laki yang berjumlah empat orang tersebut mulai menertawakan Juna yang di anggap mereka cukup aneh dan lucu karena Juna berteman dan berkumpul dengan anak-anak perempuan yang mereka anggap cengeng dan lemah.
“Hey… lihat!” ucap Zayen yang terlihat sok punya kuasa.
“Masa Juna maennya sama anak-anak perempuan” lanjut Zayen mengejek sambil tertawa.
“Mungkin Juna sukanya maen boneka-bonekaan. Jadinya lebih suka bermain sama anak perempuan. Wa ha ha ha” ejek anak pengganggu lainnya yang bernama Kiwil.
Mereka nampak tertawa terbahak-bahak dengan ejekan mereka terhadap Juna.
Sepertinya mereka tidak suka jika Juna sering bermain dan di kelilingi anak-anak perempuan.
Entah karena mereka tersaingi dengan ketampanan Juna atau mereka memang pada dasarnya anak-anak usil dan pengganggu.
Hingga anak-anak perempuan kebanyakan pada takut jika bertemu dan bermain dengan anak-anak usil tersebut.
Berbeda dengan Juna, meskipun sebenarnya dia tidak suka bermain dengan anak-anak perempuan tapi Juna masih bisa menghargai mereka terlebih dia memiliki adik perempuan yang harus selalu dia jaga.
Juna tidak perduli dengan ejekan anak-anak itu, hingga membuatnya membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk membawa adik dan teman-temannya untuk tidak memperdulikan anak-anak usil tersebut.
Bukannya Juna takut dengan anak-anak usil itu, tapi dia lebih ingat dengan pesan dan nasehat maminya supaya tidak membuat masalah apalagi sampai berkelahi dengan teman-temannya di sekolah.
Yang pada akhirnya maminya juga yang akan di panggil dan mendapatkan masalah karena ulahnya. Hal itulah yang terpikirkan oleh Juna.
__ADS_1
Meskipun dengan umurnya yang masih terbilang sangat muda, tapi pemikirannya dapat di bilang lebih dewasa.