
“Ya Tuhan… bagaimana bisa dia sekarang menjadi boss ku?”
“Apa dia sengaja mengakuisisi perusahaan ini untuk menjebakku?”
Berbagai pertanyaan terlintas di benak Anggun saat ini.
Bisa-bisanya Leon Adinata mengakuisisi perusahaan tempatnya bekerja saat ini hanya untuk menjebak dirinya.
Pada hal jelas-jelas yang dia tahu perusahaan utama Adinata bukanlah di bidang tersebut. Tapi meskipun begitu tidak menutup kemungkinan untuk perusahaannya melebarkan sayap di berbagai bidang perusahaan.
Tapi bagaimana pun juga, untuk saat ini Anggun tidak ingin terhubung dengan apapun yang berhubungan dengan Leon.
Ya, meskipun untuk saat ini anak-anaknya lah yang mungkin akan membuatnya bertemu dengan Leon.
Tapi bagaimana pun juga, dia tidak ingin berurusan lagi dengan Leon selain menyangkut anak-anaknya tersebut.
“Ya Tuhan… aku harap dia hanya sebagai pemilik perusahaan tempat ku bekerja saja dan tidak perlu membuatku terus-terusan bertemu dengannya”
“Hey nggun.. kenapa ente malah bengong. Memangnya apa yang tadi pak boss perintahkan?”
“Hahh… ahh tidak. Bukan apa-apa?”
“Ayo lah jangan main rahasia-rahasiaan dengan ku. Katakan saja!”
“Ihh apaan sih, Jon. Gue tuh cuma di suruh buat ngasih dokumen penting. Itu saja”
“Lalu kenapa wajah ente kelihatan gelisah dan gundah gulana begitu?”
“Ma..mana?. Gue biasa-biasa aja”
“Sudahlah jangan tanya itu lagi. Ngomong-ngomong hari ini kau sudah dapet berapa orderan?”
“Enggak banyak, baru 5”
“Apa?. Enggak banyak kau bilang. Gue aja hari ini, baru dapet satu orderan itupun juga karena pak boss. Bagaimana dapat sebanyak itu?”
“Yaah… mungkin lagi rezekinya kali. Namanya juga taxi online, gak nentu. Lagian bukannya situ yang biasanya dapet orderan banyak mulu”
“Iya sih… mungkin hari ini waktunya gue lagi sepi kali ya”
“Ya sudah kalau begitu. Bagaimana kalau hari ini ane yang traktir ente makan siang?”
“Waah.. serius?!”
“Tentu saja aku serius. Kali-kali traktirin wanita secantik kaya kamu apa salahnya. Bener, gak?”
“Bisa aja, lu”
“Tapi ini ada udang di balik batu gak, nih?”
__ADS_1
“Ehh… tenang aja, lagian kan situ juga kadang suka neraktirin kite, anggap aja ini timbal baliknye”
“Beneran nih yah, gak ada maksud apa-apa”
“Iya beneran. Udeh ah kapan kita mau makan siangnya ini”
“Awas lu ya ujung-ujungnya gue lagi yang bayar”
“Kagak…”
Mereka pun langsung ke tempat biasa mereka makan siang jika kebetulan sedang tidak ada orderan.
Namun di sisi lain, di tempat yang tidak jauh dari mereka rupanya Leon tengah mengawasi dan memperhatikan Anggun saat sedang berinteraksi dengan teman seprofesinya itu.
Leon yang melihat interaksi tersebut begitu dekat dan akrab, membuatnya seolah terbakar api cemburu.
Dia tidak terima jika Anggun terlihat begitu dekat dan akrab dengan laki-laki lain. Hal itu dapat membuatnya marah dan kesal. Sekalipun orang itu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan dirinya.
Dengan tangan yang terkepal keras dan amarah yang ia tahan, segera Leon menyuruh asisten pribadinya yang saat ini mengemudi untuk segera menjalankan mobilnya.
Dan tanpa bertanya-tanya lagi, Dino pun segera menjalankan mobil tersebut.
Sementara itu, Anggun yang tidak tahu bahwa dirinya sempat di ikuti oleh Leon mulai menikmati makanan yang di teraktir temannya itu.
Dan setelah beberapa jam kemudian, rupanya Leon sudah berada di sebuah club malam yang cukup terkenal di kota tersebut. Dia nampak sudah meminum banyak alkuhul.
Sepertinya Leon masih kesal dan marah setelah dia melihat keakraban Anggun dengan laki-laki lain yang membuatnya kini kembali minum-minuman lagi.
Namun hal itu hanya mampu membuatnya hilang akal untuk sesaat.
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam dan Leon masih berada di tempat yang sama.
Sementara itu, Anggun yang tumben-tumbenan kesulitan mendapatkan orderan membuatnya harus kerja lembur.
Beruntung anak-anaknya saat ini tidak berada di dalam pengawasannya. Membuatnya tidak harus kembali lebih dulu dan tidak terlalu khawatir dengan keadaan anak-anaknya tersebut.
Karena biasanya jika anak-anak dalam pengawasannya Anggun akan tetap memilih pulang terlebih dahulu, sekalipun dia tidak mendapatkan orderan. Namun setelah memastikan anak-anaknya tertidur dengan pulas, barulah ia akan kembali bekerja dan lembur jika benar-benar ia tidak mendapatkan orderan di siang itu.
Lalu tiba-tiba handphone Anggun berbunyi dan mendapatkan pesan dari atasannya bahwa ada seseorang yang membutuhkan jasanya.
Membaca pesan tersebut, tentu membuat Anggun merasa senang dan bahagia akhirnya ada orderan lagi.
Apalagi dia mendapatkan pesan dan orderan dari atasannya, karena biasanya orang-orang yang di dapatkan dari atasannya itu seringkali orang-orang yang berkelas dan sering memberinya tips lebih besar.
Itulah yang membuat Anggun nampak antusias dan bersemangat kembali.
Meskipun dia tidak tahu siapa yang akan menjadi penumpangnya saat ini.
Anggun pun pergi ke alamat yang di berikan boss nya tersebut. Sesampainya disana ia agak sedikit ragu untuk masuk ke club malam tersebut.
__ADS_1
Namun karena sudah menjadi pekerjaannya dia pun terpaksa masuk ke dalam club itu.
Begitu bising dan cukup mengerikan bagi Anggun. Terlihat beberapa pria yang memandangnya penasaran.
Namun Anggun segera menghindar dari mereka dan segera mencari keberadaan Leon saat itu.
Hingga akhirnya dia menemukan Leon sedang tergeletak di sebuah sopa di ruangan tertentu.
Sepertinya dia sudah menghabiskan banyak minum.
Anggun mencoba mendekatinya, namun dia belum tahu bahwa orang tersebut adalah Leon.
Anggun mencoba menggoyang-goyangkan tubuhnya supaya bangun dan sadar.
Namun rupanya hal tersebut percuma saja, hingga akhirnya Anggun terpaksa membalikkan badan orang tersebut untuk dapat dia tarik dan dia coba bangunkan kembali.
Namun saat melihat tubuhnya di balikkan dan melihat wajah orang tersebut, lagi-lagi Anggun di buat syok dan terkejut.
Siapa lagi kalau bukan Leon Adinata yang sering kali membuatnya syok dan terkejut.
“Dia?!”
“Ya Tuhan… lagi-lagi dia.”
“Apa yang membuatnya harus minum-minum begini?”
“Sudahlah… biarkan saja. Bukannya dia punya asisten pribadi yang bisa mengantarkannya pulang”
“Lebih baik aku tinggalkan saja. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Membuatku kesal saja”
“Tapi…. Tunggu.. kalau dia di sini. Lalu anak-anak dengan siapa?”
“Dasar ayah tidak bertanggung jawab. Tega-teganya dia meninggalkan anak-anakku dan dia enak-enakan minum-minuman di sini”
“Tidak bisa… Aku harus memberinya pelajaran”
“Heh… bangun kau. Dasar ayah tidak bertanggung jawab. Membiarkan anak-anak sendirian di rumah, bukannya cepat pulang malah minum-minuman. Bangun kau!!” ucap Anggun dengan kesalnya sambil berusaha membangunkan Leon yang sudah tepar dan mabuk berat.
Entah keberanian apa yang membuat Anggun seberani itu mengomel pada Leon, layaknya seorang istri yang mengomel pada suaminya yang ketahuan main dan mabuk-mabukan.
Saat ini Anggun terus saja nyerocos seperti istri yang cerewet, pada hal Leon sama sekali tidak dapat mendengarnya.
Mungkin Anggun sengaja melakukannya agar dapat meluapkan kekesalannya pada Leon di saat dirinya tak sadarkan diri.
Setidaknya Anggun dapat meluapkan amarahnya pada orangnya langsung.
Setelah dirinya cukup puas mengomel pada Leon yang sedang tak sadarkan diri, dengan terpaksa Anggun pun tetap harus mengantar Leon pulang ke mentionnya.
Meskipun perasaannya belum sepenuhnya tenang.
__ADS_1
Tapi setidaknya dengan mengantar Leon dia dapat melihat kedua anak kembarnya tersebut.